Tiara

Tiara
Mantan playboy jadi guru


__ADS_3

Pagi itu Bagas dan Ali sudah siap dan duduk manis menunggu Dewi turun dari kamarnya yang ada di lantai dua. Mereka akan sarapan pagi bersama dengan Pak Wijaya dan Bu Siti.


"Kamu mau kemana Al?" tanya Bu Pak Wijaya


"Mau ikut sama Mas Bagas Bu" jawab Ali.


"Kamu ngapain ikut, ganggu aja" potong Bu Siti.


"Gak apa - apa Bu, justru aku senang Ali ikut. Aku jadi punya teman sambil nungguin Dewi selesai ujian" bela Bagas.


"Emangnya kamu gak sekolah Al?" tanya Pak Wijaya.


"Nggak Pak, lagi ada kegiatan di sekolah, anak kelas satu dan libur selama seminggu" Jawab Ali.


"Ooo.. Ya sudah kalau begitu, kamu ikut aja bareng sama Bagas. Sekalian temani dia, dari pada dia bengong sendirian di kampus kan lumayan ada kamu buat teman ngobrol" ujar Pak Wijaya.


"Iya Pak" sambut Ali.


Tak lama Dewi turun lengkap dengan peralatan kuliahnya.


"Makan dulu Wi" ajak Pak Wijaya.


"Iya Pak" jawab Dewi. Dewi duduk tepat di samping Bagas dan di depan Bu Siti dan Ali.


Mereka menikmati sarapan pagi bersama. Tapi Dewi tampak terburu - buru.


"Jam berapa ujiannya?" tanya Bagas.


"Jam sembilan sampai jam sebelas, setelah itu dilanjut jam satu siang" jawab Dewi sambil melirik kearah jam tangannya.


Sudah jam setengah delapan, dia harus cepat pergi agar tidak telat sampai di kampus.


"Yuk Mas" ajak Dewi.


"Udah siap makannya? Sedikit amat?" tanya Bagas.


"Gak apa - apa, aku buru - buru nih, yuuuk.. " desak Dewi.


"Okey, yuk Al kita pergi. Pak Bu kami pergi dulu ya" ucap Bagas pamit.


"Iya hati - hati ya kalian" balas Pak Wijaya.


Bagas, Ali dan Dewi segera berdiri dan mencium tangan Pak Wilayah dan Bu Siti sebelum mereka pergi ke kampus Dewi.


Kemudian mereka bertiga bergegas menuju mobil Bagas lalu mobil meninggalkan area rumah Pak Wijaya dan melaju menuju kampus Dewi.


Jam sembilan kurang dua puluh menit mereka sudah sampai di parkiran kampus Dewi. Dewi segera mencium tangan Bagas untuk pamit turun.

__ADS_1


"Mas aku kuliah ya, do'ain semoga aku dapat menjawab semua soal ujian dengan baik" pinta Dewi.


"Aamiin.. semoga kamu dapat menjawab semua soal dengan benar ya" sambut Bagas.


"Aku turun ya Mas. Kalian menunggu di mobil atau turun?" tanya Dewi.


"Kami mungkin akan turun sambil berkeliling kampus kamu. Kasihan Ali, dia kan pengen cuci mata" jawab Bagas sambil tersenyum kepada Ali.


"Awas kalau kamu ajari Ali yang macem - macem" ancam Dewi.


"Gak macem - macem kok. Cukup satu macam aja. Cowok yang pemurah dan penyayang, cewek - cewek pasti banyak yang jatuh dalam pelukan Ali" ungkap Bagas.


"Maaas" Dewi mencubit lengan Bagas.


"Aaawwww... sakit yank" teriak Ali.


"Rasain" balas Dewi.


Dewi segera turun dari mobil dan setengah berlari menuju kelasnya. Dia sudah hampir terlambat.


Tak lama kemudian Bagas dan Ali yang sudah bosan menunggu di dalam mobil selama setengah jam akhirnya memutuskan untuk turun dari mobil dan berjalan mengelilingi kampus Dewi.


Setelah satu jam mereka lelah berjalan akhirnya Bagas dan Ali memutuskan untuk menunggu Dewi di kantin kampus. Mereka duduk di tempat terbuka sehingga bisa dilihat oleh para mahasiswi.


Tampilan Bagas yang terlihat sangat menarik membuat banyak cewek - cewek yang melirik ke arah Bagas sedangkan Bagas malah cuek dan asik memainkan ponselnya.


Ali yang tak biasa menjadi pusat perhatian merasa risih karena semua wanita melirik mereka. Bahkan ada yang senyum dan memainkan matanya dengan genit ke arah mereka. Membuat Ali bergidik ngeri melihat tingkah cewek - cewek yang seperti itu.


"Heem... " gumam Bagas menanggapi.


"Mas kok bisa cuek sih dan bersikap biasa aja? Padahal semua cewek sedang memandang kita lho?" tanya Ali penasaran.


"Terus mau diapain Al? Kalau Mas ladenin terus Kakak kamu lihat bisa batal Gas pernikahanku. Perjuanganku untuk mempercepat pernikahan ini sangat berat. Aku tidak akan menyia - nyiakan waktu yang ada" jawab Bagas bijak.


"Bukan maksud aku Mas kok bisa santai aja dengan tatapan mereka?" tanya Ali.


"Mas sudah terbiasa. Kamu mau Mas ajari cara mengenal cewek?" tanya Bagas.


"Mau.. mau" jawab Ali cepat. Dia seperti mendapatkan ilmu turun temurun. Dengan tekun Ali mendengarkan cerita Bagas.


"Cewek itu ada banyak tipe Al. Ada yang tipe mengejar seperti yang di sudut sana, dari posisi kamu ke arah jam angka lima. Ada yang tipe malu - malu tapi mau tuh yang cewek di posisi jam angka sembilan. Ada yang cuek tapi butuh, nah itu cewek jarum jam angka tiga. Ada yang jual mahal seperti kakak kamu itu" ungkap Bagas mengajari Ali.


"Cara menghadapinya juga berpariasi. Kalau cewek yang pertama, kamu gak butuh kerja keras. Kamu hanya bilang oke dia udah lengket kayak prangko. Cewek yang kedua harus pelan - pelan deketinnya karena dia pemalu. Cewek yang ketiga harus pinter tarik ulur, kejar dia habis itu jaga jarak pasti dia akan kecarian. Nah kalau yang ke empat seperti Kakak kamu itu harus dikejar terus agar dia sadar kalau kita memang sedang mengejarnya kalau tidak dia pasti akan terus menjauh" sambung Bagas.


Ali manggut - manggut tanda mengerti..


"Kamu mau lihat, Mas akan kasih satu contoh cewek yang kedua. Kenapa Mas pilih yang kedua? Karena tipe cewek pertama itu kurang asik, gak ada tantangannya. Dan terkesan murahan. Kalau yang ketiga tidak bisa langsung sehari butuh proses. Apalagi yang ke empat lebih lama lagi prosesnya Al. Seperti kakak kamu, tapi kalau udah dapat hatinya dia pasti akan setia pada kita" ungkap Bagas.

__ADS_1


"Nih ya, Mas kasih contoh sama kamu.. " sambung Bagas.


Bagas berdiri dan mendekati wanita yang labeli Bagas sebagai cewek dengan tipe yang kedua.


"Hemm.. permisi.. Maaf ganggu kamu yang lagi makan sendirian. Aku boleh tanya gak? Ruangan pendaftaran murid baru dimana ya? Adikku yang di sana berencana ingin kuliah di sini semester depan" Bagas menunjuk ke arah Ali.


Wajah Ali merah karena malu.


Wanita itu menunjukkan tempat yang ditanyakan Bagas.


"Terimakasih kamu baik sekali. Ehm.. perkenalkan aku Bagas. Aku boleh gak minta nomor handphone kamu. Siapa tau nanti aku butuh untuk tanya - tanya tentang kampus ini?" pinta Bagas dengan wajah serius.


Wanita itu memberikan nomor handphonenya kepada Bagas dan Bagas pura - pura mencatatnya di memory handphonenya.


"Oh iya nama kamu siapa?" hanya Bagas.


"Indah" jawab wanita itu malu.


"Baiklah Indah, senang berkenalan dengan kamu. Lain kali kita janjian ketemuan lagi. Terimakasih atas bantuannya. Sampai ketemu lagi ya dilain kesempatan" ujar Bagas.


Wanita itu tersenyum manis kepada Bagas. Bagas kembali menuju mejanya tempat dia dan Ali duduk sebelumnya.


"Gimana Al aksi Mas?" tanya Bagas lebih percaya diri.


"Mantap Mas. Mas emang keren" puji Ali.


"Oh tentu donk, Bagaaas" ungkap Bagas.


Tiba - tiba telinga Bagas di jewer dari belakang. Sontak Bagas berteriak karena kesakitan..


"Aaaaww.. sakit siapa siiih... " teriak Bagas.


"Apa teriak - teriak?" jawab Dewi yang ternyata sudah lebih dulu datang.


"Eeeh Dewi.. aku kira siapa. Dewiku udah siap ujiannya?" tanya Bagas.


"Bagus ya kerja kalian. malah kerja sama untuk merayu cewek" teriak Dewi.


"Aku cuma ngajari aja Wi, itu tergantung bakatnya Ali" jawab Bagas masih kesakitan karena telinganya masih di jewer.


"Mau aku undurin atau batalin rencana pernikahan kita?" tanya Dewi.


"Nggak.. Wi.. jangan.. jangan.. " teriak Bagas takut.


Sontak Ali tertawa melihat tingkah kakak dan calon Kakak iparnya yang terlihat sangat lucu.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2