
Dua minggu berlalu, Bagas dan Dewi kini menjalani rumah tangga mereka dengan tenang. Bayang - bayang Morgan yang akan mengganggu kehidupan mereka sudah hilang.
Bagas yakin setelah pembicaraan mereka malam itu ada perubahan pada diri Morgan. Morgan berkata bahwa dia ingin merubah hidupnya jadi lebih baik lagi.
Siang itu Bagas merasa ada yang tidak beres dari tubuhnya. Sebenarnya sudah sejak dari tadi pagi dia merasa badannya seperti mau demam tetapi karena pagi tadi dia ada jadwal meeting dengan pegawai kantornya Bagas memaksakan diri untuk tetap pergi ke kantor.
Siang harinya Bagas merasa tubuhnya semakin panas. Dia memesan makan siang kepada sekretarisnya dan juga demam. Tetapi sudah satu jam berlalu Bagas tidak merasakan ada kurangnya malah tubuhnya semakin hangat. Akhirnya Bagas memutuskan untuk pulang di antar oleh supir kantor.
Sesampainya di apartemen, Dewi terkejut melihat Bagas sudah pulang siang hari.
"Mas kok cepat pulangnya?" tanya Dewi.
"Aku lagi gak enak badan sayang" Bagas duduk di sofa dan melepaskan dasinya.
Dewi segera mendekati suaminya dan menyentuh kepala Bagas.
"Ya Allah Mas badan kamu panas sekali" ucap Dewi.
"Iya yank" sambut Bagas lemah.
"Ke kamar yuk, ganti baju kamu biar aku kasih obat" ajak Dewi.
"Aku sudah minum obat tadi di kantor setelah makan siang" jawab Bagas
Dewi memegang tubuh Bagas masuk ke dalam kamar mereka. Setelah itu Dewi membantu Bagas untuk mengganti pakaiannya dan membaringkan tubuh Bagas di atas tempat tidur.
Kemudian Dewi berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air dan mengompres Bagas.
"Di kompres dulu ya Mas agar panas kamu turun. Tunggu sebentar aku akan membuatkan teh hangat untuk kamu" ujar Kinan.
Bagas hanya bisa mengangguk lemah. Dewi segera berjalan menuju dapur dan membuatkan Bagas secangkir teh hangat lalu membawanya kembali ke kamar.
Sesampainya di kamar Dewi mencoba memberikannya kepada Bagas untuk dia minum.
"Ayo diminum Mas biar tubuh kamu berkeringat" ucap Dewi sambil membantu Bagas duduk.
Setelah minumnya habis Bagas kembali berbaring.
"Sekarang kamu tidur dan istirahat. Mudah - mudahan nanti setelah bangun badan kamu sudah enakan dan segar" ujar Dewi.
"Makasih sayang" jawab Bagas.
Bagas menutup kedua matanya dan tak lama kemudian dia pun tertidur. Sore harinya setelah bangun Bagas merasa tubuhnya sudah segar kembali.
"Yaaaank.. " panggil Bagas ketika tidak menemukan keberadaan Dewi di kamar.
Tak lama kemudian Dewi datang dengan membawa semangkuk bubur kacang hijau panas.
"Apa itu?" tanya Bagas ingin tau.
"Aku baru saja membuat bubur kacang hijau. Dimakan ya biar perut kamu jadi hangat.
Dengan telaten Dewi menyuapkan bubur tersebut ke mulut Bagas.
"Hati - hati masih panas" pesan Dewi.
Perlahan - lahan bubur yang ada di tangan Dewi habis di makan Bagas
"Enak sekali sayang bubur buatan kamu" puji Bagas.
Dewi tersenyum dengan penuh kasih sayang ke arah Bagas.
"Setelah ini Mas mandi ya biar aku siapkan airnya" ucap Dewi.
Dewi masuk ke kamar mandi dan mengisi bathup dengan air hangat. Tak lama kemudian Dewi juga menyiapkan pakaian ganti untuk Bagas.
"Sudah siap Mas, mandi ya. Badannya sudah segar kan?" tanya Dewi.
"Alhamdulillah sudah enakan" jawab Bagas.
__ADS_1
"Ya udah mandi gih biar shalat ashar setelah itu. Buruan nanti waktunya habis lho" perintah Dewi.
"Iya sayangku" jawab Bagas.
Bagas segera turun dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi tiba - tiba Bagas merasa perutnya bermasalah di tambah lagi baunya kamar mandi.
Sebenarnya Bagas bingung, kamar mandinya seperti biasa, bersih. Tapi mengapa hidungnya tidak nyaman seperti ini. Perut Bagas seperti di aduk - aduk dan akhirnya dia muntah di kamar mandi.
"Ueeeek... ueeek... " terdengar suara Bagas dari kamar mandi.
"Mas... Mas Bagaaaas... " Dewi mengetuk pintu kamar mandi.
"Maaaaas" panggil Dewi lagi.
"Yaa.. " sahut Bagas dari dalam.
"Mas kenapa? Buka dulu. Aku mau lihat Mas" pinta Dewi.
"Sebentaaaar... " jawab Bagas.
Bagas membersihkan kotoran muntahannya kemudian membuka pintu kamar mandi.
"Mas kenapa?" tanya Dewi khawatir.
"Tiba - tiba aku merasa sangat mual" jawab Bagas.
Dewi memegang kepala Bagas lagi tapi tidak panas.
"Ya sudah kalau begitu jangan mandi nanti Mas tambah masuk angin" ujar Dewi.
"Gak apa - apa yank, kan airnya hangat. Lagian aku jorok banget habis muntah. Mudah - mudahan setelah mandi badanku segar kembali" sambut Bagas.
"Tapi pintunya jangan di kunci ya" pinta Dewi.
