
"Siti.... " ucap Wijaya.
"Maaaaas... Herman" jawab Siti.
Sontak Tiara dan semua yang ada di situ menyaksikan pertemuan antara Siti dan Herman suami pertamanya.
"I.. ibu kenal dengan Pak Wijaya?" tanya Tiara terkejut.
Perasaannya tak karuan, entah mengapa dia merasa tatapan antar Ibunya dan Pak Wijaya tak biasa. Seperti ada sesuatu diantara mereka.
"Ra... di.. dia.. Bapak kamu" ucap Siti. Seketika tubuh Siti lemah dan tak kuasa mendapatkan dua kejutan sekaligus hari ini. Melihat putrinya pulang dengan selamat dan melihat wajah suami pertamanya setelah bertahun - tahun tidak bertemu.
"Siti.... " Wijaya langsung menangkap tubuh Siti yang hampir saja jatuh ke lantai karena tidak sadarkan diri.
"Ibu.. " panggil Tiara dan langsung berdiri. Tekejut melihat Ibunya pingsan.
"Sit.... " Bu Bambang yang ada di dekat Siti juga berusaha mencegah Siti jatuh di lantai.
Mereka mengangkat Siti yang tak sadarkan diri dan membaringkannya di atas sofa. Dewi berlari ke kamar tak lama kemudian keluar lagi dengan membawa minyak angin di tangannya.
"Ini Mas" Dewi menyerahkan minyak angin kepada Bintang.
Bintang mencoba mengoleskan minyak angin di hidung Siti, kepala, tangan dan tapak kaki Siti. Berusaha untuk menyadarkan Siti.
Tak lama kemudian Siti sadar tapi kondisinya masih lemah.
"Ibu tidak teratur makan sejak Kak Tiara hilang. Makanya Ibu jadi lemah" ungkap Dewi.
"Maafkan Tiara Bu" Tiara menangis memeluk Ibunya.
"Tidak apa - apa sayang yang penting kamu selamat" jawab Siti.
Siti ingat sebelum dia tak sadarkan diri dia bertemu dengan Herman suami pertamanya yang telah lama berpisah. Siti mencoba duduk dan mencari sosok Herman yang tak lain adalah Wijaya.
"Maaa.. aas.. Hermaaan" panggil Siti. Siti menatap wajah Herman dengan tatapan sendu.
Wijaya mendekati Siti dan menggenggam tangan Siti.
"Kamu mengapa pergi dari kampung? Aku kembali ke kampung tetapi kamu dan anak kita sudah tidak ada" ucap Wijaya.
"A.. aku gak tahan dengan omongan orang kampung Mas. Mereka membicarakan hal - hal buruk tentang kamu. Aku tak sanggup hidup berdua saja di kampung bersama Tiara. Aku tidak punya teman dan saudara" jawab Siti sambil terisak.
__ADS_1
"Maafkan aku Siti sudah meninggalkan kamu sendiri" sambut Bu Bambang.
"Saat pertama mengetahui kalau nama wanita yang aku selamatkan adalah Tiara, aku teringat pada putriku. Kamu yang dulu memberikannya nama itu. Kamu ingin dia berkilau seperti mutiara. Tapi saat kami mencari informasi tentang Tiara anak buahku hanya mendapati apartemen kosong yang sudah lama tidak di tempati. Pencarian kami terhenti karena pihak apartemen merahasiakan data mereka. Kemudian Tiara sadar dan memintaku untuk merahasiakan keberadaannya sementara. Aku merasakan sesuatu yang.. tak bisa aku lukiskan. Entah mengapa aku merasa begitu dekat dengannya seperti dia bukan orang asing lagi. Aku merasakan sayang seperti kepada anakku sendiri. Ternyata hati tak pernah salah. Tiara memang putriku" ujar Wijaya sambil menatap Tiara.
"Sudah lama sekali aku merindukanmu nak.. dulu waktu aku pergi ke kota untuk merubah nasib kamu masih sangat kecil. lebih kecil dari Tegar saat ini. Aku selalu terbayang wajah kamu dan aku sering bermimpi bertemu dengan kamu. Ternyata Allah sangat menyayangiku. Doaku dikabulkan, aku meminta sebelum aku menutup mata tolong pertemukan aku dengan putriku" ucap Wijaya dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Boleh aku memelukmu" pinta Wijaya dengan wajah memelas.
Tiara langsung memeluk Wijaya begitu mendengar permintaan Wijaya.
"Bapaaaaak.... Bapaaaak.. " panggil Tiara sambil terisak.
Mereka saling berpelukan sambil menangis.
"Aku tidak berniat ingin meninggalkan dan mengabaikan kalian. Tapi ternyata aku datang terlambat. Saat aku sudah mulai berhasil dan kembali ke kampung, kalian sudah pergi dari kampung. Tak ada yang bisa menjawab kemana kalian pergi. Bertahun - tahun aku sudah mencari kalian tapi aku tidak menemukannya" ungkap Wijaya.
"Maafkan aku Mas" sambut Siti.
"Aku yang salah, aku yang tidak pernah memberi kabar pada kalian bertahun - tahun. Membuat kamu menunggu, mengurus dan membesarkan Tiara sendiri" sambung Wijaya.
"Tapi aku sudah menikah lagi Mas" ucap Siti sambil terus menangis.
"Kamu jangan bersedih, kamu tidak salah. Aku mengerti dan memakluminya. Mengapa kamu menikah lagi. Aku faham dan tidak marah pada kamu" jawab Wijaya dengan lembut.
"Maafkan aku Mas... maafkan aku" Siti tak berhenti meminta maaf, menyesali semua.
Mengapa dia tidak sabar menunggu Herman pulang. Padahal selama ini Herman selalu mencintainya sepenuh hati, tidak pernah melakukan kekerasan kepadanya tapi dia tega meninggalkan suaminya dan menikah dengan pria lain.
"Sudahlah Siti kamu jangan menangis lagi. Semua sudah terjadi" Bu Bambang memeluk sahabatnya.
"Ini putraku Jay, dia menantu kamu. Bintang salim sama mertua kamu. Dia adalah Bapak kandungnya Tiara" perintah Pak Bambang.
Bintang mencium tangan Wijaya dengan penuh hormat.
"Terimakasih Pak, Bapak sudah menyelamatkan istri dan anakku" ucap Bintang.
"Mereka kan anak dan cucuku. Aku sangat bersyukur bertemu dengan mereka" jawab Wijaya.
"Tegar sini sayang" panggil Bintang.
Tegar menghampiri Bintang kemudian Bintang menggendong anaknya.
__ADS_1
"Tegar Opa ini adalah Opa kamu. Papanya Mama kamu ya" Bintang menjelaskan pada putranya.
"Jadi sekarang aku punya dua Opa, satu Oma dan satu eyang?" tanya Tegar polos.
"Iya.. Opa dan Oma ini adalah Papa dah Mamanya Papa. Sedangkan Opa dan eyang adalah Bapak dan Ibunya Mama kamu. Kamu mengerti kan?" tanya Bintang lagi.
"Mengerti Pa" jawab Bintang.
"Anak pintar" puji Bintang kepada putranya.
"Aku tidak menyangka ternyata kamu menikah dengan Siti. Dulu kamu kan sering mengajakku ke kampung sebelah untuk membeli bubur ayam Siti" kenang Pak Bambang.
"Setelah kamu pergi aku berjuang sendiri dan akhirnya aku menikahinya. Saat Tiara berumur tiga tahun aku mengadu nasib ke Kota, berharap hidupku berubah. Tapi ternyata aku terlalu lama untuk kembali, saat aku pulang mereka sudah pergi" ungkap Wijaya
"Sekarang kamu tinggal dimana Jay?" tanya Pak Bambang.
"Aku tinggal di Lembang" jawab Wijaya.
"Lembang? apa usaha kamu sekarang?" tanya Bambang lagi.
"Aku berkebun" jawab Wijaya singkat.
"Waah pasti kamu juragan teh di Lembang kan?" tebak Bambang.
"Ah bisa aja kamu hahaha" mereka tertawa.
Wijaya melirik istri tercintanya, wanita yang sudah dia cari bertahun - tahun lamanya. Wanita yang selalu dia rindukan dan selalu dia impikan.
Kini dia sudah menjadi milik pria lain. Semua itu karena kesalahannya sendiri. Dia meninggalkan wanita itu tanpa kabar berita, walau tujuannya dulu merantau adalah untuk membahagiakan istri dan anaknya tapi dia salah telah mengabaikan mereka sangat lama.
Saat dia kembali ke rumah di kampung Siti telah pergi membawa putri mereka bersamanya. Wijaya sempat putus asa tapi entah mengapa dia sangat yakin akan bertemu lagi dengan mereka.
Sejak itu Wijaya tidak pernah menikah lagi, rasa cintanya pada Siti begitu dalam. Tidak ada wanita yang bisa menggantikan Siti di hatinya. Sampai kapanpun. Kini wanita itu tidak bisa untuk dimiliki lagi.
Wijaya menangis dalam hati, mengenang nasib dirinya sendiri.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1