
Bagas segera menghubungi kedua orang tuanya dan menceritakan masalah yang sedang dia dan Dewi hadapi. Kedua orang tua Bagas menyambut kabar gembira itu dengan hati riang.
Mereka tidak mempermasalahkan rencana semula di percepat tiga minggu karena sebenarnya mereka memang sangat ingin putranya itu secepatnya menikah.
"Kami akan datang hari Jumat Gas ke rumah Wijaya" ucap Pak Raksajaya.
"Pa, Ma aku boleh meminta sesuatu gak?" tanya Bagas.
"Ya boleh Nak, apapun itu akan kami usahakan" jawab Pak Raksajaya.
"Tolong rahasiakan rencana percepatan pernikahan ini. Acara ini hanya khusus untuk keluarga dekat saja paling aku akan mengundang Roy dan Dian" pinta Bagas.
"Iya Nak, kami mengerti. Papa dan Mama tidak akan menyebarluaskan berita ini pada siapapun" janji Pak Raksajaya.
"Oh iya Ma, tolong ambilkan pakaian aku dan Dewi di Butik ya Ma. Aku sudah hubungi Tante pemilik Butiknya. Dan aku katakan kalau nanti Mama yang akan menjemputnya. Jangan lupa, jangan katakan apapun pada Tante itu" pinta Bagas lagi.
"Baik sayang" sambut Bu Raksajaya.
"Dan satu lagi Ma, tolong ambilkan juga cincin pernikahan kami di Mall FGH. Cincinnya sudah lama siap tapi belum diambil" ujar Bagas.
"Oke, itu juga akan Mama ambil. Ada lagi sayang?" tanya Bu Raksajaya.
"Bisa gak Ma tolong Bibik bersihin dan dekor apartement aku. Setelah kami menikah aku akan langsung bawa Dewi ke Jakarta. Karena ujiannya sudah selesai. Sesampainya di Jakarta kami akan langsung tinggal di apartemenku" jawab Bagas.
"Akan Mama laksanakan semua permintaan kamu. Sekarang kamu harus segera mempersiapkan diri kamu karena sebentar lagi status kamu akan berubah. Kamu bukan lagi anak muda yang bebas tapi kamu akan menjadi seorang istri. Kepala rumah tangga dan imam bagi istri kamu" nasehat Bu Raksajaya.
"Iya Ma. Aku akan bersiap. Hanya tinggal empat hari lagi. Makasih ya Ma, Pa sampai sejauh ini kalian tetap mendukung aku" ujar Bagas.
"Kamu itu putra kami satu - satunya Nak. Kalau kami bahagia kami juga turut bahagia" jawab Pak Raksahaya.
"Iya Pa. Ya sudah kalau begitu aku tutup dulu teleponnya ya Pa, Ma. Aku mau kabari Roy" ucap Bagas.
"Iya, kamu tetap hati - hati ya. Dan jaga Dewi dengan ketat sampai hari H. Jangan sampai Morgan mengetahui rencana percepatan pernikahan kalian dan mencoba untuk menggagalkannya" balas Pak Raksajaya.
"Iya Pa" Bagas akhirnya menutup teleponan.
Kini giliran Roy yang dihubungi Bagas. Bagas melakukan panggilan group antara dia, Roy dan Bintang.
"Halo.. " ucap Roy.
"Apa nih Gas, ngapain kamu telepon aku malam - malam begini. Aku lagi di atas ini" sambut Bintang.
__ADS_1
"Buseet lagi diatas terima telepon. Apa gak ngap - ngapan itu" komentar Roy.
"Aku mau dengar suara kakak ipar" sambut Bagas.
"Tiara lagi di bawah nyusuin Zia" jawab Bintang.
"Gila lu bro... Zia lagi di susui kamu enak - enakan berada di atas Tiara" oceh Bagas.
"Lu yang gila.. mentang - mentang sabtu mau nikah otaknya semakin kotor. Aku lagi di atas temani Tegar tidur" ujar Bintang.
"Hahaha.... " tawa Roy.
"Ya aku kira kamu lagi di atas Tiara" ungkap Bagas polos.
"Eh Bin tadi kamu bilang Bagas mau nikah Sabtu? Apa ceritanya nih? bukannya masih tiga pekan lagi?" tanya Roy bingung.
"Dia minta di percepat gara - gara Morgan ngancam mau rebut Dewi" jawab Bintang emosi.
"Apa? Morgan ngancam kamu Gas? Gimana cetitanya?" Roy semakin penasaran.
"Morgan sekarang di Bandung, sudah dua hari ini dia temui Dewi sampai ke kampus. Kemarin dia kirim foto Dewi dan mengirimkannya padaku. Dia membuat pesan kalau Dewi adalah calon istrinya. Aku langsung ambil cuti dan terbang ke sini. Tadi siang saat aku temani Dewi ke kampus saat ujian aku dan Morgan bertemu. Saat itulah dia ancam mau rebut Dewi dari aku. Hampir aja aku bertengkar dengannya tapi karena Dewi melarang jadi aku batalkan. Tapi Dewi trauma diculik kemarin jadi pas saat Morgan mengancam Dewi jadi menggeletar dan pucat. Dia sangat ketakutan. Aku berpikir satu - satunya cara agar aku bisa bebas menjaganya dua puluh empat jam ya dengan cara secepatnya menikahinya" ungkap Bagas.
"Betul itu Gas sekalian mematahkan niat Morgan untuk merebut Kinan dari kamu" sambut Roy.
"Cari kesempatan gimana Bin?" tanya Roy bingung.
"Di sini si Bagas yang sangat diuntungkan" jawab Bintang.
"Ya demi kebaikan lho Bin" ujar Bagas.
"Kami modus, jadinya pernikahan kamu di percepat kan? Emang itu mau kamu dari dulu. Kalau bisa saat ini, hari ini dan detik ini juga kamu nikah sama Dewi" oceh Bintang.
"Hahaha.. iya ya benar juga kamu bilang" sambut Roy.
"Itu namanya niat baik akan berbalas kebaikan lho Bin" jawab Bagas tersenyum.
"Rezeki anak soleh" sambungnya lagi.
"Soleh kepala lu" oceh Bintang.
"Kamu kan anak Raksajaya. Bukan anak Soleh" ejek Roy.
__ADS_1
"Terserah kalian.. yang penting sabtu aku nikah. Kami datang ya Roy. Kalau Bintang gak perlu aku undang lagi. Kalau dia gak datang, dia pasti di pecat jadi menantu kesayangan Ibu. Dan bersiap - siaplah kamu. Aku akan merebut gelar menantu kesayangan Ibu dan Bapak" ejek Bagas.
"Emangnya perlombaan. Ambil tuh gelarnya sama kamu. Aku gak perlu gelar, itu akan membuat pencitraan. Aku tulus mencintai Tiara bukan karena ingin menjadi menantu kesayangan" protes Bintang.
"Oke.. oke.. santai Kakak Ipar" ucap Bagas.
"Ya sudah Gas jumat kami datang. Acaranya di rumah Pak Wijaya kan?" tanya Roy.
"Iya, emang mau dimana lagi" tanya Bagas.
"Ya siapa tau di rumahnya Bu Siti" jawab Roy.
"Nggak, aku gak mau tempat aku nikah sama dengan Bintang. Aku mau tempat yang berbeda" potong Bagas.
"Ye.. siapa juga yang mau sama. Najis aku samaan dengan kamu tempatnya" protes Bintang.
"Kalian ini emang dasar tom and Jerry. Bertengkar melulu, gak ada bosannya" ucap Roy melerai.
"Jadi kamu mau kado apa dari kami?" tanya Roy lagi.
"Serius nih?" tanya Bagas senang.
"Udah Roy kagak usah tanya - tanya. Sabtu nanti kita langsung aja kasih kadonya ke dia" jawab Bintang.
"Iya ya... Oke lah Gas. Kami mau kompromi dulu sama Bintanh kado apa yang cocok untuk kalian" sambut Roy.
"Terserah kalian deh, tapi jangan yang macem - macem ya" ancam Bagas.
"Tenang Gas kami gak akan kasih kamu yang macem - macem. cukup satu macem saja" jawab Roy.
Matiin tuh telepon kamu. Aku dan Roy masih ada pembicaraan yang harus kami bahas" perintah Bintang.
"Iya deh Kakak ipaaaar" jawab Bagas.
Bagas kemudian menutup teleponnya dan dia berbaring telentang di atas tempat tidur sambil memeluk guling. Bagas mengangkat guling itu dan menciumnya seolah - olah itu adalah Dewi.
Cihuuy... empat hari lahir nikaaaaah... Teriak Bagas dalam hati.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG