Tiara

Tiara
Di pukul Bapak lagi


__ADS_3

Tanpa terasa waktu satu minggu berjalan begitu berat, besok Bintang harus kembali ke Jakarta meninggalkan anak dan istrinya di Kota ini.


"Sayaaang kamu ikut ke Jakarta saja yuk besok" ajak Bintang.


"Maaaas... gak bisa donk. Cafe gimana? lagian senin kan Tegar harus sekolah. Sebentar lagi dia akan ujian" jawab Tiara.


"Aku males banget pulang. Kalau begitu aku tambahin cutinya saja ah satu minggu lagi" balas Bintang.


"Mas jangan begitu ya. Kamu harus semangat bekerja agar bisa menafkahi keluarga kamu. Kayanya pengen beli rumah secepatnya. Kalau kamu tidak kerja gimana mau beli rumah. Lagian kalau perusahaan kamu gimana - gimana bukannya hanya satu keluarga saja Mas yang harus Mas fikirkan. Tapi ribuan keluarga para karyawan Mas di kantor yang harus Mas perjuangkan" ungkap Tiara.


"Kamu memang wanita yang baik ya Ra. Selalu memikirkan orang lain" ucap Bintang sambil memeluk istrinya.


"Kita hidup tidak sendiri Mas dan kita tidak boleh egois. Apa yang kita lakukan semua ada dampak dan pertanggung jawabannya. Setiap keputusan yang diambil semua pasti ada baik dan buruknya jadi setiap bertindak kita tidak boleh gegabah karena ada orang lain yang akan terkena imbasnya di belakang kita" ujar Tiara.


"Iya deh sayang demi kalian. Demi kamu, anak kita dan seluruh keluarga karyawan aku. Besok aku akan balik ke Jakarta dan akan menahan rinduku selama lima hari untuk bertemu kalian lagi jumat depan" jawab Bintang.


"Nah gitu donk. Itu baru suamiku tersayang" Tiara mencium pipi suaminya mesra.


"Lagi donk Ra" pinta Bintang


"Apanya?" tanya Tiara bingung.


"Cium dan bilang sayangnya. Nih masih ada pipi sebelah lagi dan kening aku" sambung Bintang.


"Ih manja banget. Sini sayang biar aku cium" ucap Tiara


Bintang memberikan pipinya sebelah lagi untuk di cium Tiara setelah itu pindah ke keningnya dan terakhir Bintang yang amb alih.


Bintang langsung mencium bibir istrinya mesra.


"Tuh kan ambil kesempatan dalam kesempitan" ucap Tiara pura - pura cemberut.


"Hahaha.. puas - puasin yang besok kan mulai puasa selama lima hari" jawab Bintang.


Tiba - tiba ponsel Tiara berbunyi.


"Yank HP kamu tuh bunyi" ucap Bintang.


Tiara meraih ponselnya, begitu melihat siapa yang menghubunginya wajah Tiara langsung berubah serius membuat Bintang bertanya - tanya.


"Siapa yang telepon?" tanya Bintang.


"Ibu Mas" jawab Tiara.


"Angkat cepat" suruh Bintang.

__ADS_1


Tiara segera mengangkat telepon dari nomor Ibunya.


"Kak Ra huhu.. hiks.. hiks... " suara Dewi menangis yang terdengar.


"Wi.. ada apa Wi? Kamu kenapa menangis?" tanya Tiara terkejut.


"Bapak Kak.. Bapak memukul Ibu lagi tapi.. tapi... uuu.. uu... uuuuu.. " jawab Dewi sambil terisak.


"Tapi kenapa Wi?" tanya Tiara khawatir.


"Yank speakerkan, aku mau dengar" bisik Bintang.


Tiara langsung menekan tombol speaker di ponselnya.


"Tapi kali ini Ali menahan Bapak Kak. Dia melawan Bapak dan berusaha membela Ibu. Jadi Ali kena pukul Bapak juga kali ini" ungkap Dewi.


"Ya Allah... trus sekarang gimana keadaan Ibu dan Ali?" tanya Tiara.


"Ali lagi diobatin Ibu Kak" jawab Dewi belum juga berhenti menangis.


"Ibu gimana keadannya?" tanya Tiara tidak sabar.


"Ibu juga terluka Kak" jawab Dewi terbata- bata.


"Bapak dimana? Kamu kok bisa telepon?" tanya Tiara lagi.


Bintang menatap jam di dinding, sudah jam delapan malam. Masih sempat jam sebelas sampai Jakarta. Fikirnya.


"Ra cepat kamu siapkan jaket atau baju tebal untuk Tegar dan kamu panggil dia di kamarnya. Ayo kita berangkat ke Jakarta sekarang" perintah Bintang.


"Tapi Mas" balas Tiara.


"Tapi apa lagi Ra. Kita ke Jakarta sekarang. Dewi bilang sama Ibu kalian berbenah sekarang. Susun semua pakaian kalian biar Mas jemput. Tiga jam lagi kami akan sampai" perintah Bintang mengambil alih ponsel Tiara.


"Tapi Mas.. Ibu tidak akan mau" tolak Dewi.


"Bilang sama Ibu Mas akan kasih dua pilihan. Ikut kami ke Bandung atau Mas akan laporkan Bapak ke polisi sekarang juga" Bintang kemudian mengakhiri panggilan telepon dari mertuanya.


"Ayo sayang.. kita harus gerak cepat.. " ajak Bintang pada istrinya.


Bintang segera meraih jaketnya, kunci mobil, ponsel dan dompetnya kemudian keluar dari kamar menuju garasi mobil untuk memanaskan mobilnya sebelum jalan jauh.


Sedangkan Tiara berganti baju, memasukkan ponselnya ke dalam tas setelah itu dia ke kamar Tegar. Tegar yang masih belum tidur dan masih asik bermain tekejut melihat Tiara sudah berpakaian rapi seperti akan pergi.


"Mama kok cantik banget, mau pergi ya?" tanya Tegar.

__ADS_1


"Iya sayang, cepat pakai sweater kamu kita mau ke Jakarta jemput eyang, om dan Tante" jawab Tiara.


"Horeeee.... ketemu eyang lagi. Aku bisa main lagi sama Om Ali" teriak Tegar kesenangan.


"Ayo cepetan, Papa sudah menunggu di luar" perintah Tiara.


Tiara memakaikan sweater Tegar setelah itu dia menggiring Tegar ke depan rumah. Tiara segera mengunci pintu rumah dan bergegas masuk ke dalam mobil Bintang.


"Sudah siap semuanya sayang? Pintu sudah di kunci? lampu, kompor sudah di periksa semuanya?" tanya Bintang mengingatkan.


Dia tidak mau terjadi hal yang buruk karena mereka buru - buru pergi. Ditambah lagi biar hati lebih tenang meninggalkan rumah tanpa ada fikiran buruk.


"Sudah semuanya Mas" jawab Tiara.


Bintang segera melajukan mobil menuju Tol Bandung - Jakarta.


"Sayang kamu tidur saja di belakang ya, kita akan pergi ke Jakarta" perintah Bintang pada putranya.


"Iya Pa, tadi Mama sudah bilang kalau kita akan menjemput Eyang, Tante Dewi dan Om Ali. Aku senang sekali bertemu mereka lagi" jawab Tegar.


Bintang tersenyum mendengar jawaban anaknya. Anak kecil yang masih polos. Dia tidak perlu tau apa yang sedang terjadi dengan orang - orang dewasa di sekitarnya. Dia tidak perlu tau pahit dan kerasnya kehidupan ini.


Semoga hidup kamu lebih baik dari kami semua sayang... Doa Bintang dalam hati untuk anaknya.


Sesuai dengan perintah Bintang. Dewi menyampaikan pesan Bintang barusan.


"Bu, Mas Bintang dan Kak Tiara dalam perjalanan ke Jakarta. Katanya mereka mau jemput kita" lapor Dewi.


"Kamu mengapa menghubungi Kakak kamu?" tanya Siti.


"Aku.. aku gak tahan Bu melihat Ibu dan Ali di pukuli Bapak, jadi aku telpon Kak Ara. Mas Bintang bilang mereka segera ke sini untuk menjemput kita" ulang Dewi.


"Ngapain mereka jemput kita? Ibu tidak mau pergi bersama mereka" tolak Dewi.


"Bu kata Mas Bintang kita ikut dia ke Bandung atau dia akan melaporkan Bapak malam ini juga" jawab Dewi.


Sontak Siti terkejut mendengar jawaban Dewi.


"Bu.. kita ikut Kak Ara dan Mas Bintang aja yuk... Aku gak mau tinggal di sini lagi bersama Bapak" sambut Ali.


Siti menatap kedua anaknya secara bergantian. Sungguh berat mengambil sebuah keputusan seperti ini.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2