Tiara

Tiara
Aku adalah Papamu


__ADS_3

"Tegaaaar tunggu Papa naaaak. Papa akan datang menemui kamu. Papa kamu belum mati, Papa kamu masih hidup. Papalah Papa kamu" ucapnya sambil menghapus air matanya yang sudah menetes di pipi.


Mobil melaju dengan kencang menembus pagi yang masih dingin dan sepi. Akankah waktu berpihak kepada Bintang?


Bintang segera meraih ponselnya.


"Halo Yan, tolong kirimkan alamat rumah Tiara di Bandung, sepertinya mereka sudah pulang pagi ini ke Bandung" pinta Bintang kepada Dian.


"Oke Bin, aku akan kirim segera alamatnya. Hati - hati di jalan, kamu jangan ngebut - ngebut dan bicarakan semuanya dengan baik bersama Tiara. Ingat jangan ambil Tegar darinya, Tegar adalah hidup mati Tiara" tegas Dian.


"Kamu tenang saja Yan, aku tidak akan merebut Tegar dari Tiara. Aku hanya ingin memeluk putraku. Dia harus tau bahwa aku adalah Papanya" balas Bintang.


"Baiklah, semoga berhasil" ucap Dian memberi semangat.


"Terimakasih Yan" ucap Bintang.


Tak lama, ponsel Bintang berbunyi tanda pesan masuk. Dian mengirimkan alamat rumah dinas untuk Tiara di Bandung.


Bintang segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Rasanya tak sabar untuk bertemu dengan Tiara dan Tegar.


Bintang sampai di alamat rumah Tiara tepat saat mobil Tiara juga masuk ke dalam area pekarangan rumahnya.


"Ayo sayang masuk" ajak Tiara kepada Tegar.


Bintang menyaksikan semuanya. Tegar turun dari mobil Tiara membawa tas ransel di bahunya. Tiara membawa koper besar dan membuka pintu rumah.


Bintang segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah Tiara.


"Tiara.... " panggil Bintang.


"Maa... Mas Bintaaaaang" ucap Tiara sangat terkejut melihat secepat ini Bintang menyusulnya ke Bandung.


"Kita harus bicara Ra" sambut Bintang.


"Te.. tentang apa Mas?" tanya Tiara pura - pura tidak mengerti.


"Tentang Tegar" tegas Bintang.


"Om Baik ngikutin aku dan Mama? Kok bisa kita sama - sama sampai di sini?" tanya Tegar bingung.


"Sayaaaang, kamu masuk ke kamar dulu ya. Mama mau bicara sama Om Bintang sebentar" punya Tiara.


"Baik Ma. Dah Om baik.. jangan cepat pulangnya ya.. Temani aku main dulu" pinta Tegar.

__ADS_1


"Iya sayang nanti Om temani kamu main ya" jawab Bintang.


"Oke, aku masuk duluuu... " Tegar langsung berlari masuk ke dalam kamarnya.


"Silahkan duduk Mas" ucap Tiara.


Bintang duduk di atas sofa ruang tamu, Tiara memasukkan kopernya ke kamar setelah itu dia keluar lagi dan menemui Bintang.


Tiara mencoba untuk bersikap tenang walau di dalam hatinya sangat ketakutan. Bagaimana kalau Bintang akan meminta Tegar? Fikirnya.


"Ada apa Mas Bintang datang jauh - jauh ke sini?" tanya Tiara membuka pembicaraan.


Bintang menatap wajah Tiara dengan tatapan tajam mencari kejujuran dari mata teduh Tiara.


"Aku ingin bertanya tentang Tegar" jawab Bintang.


"Mas ingin bertanya apa?" balas Tiara.


"Katakan Ra, Tegar anakku kan? Kamu wanita yang lima tahun lalu aku temui di diskotik dan aku bawa ke apartemen aku karena saat itu kamu sedang mabuk?" desak Bintang.


"Kalau aku jawab tidak apa Mas percaya?" tanya Tiara.


"Tidak" jawab Bintang tegas.


"Kenapa?" Tanya Tiara lagi.


"Memangnya apa yang Mas alami? Mas tidak ingatkan wajah wanita itu?" tantang Tiara.


"Aku memang bodoh Ra tidak mengenali kamu selama ini. Karena pada malam itu aku juga sedang mabuk dan saat itu aku sedang stress sehingga tidak fokus untuk ingat wajah kamu. Tapi aku punya bukti Ra. Rekaman CCTV kamu di dalam apartemenku. Kamu yang mabuk masuk ke dalam kamarmu dan naik ke atas tempat tidurku hingga..... kita melakukannya" ungkap Bintang.


Tiara terdiam sepertinya tidak ada celah lagi untuk dia mengelak.


"Maaf Mas... Aku sudah lancang masuk ke kamar Mas tanpa izin. Harusnya aku tetap tidur di sofa. Aa.. aku.. " Tiara bingung harus berkata apa lagi.


"Harusnya aku yang berkata seperti itu Ra. Aku sudah menghancurkan hidup kamu, aku sudah membuat kamu menderita dan membawa serta membesarkan benih yang aku tanam di perut kamu. A..aku pria bejat yang tidak bertanggung jawab. Maafkan aku Ra, kata - kata ini sudah aku simpan selama lima tahun. Aku sudah mencari kamu ke diskotik tapi kamu tidak pernah lagi muncul di sana" ungkap Bintang.


"Sudahlah Mas semua sudah terjadi, bukan salah kamu sepenuhnya. Itu hanya kecelakaan dan kecerobohan kita yang tidak bisa menjaga diri sehingga menghasilkan Tegar" Jawab Tiara.


Bintang masih tetap menatap wajah Tiara.


"Seperti yang Mas lihat sekarang, aku bisa membesarkan Tegar dengan baik, dia bisa sekolah dan dia juga sehat dan pintar. Itu saja sudah cukup Mas, jangan ganggu kami pleasee.... Mas lanjutkan saja hidup Mas seperti dulu. Anggap saja kami tidak ada" pinta Tiara memelas.


"Tidak Ra, bagaimana bisa aku menganggap Tegar tidak ada. Dia darah dagingku. Wajah kami saja sangat mirip, setiap orang yang mengenalku pasti bisa langsung menebak Tegar adalah anakku. Pokoknya aku akan bertanggungjawab" tegas Bintang.

__ADS_1


"Tapi Mas kamu mau tanggung jawab bagaimana? Ka.. kamu punya kehidupan sendiri Mas" tolak Tiara.


"Aku katakan aku akan bertanggung jawab. Aku akan menanggung semua biaya hidup kamu dan Tegar" ucap Bintang.


"Untuk apa Mas? Bukannya selama ini aku bisa menyekolahkan dan menghidupi Tegar dengan layak. Lihatlah dia sehat dan pintar" jawab Tiara.


"Tapi aku Papanya. Aku berhak memberikan nafkah pada Tegar dan kamu adalah Ibunya, aku juga akan menghidupi kamu. Aku akan mengirimkan uang setiap bulannya dan aku usahakan setiap akhir pekan atau kalau ada waktu senggang, aku akan mengunjungi Tegar di Bandung" tegas Bintang.


"Maaaas... " panggil Tiara lemas.


"Tolong Ra, hanya ini yang bisa aku fikirkan untuk saat ini. Aku ingin bertemu Tegar sekarang. Aku ingin mengatakan padanya bahwa Papanya belum mati. Akulah Papanya" ucap Bintang.


Tiara diam, dia tau saat ini Bintang tersinggung dan marah karena dia mengatakan kepada Tegar selama ini bahwa Papanya sudah meninggal.


"Maaf Mas, hanya itu yang bisa aku katakan pada Tegar setiap dia bertanya siapa dan dimana Papanya? Aku tidak bisa mengatakan bahwa kamulah Papanya sementara kamu tidak tau keberadaan Tegar" jawab Tiara.


"Fikiran kamu lebih dahulu takut daripada ketakutan itu sendiri Ra, kalau saja kamu mengatakan padaku tentang Tegar belum pasti aku menolaknya, setidaknya kamu kan sudah mencoba untuk menjelaskannya lebih dahulu dari pada menutupinya dengan segala kebohongan kamu" ujar Bintang.


"Itukan sekarang Mas, kalau dulu belum tentu kamu akan mengatakan hal yang sama" balas Tiara.


Bintang terdiam, benar kata Tiara. Seandainya Tiara datang saat dia hamil mungkin Bintang akan menyuruhnya menggugurkan kandungannya karena saat itu dia sangat mencintai Siska.


Dan kalau saja saat Tiara melahirkan dan temannya bisa menemukan Bintang di apartemennya, apa yang akan terjadi? Bintang sendiri tidak bisa menjawabnya karena pada saat itu dia sedang terpuruk karena patah hati di khianati Siska.


"Sudahlah Ra... Sekarang aku mau bertemu Tegar" pinta Bintang.


"Te.. Tegar ada di kamarnya Mas" hanya itu yang bisa Tiara ucapkan.


Bintang segera berdiri dan berjalan menuju kamar yang tadi Tegar masuki. Bintang membuka pintu kamar dan melihat Tegar sedang bermain Robot - robotan.


"Om baik.... " sapa Tegar senang.


"Mulai sekarang jangan panggil Om lagi. Panggil Papa... Aku adalah Papamu... "


.


.


BERSAMBUNG


Gimana... sudah lega semua???


Mana nih suaranya... Like dan hadiahnya mana? Ayo siapa yang mau traktir kopi? Kasih kembaang juga boleh.

__ADS_1


Atau ada yang mau kasih kursi pijat?? agar aku lebih semangat menulis lagi.


Mohon dukungannya 🥰🥰


__ADS_2