
"Papa...... ?" tanya Pak Bambang tapi telepon sudah terhenti.
"Pa tolong Tiara Pa..." teriak Bu Bambang.
Pak Bambang lansung membaringkan Tiara di atas sofa.
"Bik cepat ambil minyak angin" perintah Pak Bambang.
"Iya Tuan" jawab Bik Sumi sigap.
"Ra bangun Ra... " Bu Bambang memanggil Tiara sambil mulai menangis dan membelai lembut wajag dan kepala Tiara.
Pak Bambang menggenggam tangan Tiara.
"Tangannya dingin sekali Ma" ucap Pak Bambang sambil terus menggosokkan tangan Tiara aga kembali hangat.
"Ra bangun Ra.. suami kamu sebentar lagi akan datang ke sini" ucap Pak Bambang.
Tak lama Bik Sumi kembali dengan membawa minyak angin dan langsung menyerahkannya kepada Pak Bambang.
"Bik cepat buat teh hangat untuk Tiara" perintah Pak Bambang.
Pak Bambang langsung mengoleskan minyak angin ke hidung Tiara dan mengusapkannt juga ke telapak tangan Tiara.
Setelah itu Bu Bambang meraih minyak angin dari tangan Pak Bambang dan mengoleskannya ke kepala Tiara.
"Ra bangun Ra" panggil Pak Bambang.
"Sebenarnya ada apa dengan Tegar Pa?" tanya Bu Bambang.
"Sepertinya ada seseorang yang sudah menjemputnya lebih dulu ke sekolah Ma. Bukan suaminya yang menjemput Tegar ke sekolah" jawab Pak Bambang.
"Jadi maksud Papa Tegar di culik?" tanya Bu Bambang panik.
"Kita belum tau jelas Ma" balas Pak Bambang.
"Pa.. tolongin Tegar Pa. Tegar adalah cucu kita. Dia anak Bintang Pa dan Tiara adalah istrinya Bintang" ungkap Bu Bambang akhirnya.
"A.. apa kamu bilang Ma?" tanya Pak Bambang terkejut.
__ADS_1
"Iya Pa, Tegar putra Bintang anak kita. Tegar adalah cucu kita" ulang Bu Bambang.
Pak Bambang langsung berdiri dan meraih ponselnya. Dia segera menghubungi orang suruhannya untuk mencari Tegar.
"Halo... segera kamu cari informasi mengenai anak yang bernama Tegar di sekolah Tunas Bangsa, siapa yang baru saja menjemputnya di sekolah dan kemana dia dibawa. Aku akan mengirimkan foto anak tersebut kepada kamu. Aku mau informasi yang cepat dan akurat" perintah Pak Bambang tegas.
Setelah telepon terputus Pak Bambang langsung mengirimkan foto Tegar yang sedang tersenyum bersamanya. Untung saja dulu dia pernah berfoto bersama Tegar dan menyimpan foto tersebut di memory ponselnya dan menjadikannya wallpaper di layar handphonenya.
Tak lama Tiara juga sadar dari pingsannya.
"Pa.... Tegar Pa. Maaaa....?" ucap Tiara sambil menangis.
Bu Bambang memeluk Tiara lembut.
"Tenang sayang Bintang sedang mencari Tegar ke sekolah dan Papa juga sudah menyuruh orang untuk mencari Tegar" ucap Bu Bambang menenangkan Tiara walaupun dia sendiri sangat khawatir.
Bik Sumi datang dengan membawa teh hangat di tangannya.
"Ini kamu minum dulu biar kondisi kamu lebih baik. Kasihan bayi yang ada dalam kandungan kamu" ucap Bu Bambang.
Tak lama ponsel Tiara berbunyi dan nama Bintang yang tertera di sana. Pak Bambang langsung mengangkat telepon Tiara.
Sontak Bu Bambang dan Tiara tegang begitu nama Bintang disebut oleh Pak Bambang.
"Apa? Tegar di jemput oleh seorang laki-laki? Iya baik.. baik.. kamu secepatnya ke sini biar kita sama - sama mencari Tegar" ucap Pak Bambang.
Telepon kemudian terputus. Bu Bambang dan Tiara menatap wajah Pak Bambang penuh tanya.
"Kata Bintang, Tegar di jemput oleh seorang laki-laki dan dia mengaku eyanganya Tegar" ucap Pak Bambang.
"Bapak... itu pasti Bapak Tiri aku Pa" jawab Tiara.
"Bintang juga bilang begitu. Sekarang kita bersiap - siap ya, sebentar lagi Bintang akan menjemput kita dan kita bersama - sama ke rumah Bapak Tiri kamu untuk mencari Tegar" ungkap Pak Bambang.
"Iya Pa, sebentar aku mau telp Ibu dulu" ucap Tiara.
Pak Bambang menyerahkan handphone Tiara kepada Tiara. Tiara langsung menghubungi Ibunya.
"Assalamu'alaikum Bu" ucap Tiara memulai percakapan.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam... " jawab Siti.
"Bu.. Tegar Bu... " Tiara langsung menangis.
"Tegar kenapa Ra?" tanya Siti terkejut.
"Tegar di culik orang dari sekolahnya. Kayanya yang jemput itu pria dan mengaku eyangnya Tegar" ungkap Tiara.
"Apa itu Bapak kamu Ra? Tapi bagaimana dia bisa tau tentang Tegar apalagi sekolah Tegar?" tanya Siti bingung.
"Aku rasa Bapak pasti sudah mendapat informasi dari Ida. Dan mereka merencanakan semua ini untuk balas dendam kepadaku. Mungkin Bapak juga ingin mencari keberadaan Ibu karena Ibu sudah pergi meninggalkannya" jawab Tiara.
"Ya Allah.. Tegaaaar... Ra, sekarang juga Ibu ke Jakarta ya sama adik- adik kamu" balas Siti.
"Iya Bu, hati - hati di jalan ya" jawab Tiara.
"Ra apa yang terjadi dengan kamu dan Bapak Tiri kamu? Bisa kamu ceritakan pada Papa, agar Papa tau apa motif dia menculik Tegar dari sekolah?" tanya Pak Bambang penasaran.
"Bapak Tiri aku itu orang yang kasar Pak, dia suka mabuk - mabukan dan pemalas. Kalau dia tidak mendapatkan uang dari Ibu dia akan memukul Ibu. Dia juga bekerja sama dengan temanku untuk menjebak aku di diskotik, membuat aku mabuk dan akhirnya aku akan dinikahkan dengan juragan di kampungku. Untung pada malam itu aku bertemu Mas Bintang dan akhirnya karena kami juga sama - sama mabuk malam itu terjadilah sesuatu sampai akhirnya Tegar lahir. Saat itu aku hamil dan aku di usir Bapak dari rumah. Aku juga tidak bertemu Mas Bintang. Aku hidup sendiri sampai Tegar berumur empat tahun baru aku bertemu Mas Bintang lagi. Dan seminggu setelah pernikahan aku dengan Mas Bintang, Bapak memukul Ibu sampai babak belur. Aku dan Mas Bintang meminta Ibu untuk meninggalkan Bapak dan Ibu tinggal di Bandung mengelola Cafe milik kami" ungkap Tiara.
"Pria kurang ajar, beraninya main tangan dengan istri dan menjebak anaknya. Walaupun kamu anak tiri tapi dia kan menikah dengan Ibu kamu itu artinya kamu adalah anaknya juga. Bisa - bisanya dia menjebak kamu dan ingin menjual kamu dengan orang lain. Dasar biasa*" umpat Pak Bambang marah.
"Pa... ingat kesehatan Papa" ucap Bu Bambang mengingatkan.
"Jadi Tiara menurut kamu apa motif Bapak kamu menculik Tegar?" selidik Pak Bambang.
"Beberapa bulan yang lalu aku bertemu temanku yang dulu ikut menjebakku. Kami bertemu di reuni kampus dan di sana Mas Bintang mempermalukannya karena dia sudah memfitnahku di depan teman - temanku. Aku rasa temanku itu mengadu kepada Bapak tentang keberadaanku dan mereka mencari informasi tentang keluarga kami" ungkap Tiara.
"Hidup kamu sangat keras sekali Tiara. Kamu dikelilingi oleh Bapak Tiri dan teman yang ingin mencelakakan kamu. Untung saja kamu bisa kuat sampai sekarang ini" puji Bu Bambang.
Tak lama terdengar suara mobil dari depan rumah dan suara seseorang berlari masuk ke dalam rumah Pak Bambang.
"Bintaaaaang.... "
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1