Tiara

Tiara
Operasi penyelamatan Tiara 2


__ADS_3

Operasi sudah berjalan tiga puluh menit tiba - tiba seorang perawat menghampiri Bintang dan keluarganya.


"Pak pasien mengalami pendarahan dan membutuhkan darah yang banyak. Stok darah kitas sedang menipis apakah ada yang mempunyai golongan darah yang sama, itu lebih baik Pak" ujar perawat.


"Maaf suster saya tidak tau apa golongan darah istri saya" jawab Bintang.


"Pasien bergolongan darah AB Pak" jawab Perawat.


"AB.. Golongan darah ku A Pa" Bintang menatap Papanya.


"Papa O Bin dan Mama kamu A" sambut Pak Bambang.


"Aduh bagaimana ini?" tanya Bintang.


Bintang tanpa sadar menarik rambutnya karena sangat khawatir. Disaat yang sama Ridho, Roy, Dian dan Bagas sampai di Rumah Sakit berbarengan.


"Bagaimana keadaan Tiara Bin?" tanya Dian sambil menarik nafas panjang karena dia tanpa sadar berjalan dengan cepat dalam keadaan hamil besar seperti ini.


"Tiara mengalami pendarahan dan dia butuh donor darah tapi stok golongan darah Tiara sedang kosong" jawab Bintang.


"Emangnya apa golongan darah Tiara?" tanya Roy penasaran.


"Golongan darah Tiara AB" jawab Bintang dan Ridho bersamaan.


"Kamu kok tau?" tanya Bagas.


"Dulu saat hamil Tegar aku selalu menemani Tiara jadi aku tau golongan darah Tiara" jawab Ridho.


"Ya sudah ambil saja darahku. Golongan darahku sama dengan Tiara. Golongan darahku AB juga" ungkap Bagas.


"Kamu serius Gas?" tanya Bintang.


"Ya serius lah, masak saat - saat seperti ini becanda Bin" jawab Bagas.


"Ya sudah Pak, ayo segera ke ruangan PMI agar kita segera melakukannya donor darah" ajak Perawat.


"Alhamdulillah" ucap Sekar dan Dian.


Bagas mengikuti perawat ke ruang PMI untuk mendonorkan darahnya. Operasi berlanjut mereka semua menunggu dengan cemas.


Tiga puluh menit kemudian seorang perawat keluar dari ruang operasi.


"Bapak Bintang Prakasa" panggilnya.


"Ya Sus" Bintang langsung berdiri.


"Selamat anak Bapak sudah lahir dengan selamat. Silahkan ke ruangan bayi Pak. Bapak bisa melihat anak Bapak sekaligus mengadzankannya" perintah perawat itu.


"Alhamdulillah" ucap Bintang disambut oleh yang lain.


"Ayo Bin cepat lihat anak kamu" desak Sekar.


"Iya Ma" jawab Bintang.

__ADS_1


Bintang segera pergi mengikuti perawat ke ruangan bayi. Dia melihat bayi mungil berjenis kelamin wanita lahir dengan sehat dan selamat. Bayi yang sangat cantik, kulitnya putih dan berbadan gembul.


Bintang mengelus lembut kepala putrinya.


"Terimakasih ya Allah, KAU telah menyelamatkan anakku" ucap Bintang.


Bintang segera menggendong putrinya dan mengumandangkan adzan di telinga kanannya. Tanpa terasa air mata Bintang mengalir, melihat putri mungilnya itu.


Setelah selesai mengadzankan putrinya Bintang di datangi oleh seorang perawat.


"Pak Bintang" panggil Perawat itu.


Entah mengapa hati Bintang jadi tidak tenang, perasaannya mengatakan ada sesuatu yang terjadi kepada istrinya.


"Ada Sus? Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Bintang.


"Silahkan anda masuk ke ruangan operasi sebentar, Dokter ingin bertemu dengan anda" jawab perawat itu.


Bintang segera berganti pakaian dengan pakaian steril untuk masuk ke ruang operasi. Jantungnya berdetak semakin kencang. Mulutnya tak berhenti komat kamit mengucapkan segala doa meminta keselamatan istrinya.


"Pak, istri anda mengalami pendarahan yang sangat berat. Kami sudah berhasil menyelamatkan putri Bapak tapi maaf kandungan istri Bapak harus di angkat karena benturan yang sangat keras membuat kandungannya rusak" ungkap Dokter tersebut.


Jedaaaaar.....


Bagai petir di siang hari, perasaan Bintang tak bisa dilukiskan lagi.


"Bagimana Pak?" tanya Dokter .


Bintang menarik nafas panjang.


"Lakukan Dokter, lakukan yang terbaik untuk istri saya" air mata Bintang terus mengalir.


"Baik Pak, silahkan Bapak tanda tangani surat persetujuannya" sambung Dokter.


"Iya Dokter tapi sebelum saya keluar izinkan saya mengecup kening istri saya" pinta Bintang.


"Silahkan Pak" jawab Dokter


Bintang mendekati istrinya yang tak sadarkan diri. Dia menyentuh pipi Tiara yang terasa sangat dingin. Dengan tangan yang bergetar Bintang mengecup kening Tiara dengan penuh kasih sayang.


Air matanya semakin deras mengalir tapi dia harus berusaha kuat di depan istrinya walau saat ini Tiara tidak sadarkan diri. Bintang yakin Tiara pasti akan mendengar semuanya.


Bintang mendekatkan bibirnya ke arah telinga Kinan dan berkata dengan pelan.


"Sayang kamu harus kuat, aku dan anak - anak kita masih membutuhkan kamu. Kamu harus sehat putri kita sangat cantik sekali sayang. Tidak kah kamu ingin melihatnya. Aku menunggu kamu" Bintang sekali lagi mencium kening istrinya kemudian melangkah keluar dari ruang operasi.


Bintang melihat sendu ke arah Papa, Mama dan para sahabatnya. Semua terkejut melihat penampilan Bintang. Dia sudah memakai pakaian lengkap operasi seperti dokter dan perawat.


Sekar dan Tegar langsung berlari menyambut Bintang. Dari wajah Bintang mereka mempunyai firasat yang tidak baik.


"Ada apa Bintang?" tanya Sekar dengan penuh ke khawatiran.


Bintang memeluk Mamanya meminta kekuatan.

__ADS_1


"Tiara Ma.. Tiara... " ucap Bintang sambil terus menangis.


"Papa.. Mama kenapa? Mama kenapa Paaaa?" Rengek Tegar.


"Rahimnya harus diangkat Ma karena sudah rusak akibat benturan yang sangat kuat" jawab Bintang.


"Innalillahi... Ya Allah Tiara..." ucap Sekar.


Pak Bambang yang mendengar itu langsung mendekat.


"Terus bagaimana selanjutnya?" tanya Pak Bambang tak sabar.


"Dokter melanjutkan operasi, mereka harus mengangkat rahim Tiara segera" jawab Bintang.


"Oh ya Allah... " sambut Pak Bambang.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Sekar, Mamanya Bintang.


"Kita hanya bisa menunggu Ma sampai operasinya selesai dan kita terus berdoa agar operasinya berjalan lancar" jawab Bintang.


"Pak Bintang" panggil seorang perawat.


"Ya Suster" jawab Bintang pasrah.


"Silahkan di tanda tangani Pak surat persetujuan operasinya" perintah perawat.


Bintang segera meraih kertas persetujuan tindakan operasi untuk pengangkatan rahim Tiara. Air mata Bintang masih belum bisa berhenti. Tangannya terus bergetar ketika menandatangani surat yang diberikan perawat.


Tak lama setelah Bintang menandatangi berkas operasi perawat kembali ke dalam ruangan meninggalkan Bintang dan keluarganya di ruang tunggu.


Pak Bambang menepuk bahu Bintang untuk memberikan dukungan.


"Kamu harus tenang Bin, semua pasti bisa terlewati" ucap Pak Bambang.


"Iya Pa, tapi bagaimana nanti setelah Tiara sadar dan mengetahui kalau rahimnya sudah di angkat Pa?" tanya Bintang.


"Kamu harus yakinkan dia, itu memang pilihan terbaik dan tidak ada jalan lain. Lagi pula kalian kan sudah punya dua anak jadi Papa rasa itu bukan menjadi masalah yang besar" jawab Pak Bambang.


"Aku memang tidak keberatan Pa tapi aku takut Tiara jadi tidak percaya diri dan menganggap bahwa dia telah cacat" ungkap Bintang.


Memang itulah kekhawatiran Bintang, kalau dia sendiri tidak keberatan yang terpenting baginya Tiara bisa selamat. Tiara juga sudah memberikannya sepasang anak. Putra putri yang cantik dan tampan. Hidupnya sangat lengkap tapi apakah Tiara bisa menerima semuanya?


.


.


BERSAMBUNG


Hai readers setia.. terimakasih kalian sudah mendukung di setiap novel - novelku. Jangan lupa koment, like, vote dan hadiahnya ya...


Agar aku lebih semangat.


Terimakasih..

__ADS_1


__ADS_2