
Setelah makan siang Tiara melaju menuju rumah Ridho dan Tari tetapi sesampainya mereka di sana hanya ada asisten rumah tangga.
"Ridho dan Tari kemana Bi?" tanya Tiara.
"Maaf Non, baru setengah jam yang lalu Nyonya sama Tuan pergi pulang kampung. Katanya Ibunya Tuan sakit di kampung jadi harus segera pulang. Pesan mereka Non menginap saja di sini malam ini" ucap asisten rumah tangga Tari dan Ridho.
"Baiklah Bi, nanti saya akan hubungi Tari" balas Tiara.
"Tapi maaf Non saya harus pulang sore ini. Karena keluarga saya ada yang pesta, saya sudah izin sama Nyonya. Nyonya bilang kuncinya dititip sama Non. Besok siang saya akan datang lagi" ucap Wanita setengah baya itu.
Memang letak rumah wanita itu tak jauh dari komplek perumahan Ridho dan Tari.
"Iya Bi gak apa - apa" jawab Tiara.
"Ini kunci rumahnya ya Non. Bibi permisi pulang dulu" ucap wanita itu pamit.
"Hati - hati ya Bi, salam buat keluarganya" balas Tiara.
Duh gimana ini, aku harus menitipkan Tegar dimana? Tidak mungkin dia kutinggal di rumah sendirian. Kalau aku bawa apakah Mas Bintang hadir juga?
Lebih baik aku hubungi Mbak Dian dulu, mamastikan Mas Bintang bisa hadir atau tidak. Kalau Mas Bintang tidak hadir aku bisa membawa Tegar ke Cafe. Batin Tiara.
Tiara segera meraih ponselnya dan menghubungi Dian. Sedangkan Tegar sudah tidur di kamar tamu rumah Ridho dan Tari. Mungkin dia kelelahan karena perjalanan Jakarta Bandung.
"Halo Ra.. " sapa Dian.
"Halo Mbak" balas Tiara.
"Kamu sudah sampai Jakarta?" tanya Dian.
"Sudah Mbak, ni lagi di rumah Ridho" jawab Tiara.
"Syukurlah kalian sudah sampai. Mbak kira tadi ada apa, kok kamu ngubungin Mbak jam segini" ujar Dian.
"Itu Mbak, mau tanya. Kita - kira nanti malam Mas Bintang datang gak Mbak?" tanya Tiara.
"Kenapa Ra, kamu takut ada Bintang? Kan sejak awal sudah Mbak bilang situasi seperti ini pasti akan sering terjadi" jelas Dian.
"Bukan begitu maksudku Mbak. Mmm... Mbak kan tau apa yang memberatkan aku untuk bertemu Mas Bintang? Tegar Mbak. Saat ini Ridho dan Tari sedang pulang kampung jadi gak ada yang bisa jaga dia. Gak mungkin Tegar aku tinggal sendirian di rumah" ungkap Tiara.
"Ya sudah kamu bawa saja Tegar. Gitu aja kok muter - muter Ra" ujar Dian.
"Tapi nanti kalau Mas Bintang lihat Tegar gimana Mbak?" tanya Tiara takut.
"Ra.. Tegar sudah empat tahun lebih, kejadian itu sudah lima tahun yang lalu. Walaupun Bintang lupa wajah kamu tapi sudah saatnya dia tau keberadaan Tegar. Bintang itu Papanya Tegar mereka harus tau keberadaan masing-masing. Kamu tidak bisa menahannya terus Ra" nasehat Dian.
__ADS_1
"Aku belum siap Mbak. Aku masih butuh waktu lagi" jawab Tiara.
"Sampai kapan Ra?" desak Dian.
"Entahlah Mbak, hanya saja saat ini aaa... aku belum siap Mbak" Tiara terdiam.
"Baiklah kalau begitu kamu bawa saja Tegar. Nanti dia bisa main di ruangan saya. Lagian Bintang juga belum tentu bisa datang. Tadi dia telepon Mbak, hari ini kerjaannya padat walau hari Sabtu" ungkap Dian.
Tiara bisa sedikit bernafas lega.
"Baik Mbak, aku akan bawa Tegar kalau begitu" balas Tiara.
"Ya sudah sampai jumpa nanti malam ya Ra. Assalamu'alaikum" ucap Dian menutup teleponnya.
"Wa'alaikumsalam Mbak" jawab Tiara.
Tiara mengelus kepala putranya yang sedang nyenyak tertidur.
Apakah sudah waktunya kamu tau siapa Papa kamu nak? Bagaimana nanti sikapnya ketika mengetahui bahwa kamu adalah anaknya. Apakah dia bisa menerima kita?
Seandainya dia tidak bisa menerima kita, please jangan tinggalkan Mama. Biarlah kita berdua saja seperti ini. Kita tidak butuh pengakuan. Batin Tiara.
Tiara pun ikut berbaring disamping Tegar untuk istirahat sejenak. Melepaskan beban fikirannya, meregangkan otot - otot tubuhnya yang lebih menyetir dan menutup matanya untuk tertidur walau hanya sebentar.
Sekitar jam lima sore Tiara dan Tegar berangkat menuju ke Cafe Kenanga. Walau janji mereka jam setengah delapan malam tapi tidak ada salahnya datang lebih cepat karena ini malam minggu takutnya jalanan ramai akhir pekan.
Satu jam kemudian mereka sudah sampai di Cafe. Tiara langsung melaksanakan shalat maghrib dan menyuapi Tegar makan malam.
Tiara sengaja membawa alat gambar dan beberapa mainan Tegar agar Tegar betah bermain dan belajar di ruang kerja Dian.
Sebelum meeting Tiara menyempatkan beramah tamah dengan para karyawan Cafe yang dulu juga teman - teman seperjuangannya.
Tiara sangat disenangi oleh teman - temannya karena Tiara anak yang baik, rajin dan tidak banyak mengeluh. Dia suka menolong teman yang butuh bantuan dan juga Tiara pinter bergaul dan bercanda.
Tiara juga sempat mempraktekkan memasak menu baru yang dia kembangkan bersama karayawan Cafe di Bandung.
Tiara sangat ramah pada semua membuat dia sangat disayangi teman - temannya. Dulu setiap Tiara membawa Tegar ke Cafe teman - temannya sangat senang bergantian menjaga Tegar. Mereka sudah seperti keluarga.
"Di coba Mbak, ini menu baru di Cafe Bandung" Tiara menyuguhkan sepiring spageti di depan Dian.
Dian menyicipi makanan yang baru saja di masak Taira.
"Mmm.. enak banget Ra" sambut Dian setelah satu sendok makanan sudah masuk ke dalam mulutnya.
"Kamu semakin rajin memasak ya selama di Bandung dan semakin mahir bereksperimen. Menu baru kamu enak - enak" puji Dian.
__ADS_1
"Ah biasa aja Mbak, aku tiba-tiba mendapat ide kemudian mencobanya dan ternyata semua karyawan menyukainya. Akhirnya kami luncurkan menu baru dan alhamdulillah banyak yang suka" ungkap Tiara.
"Bagus donk, itu namanya Tiara sudah menganggap Cafe itu seperti miliknya sendiri" Tiba - tiba Roy datang.
"Lho Mas Roy udah datang" sambut Tiara.
"Sama siapa kamu datang?" tanya Dian.
"Sendiri, si Bintang gak jelas. Katanya kemarin kalau malam dia bisa tapi ternyata dia sibuk sampai malam" jawab Roy.
"Aku hubungi juga sibuk terus handphonenya" sambut Dian.
Tiara dapat bernafas lega, sepertinya Bintang memang tidak datang malam ini.
"Mas mau hidangan yang sama?" Tiara menawarkan.
"Mau Ra, kamu yang masak khusus buatku kan?" tanya Roy.
"Tambah satu lagi Ra, aku juga laper banget dari tadi siang belum makan" sambut Bintang yang datang dengan tergesa-gesa.
"Ah panjang umur lo baru aja di sebut udah muncul" sambut Roy.
Haaaah... baru saja bernafas lega tiba-tiba dia muncul. Batin Tiara nelangsa.
"Ba.. baik Mas. Tunggu sebentar ya aku siapkan dulu" jawab Tiara.
Lima belas menit kemudian masakan sudah siap dan sudah disajikan kepada Roy dan Bintang.
Baik Roy ataupun Bintang makan dengan sangat lahap.
"Kalian ini laper atau memang doyan" sindir Dian.
"Laper Yan tapi jujur masakan Tiara memang enak" puji Roy.
"Benar, rasanya pas. Enak banget" sambut Bintang dengan mengangkat dua jempolnya ke arah Tiara.
Entah mengapa Tiara merasa sangat senang mendengar pujian dari Bintang. Tiba - tiba seorang anak laki-laki menghampiri meja mereka.
"Mama... mama... aku mau pipis...... "
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1