Tiara

Tiara
Isi hati Dewi


__ADS_3

"Lho Wi siapa yang suruh kamu kesini?" tanya Wijaya.


"Ibu Pak. Kata Ibu, Bapak sama Mas Bagas lagi santai duduk di gazebo belakang dan tadi kata Ibu Bapak sama Mas Bagas mau nangkap ikan?" tanya Dewi polos.


Bagas melirik dan memperhatikan gerak - gerik Dewi sepertinya tidak ada yang berubah dari wajah Dewi. Mudah - mudahan dia tidak mendengar pembicaraanku dengan Pak Wijaya. Ucap Bagas dalam hati.


"Mas Bagas kenapa? Kok diam aja, lagi sakit?" tanya Dewi heran.


"Ah.. nggak Dew. Aku cuma kaget aja kamu tiba - tiba muncul di hadapan kami" jawab Bagas dia tidak ingin Dewi curiga.


Wijaya tersenyum melihat sikap Bagas yang salah tingkah. Mantan playboy bisa mati kutu di hadapan wanita lugu dan polos.


"Pesan Ibu ikannya sudah bisa di tangkap Pak, biar langsung di bersihin. Soalnya kan mau di bakar kan ikannya. Butuh waktu lagi nanti untuk hidupin kayu bakar kemudian bakar ikannya" ucap Dewi.


"Ah iya Nak Bagas, mari kita tangkap ikannya sekarang" ajak Wijaya.


"Eh Pak diminum dulu kopinya nanti keburu dingin gak enak lagi" cegah Dewi.


"Ah kamu Wi tau aja kalau Mas lagi haus" Bagas menghabiskan satu cangkir kopi yang di bawakan Dewi.


Ini pasti kopi buatan kamu kan Wi, rasanya sangat nikmat. Manis seperti kamu. Puji Bagas dalam hati.


"Wi, pinjamkan baju kaos Ali dan celana pendek untuk Bagas. Kami mau masuk kolam ikan" perintah Wijaya.


"Baik Pak" jawab Dewi patuh. Dia segera kembali ke dalam rumah. Bagas menatap kepergian Dewi sampai tubuhnya pun tak terlihat lagi.


"Kamu tegang karena takut Dewi dengar pembicaraan kita?" tanya Wijaya.


Bagas mengangguk kan kepalanya.

__ADS_1


"Haha kamu lucu sekali Bagas. Pria playboy sudah berpengalaman dengan wanita manapun bisa mati kutu dengan wanita polos dan lugu seperti Dewi. Aku rasa kamu sudah di kutuk oleh para wanita yang telah kamu sakiti sampai kamu tak berkutik seperti ini di depan Dewi" ledek Wijaya.


"Namanya cinta Pak" jawab Bagas membela diri.


"Hahaha sekarang Bapak mengerti apa artinya Budak Cinta alias Bucin hahaha" Wijaya tertawa lepas.


Bagas hanya bisa menggaruk - garuk kepalanya yang tak gatal.


Tak lama Dewi datang dengan membawa barang yang di perintahkan Wijaya untuk meminjamnya dari Ali.


"Nih Mas, kalau mau ganti baju Mas bisa di kamar mandi belakang dekat dapur" Dewi menunjuk ke arah dapur.


"Makasih Wi" jawab Bagas.


Kini hanya tinggal Dewi dan Wijaya duduk di gazebo menunggu Bagas berganti baju.


"Wi kamu tau apa kisah cintanya si Bagas?" pancing Wijaya.


"Delapan belas tahun bukan lagi di bawah umur Wi, tapi sudah bisa menikah. Ibu kamu dulu menikah dengan Bapak usia segitu" jawab Wijaya.


"Habis kata Mas Bagas dia belum mendapat izin dari keluarga calonnya sebelum wanita itu berumur dua puluh tahun karena masih di bawah umur" ungkap Dewi.


"Hahaha Bapak jadi penasaran gimana kalau wanita itu tau kalau Bagas menyukainya. Menurut kamu apa yang di rasakan wanita itu ya Wi?" pancing Wijaya.


"Aku mana tau Pak, kan bukan aku calonnya. Ya tanya sama calonnya Mas Bagas toh" jawab Dewi polos.


"Hahaha.. kamu juga lucu sekali Wi, polos dan lugu. Kalau seandainya kamu lah calonnya itu. Apa yang kamu rasakan? Apakah kamu akan menerima lamaran Bagas?" selidik Wijaya.


"Mmm... Mas Bagas sih baik Pak, penyabar, bertanggung jawab dan perhatian. Tapi dia itu playboy walau ngakunya udah tobat. Maklum wajahnya emang di atas rata - rata dan dia juga sangat mapan mungkin karena itu banyak wanita yang tergila - gila dengannya dan mungkin dengan senang hati mau menikah dengan Mas Bagas. Tapi kalau seandainya aku jadi calonnya Mas Bagas... Aku gimana ya, mungkin aku tolak dulu kali Pak. Aku masih mau menikmati masa mudaku dulu tanpa mikirin nikah dulu. Aku masih trauma dengan pernikahan Ibu dan kisahnya Kak Ara. Tapi yah kalau memang jodohku di takdirkan Allah datang sekarang aku pasti gak bisa nolak. Sekuat apapun aku, dia akan tetap akan datang juga. Hanya saja kalau aku masih bisa memohon aku akan sama dengan calonnya Mas Bagas. Tunggu dua tahun lagi. Setidaknya selama dua tahun itu aku bisa belajar semakin dewasa, semakin sabar dan mempersiapkan diriku untuk masuk ke tingkatan yang lebih tinggi yaitu pernikahan" ungkap Dewi.

__ADS_1


Wijaya mengerti apa yang sedang di fikirkan Dewi.


"Ternyata kamu tidak terlalu polos kok Wi. Kamu sudah cukup dewasa untuk memikirkan masa depan kamu. Setidaknya kamu sudah punya planning masa depan. Tapi ingat, kamu sedang menjalani masa - masa remaja. Kamu harus pintar - pintar menjaga diri kamu. Jangan sampai masuk ke dalam pergaulan bebas yang berakibat buruk untuk hidup kamu. Sudah cukup Ibu kamu yang mempunyai hidup yang sulit, Kakak kamu Tiara juga pernah merasakannya. Bapak berharap nasib kamu berbeda dengan mereka" nasehat Wijaya.


"Aamiin.. Terimakasih Pak, Bapak sudah mengingatkan dan mendoakan saya untuk mendapatkan yang terbaik. Kalau seandainya di waktu depan saya salah langkah tolong di ingatkan ya Pak untuk kembali ke jalan yang benar. Karena masa yang akan datang tidak ada yang tau apa yang akan kita hadapi. Mudah - mudahan saya bisa menghadapi semuanya dengan baik" sambut Dewi.


"Eh Bagas sudah siap tuh. Kamu kembali ke dapur dan bantu Ibu kamu mempersiapkan bumbu - bumbu untuk masak ikan yang enak. Biar tugas kami yang menangkap ikannya" perintah Wijaya.


"Baik Pak, saya ke dapur dulu ya Pak" Dewi langsung meninggalkan Wijaya dan berjalan ke arah dapur dia sempat berpapasan dengan Bagas di jalan menuju gazebo.


"Yang semangat Mas tangkap ikannya habis itu bantuin aku bakar ikan ya" ucap Dewi memberi semangat.


Hanya kata - kata seperti itu saja sudah membuat Bagas kesenangan. Rasanya dia ingin segera melompat ke dalam kolam ikan. Tapi dia malu sama Dewi dan Pak Wijaya yang berada tak jauh dari lokasi mereka.


Benar kata Pak Wijaya aku sudah jadi bucinnya Dewi. 'Budak Cinta'... nasibku. Bagas meringis dalam hati.


Wijaya dan Bagas mulai masuk ke dalam kolam ikan untuk menangkap ikan yang akan mereka bakar setelahnya.


"Ayo Mas kamu bisaaaaa... tangkap yang banyak ya" teriak Dewi dari arah dapur.


"Hahaha.. kamu lihat tuh wanita pujaan kamu teriak - teriak kasih semangat buat kamu. Udah kayak tarzan aja teriak - teriak di Hutan" ujar Wijaya.


Bagas melirik ke arah Dewi, terlihat Dewi tersenyum manis kepadanya. Sangat manis.


Ikan - ikan mendekatlah padaku, agar kau bisa aku persembahkan untuk kekasih hatiku. Teriak Bagas dalam hati.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2