
"Oh iya Bu, kenalkan ini Mas Bintang, Papanya Tegar.... " ucap Tiara mengenalkan Bintang.
"Bintang Bu, maaf baru sekarang bisa bertemu" ucap Bintang sopan sambil menjabat tangan Siti.
Siti tersenyum kaku tapi dia tidak berkata sedikitpun.
"Ayo Pa kita pergi.... aku sudah gak sabar pengen main di Dufan" teriak Tegar gembira.
"Oke sayang... " jawab Tegar.
Mobil melaju menuju Dunia Fantasi Ancol. Bintang membeli tiket mereka masuk. Tegar, Dewi dan Ali sangat senang sekali karena mereka bisa puas bermain semua aneka permainan.
Bintang, Tiara dan Siti hanya bisa melihat mereka dari luar.
"Sebentar ya Mas, Bu. Aku mau beli minuman dulu" ucap Tiara. Dia pergi mencari minuman untuk mereka semua.
"Maaf nak Bintang. Boleh Ibu bicara sebentar?" tanya Siti.
"Boleh Bu, silahkan" jawab Bintang ramah.
"Ibu tau Tiara mempunyai trauma dengan lelaki. Oleh karena itu dia tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang laki - laki. Dia selalu menolak perasaan laki - laki sejak dulu. Semua karena suami Ibu yang suka memukul Ibu dan mabuk - mabukan. Sejak kecil dia melihat Ibu sering di pukul sama suami Ibu. Dia selalu mengajak Ibu lari dan bercerai tapi Ibu tidak pernah mau. Kamu tau Bintang kenapa Ibu tidak pergi meninggalkan suami Ibu?" ungkap Siti.
Bintang diam mendengarkan.
"Memang benar alasan Ibu karena cinta. Tapi sakitnya perlakuan suami Ibu membuat cinta di hati Ibu terkikis. Yang membuat Ibu bertahan adalah kerena anak - anak. Saat dulu Bapak kandungnya Tiara pergi, sepuluh tahun Tiara hidup tanpa sosok Bapaknya. Ibu merasa bersalah tidak membuat hidup Tiara sempurna. Teman - temannya semua mempunyai orang tua lengkap tapi dia tidak. Itu sebabnya Ibu menikah lagi tapi malangnya nasib Ibu yang memiliki suami pemalas dan pemabuk. Banyak yang mengatakan Ibu bodoh tapi Ibu sudah berjanji pada diri Ibu sendiri Ibu tidak mau lagi membuat Dewi dan Ali seperti Tiara yang tidak mempunyai Bapak. Makanya sekuat mungkin Ibu pertahankan rumah tangga Ibu walaupun memang sangat berat" sambung Siti.
Siti menarik nafas panjang.
"Ibu sangat sedih melihat cucu Ibu sama seperti Ibunya. Dia tidak memiliki hidup yang sempurna. Bahkan nasibnya lebih parah dari Mamanya. Tiara lahir dari hasil pernikahan, mempunyai Bapak yang jelas di mata hukum walaupun pada kenyataannya sejak kecil dia tidak mendapatkan kasih sayang seorang Bapak. Memang benar Tegar mendapatkan kasih sayang Papanya dari kamu tapi dia hidup dari kasih sayang dua orang yang tidak mempunyai hubungan. Tegar hidup tanpa status dan cacat hukum. Pernahkan kamu fikirkan bagaimana masa depan Tegar kelak?" tanya Siti.
Pertanyaan Ibu Tiara itu membuat Bintang terdiam. Dia tidak bisa menjawab semua pertanyaan Siti.
__ADS_1
"Tolong jangan kamu rusak hidup putra kamu sendiri. Ibu hanya ingin kamu tegas pada diri kamu, Tiara ataupun Tegar. Dari kecil Tiara sangat dekat kepada Ibu, dia selalu bercerita apa saja dalam hidupnya kepada Ibu, tidak ada rahasia. Kamu punya teman bernama Roy kan?" tanya Siti.
"Iya Bu" bintang menganggukkan kepalanya.
"Kata Tiara Roy sudah dua kali mengungkapkan perasaannya kepada Tiara. Dan dua minggu lagi adalah limit waktu yang diberikan Tiara untuk menjawab perasaan Roy" ungkap Siti.
