
Sore harinya Pak Wijaya, Siti, Dewi dan Ali sudah sampai di rumah Bintang. Pak Bambang juga sepulang kantor langsung menuju rumah Bintang.
Keluarga inti sudah berkumpul semuanya. Hanya tinggal para kerabat dan sahabat yang mungkin nanti malam baru sampai di rumah Bintang.
"Apa ini Kak?" tanya Dewi ketika melihat kotak gaun Tiara. Dewi melihat nama sebuah Butik di kotak dan bungkusnya.
"Pasti gaun Kak Ara" Dewi langsung membuka kotak pembungkus gaun Tiara. Dewi mengeluarkan gaun tersebut dan mengangkatnya.
"Wi jangaaa" Tiara tak sempat mencegah.
Semua menatap ke arah gaun Tiara yang sudah penuh dengan robekan.
"Lho Kak kenapa gaunnya jadi seperti ini? Siapa yang melakukannya?" tanya Dewi terkejut.
Siti langsung meraih gaun yang di pegang Dewi.
"Sepertinya sengaja di robek?" tanya Siti.
Pak Wijaya dan Pak Bambang menatap ke arah Tiara menanti penjelasan dari Tiara.
"Itu gaun di pesan di butik langgananku yang sengaja kami pesan untuk di pakai Tiara nanti malam. Saat kami ke butik untuk pesan gaun Tiara tanpa sengaja kami bertemu dengan Siska" ungkap Sekar.
"Siska? Mantan pacarnya Bintang?" tanya Pak Bambang.
"Iya" jawab Sekar.
"Terus" ujar Pak Bambang.
"Ya... kami sempat perang mulut dengannya tapi akhirnya dia pergi karena gak tahan dengar ocehanku. Nah tadi siang, Mang Kardi aku suruh ambil gaun pesanan kami ke Butik itu. Sampai di rumah begitu kami buka gaun nya sudah jadi seperti itu. Aku komplain sama designernya tapi dia meyakinkan kalau dia sendiri yang membungkus gaun ini. Aku tunjukkan foto gaun ini baru deh dia cek cctv di ruangan kerjanya ternyata saat dia ke toilet Siska yang melakukan ini pada gaun Tiara " ungkap Sekar.
"Ih jahat banget sih mantannya Mas Bintang" ujar Ali.
"Kita gak bisa tinggal diam Bin, kamu harus mengambil tindakan. Jangan dibiarkan begitu saja" ujar Pak Bambang.
"Aku sudah bilang sama Tiara Pa, tapi Tiara menolak" jawab Bintang.
"Pa aku lagi hamil. Aku gak mau kalau anak yang ada dalam kandungan ini sudah aku didik untuk membalas dendam kepada orang lain. Biar sajalah Pa, selama tidak membahayakan jiwa" sambut Tiara.
"Iya Ra, tapi lama - lama dia jadi kebiasaan. Awalnya dia melakukan ini lama kelamaan dia akan berusaha membuat jiwa kamu terancam" ujar Pak Wijaya.
"InsyaAllah aku gak apa - apa" balas Tiara.
Pak Bambang dan Pak Wijaya menarik nafas panjang.
"Yang penting kamu harus jaga istri dan anak - anak kamu dengan baik Bintang" ujar Pak Wijaya mengingatkan.
__ADS_1
"Iya Pak aku akan menjaga mereka dengan seluruh kekuatanku" balas Bintang.
"Ayo semua istirahat dulu semuanya. Setelah itu baru nanti mandi dan siap - siap untuk acara nanti malam" ujar Sekar.
Mereka semua berkumpul dan duduk santai di ruang keluarga.
"Bik tolong buatin minum ya" perintah Tiara.
"Iya Non" jawab asisten rumah tangga di rumah Tiara.
Sebelum maghrib mereka sudah masuk ke kamar masing-masing untuk mandi dan bersih - bersih. Saat adzan maghrib mereka shalat jamaah bersama.
Tak lama kemudian anak - anak panti asuhan yang ada di dekat rumah Bintang mulai berdatangan. Para kerabat dan keluarga dekat Bintang juga sahabat Bintang dan Tiara.
Roy datang bersama Dian yang sedang hamil lima bulan. Sedangkan Ridho datang dengan Tari dan putranya juga kedua orang tuanya Ridho.
"Papa Dhooooo" panggil Tegar.
"Waaah anak Papa sudah besar banget sekarang" Ridho langsung menggendong Tegar.
Tidak bisa dipungkiri lagi kedekatan Tegar dengan Ridho. Dari sejak Tegar ada di dalam kandungan Tiara, Ridho yang selalu ada menemani Tiara melalui semua cobaan hidup yang Tiara hadapi. Sampai Tegar berusia empat tahun sebelum menikah dengan Bintang bahkan setelah menikah pun Tiara dan Bintang masih sering menitipkan Tegar di rumah Ridho dan Tari.
