Tiara

Tiara
Amanah Mama


__ADS_3

"Den Bintang... " panggil seorang wanita.


Bintang langsung menoleh ke arah suara itu.


"Bik Sumi" Bintang langsung berdiri dan menyambut kedatangan wanita itu.


Sumi langsung mendekat dan memeluk Bintang dengan erat. Tiara ikut berdiri di samping Bintang. Dia merasa wanita yang datang ini adalah orang yang sangat penting dalam hidup Bintang, suaminya.


Sumi memeluk Bintang dengan penuh haru dan meneteskan air matanya.


"Selamat menempuh hidup baru ya Den Bintang. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warrahmah, diberi keturunan yang soleh dan solehah dan bahagia sampai kakek nenek" ucap Sumi.


"Aamiiiin.. terimakasih Bik Sumi. Kenalkan ini istriku Bik" jawab Bintang sambil mengenalkan Tiara kepada Sumi.


"Ra kenalkan ini Bik Sumi. Bik Sumi lah yang membesarkan dan mendidik aku selama ini. Dia sudah bekerja di rumah orang tuaku sejak aku kecil" ucap Bintang.


Tiara ingin mencium tangan Bik Sumi tapi Bik Sumi langsung memeluk Tiara.


"Ya Allah... cantik sekali istri kamu Den.. Solehah lagi" Puji Bik Sumi.


Tiara dan Bintang tersenyum mendengar pujian Sumi.


Tiba - tiba Tegar datang.


"Papa.. Papa.. siapa eyang ini? Apakah dia eyangku?" tanya Tegar.


"Sini sayang, salam dan cium tangan. Ini juga eyang kamu" jawab Bintang.


Tegar mengikuti perintah Bintang dan mencium tangan Sumi.


"Siapa anak ini Den, mengapa wajahnya mirip sekali sama Den Bintang waktu kecil?" tanya Bik Sumi.


"Ini anakku Bik" jawab Bintang.


Sumi menatap wajah Bintang tidak mengerti.


Bukan kah Den Bintang baru menikah, mengapa dia sudah memiliki anak sebesar ini? tanya Sumi dalam hati.


"Aku mengerti apa yang sedang Bik Sumi fikirkan. Nanti akan aku jelaskan" sambung Bintang.

__ADS_1


Sumi langsung memeluk dan menggendong Tegar.


"Siapa nama kamu sayang?" tanya Sumi.


"Namaku Tegar Prakasa eyang" jawab Tegar.


"Kamu ganteng dan pintar sekali. Persis banget seperti Papamu waktu kecil dulu" ucap Sumi dengan mata berkaca - kaca.


"Bibik makan dulu ya di sana, nanti kalau sudah sepi aku akan cerita sama Bibik semuanya" suruh Bintang.


"Iya Den, ayo sayang temani eyang ngambil makanan. Kamu sudah makan? Mau eyang suapi?" tanya Sumi yang langsung merasa dekat dengan Tegar. Mungkin karena wajah Tegar mengingatkan dia dengan Bintang saat kecil dulu.


Sumi dan Tegar berjalan menuju meja makan. Sedangkan Tiara dan Bintang sedang sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.


Acara berhenti sebentar untuk istirahat shalat dzuhur. Waktu ini ditempatkan Bintang untuk berbicara dengan Sumi.


Bintang menarik lembut tangan Tiara dan mengajaknya berjalan menuju tempat Sumi yang sedang duduk sendirian.


"Bibik datang sama siapa ke sini?" tanya Bintang yang sudah tidak sabar dari tadi.


"Bibik diantar supir Den. Nyonya yang suruh Bibik datang sebagai perwakilan mereka. Karena Nyonya dan Tuan tidak bisa hadir mengingat Tuan masih dalam masa pemulihan pasca operasi" jawab Sumi.


"Ternyata ada juga perhatiannya. Aku kira aku hanya sebatang kara di dunia ini" jawab Bintang


"Den Bintang jangan bicara seperti itu, semenjak kepergian Den Bintang dari rumah. Nyonya sering menangis dan bersedih bahkan beberapa kali Nyonya ketahuan Tuan mencari Den Bintang kemana - mana. Den Bintang kan tau bagaimana kerasnya hati Tuan. Tuan sangat marah karena Den Bintang minggat dari rumah. Menurut Tuan, Den Bintang yang salah karena sudah melawan pada orang tua" ungkap Bik Sumi.


"Huh tua bangka itu tidak pernah berubah. Dia tidak sadar karena sikapnya seperti itulah makanya aku pergi dari rumah" balas Bintang kesal.


"Maaaas... " ujar Tiara.


"Gak boleh ngomong begitu Den, bagaimanapun juga Tuan adalah orang tuanya Aden. Dosa kalau melawan orang tua" jawab Bik Sumi.


"Orang tua yang seperti apa Bik? Orang tua yang menelantarkan anaknya di rumah sendirian dan tidak pernah punya waktu bahkan tidak pernah memberikan kasih sayangnya kepada anaknya. Bahkan saat aku sakit saja dia tidak perduli dan tidak pernah mau melihatku ke kamar" ucap Bintang kesal.


"Maaas.... " Tiara menepuk bahu Bintang lembut mencoba untuk menenangkannya.


"Bibik tau Den, Tuan juga sedih atas kepergian Aden dari rumah. Cuma Tuan kan laki - laki Den bisa menyembunyikan kesedihannya tidak seperti Nyonya yang selalu menangis jika mengingat Aden" sambut Sumi.


"Ini ada titipan Nyonya, katanya ini harus diberikan kepada istri Aden, Nona Tiara" Sumi memberikan kotak perhiasan yang ukurannya lumayan besar.

__ADS_1


Dengan tangan gemetar Tiara membukanya dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat isi di dalam kotak perhiasan itu.


Ada satu set perhiasan yang sangat cantik dengan berhiaskan baru permata.


"Kata Nyonya ini adalah perhiasan warisan dari orang tua Tuan yang di terima Nyonya saat Nyonya menikah dengan Tuan. Sekarang Aden sudah menikah, sudah saatnya perhiasan ini di turunkan kepada istri Aden sebagai menantu di keluarga Prakasa" ungkap Sumi.


"Tapi Bik aku tidak pantas menerima semua ini" tolak Tiara lembut.


"Jangan ditolak Nona, ini memang milik Nona. Sekarang Nona sudah sah menjadi istri Den Bintang. Itu artinya Nona berhak memiliki perhiasan ini" jawab Sumi.


"Terima dan simpan saja sayang.. Ini memang milik kamu. Kamu pantas mendapatkannya" ucap Bintang kepada istrinya.


Tiara menutup kembali kotak perhiasan yang diberikan Sumi dan memegangnya erat.


"Sekarang Bisa Aden jelaskan tentang Tegar, Bibik sangat penasaran dan tidak sabar mengetahuinya. Mengapa Aden sudah mempunyai anak sebesar Tegar padahal Aden baru menikah sekarang?" tanya Sumi tanpa basa - basi.


"Ceritanya panjang Bik. Lebih lima tahun yang lalu, saat itu aku sedang kesal karena habis bertengkar dengan dua sahabatku sehingga aku pergi ke diskotik dan mabuk. Tanpa sengaja aku bertemu Tiara yang juga sedang mabuk karena di jebak oleh teman - temannya. Aku menyelamatkannya dari gangguan dua orang pria dan membawanya keluar dari diskotik. Karena aku tidak tau dimana rumahnya akhirnya aku membawanya ke apartementku. Dan karena malam itu kami berdua dalam keadaan tidak sadar terjadilah hal - hal yang tidak di inginkan dan akhirnya ada Tegar. Setelah kejadian malam itu aku tidak pernah bertemu dengan Tiara. Hingga sekitar setengah tahun yang lalu aku baru mengetahui kalau Tegar adalah anakku dan akhirnya hari ini aku menikah dengan Tiara" Bintang menceritakan semua kepada Sumi tanpa menutupinya sedikitpun.


"Ya Tuhaaaan... mengapa hal itu bisa terjadi Den?" Sumi menutup mulutnya.


"Itu semua masa lalu kami Bik, kami juga melakukannya tanpa sadar dan yang penting kami sudah benar - benar bertobat dan tidak mengulangi dosa yang telah kami lakukan dulu. Sejak bertemu Tiara hidupku berubah menjadi lebih baik lagi Bik. Aku bahagia bisa bertemu dengan Tiara dan memilikinya serta anak kami Tegar" ungkap Bintang.


"Syukurlah, Bibik ikut bahagia atas kebahagian Den Bintang" jawab Sumi.


"Tapi tolong jangan ceritakan hal ini kepada Papa dan Mama ya Bik. Biar waktu yang menjawab semuanya. Aku tidak mau mereka berfikiran dan berprasangka buruk terhadap Tiara. Karena Tiara bukanlah wanita seperti itu. Dia hanya korban dari orang jahat yang ingin mencelakainya" tegas Bintang.


"Iya Den Bibik mengerti. Tapi Den mohon maaf, Bibik tidak bisa lama - lama di sini. Bibik harus pulang karena takut Tuan curiga. Tadi Bibik izin pulang sampai sore karena ada keluarga yang pesta" ucap Bintang.


"Baiklah Bik, hati - hati" jawab Bintang.


"Sampaikan salamku pada Mamanya Mas Bintang ya Bik dan ucapkan terimakasihku kepadanya. Dilain kesempatan aku yakin kami akan bertemu" ujar Tiara sambil mencium tangan Bik Sumi.


"InsyaAllah Nona. Sekali lagi selamat atas pernikahan kalian. Bibik titip Den Bintang, tolong jaga dan urus Den Bintang dengan baik ya" pesan Sumi pada Tiara.


"Iya Bik. Hati - hati ya Bik.. " balas Tiara.


Mereka saling berpelukan dan kemudian Bik Sumi pergi meninggalkan rumah Tiara.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2