Bintang diam membisu, berbagai macam fikiran berkecamuk di dalam kepalanya.
Ternyata Roy serius dengan kata - katanya. Dan waktu Tiara hanya tinggal dua minggu lagi. Apakah Tiara akan menerima perasaan Roy?
Kalau Tiara dan Roy menikah apakah aku rela Roy yang akan menjadi suami Tiara dan juga Papanya Tegar secara hukum? Apa aku bisa kehilangan mereka yang selama hampir empat bulan ini mengisi hariku. Walau hanya setiap akhir pekan tapi kehadiran mereka membuat aku menanti - nantikan waktu akhir pekan datang. Batin Bintang.
"Kalau kamu memiliki perasaan kepada Tiara nikahi dia. Bertanggung jawab pada kehidupan Tiara dan anak kamu. Tapi kalau memang kamu tidak mempunyai perasaan apapun pada Tiara tolong jauhi dia. Jaga jarak dengannya. Agar dia bisa membuka hatinya kepada pria lain. Tegar butuh status yang jelas, dia butuh nama seorang ayah di dalam administrasi negara ini. Dia butuh seluruh keluarga yang membuat hidupnya utuh. Dia butuh sosok Papanya setiap hari bukan hanya disaat akhir minggu saja" sambung Siti.
Siti menatap wajah Bintang. Bintang hanya tertunduk dan terdiam.
"Tolong pertimbangkan perkataan Ibu ini. Sekuat tenaga Ibu membesarkan dan menyekolahkan Tiara sampai dia menjadi sarjana. Itu butuh perjuangan yang besar Bintang karena kami bukanlah berasal dari keluarga kaya. Hati Ibu sangat sakit melihat hidup Tiara seperti ini. Ibu tidak ingin dia menjalani hidup yang pahit seperti yang Ibu alami. Ibu ingin dia bahagia" Siti meneteskan air matanya.
Siti melihat dari kejauhan Tiara sudah berjalan menuju tempat duduk mereka. Secepat mungkin Siti menghapus air matanya.
"Tiara sedang menuju kemari. Tolong rahasiakan semua obrolan kita ini Bintang. Ini hanya pembicaraan antara kamu dan Ibu saja. Tiara tidak boleh mengetahuinya" pinta Siti.
"Baik Bu" jawab Bintang.
Mereka kembali bersikap biasa seolah sebelumnya mereka tidak membicarakan apa - apa.
Bintang, Tiara, Tegar, Dewi dah Ali bermain di Dufan sampai sore. Siti hanya bisa melihat mereka dari luar arena permainan karena ada beberapa permainan yang dia tidak sanggup untuk menaikinya. Jantungnya rasanya mau copot
Setelah shalat maghrib di Dufan mereka keluar dari arena Dufan dan berkeliling Ancol untuk mencari tempat makan.
Sampailah mereka di sebuah Restoran laut Oceanic Seabreeze yang terletak di pinggir pantai.
__ADS_1
"Ibu gak apa - apa pulangnya malam?" tanya Tiara.
"Nggak apa - apa Ra. Bapak kamu hari ini katanya mau pergi sore. Ada urusan sana kawannya. Jadi tidak masalah kalau kami pulang terlambat" jawab Siti.
"Mama aku mau ke toilet" pinta Tegar
"Yuk sama Om saja, sini Om temani" jawab Ali.
Ali pergi bersama Tegar menuju toilet. Saat keluar dari toilet yang terletak di dekat taman Tegar melihat ada taman bermain untuk anak - anak.
"Om aku bermain sebentar ya, nanti aku akan menemui kalian" pinta ucap Tegar.
"Gak apa - apa Gar, biar Om Ali temani" balas Ali.
"Gak usah Om. Aku berani kok main sendiri. Biasa sama Mama juga begitu. Om ke sana aja, aku mau cari teman dulu" rengek Tegar.
"Ya sudah tapi jangan lama - lama ya. Nanti Mama kamu marah" jawab Ali.
"Oke Om" balas Tegar.
Ali pergi meninggalkan Tegar bermain di taman dan bergabung bersama Tiara dan yang lainnya. Tegar bermain bersama anak - anak yang lain.
Sepuluh menit kemudian Tegar kembali ke meja dimana keluarganya duduk. Dia berlari dan tak sengaja menabrak kaki seseorang.
"Aduh... "
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG