Tiara

Tiara
Mengikat Dewi


__ADS_3

Kini tinggal Keluarga Bagas dan Roy beserta istrinya yang tinggal di rumah Bintang dan Tiara.


"Maaf tadi kita belum sempat ngobrol panjang Reksajaya karena keburu acara di mulai. Apakah kalian buru - buru pulang?" tanya Pak Bambang.


"Tidak apa - apa Bambang, kami tidak terburu - buru kok" balas Pak Reksajaya Papanya Bagas.


"Silahkan duduk" ujar Pak Bambang ramah.


Bintang dan Pak Wijaya yang baru saja mengantar kepergian keluarga Ridho masuk ke dalam rumah dan ikut bergabung dengan Papanya dan Papanya Bagas.


"Kedatangan kami ke sini juga sebenarnya ingin menyambung silaturrahim dengan keluarga Dewi. Bagas pernah datang ke rumah membawa Dewi, dia memperkenalkan Dewi sebagai calon istrinya. Awalnya kami sangat terkejut ketika mengetahui jarak usia Dewi dan Bagas tapi karena Bagas bisa meyakinkan kami bahwa Dewi lah pilihannya di tambah juga kami melihat Dewi juga adalah anak yang sopan dan solehah oleh sebab itu kami menyetujui hubungan mereka. Saat Bagas mengajak kami datang ke acara ini, kami merasa tidak ada salahnya kalau kami berkenalan lebih dekat lagi dengan keluarga Dewi" sambut Pak Reksajaya.


Dewi datang dari dapur sambil membawa teh hangat untuk semua yang ada di ruang keluarga. Tegar dan Ali sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar karena Tegar sudah mengantuk.


Tiara, Siti, Sekar, Dian dan Mamanya Bagas juga ikut nimbrung bersama para pria. Mereka duduk di samping pasangan mereka masing - masing.


"Dewi adalah adik iparnya Bintang, Dewi itu adiknya Tiara istri Bintang" ungkap Pak Bambang.


"Iya, Bagas sudah menceritakannya kepada kami" sambut Pak Reksajaya.


"Dewi sini ikut duduk bareng" ajak Sekar.


Dewi duduk di samping Ibunya, Siti dan tepat berhadapan dengan Bagas. Bagas tampak tersenyum sambil memandangnya sedangkan Dewi hanya tertunduk malu.

__ADS_1


"Sebenarnya kamu tau putra Kami sudah sangat tidak sabar ingin menikah dengan Dewi. Kami juga mengerti kalau Dewi belum siap. Yah... maklum usia Dewi kan masih sangat muda jelas dia sangat keberatan untuk diajak secepatnya menikah. Dewi kan masih remaja, masih ingin menikmati masa muda. Tapi.. usia putra kami sudah sangat cukup bahkan sudah hampir di ambang batas kata muda lagi untuk menikah. Kami juga ingin sekali secepatnya menimang cucu mengingat Bagas adalah putra kami satu - satunya. Rumah kami sangat sepi, apalagi Bagas hanya datang dan menginap di rumah di akhir minggu. Itupun kalau dia tidak pergi keluar kota atau luar negeri" Ungkap Reksajaya.


Semua yang ada di situ mendengarkan ucapan Pak Reksajaya.


"Ini atas keinginan kami orang tuanya Bagas. Memang Bagas tidak meminta karena dia tidak ingin memaksa Dewi untuk secepatnya mau diajak menikah. Tapi kami melihat putra kami ini sudah sangat resah. Mungkin karena dia semakin sadar dengan usianya yang semakin tua sedangkan Dewi remaja yang akan beralih dewasa. Mmm... bagaimana kalau kita ikat saja dulu mereka Pak Bambang" ujar Papa Bagas.


Bagas yang mendengar hal ini sontak terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka Papanya akan berkata seperti itu. Dia juga tidak ada menyuruh Papanya untuk bicara seperti itu.


"Paa... " protes Bagas.


Dewi juga sama terkejutnya dengan Bagas. Bagas tidak pernah bicara kepadanya kalau dia akan datang bersama kedua orang tuanya apalagi ingin mengikatnya seperti kata Papanya tadi.


"Hahaha... seperti kamu sudah sangat tidak sabar Reksa. Kamu mau ikat mereka dengan apa? Dengan tali?" canda Pak Bambang.


"Saya tidak bisa menjawabnya karena saya adalah Papanya Bintang. Papanya Dewi sudah meninggal jadi hanya tinggal Ibu dan Kakaknya yang ada di sini. Coba kita tanyakan saja kepada mereka? Bagaimana Siti, Tiara?" tanya Pak Bambang.


Siti melirik ke arah Pak Wijaya.


"Kamu jawab saja apa yang ada di dalam hati kamu. Jangan sungkan ataupun takut" sambut Pak Wijaya.


Siti melirik ke arah Tiara.


"Aku terserah Ibu saja. Apapun keputusan Ibu aku akan mendukungnya" ujar Tiara.

__ADS_1


Kini Siti melirik ke arah Dewi, tapi Dewi hanya tertunduk malu. Dan sepertinya putrinya itu juga pasti sangat bingung saat ini, kalau dia minta persetujuan Dewi.


"Mmm... maaf Mas Reksa. Saya sangat terkejut mendengar ucapan Mas yang tiba - tiba ini. Sebelumnya kami tidak ada pembicaraan seperti ini dengan Bagas ataupun dengan Kakaknya Dewi. Dewi juga tidak pernah bicara dengan saya mengenai hal ini" jawab Siti.


"Seperti yang saya katakan tadi, bukan Bagas yang memintanya tapi kami lah yang punya inisiatif sendiri untuk mengikat Dewi. Ada beberapa alasan yang membuat saya dan istri saya mengambil keputusan seperti ini. Pertama usia putra saya. Kedua, pergaulan putra saya. Jujur saya sebagai orang tua akan mengatakan yang sebenarnya mengenai sifat anak saya sebelum kita menjadi keluarga. Agar keluarga Dek Siti tidak terkejut mendengarnya. Dari pada dengar dari orang lain lebih baik dengar dari kami secara langsung. Dulu Bagas mempunyai banyak mantan tapi setelah berkenalan dengan Dewi kami melihat dia jauh berubah. Oleh sebab itulah makanya kami memutuskan hal ini. Kami tidak mau dia kembali ke kehidupannya dulu. Terakhir jarak antara Dewi dan Bagas kan juga tidak dekat, walau memang tidak terlalu jauh. Jakarta Banding bisa ditempuh dalam waktu tiga jam sekarang. Tapi dengan kesibukan Bagas dan Dewi mereka tidak akan bisa bertemu setiap hari. Itu artinya sangat besar peluang orang lain untuk masuk dan mengganggu hubungan mereka. Kalau sudah ada ikatan setidaknya mereka bisa menjaga pergaulan mereka diluar sana karena mereka sudah terikat satu sama lain. Itulah alasan mengapa kami ingin melamar Dewi secepatnya" ungkap Reksajaya.


"Saya menyambut baik niat keluarga Mas Reksajaya. Tapi di keluarga kami tidak ada tradisi bertunangan seperti ini. Biasanya langsung lamar setelah itu langsung membicarakan tentang pernikahan. Sementara saat ini anak saya Dewi belum siap untuk menikah, dia juga masih kuliah" jawab Siti.


"Karena faktor itu tadi juga kami menawarkan pertunangan sekaligus mempersiapkan Dewi ke jenjang pernikahan. Seiring berjalannya waktu, usia Dewi semakin bertambah dia pasti akan segera dewasa. Yah syukur - syukur kalau Dewi bisa segera siap diajak ke jenjang pernikahan. Kalau butuh waktu satu tahun lebih kami juga tidak keberatan" sambung Pak Reksajaya.


Siti benar - benar tidak tau harus menjawab apa, apalagi mengambil keputusan seperti ini.


"Maaf Siti kalau aku ikut campur, gak ada salahnya apa yang Mas Reksa katakan. Toh mereka hanya tukar cincin pertunangan. Hitung - hitung diberikan waktu untuk Dewi agar dia bisa segera mempersiapkan dirinya untuk menikah" sambut Sekar.


"Ehm... Benar Siti, menurutku juga gak ada salahnya kan kalau mereka di ikat dengan sebuah pertunangan" ujar Pak Wijaya.


Siti semakin bimbang.. Dia kini menggenggam tangan putrinya. Tangan Dewi terasa sangat dingin sekali. Pasti saat ini pikiran Dewi juga sangat kacau.


"Wi... bagaimana menurut kamu? Apakah kamu bersedia kalau keluarga Mas Bagas melamar dan mengikat kamu dalam sebuah pertunangan?"....


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2