Tiara

Tiara
Rahasia mulai terbongkar


__ADS_3

"Bik Sumi.... " panggil Tiara.


"Non Tiaraaaaa" jawab Bik Sumi.


"Lho kalian saling kenal?" tanya Bu Bambang bingung.


"Eh.. iya Nya, Non Tiara ini anaknya majikan sodara saya di kampung" jawab Sumi langsung sebelum Tiara menjawabnya.


Lho mengapa Bik Sumi jawab seperti itu. Bukannya Bik Sumi ini adalah asisten rumah tangga di rumah Papa Mas Bintang. Itu artinya...


Ya Tuhan... apakah ini rumah Papa dan Mamanya Mas Bintang? Rumah orang tuanya Mas Bintang? Tapi mengapa Bik Sumi merahasiakannya? Apa karena Papanya Mas Bintang masih marah kepada Mas Bintang? Tanya Tiara dalam hati.


"Wah ternyata dunia ini sempit ya. Gak nyangka kalian bisa bertemu di sini" ucap Bu Bambang.


"Apa kabar Non Tiara, suaminya gimana kabarnya?" tanya Bik Sumi.


"Alhamdulillah baik Bik Sumi. Suami saya lagi dinas keluar kota" jawab Tiara.


"Syukurlah kalau begitu" Sumi menghidangkan minuman untuk Tiara dan Tegar.


"Eh Den Tegar ikut juga toh. Tegar masih ingat sama Eyang?" tanya Bik Sumi.


"Sayang salam eyang dulu" Tiara memanggil Tegar.


Tegar bangkit dan berjalan menuju Bik Sumi kemudian mencium tangan Bik Sumi.


"Anak ganteng, kamu pintar sekali" puji Bik Sumi.


"Sum, makan siang kita sudah siap?" tanya Pak Bambang.


"Sudah Tuan" jawab Bik Sumi.


"Yuk Ra kita makan siang dulu, setelah itu baru kita santai sambil ngobrol" ajak Bu Bambang.


"Iya, makan dulu yuk setelah itu baru kita berenang. Katanya Tegar mau berenang kalau datang ke rumah Opa?" tanya Bambang penuh kasih sayang.


Bik Sumi memperhatikan sikap majikannya itu pada anak kecil yang tak lain adalah cucunya sendiri.


Tuan kalau kamu tau dia adalah cucu kamu apakah kamu mau memaafkan Den Bintang dan menerimanya kembali? Ucap Bik Sumi dalam hati.


"Ayok Opa. Aku sudah gak sabar pengen berenang. Kami juga baru pindah rumah Opa, Papa juga membeli rumah yang besaaar sekali, di dalamnya ada kolam renang" lapor Tegar.

__ADS_1


"Oh ya.. hebat donk" puji Bambang.


"Papa aku memang hebat dia bisa beli rumah yang besar untuk kami" sambung Tegar.


"Yuk Pa, Tegar.. kita makan dulu yuk" ajak Bu Bambang.


Pak Bambang menggandeng tangan Tegar dan mengajaknya berjalan menuju ruang makan yang berada di belakang ruang tamu di dekat ruang TV dan ruang keluarga.


Mereka berjalan melintasi ruang keluarga dimana di sana terpajang foto keluarga Pak Bambang bersama istri dan anaknya saat kecil.


"Opa... itu foto siapa? Kok wajahnya mirip denganku?" tanya Tegar.


"Itu foto anak Opa. Iya.. ya.. wajar kamu mirip banget sama anak Opa waktu kecil" jawab Pak Bambang.


Pak Bambang sebenarnya sudah lama merasa begitu makanya dia jadi begitu menyayangi Tegar. Saat memanjakan Tegar dia seperti berusaha menebus kesalahannya pada Bintang saat putranya itu kecil.


Banyak kesempatan yang dia lewatkan saat putranya itu masih dalam masa pertumbuhan. Dia terlalu sibuk dengan dunianya.


Tiara juga ikutan memandang foto yang ada di dinding.


Kalian benar - benar mirip sekali Mas. Maaaas.. seandainya kamu tau, kami saat ini berada di rumah kamu. Aku dan Tegar sedang bertemu dengan Papa dan Mama kamu Mas. Ucap Tiara dalam hati.


"Eh malah melamun, yuk kita makan" ajak Pak Bambang.


Tegar sangat senang dan dengan lahap makan masakan yang dihidangkan Bik Sumi.


Setelah itu mereka bermain di dekat kolam renang sebelum mereka berenang. Tiara dan Bu Bambang duduk di ruang keluarga yang letaknya agak berjauhan dari kolam renang.


"Nyonya.. ada sesuatu yang ingin saya sampaikan. Sebenarnya sudah dari tadi ingin saya sampaikan tapi saya takut Tuan mendengarnya" ucap Bik Sumi.


"Kamu mau bicara apa Sum? Kok pakai rahasia?" tanya Bu Bambang penasaran.


Bik Sumi memandangi wajah Tiara.


"Nya.. sebenarnya Non Tiara ini adalah istri Den Bintang" ungkap Bik Sumi.


"Apa? Benarkah Sumi? Benar Tiara" tanya Bu Bambang terkejut.


"Iya Bu" jawab Tiara.


"Jadi Tegar itu anak Bintang?" tanya Bu Bambang lagi.

__ADS_1


Tiara menganggukkan kepalanya.


"Pantas saja wajah mereka begitu mirip. Tapi.... kalian kan baru menikah, mengapa Tegar sudah sebesar itu?" tanya Bu Bambang bingung.


"Panjang ceritanya Bu" jawab Tiara.


Tiara menceritakan semuanya. Awal pertemuan mereka sampai pada kejadian malam kelam lima tahun yang lalu yang mengakibatkan Tiara hamil dan lahirlah Tegar.


Sejak kejadian itu mereka baru bertemu lagi setelah lima tahun dan akhirnya Bintang mengetahui kalau Tegar anaknya dan kemudian mereka menikah.


"Ya Tuhan... Apakah Bintang hidup bebas, maksud Ibu apakah dia bergaul bebas?" tanya Bu Bambang.


"Tidak Bu, Mas Bintang adalah pria yang baik dan setia. Pada malam itu dia sedang mabuk karena dalam keadaan galau baru bertengkar dengan sahabatnya dan aku juga dijebak oleh temanku yang mengakibatkan aku mabuk dan terjadilah semuanya" ungkap Tiara.


"Ra, boleh Ibu melihat wajah Bintang sekarang? Sudah empat belas tahun Ibu tidak bertemu dengannya" ucap Bu Bambang.


Tiara mengambil hpnya dari tasnya kemudian membukanya dan memperlihatkan foto - foto dia bersama Bintang dan Tegar.


Tanpa terasa air mata Bu Bambang mengalir, betapa dia sangat merindukan Putranya saat ini. Tapi hari ini dia sangar bahagia karena bisa bertemu dengan istri dan anaknya Bintang.


"Ternyata kalian adalah keluarga Mama. Tolong jangan panggil Ibu lagi Ra. Panggil Mama" pinta Bu Bambang.


"Tapi nanti Bapak dan Mas Bintang curiga Bu. Bisa - bisa kami dilarang Mas Bintang untuk bertemu dengan kalian lagi" ujar Tiara mengingatkan.


"Mama akan bilang sama Papa kalau Mama sudah menganggap kamu sebagai anak Mama sendiri. Kamu juga bilang saja begitu pada Bintang" sambung Bu Bambang.


"Apakah tidak berbahaya?" tanya Tiara lagi mencoba memastikan semuanya aman.


"Gak apa - apa Nak, Papa pasti akan senang kalau kamu memanggilnya Papa. Oooh ya Allah, kapan aku bisa bertemu dengan anakku" air mata Bu Bambang kembali menetes.


"Mama sabar ya, nanti pelan - pelan akan aku ajak Mas Bintang untuk bertemu Mama. Dulu dia pernah berjanji untuk mengenalkan kami pada orang tuanya. Mungkin sudah tiba saatnya" sambut Tiara.


"Sementara rahasiakan dulu dari Papa. Mama takut penyakit Papa kambuh, bisa - bisa Papa kena serangan jantung lagu" pinta Bu Bambang.


"Syukurlah kalau Nyonya sudah mengetahui kebenaran ini. Aku sudah tidak sabar sebenarnya dari tadi ingin mengatakannya tapi takut ketahuan Tuan" ucap Bik Sumi.


"Makasih ya Sum kamu sudah menceritakan kebenarannya padaku. Makasih sayang kamu sudah menjaga anak Mama. Mama sangat senang sekali mengetahui kalau kamu adalah menantu Mama" Bu Bambang memeluk erat tubuh Tiara.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2