"Silahkan masuk Bu, Pak" ucap Tiara kepada Bapak dan Ibu Ridho. Tiara masih takut - takut menegur kedua orang tua Ridho. Dia masih ingat ucapan Mamanya Ridho dulu saat Tiara datang ke pernikahan Ridho dan Tari. Saat itu hati Tiara sangat sedih dan tanpa sengaja dia bertemu dengan Bintang di taman hotel tempat mereka menginap.
"Iya, wah besar sekali rumah kamu ya Tiara" Jawab Ibunya Ridho.
Tiara dan Bintang mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu.
Bintang dan Ridho masih ada di luar mengatur mobil yang akan di parkir di halaman rumah Bintang.
"Kata Ridho suami kamu ini adalah Bapak kandungnya Tegar?" tanya Ibunya Ridho.
"Iya Bu" jawab Tiara sopan.
"Kamu harus bersyukur Tiara karena laki - laki itu mau bertanggung jawab pada kamu. Coba kalau tidak seumur hidup kamu akan membesarkan Tegar sendirian. Makanya dulu jangan bergaul sembarangan akhirnya kan jadi kebablasan" oceh Ibunya Ridho.
"Bu... " cegah Bapaknya Ridho untuk memperingatkan istrinya.
Tiara hanya membalas ucapan sepasang suami istri itu dengan senyuman. Tiara sudah tidak terkejut lagi dengan mulut pedas milik Ibunya Ridho.
"Ayo Bu bergabung dengan keluarga saya di dalam" Tiara mengajak Bapak dan Ibu Ridho ke ruang keluarga untuk bergabung dengan mertua dan kedua orang tua Tiara.
"Eh ya sudah ayo.. " jawab Ibunya Ridho.
Tari berjalan mendekati Tiara dan berbisik.
__ADS_1
"Ra maafin mertuaku ya" ucap Tari dengan wajah merasa bersalah.
"Gak apa - apa Ai" Tiara tersenyum menatap Tari sahabatnya.
"Pak, Bu, Ma, Pa kenalkan ini Bapak dan Ibunya Ridho" ujar Tiara memperkenalkan.
Keluarga Bintang dan Tiara berdiri menyambut kedatangan keluarga Ridho sahabat Tiara.
"Lho Pak Jaya" panggil Bapaknya Ridho.
"Sukamto" balas Pak Wijaya.
"Pak Jaya siapanya Tiara?" tanya Bapaknya Ridho.
"Saya Bapak kandung Tiara" jawab Pak Wijaya tersenyum ramah.
"Apa?" tanya Ibunya Ridho.
"Iya saya Bapak kandungnya Tiara" jawab Pak Wijaya.
"Lho Bapak saling kenal?" tanya Tiara.
"Pak Wijaya ini dulu pernah menolong keluarga kami saat sawah kami gagal panen. Kamu banyak berhutang budi pada Pak Jaya" ucap Bapak Ridho malu.
"Aaaah kamu Kamto, itu sudah lama sekali terjadi. Jangan di ingat - ingat lagi" balas Pak Wijaya.
Ibu Ridho langsung tertunduk malu. Wanita yang selama ini sangat dia benci berdekatan dengan putranya ternyata adalah anak kandung dari pria yang sudah menyelamatkan keluarga mereka dari kemiskinan.
Kalau tidak dulu mungkin nasib mereka sudah berakhir pada seorang rentenir kampung. Sawahnya pasti akan habis tergadai dan hutang dimana - mana.
"In Ibunya Tiara, dan ini Papa Mamanya Bintang" Pak Wijaya memperkenalkan satu persatu anggota keluarganya.
"Wah ini Pak Bambang pengusaha sukses yang banyak di bicarakan orang - orang itu ya" puji Bapak Ridho.
"Ah Bapak bisa aja" balas Pak Bambang.
Bapak dan Ibu Ridho kini semakin merasa kecil di tengah - tengah keluarga Tiara. Dulu mereka sangat bangga pada putranya dan marah kalau Ridho berteman apalagi suka kepada Tiara. Tiara bukan selevel dengan putra yang sangat mereka banggakan itu.
"Ayo mari silahkan duduk" ajak Siti.
Bapak dan Ibu Ridho saling padang dan sangat merasa sungkan berada di dalam rumah ini. Sungguh mereka tidak menyangka ternyata Tiara adalah anak orang kaya. Seketika dalam hati mereka merasa menyesal mengapa dulu tidak merestui Ridho untuk mendekati Tiara.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG