
Pagi - pagi sekali Bagas sudah sampai di rumah Bintang. Bintang dan keluarga besarnya sedang sarapan pagi bersama di rumahnya. Bagas terlihat sangat rapi menggunakan pakaian lengkap seperti dia ingin pergi ke kantor.
Bagas menggunakan jas lengkap dengan dasinya. Kemudian dia ikut sarapan bareng keluarga Bintang.
Sangat terlihat wajah tegang Dewi. Dia terlihat banyak diam dan wajahnya terlihat agak pucat.
"Wi.." panggil Bu Siti. Dia tau anaknya ini sedang tegang dan takut.
"Kamu jangan takut Wi. Nantikan kamu akan di dampingi Bagas dan pengacara" ujar Tiara memberi semangat pada adiknya.
"Iya Kak, aku gak takut kak hanya saja.. yah maklumlah ini adalah pengalaman pertama bagiku" jawab Dewi.
"Aku akan temani kamu terus Wi, kamu tenang saja" ujar Bagas meyakinkan Dewi.
"Kalau kamu tinggalkan dia ya aku penggal kamu" ancam Bintang.
Setelah selesai sarapan Dewi dan Bagas pamitan kepada seluruh keluarga dan mereka melaju menuju kantor polisi.
Dewi mengeluarkan ponselnya untuk memutar lagu agar dia tidak grogi. Bagas melirik ke arah ponsel yang Dewi pegang.
"Kamu udah pakai handphone yang aku belikan?" tanya Bagas senang.
"Iya, kan sayang Mas udah dibeliin tapi gak dipakai mubazir" jawab Dewi.
"Makasih Wi akhirnya kamu mau menerima permberianku" ujar Bagas.
"Harusnya aku yang ngucapin makasih karena kamu sudah belikan aku handphone baru Mas" jawab Dewi.
"Apa aja yang kamu mau jangankan handphone pasti akan aku belikan" sambut Bagas.
Dewi tersenyum membalas perkataan Bagas.
"Aaah... aku jadi lebih semangat menjalani hari ini. Kamu juga ya.. ayo semangat" teriak Bagas.
"Semangat.. semangat... " sambut Dewi.
Mereka berdua tertawa dan saling memberikan semangat untuk menjalani hari ini. Mobil melahu menuju kantor polisi tempat mereka akan melakukan pemeriksaan. Sesampainya di sana pengacara sudah menunggu mereka.
Bagas dan Dewi menjalani pemeriksaan dengan di dampingi pengacara. Mereka di sodorkan beberapa pertanyaan mengenai kronologis penculikan Dewi.
Rentetan pertanyaan sudah di jawab oleh Dewi dan Bagas dengan tegas dan lugas. Mereka tidak memberikan jawaban yang bertele - tele agar tidak mengundang pertanyaan lainnya.
Dan penyelidikan berjalan selama empat jam. Sekitar jam satu siang Bagas dan Dewi sudah keluar dari kantor polisi. Mereka berpisah dengan pengacara di parkiran kantor polisi.
Bagas dan Dewi kembali masuk ke dalam mobil. Perasaan lega yang mereka rasakan karena penyelidikan hari ini berjalan dengan lancar.
Bagas dan Dewi saling tatap dan senyuman untuk saling menenangkan terbit di wajah keduanya.
"Kamu lapar?" tanya Bagas.
Dewi menganggukkan kepalanya.
"Iya Mas" jawab Dewi.
Aaah ini dia kesempatan aku bisa makan berdua di tempat yang romantis bersama kekasih hatiku. Batin Bagas.
"Oke kalau gitu kita makan dulu ya" balas Bagas.
__ADS_1
Bagas menyalakan mobilnya dan melajukan mobilnya menuju Restoran yang dia inginkan. Sepanjang perjalanan Bagas tak henti - hentinya tersenyum.
Ternyata sengsara membawa nikmat. Siang ini kami bisa kencan tanpa gangguan dua seran kecil itu. Bagas mengingat Tegar dan Ali.
Mobil memasuki sebuah Restoran mewah. Bagas memarkirkan mobilnya dan mengajak Dewi turun.
"Yuk Wi kita turun" ajak Bagas.
"Mas.. " panggil Dewi.
"Ada apa?" tanya Bagas.
"Pindah yuk" ajak Dewi.
"Maksud kamu?" tanya Bagas bingung.
"Gak usah makan di sini. Di sini pasti mahal Mas" Dewi terlihat sedang melirik kesana kemari.
"Ya gak apa - apa. Untuk kamu akan memberikan yang terbaik" jawab Bagas.
"Tapi aku gak biasa Mas" ujar Dewi.
Dewi terlihat cemas dan Bagas tersenyum menatap wanita impiannya.
"Makanya kita masuk biar kamu terbiasa. Kalau sering kan lama - lama terbiasa Wi" balas Bagas.
Dewi memegang erat tasnya.
"Udah gak usah takut atau cemas. Kita cuma makan, aku gak akan ngapa - ngapain kamu" ujar Bagas.
"Bukan karena itu. Kalau hal itu aku yakin Mas tidak akan melanggar janji Mas" jawab Dewi.
"Udah yuk kita turun. Kamu gak usah mikir yang macam - macam. Seperti di kantor polisi tadi, ada aku yang selalu bersama kamu. Percaya padaku" jawab Bagas meyakinkan.
Bagas keluar dari mobil kemudian berjalan ke sisi Dewi dan membukakan pintu Dewi. Dengan terpaksa Dewi akhirnya turun juga. Mereka melangkah berjalan menuju Restoran.
Sesampainya di sana mereka disambut oleh pelayan Restoran.
"Selamat Siang Pak Bagas" sapa pelayan.
"Siang" jawab Bagas.
Sang pelayan sempat melirik ke arah Dewi.
"Mau duduk dimana Pak?" tanya Pelayan itu.
"Tempat biasa ya" jawab Bagas.
"Baik, mari Pak saya antar" ajak sang pelayan.
Bagas dan Dewi berjalan mengikuti pelayan. Pelayan itu membawa Bagas dan Dewi ke tempat yang sangat spesial dan hanya terbatas pengunjungnya.
Suasana di dalam itu sangat adem, nyaman dan romantis. Dewi melihat yang makan di tempat itu memang berpasangan. Mungkin mereka sepasang suami istri atau sepasang ke kasih.
"Silahkan duduk Pak" ucap sang Pelayan.
Bagas dan Dewi duduk di tempat yang di siapkan untuk mereka.
__ADS_1
"Mau pesan apa Pak, Mbak?" tanya Pelayan.
Sial.. emang kelihatan banget ya perbedaan usia kami. Masak aku di panggil Bapak sedangkan Dewi di panggil Mbak? umpat Bagas dalam hati.
"Mau pesan apa Wi?" tanya Bagas lembut.
"Terserah Mas aja deh, aku ikut aja" jawab Dewi.
Dewi memang berasal dari keluarga sederhana. Dia masuk ke Restoran mahal aja ketika Tiara sudah menikah dengan Bintang. Kalau tidak dia tidak pernah masuk ke tempat - tempat seperti itu. Apalagi tempat ini, dia sama sekali tidak pernah masuk ke Restoran semewah dan semahal ini.
Bagas menyuruhnya memesan makanan apa saja pun dia gak mengerti. Tulisan di daftar menunya aneh, Dewi gak mengerti.
"Oke... " Bagas tersenyum dan mengerti kecanggungaan Dewi.
Bagas melihat daftar menu dan memesan makanan untuk mereka.
"Saya pesan makanan yang ini dan ini" Bagas menunjuk ke daftar menu. Pelayan langsung menulis pesanan Bagas.
"Minumnya Pak?" tanya sang Pelayan.
"Saya kopi latte sedangkan untuk pacar saya minuman ini saja" Bagas menunjuk kembali ke daftar menu.
Gila nih cowok anak ABG gini di bilang pacarnya. Aku yakin nih cewek pasti baru nemu tadi di jalan dan diajak kencan semalam sama pria ini. Batin pelayan.
Apa? Mas Bagas nyebut aku pacarnya? Batin Dewi. Mata Dewi melotot ke arah Bagas.
"Baik Pak, ada lagi yang mau Bapak pesan?" tanya Pelayan.
"Cukup itu saja. Nanti kalau ada saya pesan lagi" jawab Bagas.
"Baik Pak, saya pamit dulu" ujar pelayan.
Pelayan pergi meninggalkan Bagas dan Dewi berdua saja di meja mereka.
"Bagas???" sapa seorang wanita.
"Michelle... " jawab Bagas.
"Lama gak bertemu. Kamu kemana saja beberapa bulan ini? Aku gak pernah lihat kamu lagi" ucap wanita itu.
"Aku lagi sibuk kerja" balas Bagas.
Dewi yang melihat seorang wanita cantik menyapa Bagas langsung menundukkan wajahnya. Dia sangat tidak percaya diri sekali melihat wanita cantik blasteran berpostur tubuh tinggi dan sexy dan sangat percaya diri.
Membandingkan dirinya dengan wanita itu sungguh bagaikan bumi dan langit. Dewi rasanya ingin sekali lari dari hadapan mereka karena dianggap bagaikan nyamuk pengganggu.
Bagas dengan wanita itu terlihat serasi jika mereka bersanding. Sangat berbeda dengan Dia dan Bagas, bagaikan Majikan dan asisten rumah tangganya.
"Sama siapa ke sini Gas?" wanita yang bernama Michelle itu melirik ke arah Dewi. Dia tersenyum ramah
"Adik kamu?" tebak Michelle.
Kedua tangan Dewi saling meremas. Seandainya aku bisa menghilang. Batin Dewi.
"Bukan. Dia calon istriku"..
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG