
"Waaaw... selera kamu juga sudah berubah bro.. jadi suka anak ingusan seperti ini?" tanya pria itu.
Tangan Bagas mengepal dan wajahnya berubah seperti sedang menahan amarah. Dewi segera menyadari perubahan wajah Bagas.
"Maaaas" Dewi memegang tangan Bagas dan tersenyum membuat Bagas tersadar.
"Apapun yang aku pilih ini adalah hidupku dan gak ada hubungannya sama kamu. Permisi" Tegas Bagas pada temannya. Bagas menggenggam tangan Dewi dengan erat dan langsung pergi meninggalkan pria itu.
Dewi menunduk malu dan berjalan di belakang Bagas. Mereka kini sudah masuk ke dalam mobil. Bagas menarik nafas lega.
"Hampir aja tadi aku nonjok wajahnya, untung ada kamu di samping aku untuk mengingatkan aku. Makasih ya Wi" ujar Bagas.
"Hari ini udah dua temannya Mas Bagas yang berkata seperti itu. Mas yakin akan melanjutkan rencana Mas? Mumpung kita belum ada ikatan apa - apa Mas Bagas masih bisa mundur" jawab Dewi. Dia menundukkan wajah dan kedua tangannya saling meremas.
"Aku tidak akan mundur Wi. Ternyata untuk menjadi orang yang lebih baik tidak semudah itu. Selalu saja ada cobaan yang menghadang. Oleh sebab itu aku butuh kamu sebagai penawar amarahku, mengingatkan aku kalau aku harus lebih bersabar dan kita juga harus saling menguatkan. Kamu juga jangan bersikap seperti tadi. Kamu harus lebih percaya diri. Kamu jauh lebih baik seeeegalanya dari mereka. Hanya aku yang tau... Yang lain aku tidak peduli apapun penilaian mereka" ungkap Bagas.
Dewi tetap diam.
"Aku akan tetap memilih kamu, apapun yang terjadi aku tidak peduli. Bila perlu seluruh dunia pun akan aku lawan. Kamu jangan sedih ya Wi. Perkataan Michelle tadi tidak ada artinya. Kamu adalah yang terbaik yang Allah kirim untuk aku, agar aku bisa berubah menjadi orang baik" tegas Bagas.
"Iya Mas" jawab Dewi.
Sial.. kencan kedua juga tidak mulus seperti yang aku bayangkan. Ada saja rintangan yang harus kami lalui. Kuatkan aku dan Dewi ya Allah. Aku benar - benar ingin berubah menjadi pria baik. Batin Bagas.
Bagas menarik nafas panjang.
"Setelah ini kita kemana?" tanya Bagas.
"Pulang aja Mas" jawab Dewi.
"Kamu gak mau jalan - jalan lagi?" tanya Bagas.
"Aku takut" balas Dewi.
"Takut apa? takut aku apa - apain? Kamu masih belum percaya padaku kalau aku sudah berubah dan aku sudah berjanji untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya Wi" ungkap Bagas.
"Aku takut ketemu sama.... " sambut Dewi.
"Kalau itu kamu gak perlu takut Wi. Mereka seperti itu karena iri. Iri melihat aku memilih kamu bukan mereka. Kamu adalah pemenang hati dan mereka semua hanyalah masa lalu" tegas Bagas.
"Ya sudah kalau begitu terserah Mas Bagas aja" ujar Dewi.
Bagas tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Kita jalan - jalan ke pantai aja gimana?" tanya Bagas.
"Ya sudah.. " jawab Dewi.
Bagas menyalakan mobilnya dan melajukannya menuju Ancol. Sesampainya di sana Bagas dan Dewi keluar dari mobil dan berjalan bersisian di pinggir pantai.
"Wi... " panggil Bagas.
"Hemmm... Dewi bermain dengan ombak yang menepi ke pinggir pantai.
"Apa yang membuat kamu berubah fikiran?" tanya Bagas.
"Maksud Mas?" tanya Dewi bingung.
Bagas duduk di atas pasir yang kering dibawah pohon kelapa tak lama Dewi juga duduk di samping Bagas.
"Kenapa akhirnya kamu berubah fikiran dan menerima aku?" tanya Bagas serius.
Dewi menatap laut yang ada di hadapan mereka.
"Awalnya sebenarnya aku marah sama Mas Bagas karena Mas Bagas sudah mempermainkan aku. Pura - pura memintaku untuk jadi guru kencan gadis di bawah umur. Tapi Ibu memberikan pandangan kepadaku dan aku memikirkan sikap Mas lagi. Mungkin seperti itu cara Mas untuk mendekatiku karena syarat yang di kasih Mas Bintang. Aku merasa nyaman berada di samping Mas. Selama ini aku tidak punya Kakak laki - laki jadi aku menemukan sosok itu pada Mas. Aku merasa dijaga dan dilindungi. Hingga pada saat kita makan berdua dan bertemu dengan tiga teman wanita Mas. Aku merasa panas dan marah mereka berbuat manja seperti itu pada Mas. Tapi aku tidak punya percaya diri. Mereka semua maksud aku tampilan mereka jauh lebih cantik dari aku, body mereka lebih bagus. Dan mereka sangat dewasa. Aku merasa tidak pantas bersanding dengan Mas Bagas dan aku juga heran mengapa malah Mas Bagas lebih memilih aku dari pada mereka. Wanita tadi juga sangat cantik dan jauh lebih segalanya dari aku" ungkap Dewi.
Bagas melirik ke kiri dan menatap wajah Dewi yang tampak murung.
Bagas tersenyum penuh kasih sayang ke arah Dewi.
"Makanya aku terima perasaan Mas karena aku juga merasakan hal yang sama" ujar Dewi.
Bagas menarik tangan Dewi dan menggenggamnya.
"Mulai hari ini kamu percaya sama Mas ya" pinta Bagas.
Dewi menganggukkan wajahnya.
"Iya" jawab Dewi.
"Kamu juga jangan takut dan malu apalagi gak percaya diri. Kamu masih ABG saja Mas udah jatuh cinta, gimana nanti kalau kamu sudah semakin dewasa" ucap Bagas meyakinkan.
Dewi tersenyum malu - malu.
"Tuh kamu senyum aja jantung Mas udah dangdutan" goda Bagas.
Dewi semakin tersenyum lebar.
__ADS_1
"Kalian kapan balik ke Bandung?" tanya Bagas.
"Kata Ibu besok Mas" jawab Dewi.
"Nanti malam ke rumahku yuk" ajak Bagas. Mata Dewi langsung melotot karena ajakan Bagas. Bagas tertawa melihat tanggapan Dewi.
"Hahaha.. aku gak akan berbuat macam - macam pada kamu. Maksudku kita ke rumah orang tuaku" ralat Bagas.
"Untuk apa?" Dewi lebih terkejut lagi.
"Untuk mengenalkan kamu pada kedua orang tuaku" jawab Dewi.
"Gak mau ah Mas, aku takut" sambut Dewi.
Bagas tersenyum melihat wajah Dewi yang panik dan mencoba menenangkan Dewi agar dia merasa nyaman.
"Kenapa takut? Di rumahku gak ada hantu" balas Bagas.
"Bukan takut sama hantu. Aku.. aku.. takut sama Papa dan Mama Mas Bagas" ungkap Dewi.
"Kenapa kamu takut, mereka gak makan orang kok. Kedua orang tuaku sudah sangat lama memintaku menikah tapi dari dulu aku belum berminat. Hingga aku bertemu dengan kamu dan yakin untuk menikah. Aku ingin mengenalkan kamu sebagai calon istriku kelak. Walaupun aku gak tau kapan kamu mau terima lamaran aku" ujar Bagas.
"Tapi Maaaaas" ucap Dewi.
"Papa dan Mama aku orang yang baik kok Wi. Akunya saja yang bandel" Bagas mengaku.
"Apakah harus secepat ini Mas. Baru juga tiga hari?" tanya Dewi bingung.
"Cepat atau lambat sama saja kan. Lebih cepat lebih baik, mereka tidak akan bertanya terus kapan aku nikah. Aku tinggal katakan aku akan menikah jika Dewi ku sudah siap untuk itu. Mereka pasti mengerti melihat usia kamu yang memang baru delapan belas tahun" jawab Bagas.
Dewi menarik nafas panjang.
"Ya sudah deh Mas, terserah Mas. Aku ikut aja. Tapi kita pulang dulu kan ke rumah Kak Ara. Aku mau mempersiapkan diriku sebelum ke rumah orang tua Mas" pinta Dewi.
"Oke Wi. Kalau begitu kita pulang yuk sekarang" ajak Bagas.
Mereka berjalan kembali ke dalam mobil.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1