"Kenapa? Kamu mau ikut mandi bareng aku? Sayang aku lagi sakit kalau tidak... " ucap Bagas.
"Ya.. sayangnya aku lagi sakit kalau tidak udah habis kamu Mas embat" ancam Bagas.
"Cepetan mandinya ya, aku tunggu di luar" ujar Dewi.
Dewi keluar dari kamar mandi dan Bagas meneruskan kegiatan mandinya. Tak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi dan berpakaian. Lalu melanjutkan kegiatannya untuk shalat ashar.
"Yank pewangi kamar mandi masih ada?" tanya Bagas.
"Ada, untuk apa?" tanya Dewi bingung.
"Untuk diletak di kamar mandi. Baik banget kamar mandinya, buat aku mual" jawab Bagas.
"Lho.. kamar mandinya wangi lho Mas. Tadi kan aku baru bersihin" ujar Dewi.
"Tapi aku gak tahan baunya sayang.." Bagas duduk di dekat Dewi.
Bagas tiba - tiba mendekati Dewi dan seperti mencari atau ingin mencium sesuatu.
"Kamu ganti parfum?" tanya Bagas.
"Nggak. Ini parfum aku biasa yang Mas suka" jawab Dewi heran.
"Kok bauk sih yang, kamu pasti ganti parfum kan?" desak Bagas.
Dewi semakin bingung dengan sikap Bagas.
"Mas ini aneh deh, masak gara - gara demam panas Mas jadi aneh begini. Apa tadi demamnya tinggi banget ya sampai Mas ngelindur begini?" tanya Dewi.
"Serius yank, aku gak tahan. Kamu ganti baju aja ya.. Aku mual banget nih" pinta Bagas dengan wajah memelas.
Tiba - tiba-tiba Bagas kembali ke kamar mandi.
"Ueeeek... ueeeek.. " dia kembali muntah.
__ADS_1
Dewi sampai melongo karena melihat anehnya sikap Bagas sore itu.
"Mas benar baik - baik saja?" tanya Dewi.
"Ganti baju kamu yank, aku gak tahan" pinta Bagas lemah.
"Oke.. oke.. aku akan ganti baju" jawab Dewi.
Dewi segera menjalankan perintah suaminya untuk berganti pakaian. Tak lama Bagas keluar dengan sangat lemah.
"Maaas aku jadi khawatir deh sama kamu. Kita ke dokter aja yuk. Udah dua kali Mas muntah sampai lemas seperti ini. Jangan - jangan Mas keracunan makanan. Tadi siang Mas demam panas setelah itu mual - mual. Coba ingat - ingat Mas makan apa tadi di kantor?" tanya Dewi.
"Biasa, makanan yang sering aku pesan" jawab Bagas lemah. Dia duduk di sofa kamarnya.
Gejolak itu datang lagi, dia kembali berlari ke kamar mandi.
"Ueeeek... ueeeek... " Bagas muntah untuk yang ketiga kalinya.
"udah Mas gan usah nolak lagi. Setelah ini kita ke dokter ya. Aku pesan taxi online aja. Mana bisa Mas bawa mobil dengan kondisi seperti ini" ucap Dewi.
Karena tubuhnya sudah sangat lemas akhirnya Bagas ikut apa kata Dewi. Mereka segera pergi ke Rumah Sakit terdekat untuk melakukan pemeriksaan pada tubuh Bagas.
Sesampainya di Rumah Sakit Bagas di periksa di UGD.
"Apa keluhannya Pak?" tanya Dokter.
"Dari tadi pagi tubuh saya sudah gak enak rasanya Dok, tadi siang saya demam tapi sudah minum obat dan istirahat demamnya reda. Tapi sore setelah bangun tidur saya mual dan muntah. Tidak bisa mencium wangi kamar mandi dan wangi parfum istri saya langsung muntah" jawab Bagas.
"Baik coba saya periksa ya, silahkan Bapak berbaring" perintah Dokter.
Bagas berbaring di tempat tidur, Dokter dengan dibantu seorang perawat memeriksa tubuh Bagas.
"Gimana Dok?" tanya Bagas setelah selesai diperiksa.
"Tubuh Bapak sehat, tidak demam lagi. Keseluruhan juga bagus. Tapi Bapak mengalami muntah ya? Perutnya saya priksa juga baik" jawab Dokter.
"Muntah karena penciuman saya sedang gak beres Dok. Masak cium parfum istri yang biasa dia pakai saya jadi mual" ujar Bagas.
"Mmm... gimana kalau Ibu aja diperiksa Pak?" Dokter memberi saran.
"Kenapa istri saya yang diperiksa. Kan saya yang sakit?" tanya Bagas bingung.
"Tanda - tanda yang Bapak sebutkan tadi persis seperti orang yang sedang mengidam karena hamil muda. Tapi Bapak kan seorang laki-laki gak mungkin Bapak yang hamil. Makanya kami sarankan Ibu saja yang diperiksa" Ungkap Dokter.
"Apa? Serius Dok?" tanya Bagas bingung.
Dokter tersenyum menatap Bagas.
"Serius donk Pak" jawab Dokter.
"Ya sudah periska saja istri saya" perintah Bagas.
"Kami sarankan Bapak langsung aja periksa ke Dokter kandungan" pesan Dokter.
"Eh iya ya, Dokter kan Dokter umum. Ya sudah Dok kalau begitu kami akan pindah ke dokter kandungan" balas Bagas.
Mereka akhirnya melanjutkan proses pemeriksaan ke Dokter kandungan.
Dewi kini sudah berbaring di atas tempat tidur di ruang pemeriksaan dokter kandungan. Dokter melakukan USG pada Dewi.
"Gimana Dok?" tanya Bagas tak sabar.
Dokter menatap wajah Bagas dan Dewi secara bergantian...
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1