
Sore harinya Kinan dan Bagas langsung turun dari kamar lalu keluar dari hotel untuk menikmati indahnya matahari tenggelam di pinggiran Pantai Kuta. Dewi dan Bagas saling bergandengan tangan berjalan di pinggiran pantai.
"Cantik banget ya Mas pemandangan Pantai Kuta" ujar Dewi.
Dewi yang berasal dari keluarga susah dulunya tidak pernah punya kesempatan untuk pergi ke Bali. Jangankan pergi, mimpi saja rasanya dia tidak pernah.
Bisa kuliah saja dia sudah sangat bersyukur itupun karena Tiara. Sejak Tiara menikah perlahan kehidupan Dewi, Ibu dan adiknya semakin bahagia. Mereka lepas dari belenggu Bapak yang suka melakukan tindakan kekerasan pada keluarganya.
Mereka bisa hidup mandiri, mengelola Cafe milik Bintang. Tinggal di rumah yang Bintang belikan untuk Tiara dan mereka bisa menempatinya dengan gratis.
Hasil Cafe juga tidak pernah Bintang dan Tiara minta pada Bu Siti. Semua hasilnya dipergunakan untuk biaya hidup Bu Siti, Dewi dan Ali juga untuk biaya sekolah Dewi dan Ali.
Sampai Dewi bertemu dengan Bagas. Bagas sering membelikannya benda - benda mahal seperti handphone dan laptop model terbaru walau dengan berbagai alasan yang akhirnya membuat Dewi tidak bisa menolaknya.
Hingga sampai Dewi menikah dengan Bagas. Semua bagaikan mimpi, semua yang dia inginkan bisa saja dengan mudah terpenuhi tapi Dewi tidak mau meminta yang berlebihan kecuali jika memang dia butuh.
Padahal Bagas memberikannya kartu sakti yang bisa dipakai untuk apa saja tanpa limit. Bagas memberikan kebebasan untuknya memakai ataupun menghabiskan semua uang yang Bagas berikan kepadanya.
Tapi semua itu tidak Dewi lakukan. Kesulitan hidupnya di masa lalu dan senangnya hidupnya sekarang tidak membuatnya lupa diri. Bahkan hal itu membuat Dewi semakin menghargai suatu barang karena dia tau dulu sangat sulit baginya untuk mendapatkannya.
Dewi melirik ke arah suaminya. Pria yang berjarak tiga belas tahun usianya dengan dia kini sudah menjadi suaminya. Bila mengulang kejadian satu tahun yang lalu rasanya Dewi tak henti - hentinya mengucapkan rasa syukur.
Bagas adalah sahabat dari Kakak iparnya yang selalu hadir di rumah Tiara saat ada acara di rumah Tiara. Kemudian tanpa Dewi saudara pelan - pelan Bagas selalu hadir di Cafe dengan berbagai alasan. Meeting di Bandung, ada pertemuan bisnis, reuni atau undangan yang tidak Dewi duga ternyata hanya alasan untuk bertemu dengannya.
Bahkan Bagas pernah berbohong mengajaknya berkencan di mall, makan dan nonton dengan alasan ingin belajar bagaimana caranya berkencan dengan gadis di bawah umur.
__ADS_1
Tiba - tiba saya Dewi merasa terharu. Ternyata suaminya itu sudah lama menaruh hati dan memberikan perhatian lebih kepadanya tapi karena saat itu dia masih sangat lugu daj muda membuatnya tidak berpikir kalau Bagas mempunyai niat lain padanya. Ternyata Bagas sudah lama menyukainya dan mencintainya.
Dewi juga tidak menyangka dirinya yang tak mempunyai apapun untuk dibanggakan bisa membuat Bagas berubah serius untuk menikahinya dan untuk hidup bersama - sama dengannya dimasa depan.
Perlahan - lahan air mata bahagia Dewi jatuh di pipinya. Dewi segera menyeka air matanya dan hal itu tak luput dari pandangan Bagas.
Bagas berhenti dan menatap ke arah Dewi.
"Sayang kamu menangis? Kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Bagas khawatir.
Dewi menggelengkan kepalanya.
"Nggak Mas aku tidak merasakan sakit. Ini bukan tangis karena rasa sakit ataupun sedih tapi ini adalah air mata bahagia" Dewi langsung memeluk Bagas dengan erat membuar Bagas kebingungan.
"Terimakasih Mas, kamu sudah hadir dalam hidupku. Kamu sudah sabar menanti waktu yang tepat untuk menikahiku dan terimakasih kamu sudah membuat hidupku lebih indah" ucap Dewi sambil terisak.
Bagas membalas pelukan Dewi dengan penuh kasih sayang. Setelah lama saling berpelukan akhirnya mereka memutuskan untuk melepaskan pelukannnya.
Bagas mengecup lembut kening Dewi.
"Harusnya aku yang berkata seperti itu sayang.. terimakasih sudah hadir dalam hidupku, membuat perubahan besar dalam perjalanan hidupku. Hari - hari bersamamu membuat hidupku lebih berwarna. Dengan keceriaan dan sikap manja kamu bisa membuatku menjadi pria yang sangat berarti, dewasa dan bisa melindungi. Dengan kesederhanaan kamu mengingatkan aku bahwa kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Dan dengan ketaatan kamu beribadah membuat aku tersadar aku harus bisa menjadi imam dan pemimpin yang lebih baik dari kamu. Agar aku bisa memimpin rumah tangga kita dengan baik. Darimu aku belajar ikhlas dan pasrah bahwa apa yang sudah di tetapkan Allah menjadi milikku sesulit apapun itu pasti akan menjadi milikku. Dan karenamu Allah telah menunjukkan padaku, ternyata rencana DIA lebih indah dari pada rencana manusia dan tidak ada manusia yang bisa menahannya. Aku mencintaimu sayang, saat ini, nanti dan selamanya" ungkap Bagas dengan sangat romantis membuat Dewi kembali menangis.
"Mas hari ini aku sangat bahagia sekali" ujar Dewi.
"Bukan hanya saat ini sayang, selamanya aku akan berusaha membuat kamu bahagia" balas Bagas.
__ADS_1
Mereka kembali berpelukan, dan apa yang mereka lakukan saat ini tak luput dari pantauan seorang pria yang berada tak jauh dari mereka.
Entah mengapa sore itu dia merasa sangat kesepian di kota ini. Walau pria itu sudah sering datang ke kota ini, tapi suasara sore itu terasa lain dari biasanya.
Hatinya begitu hampa dan nelangsa sejak melihat pasangan pengantin baru yang sedang sangat berbahagia sore itu. Entah mengapa dia merasa sangat ingin bahagia seperti mereka.
Kebahagiaan yang sederhana bahkan selama ini tak pernah dia bayangkan. Sang pria yang sudah dia kenal tiga belas tahun yang lalu yang mempunyai kesenangan dan hobby yang tak jauh beda dengan dirinya kini menjadi pribadi yang berbeda.
Siapa pria itu? Dia adalah Morgan. Melihat Bagas dan Dewi sedang bermesraan di tepi pantai tidak membuat rasa irinya berubah menjadi benci dan ingin merusak suasana indah Bagas dan Dewi sore itu.
Dia malah ikut menikmati sore itu dengan pemandangan sepasang suami istri yang baru menikah sedang memadu kasih di tepi Pantai Kuta. Sang wanita tampak sedang menangis sedangkan sabg pria berusaha untuk menenangkannya tapi Morgan tau itu bukan tangis kesedihan melainkan tangis kebahagiaan.
Karena dari pancaran dan rona wajah keduanya terpancar aura kebahagiaan. Morgan kembali berpikir. Kapan dia akan merasakan kebahagiaan seperti itu. Seperti yang Bagas rasakan bersama istrinya.
Morgan membuang pandangannya tepat lurus ke arah laut. Melihat gelombang ombak yang menghapus pinggiran Pantai.
Apakah dosa juga seperti itu. Dosanya yang seperti pasir di tepi pantai dapat hilang disapu ombak. Benarkah Tuhan akan memberikannya kesempatan untuk menebus semuanya. Benarkah masih ada celah ataupun peluang untuk dirinya berbuat lebih baik lagi dari sebelumnya.
Apakah masih ada waktu yang diberikan untuknya memperbaiki semuanya. Apakah dia pantas merasakan bahagia seperti yang Bagas rasakan.
Morgan menarik nafas panjang dan melepaskannya. Tapi perasaan galau dan hampa di hatinya belum juga bisa hilang.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG