
"Bukannya kamu yang lebih dulu di lamar oleh Mas Bagas?" tanya Tiara.
"Aku kan masih anak - anak Kak" jawab Dewi.
"Anak - anak yang sudah bisa punya anak" goda Tiara.
"Aaah Kakaaaak.. Ibu saja yang lebih tua. Aku belum mau menikah" potong Dewi.
"Kamu serius belum mau menikah?" tanya Tiara.
Dewi kembali terdiam.
"Gimana perasaan kamu pada Mas Bagas? Kakak sudah lama ingin bertanya ini pada kamu tapi belum ada waktu yang tepat saja. Sudah sebulan lho Wi sejak Bagas mengakui perasaannya pada kamu" ujar Tiara.
Siti membelai lembut kepala Dewi.
"Masih belum cukup waktu kamu untuk berfikir?" tanya Siti.
"Aku bingung Bu" jawab Dewi.
"Kamu masih bingung?" tanya Siti.
"Jangan gantung Mas Bagas Wi. Kalau memang kamu suka katakan dan kalau kamu tidak suka jangan biarkan dia menunggu lama. Menunggu yang tidak pasti sementara umurnya semakin bertambah" nasehat Tiara.
"Aku harus bagaimana Bu?" tanya Dewi bingung.
"Saat ini kan sekarang kita ada di Jakarta. Besok pasti kamu juga akan bertemu dengan Bagas. Pikirkan dalam beberapa hari ini selama kita di Jakarta. Sebelum kita balik ke Bandung kamu harus sudah bisa menyelesaikan masalah kalian" tegas Siti.
Dewi tampak begitu terkejut.
"Ibu.... " ucap Siti
"Kami tidak dipaksa. Apapun keputusan kamu Ibu akan mendukung" Siti menggenggam tangan Dewi untuk memberikan kekuatan.
Dewi tertunduk dan diam.
"Sudah saatnya kamu dewasa, keputusan kamu bukan hanya tentang masa depan kamu saja tapi juga masa depan Mas Bagas. Dia pria yang baik tidak pantas kalau kamu biarkan menunggu. Jawabannya hanya ada dua. Iya atau tidak" tegas Tiara.
"Ya sudah kamu istirahat ke kamar kamu ya. Kamu juga Ra, perut kamu sudah semakin besar jangan terlalu capek" nasehat Siti.
"Iya Buk. Yuk Wi ke kamar gih, Kakak juga mau ke kamar" Tiara mengajak Dewi keluar dari kamar Siti.
Tiara menggandeng tangan Dewi dan merangkulnya, sambil jalan menuju ke kamar Tiara membisikkan sesuatu kepada Dewi.
"Kalau Kakak jadi kamu. Kakak akan terima Mas Bagas. Udah tampan, mapan dan berpengalaman" ucap Tiara sambil tersenyum menggoda.
"Kak Araaaaa" protes Dewi.
"Hahaha... becanda Wi. Tapi jawaban Kakak tetap sama Wi, Kakak akan tetap menerima Mas Bagas. Karena pengorbanannya untuk kamu sudah sangat banyak. Terlihat dia memang sangat menyayangi kamu dan serius bersungguh-sungguh mencintai kamu. Dia memang sudah berubah Wi dan ingin segera menikah. Pikirkanlah baik - baik, saat bersama kamu apa dia pernah mengambil kesempatan, merayu atau menggoda kamu?" tanya Tiara.
__ADS_1
Dewi menggelengkan kepalanya.
"Mas Bagas selalu melindungi aku Kak, layaknya seorang kakak kepada adiknya. Makanya aku bingung" jawab Dewi.
"Itu karena kamu masih polos dia takut kamu malah takut kepadanya kalau dia menunjukkan perasaannya dan menganggap kamu sebagai wanita dewasa makanya dia mendekati kamu seperti teman, seperti seorang kakak pada adiknya berharap perlahan - lahan kamu mengerti perasaannya" nasehat Tiara.
Dewi terdiam tepat di depan pintu kamarnya.
"Kamu pikirkan beberapa hari ini ya, jangan terlalu terpengaruh dengan kata - kata Kakak. Kakak tadi hanya mengasih pandangan pada kamu tapi keputusannya tetap ada di kamu" tegas Tiara.
"Iya kak, aku istirahat dulu ya Kak. Makasih atas semua saran kakak" jawab Dewi.
Dewi masuk ke dalam kamarnya sedangkan Tiara kembali ke kamarnya.
*******
Keesokan harinya Pak Bambang beserta istrinya dan juga Bagas sudah sampai di rumah Bintang. Kali ini mereka kedatangan personil baru yaitu Roy dan Dian. Sudah lama mereka tidak ikut ngumpul bersama - sama.
"Mbak Diaaaan" sapa Tiara ketika melihat Dian datang.
Mereka saling berpelukan walau agak sulit mengingat perut keduanya sudah sama - sama besar. Kehamilan Dian sudah memasuki bulan ke empat.
"Gimana kehamilannya Mbak?" tanya Tiara.
"Alhamdulillah sudah enakan, sudah lewat tiga bulan. Mualnya sudah berkurang" jawab Dian.
"Eh Dewi udah gede banget ya rasanya padahal baru beberapa bulan gak ketemu" balas Dian sambil memeluk Dewi.
"Dewi semakin dewasa semakin cantik ya" puji Roy sambil melirik Bagas. Bagas hanya diam dan pura - pura membuang wajahnya ke arah lain.
"Dia kenapa?" bisik Roy kepada Bintang.
"Nanti deh aku cerita" balas Bintang sambil berbisik.
"Ayo masuk semua.... " ajak Tiara.
Di dalam rumah sudah menunggu Pak Wijaya dan Siti.
"Hai Siti apa kabar?" sapa Sekar.
"Alhamdulillah sehat Kar" jawab Siti.
Dua sahabat yang saling besanan kini saling berpelukan.
"Jadi kapan nih balikannya sama Mas Jay?" goda Sekar.
"Ah kamu.. " elak Siti.
"Udah gak usah malu - malu. Kita semua sangat setuju kok kalau kamu balikan lagi sama Mas Jay, kan udah gak ada penghalang lagi" balas Sekar.
__ADS_1
"Tunggu aja kabar beritanya nanti kamu pasti tau kok" jawab Siti.
"Waaah seru nih, aku gak sabar dengarnya. Pengen lihat kamu dan Mas Jay bersatu dan bahagia" sambut Sekar.
"Aamiin.. do'ain aja ya" balas Siti.
Mereka semua duduk di ruang keluarga.
"Jadi Dewi sudah dapat panggilan pertama dari kepolisian hari senin ya?" tanya Pak Bambang.
"Iya Om" jawab Dewi.
"Cuma Dewi aja?" tanya Pak Bambang lagi.
"Aku belum ada Pa, begitu juga Bapak. Ya kan Pak?" tanya Bintang pada Pak Wijaya.
"Iya aku belum ada" sambut Pak Wijaya.
"Aku ada Bin kemarin sore baru dapat panggilan" jawab Bagas.
"Waah untung kami juga ada Gas, jadi bisa sekalian dampingi Dewi nanti di sana" sambut Pak Wijaya.
"Iya kasihan tuh Dewi, pasti dia ketakutan selama penyelidikan" ujar Pak Bambang.
Dewi melirik ke arah Bagas tapi Bagas membuang pandangannya ke arah lain. Ada perasaan nyeri di dada Dewi melihat Bagas bersikap cuek kepadanya.
Dalam waktu satu bulan kamu sudah bisa melupakan aku Mas? Batin Dewi.
"Nanti kamu jawab aja apa adanya jika ada pertanyaan dari pihak kepolisian. Jawab yang tegas jangan ragu - ragu atau muter-muter nanti kamu akan terus di introgasi dan jawab pertanyaan yang kira - kira tidak akan menimbulkan pertanyaan lainnya" ujar Pak Bambang mengajari.
"Iya Pak" jawab Dewi.
"Paling reka ulang Pa, gimana proses penculikan Dewi, dimana kejadiannya, waktunya dan cerita selanjutnya" sambut Bintang.
"Nah di situ nanti pasti Bagas di panggil. Mencocokkan cerita Dewi. Karena orang yang pertama kali di hubungi Dewi kan Bagas" ujar Pak Bambang.
"Mungkin kalian perlu bicara berdua Gas untuk mencocokkan cerita kalian sebelum sampai di kantor polisi nanti. Kalian bisa mendiskusikannya di teras belakang rumah sana" Bintang mengedipkan matanya kepada istrinya Tiara agar mau mendukung ucapannya.
"Iya Wi sana aja Mas Bagas ngobrol di teras belakang. Kalian bisa diskusikan apa yang akan kalian katakan nanti di hadapan polisi. Biar kompak" sambut Tiara.
Dewi dan Bagas saling lirik. Sangat terlihat kecanggungan diantara mereka berdua. Dewi berdiri dari tempat duduknya dan menatap ke arah Bagas.
"Yuk Mas kita ngobrol di belakang aja" ajak Dewi.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1