Tiara

Tiara
Semakin sayang


__ADS_3

"Nih lagi main, tadi dibawain oleh - oleh sama Pak Bambang" ucap Tiara.


Pak Bambang? Bambang siapa? Kok mirip sama nama... akh.. banyak nama Bambang di Jakarta ini. Tidak mungkin dia... Batin Bintang.


"Ya sudah kalian hati - hati ya di sana. Jangan terlalu sore pulangnya nanti kejebak macet jadi malam sampai rumahnya" sambut Bintang.


"Iya Mas. Udah ya Mas... Assalamu'alaikum" tutup Tiara.


"Wa'alaikumsalam" balas Bintang.


Telepon terputus, mereka kembali melanjutkan pembicaraan sebelum makanan datang.


"Kamu kerja?" tanya Ira kepada Tiara.


"Nggak Bu, saya hanya mengurus suami dan anak saja di rumah" jawab Tiara.


"Ooh bagus itu, jadi rumah tangga lebih terurus. Saya juga dulu lebih memilih berhenti bekerja dan ikut kemana suami pergi" jawab Ira.


Bahkan sampai aku menelantarkan putraku sendiri. Ucap Ira sedih di dalam hati.


Tak lama pelayan datang menghidangkan makanan yang mereka pesan.


"Ayo kita makan dulu" ajak Bambang.


Mereka kemudian menikmati hidangan yang tersedia sambil berbincang - bincang ringan.


"Boleh kami anggap Nak Tiara ini sebagai anak saya sendiri dan Tegar ini cucu kami? Hidup kami cuma sepi hanya ada satu orang anak dan belum mempunyai cucu" ujar Ira.


"Boleh Bu, anggap saja saya ini keluarga Ibu" balas Tiara.


"Tegar pintar banget ya, masih kecil tapi sudah berani menolong Opa saat Opa jatuh" puji Bambang.


"Kata Papa aku harus menolong orang yang membutuhkan pertolongan Opa. Siapapun itu, walaupun itu orang asing" jawab Tegar.


"Bagus itu. Papa kamu pasti senang sekali mempunyai putra seperti kamu" sambut Ira.


Tiara tersenyum mendengar perkataan Ira.


"Mama gimana kalau siang ini kita buat kejutan untuk Papa" ujar Tegar.


"Kejutan untuk Papa, apa sayang?" tanya Tegar penasaran.

__ADS_1


"Setelah pulang dari sini kita ke kantor Papa yuk. Aku pengen lihat kantor Papa" pinta Tegar.


"Ya sudah nanti kita ke kantor Papa ya sayang" balas Tiara.


Bambang terlihat sangat senang bertemu dengan Tegar. Mungkin karena faktor usia membuat hatinya jadi lebih lembut.


Dia sangat rindu dengan suasana seperti ini. Dulu dia sempat menjalani kehidupan yang hangat seperti ini saat putranya juga seusia Tegar.


Mereka sering makan dan jalan - jalan di luar tapi sering berjalannya usahanya dan berkembangnya perusahaannya membuatnya semakin sibuk dan melupakan putranya yang masih sangat membutuhkan kasih sayangnya.


Waktu keemasan sudah dia lewatkan. Saat - saat dimana anaknya memang benar - benar sangat membutuhkan perhatian darinya. Sehingga dia membuat putranya kecewa, kesepian dan akhirnya pergi dari rumahnya.


Yang lebih parahnya, keegoisannya sebagai orang tua yang memandang bahwa putranya tidak akan bertahan lama pergi tanpa sokongan dana darinya.


Ternyata fikirannya salah, putranya bisa bertahan sampai saat ini tanpa dukungannya. Bahkan kini putranya itu sudah sangat sukses di usia mudanya.


Sekarang hanya ada rasa penyesalan tapi sikap angkuhnya belum juga hilang. Harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui bahwa dirinya yang salah. Dia berlindung di balik tuduhan durhaka untuk anaknya itu.


Yah, anak itu sudah durhaka karena telah melawan kepadanya, melanggar dan melawan semua peraturan yang telah dia buat bahkan berani pergi dari rumah. Itulah tuduhan yang dia berikan pada putranya untuk mengurangi rasa bersalahnya.


Anak kecil yang ada di depannya ini memang sangat mirip dengan putranya. Istrinya sudah sering mengatakan seperti itu tapi dia membantahnya. Padahal jauh di lubuk hatinya malah mengatakan sebaliknya.


