
Keesokan harinya Pak Wijaya, Bu Siti, Dewi dan Ali akan kembali ke Bandung. Sebelum berangkat kerja Bagas menyempatkan dirinya untuk singgah ke rumah Bintang dan bertemu dengan Dewi sebelum Dewi balik ke Bandung dan mereka akan menjalani hubungan jarak jauh.
Lagi cinta - cintanya, begitu berat rasanya berpisah dengan kekasih harinya tapi untuk saat ini Bagas tidak tau bagaimana cara agar dia bisa membujuk Dewi untuk segera menikah.
Semoga hubungan jarak jauh yang akan mereka jalani mulai hari ini membuat Dewi merindukannya sehingga tidak ingin berpisah lagi dengannya.
Semua sudah berdiri di teras depan Bintang untuk berpamitan. Tegar tadi sudah berpamitan duluan dengan Opa, Oma, Tante dan Omnya karena dia harus berangkat ke sekolah.
"Hari - hati ya Pak, Bu" ucap Tiara ketika memeluk ke dua orang tuanya itu
"Iya. Kamu juga hati - hati ya. Jangan terlalu capek Ra" jawab Siti sambil mengingatkan putrinya dengan keadaannya yang sedang hamil.
Sementara Bagas tak berhenti menatap Dewi. Wajahnya lebih murung dari Tiara yang akan di tinggal oleh kedua orang tuanya.
"Wi kalau kamu nanti udah di sana jangan lupa sering - sering kabari aku ya, telepon dan video call" bujuk Bagas.
"Iya Mas" Dewi tersenyum lembut.
"Kalau Mas kangen Mas datang ya" pinta Bagas.
"Jangan sering - sering Mas. Nanti pekerjaan kamu jadi terbengkalai. Lagian aku juga mau kuliah nanti terganggu karena kamu datang" jawab Dewi.
"Nanti malam kita teleponan ya" pinta Bagas lagi.
"Ya Allah Mas Bagas udah hampir seratus kali aku dengar Mas Bagas bilang itu ke Kak Dewi. Telingaku sampai panas nih dengarnya" protes Ali.
"Sorry Al, kamu karena belum pernah ngerasain gimana rasanya jatuh cinta dan harus terpisah karena jarak" ujar Bagas.
"Tapi gak gitu juga kalee Maaaas" balas Ali.
"Udah Al biarin aja, lagi bucin dia. Ibarat kata tai kucing rasa coklat" goda Bintang.
"Kamu kan dulu juga pernah LDR an sama Tiara Bin, kan udah tau gimana rasanya" ucap Bintang
"Tapi kan gak separah kamu Gas Mataku juga panas liatin kamu ngintilin Dewi udah dari dalam sana. Kemana Dewi gerak kamu ngekor dari belakang kayak anak - anak mau minta uang jajan sama emaknya" oceh Bintang.
Pak Wijaya, Bu Siti dan Tiara tersenyum melihat tampang Bagas. Sedangkan Dewi hanya menunduk malu. Tapi dasar Bagas gak tau malu. Udah di sindir secara halus dan kasar tetap aja bermuka tebal dan tak perduli.
"Kami pergi ya Bin, jaga istri dan anak kamu baik - baik. Jangan lupa kalau ada apa - apa kabari kami" ucap Pak Wijaya.
"Iya Pak. Bapak juga hati - hati ya dan tetap semangat menuju hari - H. Jangan mau kalah sama Bagas Pak" goda Bintang.
"Hahaha... ada - ada saja kamu. Kami ini sudah tua, menikah bukan lagi untuk bucin - bucinan seperti anak muda. Kami butuh teman hidup di hari tua. Sama - sama beribadah mendapatkan restu Allah" jawab Pak Wijaya.
__ADS_1
"Seep Pak, Bapak emang yang terbaik" balas Bintang.
Pak Wijaya, Bu Siti, Dewi dan Ali masuk ke dalam mobil. Wajah Bagas tampak semakin sedih.
"Gas mau ikut juga ke Bandung? Wajah kamu udah seperti mau nangis gitu di tinggal emak pergi belanja gak di tinggalin uang jajan plus di kasih tugas untuk beresin rumah" ujar Bintang.
Pak Wijaya, Bu Siti, Tiara dan Ali senyum - senyum melihat tingkah dan wajah Bagas.
"Mang hati - hati ya nyetirnya. Titip Dewi ku, jangan sampai terganggu tidurnya di tengah jalan karena Mamang balap bawa mobilnya" pesan Bagas.
"Aduh Gaaaaas aku jadi mual dengar kata - kata kamu" potong Bintang.
"Yuk Mang kita berangkat" perintah Pak Wijaya.
Mobil perlahan berjalan meninggalkan pekarangan rumah Bintang. Bagas tetap berdiri menatap kepergian mobil itu hingga tak tampak lagi dari pandangan mata.
"Kamu gak kerja Gas? Aku udah mau pergi nih. Gak mungkin kamu aku tinggal di rumah bersama istriku" ujar Bintang.
"Iya Bin, aku mau pergi. Tapi aku malas ke kantor gak semangat kerja" jawab Bagas lemas.
"Ya sudah susulin aja noh Dewi ke Bandung" perintah Bintang.
"Maunya sih gitu tapi takutnya Dewi takut lagi kalau aku terlalu mengejarnya" balas Bagas.
"Ya sudah deh kalau begitu aku ke kantor saja. Ra aku pamit ya" ujar Bagas.
"Hati - hati ya Mas Bagas" jawab Tiara.
"Iya Ra" Bintang berjalan menuju mobilnya dan kemudian menyalakan mobilnya lalu pergi meninggalkan rumah Bintang.
"Aku gak menyangka Mas Bagas akan bertingkah seperti itu Mas, parah banget" ucap Tiara sambil menggeleng - gelengkan kepalanya tak mengerti.
"Kali ini Bagas memang udah sakit parah. Sakit cinta dia. Aku saja sampai heran yank kok bisa dia segila itu" sambut Bintang.
Tiara memeluk istrinya dan mengecup lembut kening Tiara. Setelah itu menunduk dan mensejajarkan wajahnya dengan perut Tiara lalu mengelus dan mengecup perut Tiara.
"Papa pergi dulu ya sayang, baik - baik sama Mama di rumah ya. Tunggu Papa pulang nanti sore ya" ucap Bintang.
"Oke Papa" jawab Tiara dengan suara anak kecil.
"Kalau butuh sesuatu atau pengen makan sesuatu kabari aku ya yank. Aku akan belikan untuk kamu" ucap Bintang.
"Iya Mas" jawab Tiara.
__ADS_1
Mereka berpelukan sesaat sebelum Bintang pergi. Kemudian setelah itu Bintang melangkah masuk ke dalam mobilnya dan menyalakannya lalu berlalu meninggalkan Tiara di rumah.
*******
Sementara Bagas yang tidak konsentrasi bekerja kedatangan Roy di kantornya.
"What's up bro? kok wajah kamu jelek amat?" tanya Roy penasaran.
"Aku lagi gak semangat kerja" jawab Bagas.
Roy duduk di sofa ruang kerja Bagas kemudian Bagas duduk tepat di depannya.
"Kamu lagi sakit?" tanya Roy
Bagas menganggukkan kepalanya.
"Sakit apa?" tanya Roy penasaran
"Malarindu" jawab Bagas lemas.
"Hahaha..... aku rasa kamu kena kutuk Dewi Cinta Gas" ledek Roy.
"Aku di kutuk Dewi Roy itu baru benar. Dia sengaja membuat aku seperti ini biar aku gak bisa ngelirik wanita lain" jawab Bagas pasrah.
"Hahaha... " Roy sangat puas mentertawakan sahabatnya itu.
"Kok bisa ya Bagas sang mantan Casanova jadi bucin parah seperti kamu ini?" tanya Roy tak percaya.
"Itulah kekuatan cinta Roy. Tak ada yang bisa menolak pesonanya. Kalau sudah tertusuk panah asmara kita tidak bisa mengelak lagi. Buktinya kamu sama Dian, sepuluh tahun lebih kamu gak bisa move on kan dari dia. Walau kamu sengaja melarikan diri kamu ke banyak wanita?" tanya Bagas.
"Iya.. tapi aku rasa aku tak separah kamu Gas" jawab Roy.
"Mungkin ini ujian yang berat untukku Roy. Ujian cinta demi mendapatkan persetujuan Dewi untuk segera menikah denganku" jawab Bagas tak bersemangat.
Roy hanya bisa mentertawakan sikap Bagas yang gila karena cinta. Dia benar - benar tak berdaya menahan gejolak cinta dan kerinduannya.
Gila kamu Gas...
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1