Tiara

Tiara
Honeymoon di rumah saja part. 3


__ADS_3

Mati aku.. salah pakai celana. Ujar Bagas dalam hati.


"Terimakasih" Bagas menjawab pujian si pengantar pizza kemudian menutup pintu apartemennya.


Dewi penasaran mengapa suaminya itu lama sekali menerima pesanan segera berjalan menuju ke depan. Tiba - tiba dia melihat tampilan Bagas.


"Hahahaha... Mas Bagaaaaas. Mas Bagas kok pakai celana tidur aku?" tanya Dewi. Dia tak bisa menahan ketawanya karena lucu melihat penampilan Bagas saat ini.


"Aku cuma pengen mengetes apakah celana ini nyaman untuk kamu pakai sayang? Ternyata memang sangat nyaman. Lain kali kamu harus sering - sering memakainya karena aku suka" jawab Bagas ngeles.


"Hahaha... tolong Mas cepetan tukar celananya. Aku gak tahan melihat Mas memakai celana itu" pinta Dewi sambil memegang perutnya yang sakit karena kebanyakan ketawa.


"Gak mau, kecuali kalau kamu bukain sendiri. Tolongin donk, aku kan lagi pegang pizza ini" pancing Bagas.


Sekalian aja deh aku kerjain istriku ini untuk nutupi malu. Sial... gara - gara si tukang pizza aku diketawain habis - habisan sama isteriku. Umpat Bagas dalam hati.


Dengan lugunya Dewi menjalankan perintah suaminya. Dia tidak tau kalau perintah suaminya itu adalah modus. Dewi segera mendekati Bagas dan memegang celana tidurnya kemudian menarik celana itu kebawah hingga Bagas hanya memakai boxer.


Dan alangkah terkejutnya Dewi ketika melihat bagian depannya boxer tersebut ada yang berdiri karena bangun.


Mati aku kalau Mas Bagas ngajak nganu - nganu lagi. Batin Dewi.


"Mas Bagaaaaas tolong di kondisikan senjatanyaaaaa" teriak Dewi berlari menjauh.


"Hahaha yank maklum udah lama puasa agak sulit mengendalikannya" jawab Bagas merasa menang.


Bagas meletakkan kotak pizzanya di atas meja kemudian berusaha mengejar istrinya. Mereka beradegan kejar - kejaran di dalam apartemen hingga Dewi kelelahan.


"Mas udahan ya.. aku laper sekali" pinta Dewi dengan wajah memelas.


Bagas merasa kasihan melihat wajah istrinya seperti itu.


"Ya sudah kalau begitu kita makan ya" ajak Bagas.

__ADS_1


"Tapi bisa gak Mas Bagas pakai celana dulu. Aku takut kita gak jadi makan. Takut akhirnya Mas Bagas makan aku jadinya" sambut Dewi.


Bagas tersenyum melihat tingkah istrinya kemudian memeluknya lembut dan mencium kening istrinya.


"Tenang sayang.. aku masih sabar kok menunggu nanti malam" ucap Bagas.


"Terimakasih Mas" jawab Dewi.


Bagas segera berjalan ke kamar mereka untuk memakai celana pendeknya, sedangkan Dewi membawa kotak pizza ke meja makan.


Tak lama Bagas menyusul Dewi ke meja makan dan mereka mulai menikmati makan siang mereka.


Entah karena lapar karena lelah bertempur tadi pagi setelah adegan menonton film ditambah mereka baru saja main kejar - kejaran di apartemen ini dengan cepat satu kotak besar pizza sudah habis mereka makan berdua. Dua kotak spaghetti juga sudah kandas masuk ke dalam perut. Tentu saja isinya dan tidak ikut serta para kotak - kotanya.


"Aaaah... aku kenyang sekali Mas" ujar Dewi.


"Syukurlah kamu kenyang. Aku tidak mau melihat istriku kelaparan seperti tadi. Maaf ya sayang aku merasa menjadi suami yang jahat sampai istriku jadi seperti ini" Bagas mengelus lembur rambut Dewi yang panjang terurai.


"Mas kan gak salah. Harusnya aku yang minta maaf sama Mas karena siang ini aku tidak menghidangkan makanan apapun untuk kita makan" balas Dewi.


"Yank.. kamu gak salah kok. Kita kan tadi ketiduran. Lagian hari ini aku gak mau buat kamu kelelahan karena memasak. Cukup kamu lelah di ranjang saja" Bagas mengedipkan sebelah matanya nakal kepada Dewi.


"Iih Mas Bagas nakal. Ngomongnya tentang ranjang melulu" ujar Dewi malu. Wajahnya langsung memerah.


"Namanya pengantin baru yank, emang harus banyak - banyak kerja di atas ranjang agar usahanya berhasil. Aku kan sedang bekerja keras untuk membuat kamu hamil" sambut Bagas.


"Itu emang tujuan sebenarnya atau modus ya?" tanya Dewi.


"Keduanya yank hahaha" tawa Bagas kembali pecah.


Dewi membereskan semua sisa makanan mereka dan merapikan meja makan.


"Habis ini kita mau ngapain nih?" tanya Bagas pada istrinya.

__ADS_1


"Balik tidur ya, aku masih ngantuk" jawab Dewi.


"Oke.. siang ini kita istirahat total. Gak kemana-mana dan gak gimana - gimana. Puas - puasin tidur dan istirahat untuk bekal nanti malam" Bagas menggendong Dewi dan membawanya ke kamar.


"Mas Baaaaagaaaaas.. ceritanya gak jauh - jauh dari ranjang terus. Males aaaah" protes Dewi.


"Hahaha... kamu kan tau yank kalau itu memang yang aku suka" balas Bagas.


Dewi memukul dada Bagas karena kesal kemudian memeluk Bagas dengan erat hingga mereka sampai di tempat tidur untuk melanjutkan tidur siang mereka.


Sore harinya Dewi bangun dalam pelukan Bagas. Dewi menatap wajag Bagas dengan intens. Saat ini dia sudah sepenuhnya menjadi milik Bagas. Dewi telah menyerahkan sesuatu yang berharga miliknya yang selama ini telah ia jaga.


Alangkah bahagianya bisa memberikan hadiah terindah untuk suami tercintanya dalam rumah tangga mereka. Walau Dewi tau dia bukanlah yang pertama untuk Bagas tapi Dewi merasa Bagas memang tulus dan benar - benar mencintainya.


Dewi mengusap lembut wajah Bagas yang masih nyenyak tertidur. Tangannya menyusuri guratan di wajah Bagas. Mulai dari alis Bagas yang lebat, turun ke hidung Bagas yang mancung dan bibir Bagas yang tipis.


Suaminya ini sungguh sangat tampan. Tak pernah sekalipun dulu terbayang dia akan mendapatkan suami seperti Bagas. Bahkan mimpi sekalipun tak pernah. Hingga dia mendengar sendiri pengakuan Bagas yang ingin melamar dan menikahinya.


Rasanya semua ini bagaikan mimpi bahkan pernikat mereka yang sebelumnya di rencanakan dua minggu lagi akhirnya di percepat menjadi seminggu yang lalu.


Semua adalah rahasia Allah, apa yang kita rencanakan belum tentu sesuai dengan rencana Allah. Dewi melihat janji Allah itu nyata. Kalau Allah sudah berkehendak tidak ada yang bisa mencegahnya. Semua akan berjalan sesuai dengan jalan kehidupan yang telah Allah gariskan untuk dia dan Bagas.


Kini Bagas adalah suaminya, pria yang saat ini ada di hadapannya. Jangan tanyakan sebesar apa lagi rasa cinta Dewi kepada Bagas. Dewi sudah menyerahkan seluruhnya kepada Bagas.


Sepenggal doa yang Dewi pinta. Semoga Allah selalu meridhoi segala usaha Dewi dan Bagas untuk menjalankan rumah tangga mereka dengan baik. Membangun masa depan bersama dan menyusunnya dengan indah. Semoga Allah meridhoi semua keinginan mereka memberikan mereka keturunan yang soleh dan solehah dan menghadirkannya segera seperti permintaan Bagas, suaminya.


Dewi tersentak ketika tiba - tiba saja tangannya yang masih tepat berada di bibir Bagas bergetar dan terdengar suara Bagas yang sedikit serak karena baru bangun tidur.


"Sudah puas memandang wajahku?" tanya Bagas. Bagas tersenyum dengan sempurna di hadapan Dewi membuat wajah Dewi langsung bersemu merah karena malu sudah ketahuan sedang menikmati tampannya wajah suaminya ini.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2