Tiara

Tiara
Part 3


__ADS_3

Hari Sudah semakin larut. Sementara Tiara, kini sudah terbaring di kamarnya sendiri Bersama dengan Mbok Jum yang sedang mengoleskan minyak kayu putih ke area hidung nya, mencoba untuk menyadarkan Tiara.


Air mata sedari tadi tidak hentinya keluar dari mata tua itu. sembari berucap " non Tia, bangun non,.. besok pagi mbok sudah harus segera pergi dari rumah ini. sedangkan keadaan non masih begini. akan sangat tidak mungkin bila mbok harus meninggalkan non Tia disaat keadaan non seperti ini." ucapnya lirih.


" Tuan, bagaimana ini,.. non Tia sedari tadi tidak mau bangun. apa yang harus saya lakukan Tuan agar non Tia mau bangun,.. andai tuan masih disini, mungkin non Tia tidak akan mengalami hal seperti ini." ucapnya lagi sembari memandangi wajah anak majikan nya itu, yang kini tampak sangat pucat.


***


Sementara disisi lain, kesadaran Tiara kini sedang berada di dimensi lain. Lebih tepatnya Tiara kini sedang berada di sebuah ruangan yang gelap. di sekelilingnya hanya ada kegelapan yang menyelimuti. Tiara menoleh kekanan dan kekiri, mencoba memindai dan mengenali tempat dia berada sekarang. namun hasilnya nihil. jangankan mengenali, melihat saja ia sudah sangat kesusahan karna gelapnya ruangan tempatnya berpijak sekarang.


sembari terus berusaha memindai, ia bergumam dalam hati." dimana ini, kenapa disini gelap sekali, dan kenapa juga aku bisa berada di sini,.." gumamnya


Ia terus saja mengitarkan pandangannya kesekeliling, lalu bergumam lagi.


" apa aku sudah mati ya.. makanya aku bisa berada di dalam tempat yang sangat gelap ini." ucapnya lirih sambil kali ini, mengangkat ke dua tangannya, mencoba untuk meraba dan mengenali benda benda apa saja yang terdapat disekelilingnya.


hingga suatu suara yang begitu di kenalinya bergema di telinganya dan tiba tiba juga tempat ia berdiri tadi menjadi sangat terang hingga menyilaukan matanya.


" Tia,.."


Tiara segera menutup matanya sesaat setelah cahaya yang sangat terang muncul di dalam ruangan tempat ia berdiri tadi. Dahinya tampak mengkerut dan kedua alisnya kini bersatu setelah mendengar suara yang familiar barusan.


" Bukalah matamu sayang, apa kau tidak merindukan ayahmu ini.." Tiara begitu terkejut setelah mendengarkan kata kata barusan. bersamaan dengan itu, kedua pundaknya serasa di sentuh oleh sepasang tangan yang selama ini telah hilang.


" Ayah" gumamnya pelan setelah mendengarkan ucapan barusan. Perlahan


mata yang tadi terpejam terbuka, derasnya air yang mengalir dari mata itu tak terkira ketika matanya telah terbuka sepenuhnya dan melihat sesosok pria yang mengenakan pakaian putih, dan tengah tersenyum, berdiri sembari memegangi bahunya.


" Aa,..ayah,.." panggilan itu kembali meluncur begitu saja dari mulut Tiara, bersamaan dengan ambruknya tubuh Tiara ke dalam dekapan hangat pria yang dipanggilnya dengan ayah itu.


" Ayah, ini benaran ayah kan?? Tia tidak sedang bermimpi kan??" ucap Tiara dalam dekapan ayahnya sembari sebentar melepas pelukan dan mendapati bahwa yang dipeluknya merupakan sosok ayah yang telah begitu lama ia rindukan.


" Ayah,.. ayah kemana saja, kenapa baru sekarang datangnya. Tia kangen tau yah,.." ucapnya disela sela peluk dan tangisnya


" iya sayang, ini benar ayahnya Tia,.. dan ayah tidak kemana mana kok selama ini,.. ayah selalu berada disini dan selalu mengawasi Tia." ucap ayah Tiara sembari melepaskan pelukan dan menangkupkan tangannya di wajah Tiara.


" Putrinya ayah kenapa sekarang jadi cengeng,.. biasanya dulu Tia nya ayah Tidak akan pernah menangis walau seberat apapun hari yang telah ia lalui." ucap ayah Tiara sembari menatapi wajah putrinya yang telah dibasahi oleh air mata.

__ADS_1


" Aa ayah,.." ucap Tiara lirih sembari kembali memeluk tubuh ayahnya.


" Ada apa hmm,.. apa ada sesuatu yang menggangu mu, sayang.." ucap ayah Tiara kembali sembari membalas pelukan putrinya itu.


" Aa ayah jahat,.. ke kenapa ayah berbohong dan pergi ninggalin Tia sendiri,.." ucap Tiara sesegukan sembari semakin membenamkan diri di dalam pelukan pria yang dipanggil ayah itu.


" Kata siapa ayah berbohong dan meninggalkan Tia,.. kan sudah ayah bilang, kalau selama ini, ayah berada disini dan selalu mengawasi Tia."


" Ayah bohong, dulu ayah bilang, kalau ayah tidak akan pernah meninggalkan Tia dan akan selalu menjaga Tia. Dulu juga kata ayah, ayah akan ada bersama Tia hingga Tia bisa jadi dokter dan bisa merawat ayah dan bunda sampai Tua,.. Tapi yang ada, ayah malah mengingkari janji itu dan pergi meninggalkan Tia dan bunda yang kini tidak menyayangi Tia lagi." Ucap Tiara parau.


Ayah Tiara hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkat putrinya itu. lalu ia perlahan menghembuskan nafas dalam, lalu sedetik kemudian, ia menarik pelan tubuh Tiara yang masih setia memeluknya itu, hingga terpisah dan menampilkan wajah Tiara yang sembab akibat terlalu banyak menangis.


" Haih,.. Ternyata putri ayah semakin dewasa, jadi semakin cengeng ya." ucapnya sembari terkekeh kecil.


" Tia,.. dengarkan ayah, mungkin menurutmu ayah telah pergi dan ayah telah mengingkari janji ayah pada kalian berdua. Tapi nyatanya, ayah tidak pernah pergi,.. Tapi ayah hanya menjaga dan menemani kalian dengan cara yang berbeda. mungkin di dunia, fisik kita tidak akan pernah bisa bersentuhan. Dan Tia tidak pernah bisa melihat ayah, tapi percayalah, kalau ayah selalu berada di sini untuk menemani dan menjaga Tia." Ucap ayah Tiara sembari menunjuk arah hati Tiara.


" Tapi yah,.. kenapa ayah begitu tidak adil,.. disini ayah bisa melihat dan mengawasiku. sedangkan disana, Tia tidak bisa melihat ayah." ucap Tiara lagi sembari menatap lekat lekat wajah yang begitu lama ia rindukan itu.


" Tapi yah, kenapa Tia bisa berada di sini dan bertemu dengan ayah, apa Tia sudah mati, karna kelamaan di kurung di gudang sama bunda." ucapnya lirih sembari menolehkan kepalanya untuk mengitari sekitar yang kini sudah terang. dan Tiara menemukan bahwa tempat ia berada sekarang ialah sebuah ruangan putih yang kosong tanpa ada apapun benda di ruangan itu, kecuali ia, ayah nya dan,..


"Ehhem,.."


" Siapa kakek itu yah..??" tanya Tiara kepada ayahnya


" Dia adalah orang yang membantu ayah, hingga ayah bisa bertemu denganmu seperti ini."


" Tapi yah, bukannya kita bisa bertemu seperti ini karna Tia sudah meninggal,.." ucap Tiara kebingungan.


" Bukan,.. siapa yang bilang kamu telah meninggal,.."


" Lalu mengapa aku bisa bertemu deng,.."


" maaf karna telah menggangu waktu mu dengan putrimu Agung, Tapi waktu kita sudah tidak banyak lagi, kau harus segera memberikan apa yang telah kau pinta dan sepakati sebelumnya dariku, kepada putrimu." Ucapan Tiara di potong oleh kakek itu. sembari berjalan mendekat, ia kembali memberikan senyuman yang ramah kepada Tiara.


Nama ayah Tiara adalah Agung Alviano, ia adalah seorang ayah yang sangat baik, Hingga saat ia meninggal dan sudah dalam bentuk roh pun, ia masih tetap membuat sebuah permintaan kepada sang kuasa, terkait kebahagiaan putrinya di masa depan. walau ia harus mengorbankan sesuatu tentang hidupnya di alam yang hendak ia tuju selanjutnya dengan permintaannya,.. tapi setidaknya ia sudah melakukan yang terbaik untuk kehidupan putrinya kedepannya.


" Maksud kakek itu apa yah,.." ucap Tiara lagi sembari memandang lekat ayahnya.

__ADS_1


" Sebenarnya, selama ini ayah selalu berada di sini dan selalu mengawasi dan mengetahui apa yang telah terjadi dan kamu lalui. Ayah tidak bisa dan tidak berani untuk pergi ke tempat ayah yang sebenarnya, dan meninggalkan mu dalam penderitaan." sesaat ayah Tiara terdiam dan menghela nafas kasar setelah perkataannya barusan.


" Tempat ayah yang sebenarnya,.. maksudnya apa yah." ucap Tiara kebingungan. pasalnya ia berfikir Tadi jika tempat ia berada sekarang merupakan tempat peristirahatan terakhir ayahnya.


"Shuut,.. biarkan ayah bicara dulu." ucap ayah Tiara lagi. "Jujur, ayah sangat terkejut dengan perilaku bundamu setelah ayah pergi. ayah tidak menduga jika ia akan berperilaku begini kepada putri yang ia lahirkan sendiri. Ayah tidak tau apa yang menyebabkan perubahan bundamu itu, karna sedari kami saling mengenal dulu, ia merupakan sosok yang sangat baik dan penyayang. tapi entah apa yang mengubahnya hingga ia menjadi begini." ucap ayah Tiara dengan lirih


" Maka dari itu, ayah menjadi sangat marah dan secara bersamaan ayah juga sedih karna melihat perlakuan bundamu kepadamu. ingin sekali rasanya ayah muncul dan menghentikan perbuatan bundamu saat ia menghukum mu. tapi apa daya, alam kita telah berbeda,.. dan ayah hanya bisa memendam kemarahan saat ia menghukum dan memukulmu." ucapnya lagi.


" Maka dari itu, ayahmu memanggilku kesini dan ia membuat sebuah permohonan kepadaku." Tiara segera menoleh ke samping tempat Kakek itu berdiri, sesaat setelah ia berbicara.


" Maksud kakek..??"


" Aku Tidak bisa menjelaskannya sekarang, karna mengingat waktu kami yang sangat terbatas. tapi yang jelas ini ada beberapa barang yang harus kamu bawa. untuk kegunaan nya, kamu bisa pikirkan sendiri." ucap kakek tua itu kembali sembari menyodorkan Tiga buah buku ke tangan Tiara.


" Buku,.. Buku apa ini kakek, ayah,.." ucap Tiara kebingungan. pasalnya tiga buku yang diberikan itu tidak berjudul, agak tebal dan berbeda beda warna. Tiara mencoba membuka salah salah satu lembaran buku yang berada di tangannya, tapi sebelum itu terjadi, tangan nya sudah terlebih dahulu dihentikan oleh kakek itu.


" Jangan membukanya,.. berikan saja buku itu nanti ke orang yang kau temui." ucap kakek itu lagi.


" memang siapa yang akan Tia temui kakek, ayah,.. kan disini hanya ada kita bertiga,.." ucap Tiara kebingungan.


" sudah, jangan banyak tanya.. kamu akan mengetahui nya nanti." ucap kakek itu kembali sembari tersenyum ramah.


" Tia, Mungkin setelah ini, kita tidak akan pernah bertemu lagi, tapi kuharap kamu tidak akan pernah melupakan ayah, dan tetap menyayangi ayah,..


ada beberapa petunjuk yang harus Tia jalani pada buku ini. yang pertama, mungkin sebentar lagi, sesaat setelah Tia berkedip, Tia akan muncul di tempat yang berbeda. Dan di tempat itu, Tia harus menemukan tiga orang, yang Tia rasa cocok untuk memiliki buku itu.


Yang kedua, jika Tia merasa bahwa orang yang Tia temui itu sudah tepat, maka Tia harus langsung memberikan buku itu.


yang ketiga, Tia harus sudah membagikan buku itu sebelum matahari terbenam, karna tepat setelah matahari terbenam, buku itu akan hilang jika belum jatuh ke tangan orang lain, dan Tia juga akan langsung kembali ke tubuh Tia yang sebenarnya." ucap ayah Tiara lagi.


" Tunggu, maksud ayah dan kakek apa sih, Tia masih belum mengerti. apa tujuannya hingga Tia harus membagikan buku ini dan menemukan orang yang tepat, apa maksudnya coba??" ucap Tiara lagi kebingungan.


" Maafkan ayah Tia, tapi waktu kita telah habis, tapi yang pasti, buku itu akan mendatangkan hal yang baik untukmu kedepannya." ucap ayah Tiara lagi. sebelum ia menutup mata Tiara menggunakan tangan nya dan mengucapkan


" semoga keberuntungan memihak ke padamu putriku,.." ucapnya lagi sebelum Tiara menghilang dari pandangan.


***jangan lupa untuk meninggalkan jejak ya๐Ÿ™**

__ADS_1


** see you in the next chapter๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡**


__ADS_2