Tiara

Tiara
Nasehat kehidupan


__ADS_3

Pak Wijaya dan Bu Siti sudah sampai di rumah sekitar jam delapan malam saat Dewi, Bagas dan Ali sedang duduk santai di sofa ruang keluarga sambil menonton TV.


"Assalamu'alaikum" ucap Siti.


"Wa'alaikumsalam" jawab Dewi, Bagas dan Ali.


"Lho ada Bagas rupanya, tumben Gas hari kerja ke Bandung. Ada urusan di Bandung?" tanya Bu Siti


"Nggak Bu, aku ngambil cuti sampai hari jumat" jawab Bagas.


"Biasa Bu mau jadi bodyguard selama Kak Dewi ujian" sambut Ali.


"Aliiiii" protes Dewi.


"Maksudnya apa?" tanya Pak Wijaya penasaran.


Bagas mencium tangan Pak Wijaya dan Bu Siti. Kemudian mereka duduk berkumpul di ruang keluarga.


"Gini Pak, Morgan saingan aku sejak kuliah sepertinya ingin merusak acara pernikahanku" jawab Bagas.


"Merusak gimana?" tanya Pak Wijaya semakin bingung.


"Dia mulai menganggu Dewi, dia sengaja mendekati Dewi sampai ke Bandung padahal perusahaannya ada di Jakarta" ungkap Bagas.


"Teman kamu yang kemarin ingin kerjasama dengan perusahaan Bintang?" tanya Pak Wijaya mulai mengerti.


"Iya" Bagas menganggukkan kepalanya.


"Yang punya sekretaris, mantan pacarnya Bintang Mas?" timpa Siti.


"Iya Sit" jawab Pak Wijaya.


"Duh apa sih mau mereka? Yang pria mau gangguin kamu, yang wanita mau ganggu rumah tangganya Tiara dan Bintang" ujar Bu Siti cemas.


"Begitulah salah satu sifat manusia. Sulit sekali melihat orang lain bahagia. Padahal kebahagiaan orang lain itu tidak mengusik kebahagiaannya. Contohnya Morgan itu. Bagas menikah dengan Dewi kan tidak ada hubungannya dengan dia. Bagas tidak menggangu hidupnya, tidak merebut miliknya tapi dia tidak terima kalau melihat Bagas bahagia. Begitu juga dengan Siska. Saat dia meninggalkan Bintang, Bintang sekuat tenaga berusaha melupakannya dan mencari kebahagiaannya sendiri. Harusnya Siska itu bahagia dengan pilihannya dulu karena demi itu dia sampai meninggalkan dan menyakiti Bintang tapi apa yang terjadi dia iri melihat Bintang bahagia dengan Tiara sedangkan dia sendiri masih belum puas dengan apa yang dia raih dalam hidup ini" ungkap Bagas.


Dewi dan Bagas mendengarkan perkataan Pak Wijaya dengan penuh penghayatan.


"Kalau kita hanya mengejar dunia ini, kita tidak akan pernah mendapatkan kepuasan karena kepuasan itu bagaikan langit. Kita kira hanya setinggi bukit tapi saat kita berada di atas bukit ternyata langit itu setinggi gunung. Kita naik di atas gunung ternyata langit itu lebih tinggi lagi dan sangat jauh untuk kita gapai. Nafsu yang membuat kita ingin mendaki lebih tinggi lagi hingga akhirnya kita jatuh ke dasar jurang" sambung Pak Wijaya.


"Tapi kalau kita mengejar akhirat, yakinlah Allah akan mencukupkan dunia untuk kita. Gapailah akhirat dan kau pasti akan menggapai dunia juga" nasehat Pak Wijaya.


"Dunia itu bagaikan minuman anggur semakin kau minum maka kau semakin dahaga" sambung Pak Wijaya.


Bagas menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Jadi apa yang akan kamu lakukan Bagas?" tanya Pak Wijaya.


"Maaf Pak kalau aku bertindak sendiri tanpa meminta izin Bapak dan Ibu selalu orang tua Dewi. Morgan mengirimkan foto Dewi yang sedang makan di kantin kampus. Ternyata dia mengikutk Dewi sampai ke kampus. Dia mengirim foto Dewi dengan memberi pesan bahwa Dewi adalah calon istrinya. Aku panik dan langsung ke Bandung untuk menemui Dewi" ungkap Bagas.


"Jadi rencanaku selama Dewi ujian aku akan menemani Dewi di kampus, menunggunya dan menjaganya sampai dia selesai ujian. Setelah itu Dewi akan aku bawa ke Jakarta dan aku antarkan ke rumah Bintang. Sekalian kami akan mempersiapkan rencana pernikahan kami. Kalau di Jakarta Dewi kan selalu bersama Tiara dan berada di rumah Bintang. Menurut aku lebih aman dan Morgan juga akan lebih sulit untuk mendekati Dewi" sambung Bagas.


Pak Wijaya mengangguk - anggukkan kepalanya.


"Bagus rencana kamu, Bapak setuju. Kalian sudah mulai merasakan kan cobaan pernikahan. Tapi jangan takut, kalian harus saling percaya, menjaga dan saling menguatkan. InsyaAllah semua akan terlalui" sambut Pak Wijaya.


"Iya Pak, terimakasih atas pengertian dan perhatian Bapak" ujar Bagas.


"Rencana pernikahannya kalian sudah sampai mana?" tanya Bu Siti.


"Susah hampir sempurna Bu, tinggal menunggu hari H" jawab Bagas.


"Syukurlah kalau begitu. Tapi ingat, walaupun tinggal satu bulan lagi kalian menikah bukan berarti itu menjamin jodoh kalian. Terus berdoa dan tetap jaga diri ya. Jangan sampai kebablasan. Setan itu akan datang dari segala penjuru membisikkan racun - racun dunia hawa nafsu agar kita terjerumus dan masuk dalam hamba yang sangat di benci Allah" nasehat Bu Siti.


"Iya Bu, kami mengerti" jawab Bagas.


"Ya sudah kalian lanjutkan santainya ya. Bapak dan Ibu mau istirahat dulu" ujar Pak Wijaya.


"Bapak dan Ibu sudah makan?" tanya Dewi.


"Kami ke kamar dulu ya" sambung Pak Wijaya.


"Iya Pak, Bu" jawab Dewi, Bagas dan Ali.


"Mas.. aku besok boleh ikut gak ke kampus Kak Dewi?" punya Ali.


"Lho emangnya kamu gak sekolah Al?" tanya Bagas.


"Nggak Mas, aku. libur karena anak kelas tiga lagi ujian" jawab Ali.


"Ya sudah cocok kalau begitu, besok Mas jadi punya teman" sambut Bagas.


"Pas memang kamu jadi setannya" sindir Dewi.


"Kok setan sih yank?" tanya Bagas penasaran.


"Lho iya donk, kan katanya kalau dua orang muhrim sedang berdua - duaan yang ketiga siapa?" tanya Dewi.


"Setan" jawab Bagas dan Ali kompak.


"Nah itu tau" ujar Dewi sambil tertawa.

__ADS_1


"Kak Deeewiiiii... enak aja aku bilang Setan. Justru aku itu besok bertugas sebagai satpam kalian. Kalau kalian melanggar aturan agama aku akan langsung telepon Ibu dan suruh mereka membatalkan pernikahan kalian" protes Ali.


"Kamu yakin Al pernikahan kami akan dibatalkan kalau hal itu terjadi?" tanya Bagas.


"Yakin donk" jawab Ali penuh keyakinan.


"Hahaha.. yang ada pernikahannya makin di percepat Al dari pada dosanya makin banyak" ujar Bagas sambil tertawa lebar.


"Eh.. apa lebih baik seperti itu ya, aku yakin besok juga pasti kita akan dinikahkan Wi" komentar Bagas.


"Enak aja mau ke neraka kok ngajak - ngajak" protes Dewi.


"Hahaha... Kak Dewi gak mau diajak ke neraka Mas" ejek Ali.


Bagas menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Udah ah, aku mau ke kamar. Mau belajar untuk ujian besok. Kalau aku terus - terusan di sini yang ada aku tambah mumet dengan obrolan kalian" ujar Dewi.


Dewi berdiri dan berjalan menuju kamarnya yang ada dilantai dua.


"Al sebentar ya.. Mas mau nyusul Kak Dewi. Ada yang mau Mas kasih ke dia" pamit Bagas.


"Awas ya Mas kalau kalian macem - macem. Ada CCTV Bapak di rumah ini" ancam Ali.


"Iyaaaa Mas gak mau macem - macem sama Kakak kamu. Cukup satu macam aja biar sebulan lagi di nikahin" jawab Bagas.


Bagas langsung menyusul Dewi ke kamarnya. Dia mengejar Dewi yang masih menaiki tangga. Bagas menarik ujung jilbab Dewi. Sontak Dewi langsung berhenti dan menoleh ke belakang.


Bagas memberinya sekotak coklat yang tadi dia beli di supermarket menuju ke rumah Pak Wijaya.


"Untuk temani kamu belajar malam ini. Belajar yang serius ya, biar cepat lulus dan aku tambah cinta" Bagas mengedipkan sebelah matanya dengan genit ke arah Dewi sambil mengelus lembut kepala Dewi yang tertutup jilbab.


Wajah Dewi langsung bersemu merah. Dia tidak menyangka sama sekali Bagas akan berbuat hal sederhana seperti ini tapi sudah sangat membuatnya bahagia.


Dewi menerima pemberian Bagas dengan riang hati.


"Makasih Mas" jawab Dewi.


Lalu Dewi melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2