Tiara

Tiara
Rencana pernikahan


__ADS_3

Siang itu Bintang mengajak Tiara terbang di langit ke tujuh. Mumpung gak ada yang mengganggu. Tegar lagi di ajak jalan sama Bagas dan yang lainnya. Kalau Bapak dan Ibu mertua juga sedang istirahat di kamar mereka masing-masing.


Setelah pertarungan mereka yang cukup panjang Tiara tidur dengan nyenyaknya. Bintang mencium kening Tiara dalam.


"Sayang... kamu adalah anugerah indah dalam hidupku. Seandainya aku tidak bertemu dengan kamu malam itu, aku tidak tau apa yang akan terjadi dalam hidupku. Ternyata Allah sangat baik padaku sehingga mengirim kamu bidadari tak bersayap kepadaku" ujar Bintang sambil membelai lembut rambut Tiara.


Bintang memeluk lembut tubuh Tiara kemudian menutup matanya dan ikut tidur dengan Tiara yang ada dalam pelukannya.


Sore harinya setelah selesai mandi mereka berkumpul di teras belakang menikmati cemilan sore yang dibuat Siti untuk mereka.


"Berapa bulan lagi jadwalnya Tiara melahirkan?" tanya Pak Wijaya.


"Tiga bulan lagi Pak" jawab Bintang sambil menikmati teh istimewa dari hasil perkebunan milik Pak Wijaya.


"Rencananya mau melahirkan dimana?" tanya Pak Wijaya lagi.


"Di Jakarta aja deh Pak. Dokternya juga di sini dan banyak pilihan Rumah Sakit yang bagus - bagus" jawab Bintang.


"Nanti kalau aku udah mau dekat lahiran aku minta Ibu temani aku di sini ya bu" pinta Tiara.


"Iya nanti Ibu akan temani kamu dari sebelum sampai sesudah lahiran" jawab Siti.


"Jadi Bapak di tinggal sendiri donk" sambut Pak Wijaya.


Bintang tersenyum mendengar perkataan Pak Wijaya. Ternyata walau sudah tua dia tetap romantis dan pintar merayu Bu Siti. Bu Siti sampai tertunduk malu gitu. Fikir Bintang.


"Kalau Bapak kesepian Bapak kan bisa ikut ke sini" ujar Tiara.


"Tiga bulan lagi kamu sudah bisa Sit?" tanya Pak Wijaya.


"Bapak sepertinya sudah gak sabar Bu?" ujar Bintang.


"Bukan Bagas aja yang mau cepat - cepat halal. Bapak juga mau. Dari pada berdosa" jawab Pak Wijaya.


"Gimana kalau setelah aku lahiran aja Pak? Pas syukuran aqiqah si adek bayi kan bisa sekalian syukuran pernikahan Bapak dan Ibu" ujar Tiara.


"Bisa juga tuh saran kamu yank" sambut Bintang.


Pak Wijaya dan Siti saling pandang.


"Gimana Sit?" tanya Pak Wijaya.


"Terserah kamu Mas" jawab Siti malu.


"Kamu sudah bisa?" tanya Pak Wijaya.


Siti menganggukkan kepalanya pertanda iya. Pak Wijaya tersenyum senang.

__ADS_1


"Ya sudah Ra nanti bisa kita sesuaikan dan urus jadwalnya" sambut Pak Wijaya.


"Alhamdulillah akhirnya Bapak dan Ibu bisa bersatu kembali. Aku sangat senang mendengarnya" ungkap Tiara


"Semua berkat doa kamu juga nak" jawab Pak Wijaya.


"Bapak dan Ibu pantas bahagia setelah melewati berbagai cobaan hidup" balas Tiara


Pak Wijaya menarik nafas panjang.


"Kita tidak tau apa yang akan kita hadapi esok hari yang perlu kita yakini. Apapun yang kita pilih hari ini haruslah benar - benar dengan pemikiran yang matang agar tidak ada penyesalan esok hari. Bapak berkata seperti ini karena Bapak sudah pernah mengalami penyesalan terbesar dalam hidup Bapak yaitu saat Bapak meninggalkan kalian dulu. Tapi semua itu tidak bisa terus kita tangisi. Oleh sebab itu berhati - hatilah dalam mengambil keputusan" nasehat Pak Wijaya.


"Assalamu'alaikum... " ucap Bagas, Dewi, Ali dan Tegar ketika memasuki rumah.


"Wa'alaikumsalam. Kalian sudah pulang, kok tumben cepat. Biasanya kalau ke dufan pulangnya pasti malam?" tanya Bintang.


"Pulang cepat salah, lama pulang juga salah. Apa lebih baik gak usah pulang sekalian" jawab Bagas.


"Hahaha... kalian berdua ini Bapak perhatikan kayak Tom and Jerry aja dari tadi pagi" ujar Pak Wijaya.


"Habis dia suka ngebully aku Pak. Senang banget lihat aku menderita" protes Bagas.


"Habis kamu gemesin deh, pengen aku tabok rasanya" canda Bintang.


Pak Wijaya hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya. Pusing melihat dua menantunya ini. Sebentar lagi Bagas juga akan jadi menantunya kalau dia menikah dengan Siti dan Bagas menikah dengan Dewi.


"Nih anak kamu udah aku pulangin dengan selamat tanpa ada cacat sedikitpun. Bila perlu hitung tuh rambutnya ada rontok atau nggak" ujar Bagas.


"Heran Bapak sama anak punya sifat sama. Suka gangguin orang, gak kasih kesempatan aku untuk kencan. Kamu pasti kasih Tegar wangsit kan untuk nempelin aku terus" bisik Bagas di telinga Bintang.


"Hahaha... anakku tau kalau buaya lapar akan memakan mangsanya" sambut Bintang.


"Sontoloyo... " umpat Bagas.


"Udah nikmati ajalah bro" ujar Bintang.


"Sayang mandi sana gih sebentar lagi adzan maghrib setelah itu kita makan malam baru kamu istirahat" perintah Tiara pada putra sulungnya.


"Iya Ma" jawab Tegar. Kelihatannya anak itu sudah sangat lelah sehingga dia tidak semangat lagi menjawab ucapan Tiara.


"Al tolong liatin Tegar mandi ya" ujar Tiara.


"Iya Kak" jawab Ali.


"Aku juga naik ke atas ya Kak. Mas Bagas gak mau mandi di sini? Bawa baju ganti gak?" tanya Dewi.


"Ada Wi di mobil" jawab Bagas. Bagas memang selalu sedia pakaian di mobilnya jaga - jaga kalau dia harus lembur di kantor atau buru - buru harus ke luar kota.

__ADS_1


"Kamu mandinya di bawah aja. Ngapain juga ikutan Dewi" protes Bintang.


"Iya Bin, aku juga tau kok" Balas Bagas.


"Ya siapa tau kamu berencana mau ikut Dewi ke atas" sambut Bintang.


"Maaaaas.. udahan ah becandanya jangan sampai kelewatan nanti jadi beneran lho berantemnya" cegah Tiara.


"Ya udah Gas ambil sana pakaian kamu trus mandi di kamar tamu setelah itu kita shalat maghrib berjama'ah" perintah Bintang. Kali ini dia serius dan tidak bercanda lagi.


Mungkin karena Bagas lelah sehingga wajahnya jadi cepat serius dan gak asik buat di ajak becanda lagi.


Bagas kembali ke mobilnya dan mengambil pakaian gantinya. Setelah itu Bagas masuk di kamar tamu lalu mandi. Adzan maghrib pun berkumandang. Mereka semua berkumpul di mushalla rumah Bintang yang letaknya di dekat teras samping rumah Bintang.


Setelah shalat mereka makan malam bersama. Malam ini Siti memasak makanan favorit Tiara. Maklum wanita ngidam biasanya banyak kepengennya dan maunya buatan Siti.


"Jadi besok gimana ke kantor polisinya?" tanya Pak Wijaya.


"Aku akan jemput Dewi ke sini besok pagi Pak setelah itu kami akan bersama - sama ke kantor polisi" jawab Bagas.


"Kalian yakin bisa berdua aja Gas, gak perlu kami temani?" tanya Bintang serius.


"Nggak perlu Bin, aku dan Dewi sudah membicarakannya. Dia sudah siap kok dan kami juga sudah menyesuaikan cerita kami saat ditanya kronologi penculikan Dewi" jawab Bagas.


"Kami titip Dewi ya Gas, tolong besok kamu jagain dia" pinta Bu Siti.


"Iya bu, aku akan jaga Dewi dengan baik. InsyaAllah" tegas Bagas.


"Kalau begitu Wi malam ini kamu istirahat yang cukup biar besok bisa segar saat ke kantor polisi dan bisa menjawab semua pertanyaan mereka dengan tegas" ujar Siti.


"Iya Bu" jawab Dewi.


Akhirnya setelah makan malam Bagas pamit untuk pulang karena dia juga sangat lelah hari ini. Sementara besok mereka akan pergi menghadiri panggilan pertama dari pihak kepolisian.


"Wi, aku pulang ya" pamit Bagas ketika Dewi mengantarkan Bagas sampai teras depan rumah.


"Iya Mas hati - hati ya" jawab Dewi.


"Selamat malam cinta, mimpiin aku ya malam ini" goda Bagas sebelum pulang.


Dewi tersenyum malu, wajahnya merah merona.


"Sampai ketemu lagi besok Mas. Assalamu'alaikum.. " jawab Dewi.


"Wa'alaikumsalam kekasih hatiku, Dewi ku.. " Bagas masuk ke dalam mobil dan kemudian melaju meninggalkan halaman rumah Bintang.


.

__ADS_1


.


BERSAMABUNG


__ADS_2