
"Dewi marah padaku karena aku telah membohonginya selama ini dan dia menolak aku" jawab Bagas sedih.
Bintang lansung tertawa lega mendengar penjelasan Bagas.
"Hahaha... rasain kamu Gas, siapa suruh langgar syarat yang aku berikan. Aku kan sudah bilang sama kamu tunggu dua tahun lagi baru kamu boleh dekatin Dewi tapi kamunya bandel sih gak mau dengar apa yang aku katakan" ujar Bintang mengingatkan.
"Mas Bintang kok gitu sih" Tiara refleks memukul tangan suaminya mengingatkan kalau sikapnya itu sangat berlebihan.
"Aaww.. sakit yank" protes Bintang.
"Habis Mas senang banget melihat Mas Bagas menderita begini. Gak kasian apa lihat temannya sedih begini" bela Dewi.
"Itu hukuman untuknya yank karena selama ini suka mempermainkan wanita. Giliran benar - benar jatuh cinta malah di tolak hahahaha" ledek Bintang.
Bagas hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Betul kata Bintang itu adalah hukuman buatnya karena dosanya selama ini.
Siti menarik nafas lega. Dia menarik tubuh Bagas agar duduk kembali di atas sofa.
"Syukurlah gak terjadi hal - hal yang berbahaya, Ibu sampai kaget tadi. Kirain Dewi kenapa - kenapa sampai nangis begitu" ujar Siti.
"Ini Bu barang - barang Dewi" Bagas menyerahkan kotak handphone dan kotak laptop baru untuk Dewi yang tadi dibelikan Bagas
"Laptop dan handphone lagi?" tanya Dewi.
"Handphone dan laptop Dewi kan di sita polisi Ra untuk pemeriksaan. Selama itu Dewi pasti membutuhkan ini. Lagian handphone dan laptop yang lama mending gak usah dipakai lagi, punya kenangan buruk untuk Dewi. Nanti dia bisa teringat kejadian penculikannya dan kematian Pak Tarjo lagi. Mending laptop dan handphonenya yang lama di buang atau di jual" ungkap Bagas.
"Tumben kali ini kamu benar bro" puji Bintang.
"Terimakasih ya Nak Bagas, nanti Ibu akan berikan ini pada Dewi" balas Siti.
"Ibu kok gak kaget waktu aku bilang aku menyukai Dewi?" tanya Bagas penasaran.
"Ibu sudah tau perasaan kamu" jawab Siti.
"Pak Wijaya yang bilang ke Ibu?" tanya Bagas.
__ADS_1
Tiara melirik Ibunya.
"Bapak juga tau Buk?" tanya Tiara tak percaya.
Siti menganggukkan kepalanya.
"Kami kan sudah tua sudah bisa melihat setiap gerak - gerik kalian. Apakah kalian sedang sedih, bahagia dan juga jatuh cinta. Sama saat dulu kamu waktu jatuh cinta sama Bintang sampai menolak lamaran Roy" sindir Siti.
Gantian Bintang yang menggaruk kepalanya yang tak gatal kali ini karena malu mendengar perkataan mertuanya.
"Trus Ibu gak marah kalau aku suka sama Dewi? Ibu merestuiku mendekati Dewi?" tanya Bagas.
Siti tersenyum melihat wajah Bagas yang berubah jadi polos seperti itu padahal sebelumnya dia adalah pakarnya dalam hal menggoda wanita.
"Ibu akan memberikan kebebasan kepada siapa saja untuk mendekati anak Ibu asalkan dia mempunyai niat yang baik. Tapi kalau punya niat untuk menyakiti anak Ibu, Ibu yang akan berdiri paling depan untuk menghadangnya" ungkap Siti.
"Aku punya niat tulus Bu, aku serius mendekati Dewi untuk menjadikannya istriku dan hanya satu - satunya Istriku. Aku ingin hidup normal seperti Bintang dan Roy memiliki keluarga seperti mereka, tempat mereka kembali saat lelah setelah seharian bekerja mencari nafkah. Aku tau dulu aku banyak dosa tapi gak salah kan Bu kalau aku punya keinginan untuk memiliki istri yang baik dan solehah?" tanya Bagas.
"Kamu gak salah, setiap orang pasti mengingkan hal yang terbaik dalam hidupnya" jawab Siti bijak.
Siti tersenyum melihat tingkah Bagas yang kini berubah seratus delapan puluh derajat.
"Ibu akan coba bantu kamu, tapi Ibu tidak bisa janji lebih kepada kamu. Ibu tidak akan memaksa Dewi. Semuanya biar Dewi yang memutuskan. Ibu tidak mau disalahkan nanti jika Dewi merasa tidak bahagia hidup dengan kamu" ungkap Siti.
"Iya Bu, aku mengerti. Ibu sudah bersedia membantuku saja aku sudah sangat berterima kasih Bu" jawab Siti.
Krucuk.. krucuk...
Suara perut Bagas. Siti dan Tiara saling pandang. Bagas hanya tertunduk malu.
"Kamu sudah makan?" tanya Bintang.
"Belum Bin, tadi kami lagi di Restoran mau makan siang tapi tiba - tiba Dewi minta pulang dan gak jadi makan" jawab Bagas nelangsa.
"Hahaha... apes banget nasibmu hari ini bro... udah patah hati, kelaperan lagi" ejek Bintang.
__ADS_1
"Ayo Nak Bagas ke dapur biar Ibu masakin sesuatu buat kamu" ajak Siti.
"Gak usah repot - repot Bu, aku jadi gak enak" balas Bagas.
"Gak repot kok" sambut Siti.
Sore itu Bagas, Bintang dan Tiara kembali ke Jakarta. Sampai kepulangan mereka Dewi tidak mau turun ke bawah alasannya karena masih ada Bagas di bawah.
Seperti perkataan Siti sebelumnya. Tidak ada yang mau memaksakan kehendak mereka kepada Dewi biarlah Dewi yang memutuskan sendiri jalan yang mana yang akan di tempuh untuk masa depannya. Apalagi dalam hal mencari seorang suami, biar itu mutlak keputusan dari dalam hati Dewi.
"Bu aku pulang ya, titip salam untuk Dewi" ujar Bagas sebelum dia pulang.
"Iya nak Bagas, kamu hati - hati ya di jalan" jawab Siti.
Bagas sangat berat hati meninggalkan rumah Siti. Sebelum pulang Bagas melihat ke lantai dua ke arah kamar Dewi berharap dia bisa melihat wajah Dewi sebelum dia pergi.
Wi.. jangan lama - lama marahnya sama aku ya.. Maafkan aku Wi tapi percayalah cintaku padamu tulus. Aku tidak akan main - main lagi. Aku srius mencintai kamu dan ingin menikah dengan kamu, hanya kamu. Ucap Bagas dalam hati.
Mobil Bagas dan mobil Bintang mulai bergerak meninggalkan area perkarangan rumah Siti di Bandung.
Dewi mengintip dari tirai jendela kamarnya. Dia bingung dengan perasaannya saat ini? Apakah dia marah karena di bohongi atau marah karena Bagas mempermainkannya? Tapi bagaimana dengan hatinya? Apakah sudah ada perasaan yang hadir di dalam hatinya?
Dewi memang merasa nyaman berada di dekat Bagas tapi selama ini karena dia menganggap kalau Bagas menganggapnya sebagai seorang adik. Dan Bagas juga memang benar - benar serius minta di ajari kencan dengan gadis dibawah umur seperti dia.
Ternyata pemikiran Dewi selama ini salah. Dia lah ternyata wanita yang dimaksudkan oleh Bagas. Dewi merasa bodoh dengan mudahnya bisa dikerjain oleh Bagas seperti itu. Seenaknya Bagas mengajaknya nonton dan pura - pura diajari berkencan hingga Dewi mengajak Bagas berkencan sesuai dengan impian Dewi selama ini.
Dewi sangat malu.. malu sekali. Bagas bisa mengetahui impian remajanya sementara Bagas sudah sangat profesional berkencan dengan wanita yang jauh lebih dewasa dan lebih cantik darinya di luar sana. Mengapa Bagas harus memilih dia sebagai calon istrinya? Bukankah Bagas punya banyak stok teman wanita yang mau dia ajak menikah? Mengapa harus dirinya yang baru berumur delapan belas tahun yang belum punya pengalaman dekat dengan laki - laki manapun.
Dewi kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan sebentar saja dia sudah terlelap karena letih berpikir.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1