Pak Bambang sangat bersemangat untuk bertemu dengan Tegar karena baginya memberikan sesuatu kepada Tegar dan memberikan perhatian untuk Tegar bisa mengurangi rasa bersalah dan kerinduan di hatinya kepada putranya.


Mungkin kalau anak ini tidak menemukannya segera dan berteriak minta tolong, dia tidak akan ada lagi di dunia ini. Syukurnya istrinya percaya dengan kata - katanya.


Padahal dia ingin menatap wajah anak kecil ini yang sangat mirip dengan wajah putranya saat masih kecil. Dia merindukan putra dan ingin meminta maaf.


"Tegar kapan - kapan main ke rumah Opa ya" ajak Bambang.


Sontak Ira istrinya terkejut. Tidak pernah sebelumnya suaminya ini bersikap seperti ini. Biasanya Bambang selalu tidak tertarik pada anak - anak tapi kali ini berbeda. Apakah karena Tegar sudah menyelamatkan nyawanya.


"Bagaimana Ma?" tanya Tegar.


"Nanti kita minta izin sama Papa dulu ya sayang" jawab Tiara.


"Kami minta izin Papa dulu ya Opa. Kalau Papaku memberi izin aku akan datang ke rumah Opa. Apakah di rumah Opa ada kolam renang?" tanya Tegar polos.


Bambang tertawa mendengar pertanyaan Tegar.


"Hahaha.. punya sayang. Kalau kamu main ke rumah Opa jangan lupa bawa baju renang kamu. Kamu boleh sepuasnya berenang di kolam renang Opa" jawab Bambang.

__ADS_1


"Asiik... Horeeeeee... " sambut Tegar


"Kami serius mengundang kalian datang ke rumah kami lho Nak Tiara" ucap Ira.


"Iya Bu, nanti aku minta izin dulu sama suami ya. InsyaAllah kapan - kapan kami akan berkunjung ke rumah Bapak dan Ibu" jawab Tiara.


Ira tersenyum lembut menatap Tiara.


Seandainya menantuku secantik dan selembut kamu nak, alangkah indahnya hidup putraku. Pasti dia hidup dengan teratur dan bahagia di urus istri yang seperti ini.


Sepertinya kamu wanita yang baik dan perhatian sebagai seorang istri. Lemah lembut, sabar dan pinter mengurus rumah tangga.


Selain wajahnya sangat cantik, solehah lagi. Semoga putraku juga mendapatkan istri seperti kamu. Ya Allah kabulkanlah permintaanku ini. Doa Ira.


Tiara membersihkan bibir dan pipi Tegar yang kotor karena noda makanan. Dengan sabar dan telaten dia mengurus buah hatinya.


Semua tingkah laku Tiara tidak luput dari pandangan Ira dan Bambang. Mereka tersenyum setiap kali Tegar menggoda Mamanya dengan pura - pura tidak mau di bersihkan wajahnya.


"Nanti kalau kamu datang ke rumah Opa, Opa akan belikan mainan yang banyak untuk kamu" ujar Bambang.


"Oma juga akan masak makanan yang enak" sambut Ira.


"Benar Oma, Opa?" tanya Tegar dengan mata berbinar.


"Benar donk... " jawab Bambang dan Ira bersamaan. Mereka saling pandang dan saling melempar senyum.


"Mama... cepetan donk kita ke rumah Opa dan Omaaaaa" rengek Tegar.


Tiara tertawa lucu melihat tingkah anaknya.


"Hahaha.. iya.. iya.. sayang. Sabar donk, kita minta izin Papa kamu dulu" jawab Tiara.


Bambang dan Ira ikut tertawa melihat tingkah lucu Tegar. Sepertinya mereka sudah semakin jatuh hati pada anak laki - laki kecil itu. Mereka sudah menganggap Tegar seperti cucu mereka sendiri.


"Terimakasih Tiara kamu sudah mau datang saat kami undang makan siang ini. Kami sangat senang sekali, apalagi melihat Tegar. Rasanya kami sudah jatuh hati. Andaikan kami memiliki cucu sepertinya pasti hidup kami bahagia sekali" ucap Ira.


Bambang melirik istrinya sekilas, dia melihat ada raut kesedihan saat Ira mengatakan tentang cucu. Sebenarnya perasaannya juga sama dengan istrinya. Tapi dia masih menyimpannya di dalam hatinya.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2