
Hari Sabtu akhirnya tiba, seluruh keluarga dan teman dekat sudah berkumpul di rumah keluarga Roy. Begitu juga Bintang dan keluarga kecilnya, tapi Roy mengundang keluarga Tiara.
Ibu dan kedua adik Tiara juga ikut dalam acara tersebut. Karena Roy adalah mantan Bosnya Tiara dan juga mantan Calon Tiara dulu. Ibu dan adik - adiknya sempat dekat dengannya.
Selain itu Ibunya juga sangat berterima kasih kepada Roy dan Dian yang telah banyak berjasa dalam kehidupan putrinya, Tiara. Makanya Ibu Tiara hadir dalam acara penting mereka.
Sabtu siang Ibu dan kedua adik Tiara sudah sampai di apartemen Bintang. Mereka memakai jasa supir untuk mengantarkan mereka dari Bandung menuju Jakarta.
Dengan menggunakan mobil Tiara mereka kembali ke Jakarta tetapi bukan untuk pulang ke rumah mereka sebelumnya. Kali ini mereka hanya jalan - jalan saja ke Jakarta.
Melepas kangen dengan anak dan cucu tercintanya dan juga menghadiri acara lamaran Roy dan Dian.
"Silahkan masuk nak Bintang" ucap asisten rumah tangga Roy yang sudah sangat dikenal Bintang.
Karena sejak remaja Bintang dan Bagas sering bermain ke rumah Roy. Membuat Bintang sangat akrab dengan keluarga Roy dan juga para pelayan di rumah Roy.
"Iya Bik, terimakasih" jawab Bintang.
"Ini keluarganya Nak Bintang?" tanya Asisten Rumah Tangga Roy yang bernama Bik Ngah.
"Iya, kenalkan ini anak dan istriku sedangkan ini Ibu mertua dan adik - adik iparku" jawab Bintang mengenalkan keluarganya.
Tiara dan yang lainnya bergantian menjabat tangan Bik Ngah. Setelah itu mereka masuk ke ruang keluarga dimana seluruh keluarga besar Roy sudah berkumpul.
"Bintaaaaang... maaf ya Tante gak bisa datang kemarin saat nikahan kamu" sambut Mama Roy.
"Iya Tante gak apa - apa. Aku ngerti kok" jawab Bintang.
"Ini istri dan anak kamu?" tanya Mama Roy.
"Iya, kenalkan Tante.. Dan ini mertua dan adik - adik iparku" Bintang kembali memperkalkan Tiara kepada kedua orang tua Roy.
"Ini yang namanya Tiara, cantik ya" sapa Papa Roy ramah.
Tiara hanya tersenyum menanggapi ucapan Papa Roy. Mereka saling berjabat tangan. Begitu juga dengan keluarga Tiara.
Tak lama Bagas juga sudah tiba di rumah Roy. Setelah menjabat tangan kedua orang tua Roy, Bagas menjabat tangan keluarganya Tiara.
Setelah itu dia berdiri di dekat Bintang.
"Bro.. baru kali ini aku perhatiin adik ipar lo. Cantik juga tuh" bisik Bagas.
Bintang mendelikkan matanya ke arah Bagas.
__ADS_1
"Dia masih SMU Gas, gila kamu" omel Bintang.
"Kamu baru tau si Bagas Gila?" ejek Roy.
"Dia baru berumut tujuh belas tahun. Kamu pedofil?" sindir Bintang.
"Hey tujuh belas tahun itu sudah besar, udah bisa nikah bahkan di luar sana sudah banyak yang punya anak" bela Bagas.
"Tidak.. adik iparku masih punya masa depan yang panjang. Tamat SMU dia masih mau kuliah" tolak Bintang.
"Lho siapa yang larang dia kuliah. Aku mampu lho mengkuliahkannya" sambungnya.
"Trus maksud kamu aku gak sanggup mengkuliahkannya? Makanya kamu mau mengambil alih biaya pendidikannya?" tantang Bintang.
"Sorry bro bukan maksud aku seperti itu. Aku kan hanya berfikir tentang masa depannya juga masa depanku" ucap Bagas.
"Apa hubungannya masa depan kalian?" tanya Bintang bingung.
Roy tersenyum melihat kedua sahabatnya ini saling bertengkar.
"Hubungannya adalah... kami akan menjalani masa depan bersama - sama" jawab Bagas sambil tersenyum.
"Kamu tau? Kamu itu udah ketuaan untuk Dewi. Nanti saat dia tamat SMU umur kamu sudah tiga puluh satu. Saat dia berumur dua puluh tahun umur kamu sudah tiga puluh dua tahun. Saat dia berumur tiga puluh tahun umur kamu empat puluh tiga tahun begitu seterusnya" ungkap Bintang.
"Sudah gila nih anak" ucap Bintang panik.
"Hahaha... sudah.. sudah.. masalah Bagas nanti aja di bahas. Dewi juga belum tamat sekolahnya. Sekarang kita sedang membahas masa depanku. Jadi kalian jangan bertengkar lagi ya" sambut Roy.
"Sudah berkumpul semua kan, yuk kita gerak ke rumah Dian. Kamu sudah siap Roy?" tanya Papa Roy.
"Sudah Pa" jawab Roy tenang.
"Yuk berangkat semua" sambut Papa Roy.
Mereka masuk ke dalam mobil mereka masing - masing.
"Bin, Ibu dan adik - adik kamu di mobil aku saja. Mobil aku kosong kok. Ngapain sempit - sempitan di mobil kamu" ucap Bagas.
Bintang kembali mendelikkan matanya.
"Gak apa - apa Bin, biar Ibu sama Bagas ya. Bagas juga sudah lbu anggap sebagai anak Ibu juga" sambut Siti.
Bagas tersenyum senang mendengar jawaban Siti.
__ADS_1
"Iya Mas, gak apa - apa. Kan Mas Bagas juga sendirian. Mobilnya juga kosong" Ujar Tiara.
"Ya sudah terserah Ibu saja" jawab Bintang.
Akhirnya Ibu, Dewi dan Ali naik ke mobil Bagas sedangkan Bintang bersama Tegar dan Tiara masuk ke dalam mobilnya.
Bagas dan Ibu Siti duduk di belakang sedangkan Dewi dan Ali duduk di kursi penumpang. Bagas berulang kali melirik melalui kaca spion dalam untuk melihat wajah Dewi.
Cantik, pendiam dan sepertinya baik dan solhehah juga. Ya jelas baiklah, kakaknya Tiara juga baik. Puji Bagas dalam hati.
Bagas tak henti - hentinya tersenyum sambil melirik wajah Dewi tanpa Siti, Dewi dan Ali sadari.
"Ehm.. Dewi dan Ali sudah pindah sekolah ke Bandung?" tanya Bagas memecah keheningan di dalam perjalanan.
"Sudah Nak Bagas. Seminggu setelah pindah ke Bandung, Bintang langsung mengurus surat pindah mereka" jawab Siti.
"Mereka kelas berapa Bu?" tanya Bagas.
"Dewi kelas tiga SMU dan Ali kelas tiga SMP" jawab Siti.
"Kalian sekolah dimana Wi?" tanya Bagas kepada Dewi.
"Kami sekolah di Taman Bangsa Mas. Lokasinya gak jauh dari rumah Kak Tiara dan kata Mas Bintang sekolahnya juga bagus" jawab Dewi sopan.
"Iya bagus itu sekolahnya. Berarti sebentar lagi kamu tamat ya? mau lanjut kuliah dimana?" selidik Bagas.
"Di Bandung aja Mas biar gak jauh sama Ibu. Kan bisa sekalian bantuin Ibu jaga Cafe" balas Dewi.
Tuh kan bener dia anak yang baik dan berbakti pada orang tua. Pasti kalau jadi istri juga gak jauh beda. Pasti dia juga akan berbakti pada suaminya. Hati Bagas berbunga - bunga.
Karena perjalanan agak jauh rombongan pergi jam lima sore, mereka singgah di mesjid untuk melaksanakan shalat maghrib bersama setelah itu mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Dian.
Jam tujuh malam rombongan keluarga Roy sudah sampai di rumah Dian. Keluarga besar Dian menyambut mereka dengan hangat.
Sebelum membicarakan masalah penting terlebih dahulu mereka dipersilahkan untuk menikmati hidangan makan malam bersama. Setelah selesai makan baru acara lamaran keluarga di mulai.
"Jadi kedatangan kami ke rumah yang berbahagia ini adalah dalam rangka ingin melamar Putri Bapak Dian Kartikasari untuk Putra Kami Roy Darmawan. Seminggu yang lalu mereka sepakat untuk menjalin hubungan yang halal. Kami sebagai keluarga Roy menyambut baik niat tulus mereka. Apakah keluarga Bapak juga merestui niat mereka?" tanya Papa Roy kepada Papa Dian.
"Kami keluarga besar Dian juga menyambut baik niat keluarga Bapak datang ke rumah kami ini untuk melamar putri kami"....
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG