Tiara

Tiara
Belajar terbuka


__ADS_3

Bagas sudah tak sabar ingin pulang. Hari ini rasanya dia benar - benar rindu pulang. Membuat sekretarisnya heran melihat Bagas uring - uringan sejak pagi.


"Pak, Bapak kenapa ya dari tadi saya lihat galau?" tanya Sekretaris Bagas.


"Eh iya saya sampai lupa. Kamu kan orang terdekat saya di kantor ini. Saya mau bagikan kabar gembira kepada kamu" jawab Bagas.


"Kabar gembira apa Pak?" tanya Sekretaris Bagas penasaran.


Bukannya pernikahan si Bos tiga minggu lagi. Apa ada kabar gembira yang lebih menggembirakan dari hal itu. Secara si Bos memang tampak sangat tidak sabar menunggu hari pernikahannya.


"Ssst.. hanya kamu ya yang tau, awas kalau bocor kemana - mana berarti kamu yang menyeybarkannya" ancam Bagas.


"I.. Iya Pak saya janji akan memegang rahasia Bapak" janji pria itu.


"Sabtu yang lalu saya sudah menikah di Bandung" ungkap Bagas.


"Ha... apa Pak? Bapak sudah menikah?" tanya pria itu tak percaya.


"Ssst.. jangan keras - keras nanti ada yang dengar bisa berbahaya" cegah Bagas.


"Ma.. maaf Pak. Berarti Bapak cuti satu minggu karena sedang mempersiapkan pernikahan Bapak? Bukannya rencananya Bapak akan menikah tiga minggu lagi dengan calon eh istri Bapak?" tanya Pria itu tak percaya.


"Sesuatu terjadi Har, kamu ingat CEO Morano Coro?" tanya Bagas


"Iya Pak, saya ingat" jawab Pria yang bernama Hari itu


"Dia adalah musuh bebuyutan saya sejak kuliah. Dia mengancam akan menggagalkan pernikahan saya dengan istri saya. Selama seminggu ini dia terus mengganggu istri saya. Karena itulah saya mengambil cuti seminggu untuk menjaga istri saya takut kalau dia nekat dan menculik istri saya. Setelah runding keluar akhirnya kami memutuskan untuk mempercepat pernikahan kami. Maka jadilah hari sabtu kemarin saya menjkah di rumah mertua saya di Bandung" ungkap Bagas.


"Kalau begitu selamat ya Pak atas pernikahan Bapak dan Ibu" ucap Hari tulus.


"Tapi Har, saat ini aku sedang bingung. Mau cerita sama sahabatku tapi salah satu dari mereka adalah Kakak iparku. Gak mungkin aku cerita pada mereka" balas Bagas.


"Ya sudah Pak cerita saja ke saya. Saya akan berusaha membantu Bapak" jawab Hari.


"Kamu tau kan usia istri saya masih sangat muda. Belum genap sembilan belas tahun. Nah tadi malam saat tidur istri saya memakai baju tidur bergambar hello kitty. Saya kok merasa seperti pedofil ya.. Apakah saya ini normal?" tanya Bagas polos.


Hari tersenyum, untung saja dia juga sudah menikah. Dan usianya tidak jauh beda dengan Bosnya itu jadi dia bisa mengerti apa yang sedang dipikirkan pemimpin perusahaan tempat dia bekerja saat ini.


"Bapak normal kok. Justru karena Bapak normal makanya Bapak merasa seperti itu. Bapak masih memikirkan usia istri Bapak. Tidak terbawa hawa nafsu meskipun Bapak baru menikah dua hari" jawab Hari.


Bagas dapat bernafas lega.


"Tapi apa yang harus saya lakukan Har agar saya tidak merasa seperti itu. Sore ini saya berencana untuk mengajaknya berbelanja, saya ingin membelikan baju - baju tidur milik wanita dewasa. Tapi apakah itu tidak memaksakan dirinya untuk terlalu cepat dewasa karena keadaan dan karena menikah denganku?" tanya Bagas.

__ADS_1


"Mmm... begini Pak" Hari tampak sedang berpikir.


"Gimana kalau masalah ini Bapak rundingkan saja dengan istri Bapak. Bapak ungkapkan apa yang Bapak mau tapi juga tidak memaksakan dia untuk mengikuti semua keinginan Bapak. Biarkan dia memutuskan sendiri keputusan apa yang akan dia amb dan dia pilih. Seandainya dia berat untuk meninggalkan semua kesenangannya, jangan dilarang ataupun Bapak marahin. Karena dia bertindak dan berpikir sesuai dengan usianya Pak. Tapi kalau dia memang sadar posisinya dan mau berpikiran dewasa dia pasti akan menuruti keinginan Bapak. Bagaimanapun keinginan Bapak adalah satu hal yang harus di hormati dan ditaati istriistri" ucap Hari memberi ide.


Bagas memikirkan semua perkataan Hari.


"Baik Har, sepulang kerja aku akan membiarkan hal ini dengan istrinya. Aku janji apapun keputusannya aku akan menghargainya. Bagaimanapun kebahagiannya adalah kebahagiaanku. Kalau dia tersiksa demi kebahagiaanku aku juga tidak menginginkan hal itu" jawab Bagas.


"Benar Pak semoga berhasil. Ada lagi yang ingin Bapak tanya?" tanya Hari lagi.


"Apakah tiket dan semua kelengkapan honeymoon aku sudah beres Har? Ingat aku tidak mau honeymoon aku yang kedua ini gagal setelah gagalnya honeymoon pertama" perintah Bagas.


"Maksud Bapak, honeymoon Bapak kemarin gagal?" tanya Hari terkejut.


"Gagal karena hanya cuma satu hari. Aku tidak bisa menambah cuti lagi karena urusan kantor yang menumpuk" jawab Bagas.


Hufff.... hampir saja ketahuan Hari kalau malam pertamaku gagal. Bahkan aku belum berhasil unboxing kado pernikahanku. Batin Bagas.


"Ooo begitu. Beres Pak, semua sudah beres saya booking tinggal pelaksanaannya saja. Semoga tidak ada kendala lainnya dan semuanya lancar" balas Hari


"Bagus.. Terimakasih Har. Ya sudah aku siap - siap dulu ya hendak pulang" ujar Bagas.


"Baik Pak, silahkan. Saya permisi kembali ke ruangan saya" ucap Hari pamit kembali ke mejanya.


Bagas segera melanjutkan beberapa pekerjaannya kemudian membereskan barang - barang penting dan bersiap akan pulang. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya.


Setelah semua dipastikan selesai Bagas segara melangkah meninggalkan kantor dan bergerak menuju apartemennya. Sesampainya di apartemen Bagas segera menekan sandi untuk membuka pintu apartemennya setelah itu dia menukar sandi apartemennya dengan tanggal pernikahan mereka. Agar Dia atau pun Dewi mudah untuk mengingatnya.


Saat masuk ke dalam apartemen Bagas mencari keberadaan istrinya di semua sisi apartemen tapi dia tidak menemukan Dewi. Bagas segera masuk ke kamar mereka ternyata Dewi sedang mandi. Pantas saja Bagas tidak bisa menemukannya.


Tak lama Dewi keluar dari kamar mandi.


"Lho Mas Bagas sudah pulang?" tanya Dewi.


"Sudah donk, aku kan gak sabar pengen cepat - cepat pulang dan bertemu istriku" jawab Bagas sambil mencium lembut kedua pipi Dewi.


"Hemmm wangi sekali kamu sayang" puji Bagas.


"Namanya juga baru mandi Mas" balas Dewi malu.


"Gak mandi juga wangi kok, aku suka" ucap Bagas.


"Ish jorok" elak Dewi.

__ADS_1


"Kamu langsung bersiap ya biar kita pergi sekarang. Nanti kemalaman lho" perintah Bagas.


"Kemana sih?" tanya Dewi penasaran.


Bagas ingat perkataan Hari tadi di kantor. Bagas menarik tangan Dewi dan mereka duduk di pinggir tempat tidur.


"Yank kamu mau kan membuat aku bahagia?" tanya Bagas.


Dewi menganggukkan kepalanya.


"Mmm... kalau kamu aku beliin baju tidur baru mau gak?" tanya Bagas.


"Untuk apa Mas? Baju tidurku masih banyak lho dan masih bagus" jawab Dewi polos.


"Yank jangan marah ya... Mmm... kalau kamu pakai baju tidur karaktek kartun aku ngerasa aku seperti tidur dengan anak kecil. Aku mau pacaran sama kamu jadi gimana ya rasanya. Makanya kemarin baju kamu aku buka semua" ungkap Bagas serius.


Dewi menatap mata Bagas. Bagas tampak sungkan untuk mengungkapkan isi hatinya. Dewi ingat nasehat - nasehat Ibunya sebelum menikah bahwa perintah suami tidak boleh di bantah apalagi demi untuk kebaikan.


Permintaan Bagas bukanlah suatu yang baru dan bukan untuk menyakiti Dewi juga. Dewi tersenyum menatap Bagas.


"Ya sudah kalau Mas maunya begitu aku akan ikut apapun keinginan Mas" jawab Dewi.


"Benar yank? Kamu gak marah kan?" tanya Bagas lagi.


"Ngapain aku marah?" tanya Dewi.


"Ya berpisah dengan baju - baju tidur kesayangan kamu?" tanya Bagas.


"Nggak Mas, kebagat kamu lebih penting dari pada sebuah baju. Kamu kan suami aku, kalau aku bisa membuat kamu bahagia aku pasti dapat pahala. Bayangin kalau tiap malam dapat pahala besar hanya karena pakai pakaian yang Mas suka" jawab Dewi.


"Makasih sayang" Bagas langsung memeluk erat tubuh istrinya.


Dewi membalas pelukan Bagas.


"Ya sudah lepasin donk pelukannya biar aku siap - siap dan dandan cantik" pinta Dewi.


Bagas segera melepas pelukannya.


"Oke.. aku tunggu ya kamu di luar" Bagas mengecup kening Dewi dengan ceria.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2