
Kini Bagas dan Dewi sudah sampai di satu bioskop terbesar di Kota Bandung. Mereka langsung memesan film yang akan mereka tonton.
"Mas mau nonton film action atau romantis?" tanya Dewi.
"Terserah kamu. Biasanya cewek seumuran kamu sukanya film apa?" tanya Bagas.
"Ya pasti film romantis donk" jawab Dewi.
"Ya sudah film itu saja" balas Bagas.
"Eh iya ya aku lupa, Mas Bagas kan mau belajar kencan dengan cewek di bawah umur. Jadi sini aku kasih tau. Cewek seumuran aku itu suka film romantis. Kan ABG alias anak baru gede. Bahasa kerennya tuh kalau bahasa lamanya anak puber. Masa dimana lagi pengen - pengennya ngerasain jatuh cinta. Ingat Mas, catet di pikiran Mas Bagas. Jadi kalau nanti kencan sama calon Mas Bagas yang masih di bawah umur kencannya harus nonton dan filmnya harus film romantis" ungkap Dewi.
"Baik Non sudah aku rekam di kepalaku" jawab Bagas sambil tersenyum.
Mereka memesan film wedding agreement dan memilih tempat duduk mereka. Setelah selesai di bayar Dewi segera berjalan ke bagian makanan.
"Mas jangan lupa cemilannya" pinta Dewi.
"Ya sudah kamu pesan aja" suruh Bagas.
" Mbak Pop cornnya 1 yang besar dan sodanya 2 ya" pinta Dewi.
Bagas kembali membayar tagihannya.
"Sudah, cukup?" tanya Bagas.
"Cukup Mas. Mas ada tambahan lain?" tanya Dewi.
"Nggak, aku masih kenyang. Kan kita baru makan" jawab Bagas.
"Oke kalau begitu kita masuk" ajak Dewi.
Dewi tiba - tiba mundur untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Bagas. Dari tadi dia terlalu gembira sehingga berjalan mendahului Bagas.
"Mas, rencananya Mas sama calon Mas yang dibawah umur itu mau pacaran dulu atau langsung nikah?" tanya Dewi polos.
"Maunya sih langsung nikah kan aku umurnya udah tua" jawab Refan.
"Bagus, jadi pacarannya saat udah halal saja. Mas ingat ya, kalau nanti Mas kencan halal sama calon Mas jangan lupa terus gandeng tangannya. Dia pasti senang sekali, rasanya Mas itu udah melindungi dia dan sangat mencintainya sehingga takut dia terlepas. Uuuh... romantis banget pasti" ucap Dewi semangat sambil terus berbicara.
__ADS_1
Bagas tersenyum melihat wajah lucu Dewi. Gemas banget deh... Batin Bagas.
Bagas tertawa dalam hati, dia diajari kencan sama anak di bawah umur. Padahal dia sudah capek melakukan hal itu. Walau kencan seperti ini sudah lama sekali tidak dia lakukan. Karena kencan Bagas sudah naik tingkat. Levelnya sudah booking kamar Hotel. Tapi sudah beberapa bulan ini dia berhenti melakukan itu sejak dia jatuh cinta kepada Dewi.
"Sudah aku rekam Nona di kepalaku" sambut Bagas.
Mereka sudah masuk ke bioskop dan sudah duduk sesuai dengan tempat duduk yang tertera di tiket. Lampu masih terang menyala.
"Mas jangan lupa sebelum lampu mati ajak dia selfie dulu" ujar Dewi.
"Ya sudah kita selfi sekarang" Bagas mengeluarkan ponselnya.
"Lho kok kita? Calonnya Mas Bagas donk" tolak Dewi.
"Sekalian latihan Wi.. kamu juga jadi guru itu harus menjiwai, lagian sekalian kenang - kenangan bahwa kamu pernah menjadi guru kencanku" ujar Bagas.
Dewi tampak sedang berfikir.
"Iya juga, ayo kota foto. Senyuuuuuum" ucap Dewi ceria.
Cekreeeeek...
Asik aku punya foto kita berdua lagi. Batin Bagas.
"Nih pop cornnya aku yang pegang ya Mas, nanti kalau Mas Bagas mau makan ambil aja. Eh tapi Mas ada yang seru nih" ucap Dewi dengan mata berbinar.
"Apaan?" pancing Bintang.
"Nanti pada saat calon Mas mau ambil pop cornnya, secara bersamaan Mas juga ambil pop cornnya juga jadi kan tangannya gak sengaja tuh pegangan di dalam box pop corn. hihihi.. romantis seperti di film - film drama korea" ungkap Dewi sambil membayangkan apa yang ada dalam angan - angannya.
"Baik, aku catat juga dalam kepalaku. Trus apa lagi?" tanya Bagas.
"Mmm.. nanti kalau saat nonton Mas diam - diam genggam tangannya ya, biar nontonnya jadi romantis. Waaah enak banget pacaran halal setelah nikah. Jadi pengen" ungkap Dewi.
Bagas menatap Dewi serius.
"Kamu udah pengen nikah Wi?" tanya Bagas.
Jantungnya berdetak kencang, berharap Dewi mengatakan iya.
__ADS_1
"Belum aaah, aku masih di bawah umur. Nanti aja saat aku umur dua puluh tahun baru aku buka lowongan. Mudah - mudahan nemu pria yang mau langsung nikah dan pacaran halal" jawab Dewi.
Yaaaaah... Bagas langsung lesu mendengar jawaban Dewi.
Coba aja tadi kamu bilang mau Wi, hari ini juga aku telepon Bintang untuk melamar kamu pada Bu Siti. Batin Bagas.
Tak lama lampu di ruangan itu satu persatu mati, filmpun di mulai.
"Asiiik.. mulai Mas" ujar Dewi senang.
Bagas kembali tersenyum melihat gadis pujaan hatinya sangat senang hari ini.
Dewi mulai memakan pop cornnya. Bagas memperhatikan tangan Dewi setiap dia mengambil pop corn di boxnya. Perhatian Bagas hanya kepada Dewi, dia tidak sedang menonton film di bioskop. Dia menonton Dewi yang sedang menonton di Bioskop.
Aneh kan? bagitulah cinta aneh kalau di fikirkan. Jadi ya gak usah di fikirkan tapi di jalani aja.
Mm.. kalau aku coba praktekkan yang Dewi katakan tadi, kira - kira dia marah gak ya kalau tanggannya aku pegang. Gak ada salahnya kalau aku coba ah. Kalau dia marah aku tinggal bilang gak sengaja. Siapa suruh kamu pesan pop cornnya satu box saja. Mana aku, kamu ajari untuk belajar mesum. Gak tau apa aku ini mantan playboy, fikiranku ini sembilan puluh sembilan persen mesum semua Wi. Hihihi tawa Bagas menang.
Bagas melirik tangan Dewi yang sedang mengambil pop corn. Begitu tangan Dewi masuk ke dalam box Bagas langsung memasukkan tanggannya dan pura - pura ingin mengambil pop corn juga. Jadilah tangan Bagas sedang menggenggam tangan Dewi di dalam box.
Refleks Dewi memukul tangan Bagas memakai tangannya yang satu lagi.
"Ih Mas Bagas gantian donk tangannya. Jangan barengan ngambilnya" protes Dewi.
"Ssssttt... jangan ribut Wi, ini di bioskop. Nanti kita diusir kalau terlalu ribut" Bagas menutup mulut Dewi tanpa sadar.
Wajah mereka sangat dekat sekali. Mata mereka saling tatap. Tapi secepatnya Dewi tersadar dan meronta. Bagas melepaskan tangannya dari bibir Dewi.
"Maaf aku refleks tadi karena takut kamu ribut dan yang lain marah" ucap Bagas.
"Sorry Mas aku juga keceplosan. Nih kalau mah makan pop cornnya" Dewi memberikan box pop cornnya ke tangan Bagas.
Entah mengapa interaksi mereka barusan membuat wajah Dewi memanas karena malu. Untung saja sedang gelap, Bagas gak tau kalau saat ini wajah Dewi merah. Jantungnya berdetak kencang. Barusan wajah Bagas dekat banget dengan wajah Dewi. Dewi belum pernah sedekat ini dengan seorang pria.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1