Tiara

Tiara
Saaaah...


__ADS_3

Menjelang malam seluruh keluarga inti sudah berkumpul di rumah Pak Wijaya. Kedua orang tua Bagas yaitu Pak Raksajaya dan istri sudah datang dengan membawa gaun pernikahan Bagas dan Dewi dan juga cincin pernikahan mereka.


Bintang dan Tiara juga sudah sampai bersama Tegar dan Zia dan juga baby sitter Zia tak lama setelah Bapak Raksajaya. Begitu juga dengan Pak Bambang dan istrinya yang datang berbarengan dengan keluarga kecil Bintang.


Dan yang terakhir adalah Roy yang datang sendiri karena Dian sudah tidak bisa ikut bepergian jauh mengingat usia kehamilannya tinggal menunggu hari kelahiran.


Malamnya mereka melaksanakan shalat maghrib berjama'ah bersama seluruh keluarga besar. Shalat di pimpin oleh Pak Wijaya. Setelah selesai shalat barulah mereka bersiap - siap hendak kumpul di meja makan untuk menikmati hidangan makan malam.


"Jay, Tuan Kadi untuk besok sudah ada?" tanya Pak Bambang kepada sahabatnya itu.


"Sudah.. sudah.. aku sudah menghubungi KUA setempat.. Nanti setelah akad nikah mereka akan mengeluarkan surat yang mengatakan kalau Bagas dan Dewi sudah sah menikah tapi buku nikahnya nanti tetap keluar saat resepsi pernikahan mereka tiga minggu lagi. Sesuai dengan rencana semula" jawab Pak Wijaya.


"Tak apa yang penting kan mereka sudah sah dan ada juga surat - surat pengantar pengganti buku nikah. Jadi kalau seandainya mereka pergi kemana - mana atau setelah nikah Dewi tinggal di apartemen Bagas kan kita tidak perlu khawatir lagi ada razia atau mereka di gerebek pihak keamanan apartemen" sambut Pak Raksajaya.


"Iya semua sudah aman. Aku juga sudah hubungi WO yang bisa menyediakan segala sesuatunya dalam waktu singkat ini. Besok akan tetap ada dokumentasi dan catering untuk kita makan. Walau hanya sederhana tapi pernikahan mereka harus berkesan. Kita kan berharap pernikahan ini sekali untuk seumur hidup" ungkap Wijaya.


"Ini sudah hebat Mas.. Ada pelaminan dan pesta kebun. Cantik kok, terimakasih kalian sudah repot - repot menyiapkan ini semuanya" potong Mama Bagas.


"Kalau masalah dekorasi itu urusan istri saya dan Dewi. Mereka yang mengatur semua itu" jawab Bagas.


"Makasih ya Sit, kamu jadi repot karena masalah Bagas dengan Morgan" ujar Mamanya Bagas.


"Tidak apa Mbak, mereka kan sama - sama anak - anak kita. Sudah sewajarnya kan kita membantu mereka untuk hari terpenting dalam hidup mereka. Seperti kata Mas Jay tadi kenangan sekali seumur hidup harus lebih berkesan" jawab Siti.


Mereka tersenyum mendengar jawaban Siti.


"Ayo Mas Mbak semuanya dinikmati hidangan malam ini" ujar Siti kepada semua keluarga yang ada di rumah mereka.


"Kamu sudah siap Gas menikah besok?" tanya Pak Bambang.


"InsyaAllah sudah siap Om" jawab Bagas.


"Harus itu.. Kamu tidak perlu khawatir Gas. Bapak sudah perintahkan semua karyawan Bapak dan penduduk setempat untuk menjaga area perkebunan ini. Kalau ada orang asing yang datang mereka akan segera di tangkap. InsyaAllah Morgan tidak akan bisa menggagalkan rencana pernikahan kalian besok" sambut Pak Wijaya.

__ADS_1


"Aamiin... " jawab yang lain berbarengan.


"Dewi kenapa wajahnya tegang seperti itu?" tanya Mamanya Bagas.


"Mm anu Ma.. hanya lagi gak enak perutnya" jawab Dewi.


"Mungkin karena terlalu tegang" potong Papanya Bagas.


"Pasti tegang lho Mas wong nikahnya tiga minggu lagi dipercepat jadi besok. Bagas sih iya udah gak sabaran, kalau Dewi kan masih takut soalnya Dewi masih terlalu muda. Ya kan Dewi" sambung Sekar Mamanya Bintang.


Dewi hanya tersenyum malu sembari menundukkan kepalanya. Sedangkan Bagas menggaruk - garuk kepalanya yang tak gatal.


Mereka semua menikmati hidangan yang telah dipersiapkan Siti untuk seluruh keluarga yang berkumpul di rumah Pak Wijaya.


Setelah selesai makan, Dewi membantu asisten rumah tangga di rumah Pak Wijaya untuk membersihkan meja makan.


"Wi kamu ngapain masih di dapur?" tanya Sekar.


"Beresin meja makan Tante" jawab Dewi polos.


"Gak apa - apa Tante sudah biasa" balas Dewi.


"Tidak.. tidak.. kamu harus segera ke kamar dan istirahat. Besok kamu menikah dan kamu akan jadi ratu sehari jadi harus persiapan. Harusnya malam ini kamu maskeran dan luluran biar besok manglingi saat nikah. Buat Bagas terkejut ketika melihat wajah kamu" ujar Sekar.


Dewi tersenyum malu. Sekar mengambil lap meja dari tangan Dewi dan mendorong Dewi keluar dari dapur dan naik ke kamarnya yang ada di lantai dua.


Bagas yang melihat Dewi hendak naik segera mencegahnya.


"Kamu mau kemana Wi? Cepat banget ke kamarnya. Masih rame lho di sini masak kamu udah mau tidur" cegah Bagas.


"No Bagas, No... biarkan Dewi ke atas. Harusnya kalian itu dipingit sebelum menikah tapi karena nikahan kalian dadakan jadi gak ada waktunya. Lumayanlah satu malam kalian dipingit, jadi biarkan Dewi naik ke kamarnya. Jangan kamu temui lagi dia. Besok baru kamu bisa bertemu dengan kamu lagi setelah dia sah menjadi istri kamu" tegas Sekar.


Bagas hendak protes tapi belum sempat dia membuka bibirnya Sekar sudah protes.

__ADS_1


"Tidak ada protes dan tapi.. tapiaaan.. Tante tidak mau dengar. Atau Tante buat peraturan baru, kamu belum boleh satu kamar dengan Dewi setelah menikah sampai hari resepsi kalian. Ayo mau pilih yang mana? Pisah satu malam atau tiga minggu menjelang resepsi pernikahan?" hanya Sekar.


Bagas menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Pilih satu malam aja deh Tante" jawab Bagas.


"Good... kalau begitu jangan ganggu Dewi. Biarkan dia istirahat tenang malam ini sebelum kamu membantainya" balas Sekar.


Dewi meneruskan langkahnya untuk naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya. Malam ini Dewi dan Bagas di larang bertemu lagi.


Keesokan harinya seluruh keluarga sudah berkumpul di taman belakang rumah Pak Wijaya untuk hadir dalam acara ijab kabul Bagas dan Dewi.


Bagas dan Ali sudah duduk berhadapan untuk mengucapkan ijab kabul. Baik Bagas atau pun Ali terlihat sangat tegang. Tangan mereka berkeringat saat berjabat tangan.


Sementara para keluarga dekat, sahabat dan tetangga sekitar perkebunan duduk di kursi yang terlah tersedia di taman. Akad nikah akan dilaksanakan pada pukul sembilan pagi.


Tuan kadi pernikahan telah hadir, dia tidak lagi berbasa - basi. Acara segera dimulai karena setelah acara akad nikah Bagas dan Dewi beliau mempunyai tugas ditempat lain.


Bagas dan Ali kini saling tatap dan berjabat tangan. Tuan kadi mulai memberikan intruksi kepada Bagas dan Ali untuk memulai ijab kabul.


"Saya terima nikah dan kawinnya Dewi Astuti binti Almarhum Tarjo dengan mahar sebentuk cincin emas dibayar tu.. nai.. " ujar Bagas.


"Bagaimana para saksi?" tanya Tuan kadi.


Saksi nikah pada saat itu adalah Pak Wijaya dan Pak Bambang.


"Sah.. " jawab Pak Wijaya dan Pak Bambang bersamaan.


"Alhamdulillah.... " sambut yang lain kompak.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2