
Jumat siang sepulang Dewi kuliah dan Ali sekolah Pak Wijaya menjemput mereka ke rumah Siti. Siang ini juga mereka akan ke bandung untuk menemani Dewi hadir dalam panggilan pertama kasus hukum yang menjerat Ida.
Wijaya sudah berkomunikasi dengan Bintang, Bagas dan Bambang. Besok mereka semua akan berkumpul di rumah Bintang membahas panggilan polisi untuk Dewi.
Setidaknya mereka bisa memberikan semangat kepada Dewi agar Dewi bisa kuat menjalani semua prosesi hukum dan pengadilan dalam kasus penculikan dirinya sebulan yang lalu yang akhirnya merenggut nyawa Tarjo Bapak Kandungnya Dewi dan Ali.
"Semua sudah siap?" tanya Wijaya saat Siti dan anak - anaknya sudah masuk ke dalam mobil.
"Sudah Mas, InsyaAllah gak ada yang tinggal" jawab Siti.
"Kalau begitu kita berangkat. Yuk Mang Udin" perintah Pak Wijaya.
"Baik Tuan" jawab supir Pak Wijaya.
Mobil berjalan meninggalkan komplek perumahan tempat tinggal Siti dan anak - anaknya kemudian bergerak keluar dari kota Bandung menuju jalan Tol yang menuju arah ke Jakarta.
Tiga jam perjalanan melalui Tol Jakarta dan satu jam berikutnya mereka sudah sampai di rumah Bintang. Bintang dan keluarganya sudah menunggu dengan tidak sabar. Terlebih Tegar yang sudah kangen karena hampir satu bulan tidak bertemu Opa, Oma, Tante dan Om Alinya.
"Opa.. Oma.. Tante dan Om Aliiii" teriak Tegar memeluk mereka satu persatu.
Wijaya dan Siti membalas pelukan cucu pertama mereka.
"Sayaaang... satu bulan saja tidak bertemu kamu sudah semakin besar ya" ucap Siti.
"Ini Opa bawain teh terbaik untuk kamu" Pak Wijaya memberikan bungkusan yang berisikan teh dari perkebunannya.
"Asiiiik.. makasih Opa" jawab Tegar.
"Yuk Pak, Bu masuk" ajak Bintang dan Tiara.
Perut Tiara juga sudah terlihat semakin besar. Kini kehamilannya sudah memasuki bulan ke enam.
"Gimana kandungan kamu sayang?" tanya Pak Wijaya dengan penuh perhatian.
"Alhamdulillah sehat Pak, adeknya Tegar sangat aktif sekali" jawab Tiara.
"Itu tandanya kalau anak dalam kandungan kamu tumbuh dengan sehat. Mudah - mudah sehat terus ya sayang sampai lahiran" Pak Wijaya mengelus lembut perut Tiara penuh kasih sayang.
Membuat Tiara semakin merasa bersyukur Allah masih memberikan dia kesempatan bertemu dengan Bapaknya yang telah bertahun - tahun berpisah. Ternyata Bapaknya sangat menyayanginya.
__ADS_1
"Langsung makan aja ya" ajak Bintang.
"Boleh.. kami juga sudah lapar. Tadi Siti, Dewi dan Ali gak mau Bapak ajak singgah makan di perjalanan. Katanya mereka mau makan di rumah kalian saja. Udah gak sabar pengen ketemu Tegar katanya" jawab pak Wijaya.
Bintang dan Tiara tersenyum mendengarkan penjelasan Pak Wijaya.
Sesampainya mereka di rumah Bintang, mereka langsung di ajak Tiara ke ruang makan. Asisten rumah tangga Tiara sudah mempersiapkan hidangan spesial untuk menyambut kedatangan orang - orang tersayangnya.
Mereka kini sudah duduk di depan meja makan bundar.
"Waah ada udah goreng" teriak Ali..
"Mama sengaja masak ini Om untuk Om Ali. Om kan suka sekali makan udang" sambut Tegar.
"Makasih Tegar dan Mama Tegar" ujar Ali.
Tiara tersenyum menyambut ucapan adik bungsunya itu.
"Ayo Pak, Bu semuanya kita makan" ajak Bintang.
Mereka mulai makan dengan lahap. Selain memang sudah waktunya makan malam, semua makanan yang disajikan sangat enak rasanya. Membuat mereka makan dengan semangat.
"Yank antar Ibu istirahat di kamarnya. Ibu pasti udah capek itu" perintah Bintang.
"Iya, yuk Bu, Wi. Mbak antar ke kamar kalian" ajak Tiara.
Siti dan Tiara berjalan beriringan sedangkan Dewi menyusul di belakang mereka. Kini mereka sudah sampai di kamar Siti. Siti, Dewi dan Tiara duduk di atas tempat tidur. Sudah lama mereka tidak duduk santai seperti ini hanya bertiga.
"Kak, minggu lalu Ibu di lamar Bapak?" ucap Dewi.
"Apa, serius Bu?" tanya Tiara tak percaya. Dia sangat senang mendengar kabar gembira ini.
Siti tersebut kemudian membelai lembut perut Tiara.
"Ibu menerimanya?" tanya Tiara lembut.
"Menurut kalian?" Siti balik bertanya.
"Dari wajah Ibu aku tau. Ibu pasti menerima Bapak kan?" tanya Tiara penasaran.
__ADS_1
"Boleh Ibu menerimanya?" tanya Siti balik.
Kini saatnya dia berbicara dengan kedua putrinya tentang rencana masa depannya bersama Pak Wijaya.
"Boleh donk Bu, harus malah" jawab Tiara cepat.
Siti melirik ke arah Dewi.
"Kalau Dewi gimana?" tanya Siti.
Siti tidak ingin Dewi tersinggung. Kalau Tiara pasti senang Siti menerima lamaran Pak Wijaya karena Tiara adalah anaknya Pak Wijaya tapi Dewi adalah anak Tarjo. Pria yang pernah menyakiti Siti, Pria yang menjadi penghalang bersatunya kembali Siti dengan Pak Wijaya. Kini Tarjo telah pergi untuk selamanya tidak ada lagi yang akan menghalangi jalinan kasih antara Siti dan Pak Wijaya yang pernah terputus.
"Aku dan Ali sudah membahas ini Bu di tempat dan waktu yang sama saat Pak Wijaya melamar Ibu. InsyaAllah kami ikhlas Ibu menikah lagi. Apalagi dengan Pak Wijaya. Karena kami tau Pak Wijaya bisa membuat Ibu bahagia. Sejak malam itu kami selalu melihat senyum di wajah Ibu yang tak pernah usai. Kami bahagia melihat Ibu bahagia. Kinilah saatnya Ibu meraih kebahagiaan Ibu di hari tua. Maaf kalau Bapak kami dulu sering menyakiti Ibu" Ucap Dewi sedih.
"Dewiiiii.... " Tiara langsung memeluk adiknya itu.
"Kamu jangan bicara seperti itu. Masa lalu tidak ada yang perlu kita sesali. Walau Ibu dulu sering disiksa Bapak kamu tapi Ibu bahagia karena ada kamu dan Ali dalam hidup Ibu. Semua sudah takdir dari Allah yang harus Ibu jalani. Kalau Ibu tidak bertemu dengan Bapak kamu, tentu kamu dan Ali tidak akan terlahir di dunia ini. Jadi tidak ada yang perlu di tangisi lagi. Semua sudah terjadi dan tak perlu kita sesali" ungkap Siti.
Siti memeluk kedua anak perempuannya itu.
"Ibu bahagia memiliki kalian semua, kalianlah alasan Ibu bisa kuat bertahan selama ini. Kalian anak - anak Ibu, obat Ibu disaat Ibu sedih. Penguat Ibu di saat Ibu lemah dan pembela Ibu di saat Ibu tersakiti" sambung Siti
Mereka bertiga saling berpelukan.
"Apapun yang terjadi dengan Pak Tarjo kamu tetaplah adik Kak Ara Wi. Kita tetap bersaudara. Bila nanti Ibu akan menikah dengan Bapak Kakak, kita tetap akan bersaudara. Bapak Kakak adalah Bapak kalian juga. Kita akan berbagi kasih sayang yang sama. Kalian tidak perlu takut akan diperlakukan tidak adil. Kak Ara yakin Bapak juga menyayangi kalian berdua" ucap Tiara kepada Dewi.
"Iya Kak, aku dan Ali sangat yakin Pak Wijaya akan menerima kami sebagai keluarganya" jawab Dewi.
"Sekarang mari kita hapus air mata kesedihan ini, kita sambut hari - hari yang penuh kebahagiaan untuk masa depan kita nanti. Aku ingin bukan hanya aku dan Ibu saja yang bahagia. Tapi kamu juga harus bahagia Wi" ujar Tiara.
"Aku..? Kenapa jadi kebahagian aku yang di bahas. Yang di lamar kan Ibu?" tanya Dewi bingung.
"Bukannya kamu yang lebih dulu di lamar oleh Mas Bagas?" tanya Tiara.
Dewi terdiam karena kembali teringat pada pria yang telah sempat membuat hatinya terluka.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG