
"Berdiri Siska, jangan lakukan ini di hadapanku" ucap Bintang.
Siska tidak mau berdiri, dia terus menangis sambil berlutut di hadapan Bintang.
"Aku tidak akan berdiri sebelum kamu memaafkan aku dan berjanji tidak akan meneruskan proses hukum ku Bintang" pinta Siska.
Seluruh orang yang sedang berada di dalam kantin menyaksikan apa yang Siska lakukan kepada Bintang. Mereka berbisik - bisik di belakang Bintang dan Siska membuat Bintang menjadi semakin tidak nyaman.
"Ba.. baiklah.. aku sudah memaafkan kamu dan aku akan mencabut tuntutanku. Aku juga akan bicarakan hal ini dengan pihak hotel agar kamu lepas dari jeratan hukum" jawab Bintang akhirnya.
"Terimakasih Bintang.. terimakasih... " Siska hendak meriah kedua kaki Bintang tapi Bintang langsung menghentikannya.
"Stop Siska.. jangan lakukan itu. Sebaiknya kamu segera berdiri" perintah Bintang.
Siska menghapus air matanya dan mencoba berdiri tapi karena tubuhnya saat ini sangat lemah hampir saja dia terjatuh. Bintang segera meraih tangannya dan berusaha membantunya berdiri.
"Duduk kembali Siska" perintah Bintang.
Siska mengikuti perintah Bintang dan kembali duduk di kursinya semula.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Bintang.
"Aku akan pulang ke kampung almarhumah Mamaku" jawab Siska.
"Bagaimana dengan pengobatan?" tanya Bintang.
Siska menggelengkan kepalanya.
"Semua sia - sia Bin, sudah terlambat. Tidak akan banyak manfaatnya. Hanya akan membuatku lebih lama menderita" jawab Siska.
"Setidaknya kamu sudah berusaha dan memperlambat prosesnya" ujar Bintang mencoba memberikan semangat kepada Siska.
"Ujungnya tetap sama kan Bin. Kematian.. Kita semua menunggu kematian. Tinggal gimana cara kita menghadapinya. Aku ingin lebih tenang dan lebih siap menghadapNYA Bin. Aku ingin memperdalam ilmu agamaku menjelang kematianku dan aku ingin saat nanti aku meninggal aku akan dimakamkan di dekat makam kedua orang tuaku. Makanya aku memutuskan untuk pulang ke kampung halamanku" ungkap Siska.
"Lantas semua yang sudah kamu miliki di sini?" tanya Bintang.
"Aku akan menjualnya dan memberikannya ke panti asuhan. Semoga apa yang aku punya sekarang ini bisa membantu aku kelak di akhirat" jawab Siska.
"Kamu coba periksa ke beberapa dokter atau rumah sakit Sis. Bila perlu ke luar negeri. Aku akan membantu dalam hal biaya" ucap Bintang.
Semua dilakukannya atas nama kemanusiaan. Walau Siska telah banyak berbuat jahat kepadanya tapi Bintang tidak tega dan kasihan kalau nasib Siska seburuk itu.
Siska tersenyum mendengar perkataan Bintang.
"Terimakasih Bin, walau aku sudah banyak banget menyakiti kamu tapi kamu masih mau menawarkan bantuan kepadaku" ujar Siska.
Siska kembali menarik nafasnya panjang.
"Keputusan aku sudah bulat. Aku akan kembali ke kampung, hidup tenang di akhir - akhir usiaku. Menyambut kematian dengan keikhlasan bukan dengan rasa takut" sambung Siska.
__ADS_1
Walau sangat berat melihat Siska seperti ini tapi Bintang tidak bisa berbuat apa - apa lagi. Apakah Siska putus asa, pasrah atau memang sudah ikhlas. Bintang tak bisa lagi membedakannya.
"Baiklah kalau memang itu keputusan kamu. Aku doakan semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kamu. Jangan putus semangat Sis" ucap Bintang.
Siska kembali tersenyum.
"Aku tidak putus asa Bin, aku sedang berdamai dengan nasibku. Selama ini Allah sudah banyak menunjukkan wujud kasih sayangnya padaku tapi aku malah menutup mataku. Aku mengabaikannya Bin. Aku menyalahgunakannya, aku malah sibuk mengejar dunia. Dunia yang tak akan pernah bisa aku kuasai. Aku tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah aku miliki. Semakin aku merasa lebih tinggi, aku terus terobsesi untuk naik lebih tinggi lagi" ungkap Siska.
"Semoga kamu mendapatkan kebahagian kamu Sis" balas Bintang.
"Aamiin. Sekali lagi makasih Bin" jawab Siska.
Kini Siska merasa lebih lega setelah selesai menyampaikan isi hatinya.
"Eh kamu tadi dari mana dan mau kemana?" tanya Siska.
"Astaghfirullah aku jadi lupa" Bintang menepuk keningnya.
"Lupa apa?" tanya Siska penasaran.
"Aku tadi habis dari ruangannya Bagas" jawab Bintang.
"Bagas? Bagas masuk rumah sakit. Sakit apa? Kemarin aku lihat dia baik - baik saja. Istirnya hamil kok malah sakit sih bukannya bahagia" ujar Siska.
Bintanh jadi tertawa sendiri mengingat kondisi Bagas.
"Kok bisa? Gimana sih ceritanya?" tanya Siska penasaran.
"Jadi Dewi istrinya Bagas hamil nah yang ngidam dan mabuk si Bagas. Jadi dia di opname karena dari tadi pagi muntah - muntah terus sampai lemas tak bertenaga. Tidak ada makanan yang bisa masuk ke dalam perutnya semuanya habis dia muntahkan" jawab Bintang.
"Lucu ya, pasti saat ini wajah Bagas jelek banget" ujar Siska sudah mulai tertawa.
"Kalau itu jangan kamu tanya, wajahnya jelek banget dan dia tidak berdaya. Udah habis dia dari tadi aku dan Roy bully sampai dia tak berkutik" sambut Bintang.
"Hahaha... terus kamu keluar mau kemana?" tanya Siska lagi.
"Oh iya lupa lagi. Aku mau belikan dia bubur ayam. Maklum pria ngidam lagi banyak permintaan seperti wanita hamil pada umumnya" jawab Bintang.
"Emang beneran dia ngidam seperti itu?" tanya Siska tak percaya.
"Benar, kalau gak percaya lihat aja sendiri" jawab Bintang.
"Mmm... disana ada siapa aja Bin?" tanya Siska ragu.
"Ada Bagas dan istrinya, ada Roy dan Dian, kedua orang tua Bagas dan Tiara istriku" jawab Bintang
Siska terdiam sesaat.
"Boleh aku kesana? A.. aku ingin meminta maaf pada kalian semua. Aku ingin menebus satu persatu kesalahanku dan meminta maaf pada orang - orang yang penah aku sakiti sebelumnya" pinta Siska.
__ADS_1
"Boleh kenapa nggak. Allah aja Maha Pengampun mengapa kita sebagai manusia sombong tidak mau memaafkan kesalahan orang lain. Apa sih bedanya kita, sama - sama manusia yang juga tak luput dari salah dan dosa" ujar Bintang.
"Kamu sudah banyak berubah ya Bin, kamu baik banget dan juga dewasa. Aku tidak menyangka Tiara bisa merubah kamu menjadi pria yang berbeda. Pria yang lebih mengerti agama dan bertanggung jawab. Aku salut kepada Tiara" puji Siska.
Bintang tersenyum menatap Siska. Sudah lama sekali rasanya dia tidak pernah lagi bicara senyaman ini dengan Siska. Kini mereka sudah kembali berteman. Tidak ada lagi dendam ataupun kekhawatiran Siska akan merusak rumah tangganya.
Kini mereka bisa fufuk dan berbincang dengan tenang seperti tidak pernah terjadi masalah dengan mereka sebelumnya.
Ternyata indahnya bisa ikhlas untuk memaafkan. Baru kali ini Bintang merasa sangat tenang sekali seperti ini.
"Ya sudah Sis, yuk kita ke ruangan Bagas" ajak Bintang.
"Bubur ayam pesanan Bagas nya gimana Bin?" tanya Siska.
"Oh iya lupa lagi. Udah kelihatan banget ya tuanya" ucap Bintang berkelakar.
Kata - kata Bintang membuat Siska tertawa. Siska juga merasakan hal yang sama. Dia tidak menyangka bisa selega dan setenang ini berbicara dengan Bintang. Seandainya saja rasa penyesalan itu datang lebih cepat mungkin dia bisa menjadi teman Bintang lebih lama.
Tapi nasib berkata lain dan Siska mau tidak mau harus menerimanya. Karena dia sudah menyadari kalau kesalahannya sangat besar kepada Bintang.
Akhir kisah mereka seperti ini saja sudah sangat manis. Bintang bisa memaafkannya dengan ikhlas. Dan mereka bisa kembali berteman seperti pertama kali berkenalan dulu saat - saat kuliah di kampus.
"Tunggu sebentar ya.. aku belikan Bagas bubur ayam dulu" ucap Bintang.
Bintang berdiri dan melangkah menuju tempat pemesanan makanan. Setelah makanan di pesan dan selesai dibuat Bintang kembali menghampiri Siska.
"Yuk Sis kita ke ruangannya Bagas" ajak Bintang.
"Ayuk Bin" sambut Siska.
Siska merapikan rambut dan bajunya juga membenahi tampilan wajahnya usai tadi dia menangis di hadapan Bintang. Kini mereka berjalan beriringan menuju kamar rawat inap Bagas.
Sesampainya di ruangan Bagas.
"Kamu sudah siap?" tanya Bintang kepada Siska.
Siska menarik nafas panjang.
"Sudah Bin.. aku sudah siap" jawab Siska.
Bintang mendorong pintu ruangan rawat inap Bagas. Semua mata memandang kearah pintu. Alangkah terkejutnya mereka melihat siapa wanita yang datang bersama Bintang.
"Siskaaaaaa.... " ucap mereka semua yang ada di ruangan Bagas.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1