
"Apa maksud Mas mengatakan pada mereka kalau aku adalah calon istri Mas, bukannya Mas Bagas sudah punya calon sendiri?" tanya Dewi kepada Bagas.
Duh mati aku? Apa yang harus aku katakan pada Dewi? Apakah aku harus jujur seperti saran Dewi tadi? Sepertinya ini memang saatnya. Batin Bagas.
Bagas menatap wajah Dewi dengan seksama, tatapan langsung masuk ke dalam manik mata Dewi. Dewi seketika sadar dengan pertanyaannya tadi. Jantungnya kembali berdetak.
Mati aku, bagaimana kalau ternyata perkataan Bapak kemarin memang benar. Ternyata wanita yang di sukai Mas Bagas adalah aku? Duh bagaimana ini? tanya Dewi dalam hati.
"Wi.. aku mau ngomong sesuatu pada kamu.. Sebenarnya wanita yang selama ini aku ceritakan sama kamu adalah kamu sendiri Wi" ujar Bagas.
Mata Dewi seketika melotot.
"Ma.. ma.. maksud Mas Bagas?" tanya Dewi terbata - bata dan tak percaya.
"Calon istri di bawah umurku adalah kamu Wi. Pertama kali aku perhatiin kamu saat pernikahan Roy dan Dian, aku tertarik sama kamu. Lama kelamaan seiring waktu kita sering bertemu aku semakin yakin padanperasaan aku ini dan Bintang pun mengetahuinya. Dia melarang aku untuk mendekati kamu tapi aku berhasil meyakinkannya. Hanya saja dia mempunyai syarat tunggu kamu sampai berusia dua puluh tahun baru aku boleh mendekati kamu. Itu pun kalau kamu belum punya calon, kalau sudah ya aku harus terima dengan lapang dada" ungkap Bagas.
Bagas menarik nafas panjang.
"Tapi aku hanya manusia biasa Wi, aku tidak bisa menahan keinginanku untuk tidak bertemu dengan kamu, untuk tidak melindungi kamu dan untuk tidak menghubungi kamu. Aku tidak bisa Wi.. aku terus ingin melakukan semuanya dan aku ingin selalu di dekat kamu. Aku mencari jalan bagaimana caranya agar kamu tidak curiga padaku ya caranya dengan berpura - pura meminta kamu sebagai guru kencanku dengan gadis di bawah umur" sambung Bagas.
"Kini semuanya sudah jelas, kamu sudah tau bagaimana perasaan aku ke kamu. Aku benar - benar mencintai kamu Wi dan aku serius. Aku tidak akan mempermainkan kamu seperti wanita - wanita yang aku temui sebelumnya. Aku serius ingin menikahi kamu" ujar Bagas meyakinkan.
Tangan Dewi berkeringat, dia mencengkram bajunya karena merasa shock. Ternyata selama ini Bagas mempunyai maksud terselubung mendekatinya. Dewi menatap wajah Bagas. Bagas memang sempurna untuk ukuran laki - laki tampan tapi.. tapi... entah mengapa Dewi merasa kecewa karena sudah merasa dikerjai Bagas selama ini di tambah lagi Dewi hanya menganggap Bagas sebagai seorang kakak. Ya selama ini Dewi menganggap perhatian Bagas padanya hanya sebatas perhatian seorang Kakak dan adik.
"Ma.. ma.. maaf Maaas. Aku tidak bisa menerima perasaan kamu" Dewi langsung pergi meninggalkan Bagas.
Bagas terkejut dan segera mengejar Dewi.
"Wi.. jangan pergi seperti ini, please... kita bisa bicara baik - baik. Kamu jangan pergi seperti ini. Wi... " Bagas menarik tangan Dewi yang sedang menangis karena merasa dipermainkan Bagas.
"Oke.. Oke.. aku tidak akan memaksakan perasaanku pada kamu. Kamu jangan pergi seperti ini, aku akan mengantarkan kamu ke rumah kamu. Please Wi... " Bagas terus memohon.
Dewi berhenti tapi dia terus menangis.
__ADS_1
"Wi please jangan menangis seperti itu. Aku tidak sanggup kalau melihat kamu menangis. Aku akan memeluk kamu Wi.. please jangan nangis ya" bujuk Bagas.
Karena ancaman Bagas Dewi jadi menghentikan tangisannya.
"Kamu jangan pergi ya, aku ambil barang - barang kita dulu setelah itu kamu akan aku antar pulang" Bagas segera mengambil barang - barang belanjaan mereka, dia meletakkan beberapa lembar uang seratus ribu rupiah di atas meja karena tadi sudah sempat memesan makanan dan membatalkannya secara sepihak kemudian Bagas kembali ke tempat Dewi berdiri.
Mereka berjalan beriringan menuju parkir mobil Bagas. Dewi terlihat diam saja tanpa mau berkata sedikit saja. Kini mereka sudah sampai di dalam mobil yang sedang melaju menuju rumah Siti.
"Dew, please katakan sesuatu? Kamu marah padaku? Kamu membenciku? tolong jangan diam Wi.. Itu lebih menyakitkan bagi Mas ketimbang kamu menolak Mas mentah - mentah" Desak Bagas.
Bagas menepikan mobilnya di tepi jalan dan mematikan mesinnya. Bagas menatap dalam kearah wajah Dewi.
"Say something Wi.. please... " bujuk Bagas.
"Aku marah sama Mas Bagas karena Mas Bagas sudah membohongiku selama ini. Mas Bagas mempermainkan aku dengan berpura - pura menjadi murid kencanku. Tapi Mas Bagas mengambil kesempatan kan? Aku kecewa pada Mas Bagas karena selama ini aku kira perhatian Mas Bagas padaku tulus sebagai perhatian seorang Kakak pada adiknya tapi ternyata berbeda. Mas Bagas memanfaatkan sifat lugu dan polosku, Mas sudah mempermainkan aku" Dewi kembali menangis.
"Nggak Wi.. aku tidak bermaksud mempermainkan kamu. aku hanya ingin selalu di dekat kamu dan menjaga kamu sampai waktu yang sudah ditetapkan Bintang. Memastikan agar tidak ada seorang pria pun yang berani mendekati kamu" ungkap Bagas.
Bagas melepaskan nafasnya dengan kasar.
"Aku akan berjuang agar kamu bisa menerima aku dan menganggap aku sebagai seorang pria Wi bukan sebagai seorang kakak" tegas Bagas.
"Aku mau pulang Mas, aku mau pulang" Dewi kembali menangis.
"Oke Wi.. aku akan mengantar kamu pulang" jawab Bagas.
Bagas kembali menyalakan mobilnya dan mengantar Dewi sampai ke rumah Siti. Sesampainya di rumah Dewi langsung keluar mobil tanpa mengatakan sepatah katapun kepada Bagas, bahkan dia meninggalkan laptop dan handphone baru dyang baru saja dibelikan Bagas di dalam mobil.
"Wi... " panggil Bagas. Dewi tetap berlalu masuk ke dalam rumah tak memperdulikan Bagas.
Semua yang ada di dalam rumah terkejut melihat penampilan Dewi yang masih menangis langsung lari naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya.
"Assalamu'alaikum... " sapa Bagas.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam. Dewi kenapa Gas?" tanya Bintang penasaran.
Wajah Bagas terlihat jelek sekali. Membuat semua semakin penasaran dengan apa yang terjadi antara Dewi dan Bagas. Siti, Tiara dan Bintang menunggu jawaban dari Bagas.
"Duduk dulu nak Bagas" perintah Siti.
Mereka semua duduk di sofa ruang tamu. Bagas menatap wajah mereka satu persatu kemudian lebih lama menatap wajah Siti. Bagas langsung duduk bersimpuh di depan Siti.
"Bu maafkan aku.. aku menyukai Dewi" ujar Bagas.
Semua semakin penasaran, karena mereka sudah tau kalau Bagas memang menyukai Dewi. Tapi mengapa Dewi menangis saat pulang dan wajah Bagas terlihat sangat jelek sekali, seperti putus asa.
Bintang langsung mendelikkan matanya dan berdiri, tampak wajahnya sangat marah sekali.
"Apa yang kamu lakukan pada Dewi Gas? Mengapa Dewi menangis saat pulang ke rumah dan kamu.. mengapa wajah kamu seperti itu. Apa kamu sudah merusak Dewi? Katakan Gas" teriak Bintang.
Sontak Siti dan Tiara terkejut mendengar pertanyaan Bintang.
"Maaaaas" ucap Tiara.
"Tidak Bin, aku tidak melakukan apapun kepada Dewi.. Aku cuma.. aku cuma mengutarakan isi hatiku padanya" jawab Bagas membela diri.
Bagas sangat takut kalau Bintang, Siti dan Tiara berpikiran buruk tentangnya, maklum selama ini memang julukannya sebagai playboy sudah melekat erat dan sangat sulit untuk dibersihkan.
"Lantas mengapa Dewi sampai menangis?" tanya Bintang semakin penasaran.
"Dewi marah padaku karena aku telah membohonginya selama ini dan dia menolak aku" jawab Bagas sedih.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1