Tiara

Tiara
Indahnya menikah


__ADS_3

Hari ini hari keempat pernikahan Bagas dan Dewi. Dewi kembali ingin bersantai saja di apartemen. Dia lebih memilih di apartemen saja padahal Bagas sudah menawarinya untuk mengantar Dewi ke rumah Tiara atau rumah orang tuanya.


Bagas pulang lebih awal. Kali ini dia pulang dengan membawa sebuket bunga untuk kekasih hatinya yang kini sudah menjadi istrinya.


"Assalamu'alaikum sayaaaang" sapa Bagas begitu dia masuk ke dalam apartemen dan mendapati istinya itu sedang membersihkan apartemen Bagas.


Bagas menyerahkan sebuket bunga kepada Dewi kemudian Bagas mengecup kedua pipi istrinya.


"Wa'alaikumsalam. Maaas udah pulang?" tanya Dewi terkejut.


Kemarin suaminya tidak jam segini pulangnya. Lebih sore dari saat ini.


"Udah, aku mau ngajak kamu pergi" jawab Bagas.


"Pergi lagi, kemana?" tanya Dewi bingung.


"Ke rumah sakit" jawab Bagas.


Bagas duduk di sofa ruang TV.


"Rumah Sakit? Siapa yang sakit?" tanya Dewi. Dewi menghentikan kegiatannya dan berjalan ke dapur untuk mengambil sesuatu.


Tak lama kemudian Dewi kembali dengan membawa segelas air minum untuk suaminya. Dewi memberikan gelas tersebut kepada Bagas.


Bagas tersenyum menyambut dan menerima gelas yang diberikan Dewi. Inilah yang selama ini tidak dia dapatkan sebelum menikah. Tidak ada yang menyambut Bagas pulang seperti dua hari ini dan tidak ada yang melayaninya seperti ini.


"Dian melahirkan Wi" jawab Bagas.


"Mbak Dian melahirkan? Kapan Mas?" tanya Dewi antusias.


"Tadi pagi. Aku dan Bintang udah janjian sore ini akan ke rumah sakit" jawab Bagas.


"Mbak Ara, Zia dan Tegar ikut kan?" tanya Dewi.


"Kalau Tiara mungkin ikut, tapi kalau Zia dan Tegar aku tidak tau Wi. Kita lihat aja nanti di Rumah Sakit" jawab Bagas.


"Ya sudah Mas yuk kita siap - siap" sambut Dewi


"Yaaank.. nanti sore lho. Masih lama. Kamu gak tanya dulu aku udah makan atau belum gitu?" tanya Bagas.


"Lho Mas belum makan?" tanya Dewi terkejut.


"Aku sengaja kerja dengan cepat di kantor dari pagi hingga siang sampai aku lupa makan siang agar bisa pulang secepatnya dan bertemu kamu. Sekalian aku kangen masakan istriku" jawab Bagas dengan wajah memelas.


"Untung aku udah masak Mas, coba kalau belum. Lain kali kalau Mas pulang secepat ini kabari aku ya biar aku bisa siapin" ujar Dewi.


Bagas tersenyumlah.

__ADS_1


"Gak apa - apa yank, kalau gak ada makanan kan setidaknya masih ada kamu. Aku bisa makan kamu aja" jawab Bagas sambil tersenyum.


"Emangnya aku bisa di makan gitu?" tanya Dewi polos.


Bagas semakin lebar senyumannya.


"Bisa donk sayang" jawab Bagas.


Duuuh.. istriku ini benar - benar polos banget. iiiih ... aku semakin gemas melihatnya. Batin Bagas.


Bagas mulai memeluk istrinya. Perlahan - lahan Dewi mulai mengerti apa tujuan Bagas karena tangan Bagas sudah merayap kemana - mana.


"Mas aku siapin makan siang Mas dulu ya" Dewi berdiri dan meninggalkan Bagas dengan wajah kesal.


"Yaaaank.. gak jadi deh. Aku lebih baik makan kamu aja" teriak Bagas.


"Aku bukan makanan Mas. Ayo sini duduk yang manis biar aku angetin makannya" ajak Dewi.


Bagas berjalan menyusul Dewi ke ruang makan yang menyatu dengan dapur di apartemennya. Dia duduk di depan meja makan, sedangkan Dewi mulai menyiapkan alat makan untuk Bagas dan mulai menghangatkan masakannya.


Siang ini Dewi memasak sop ayam pakai brokoli, kentang dan wortel. Dewi juga memasak bakwan jagung dan sambel kecap.


"Heeeem.... wangi sekali sayang. Aku jadi makin laper" ujar Bagas tak sabar.


Dewi mengambilkan makanan untuk Bagas, dia memenuhi piring Bagas dengan makanan yang dia masak tadi dan meletakkannya tepat di depan Bagas.


"Makasih sayang... " ucap Bagas setelah Dewi meletakkan makanan di depannya.


Bagas mulai menikmati makan siangnya.


"Enak banget yank masakan kamu" puji Bagas.


"Iya donk, kan aku buatnya pakai bumbu cinta" jawab Dewi percaya diri.


Bagas tersenyum melihat wajah istrinya.


"Kalau gitu aku mau pulang jam segini deh setiap hari" ujar Bagas.


"Maaaas gak bisa donk tiap hari pulang jam segini. Kamu kan jadi gak maksimal kerjanya kalau jam segini sudah pulang. Katanya mau kerja keras untuk masa depan keluarga. Mau cari uang banyak - banyak selagi masih produktif bekerja" sindir Dewi.


"Udah pinter jawab ya istriku" sambut Bagas.


"Siapa dulu yang ngajarin" balas Dewi.


"Baju tidurnya sudah di cuci?" tanya Bagas.


"Udah, udah di setrika juga" jawab Dewi.

__ADS_1


"Kamu yang setrika?" tanya Bagas terkejut.


Dewi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Iya, kan bajunya tipis-tipis jadi cepat kering trus aku setrika deh" jawab Dewi.


"Lain kali jangan kamu yang melakukan semuanya. Aku akan mencari asisten rumah tangga di apartemen kita. Selama ini memang asistennya gak setiap hari. Tapi setelah kita menikah aku tidak mau kamu sibuk" ucap Bagas.


"Gak apa - apa Mas, aku sudah biasa. Lagian kan cuma kita berdua yang ada di rumah ini. Aku gak repot kok Mas" jawab Dewi.


"Sekarang kan kamu masih libur, nanti kalau kamu sudah mulai kuliah gimana?Terus apalagi kalau kamu hamil gimana?" tanya Bagas.


Blush... wajah Dewi merah karena pertanyaan Bagas barusan.


"Maaas cepat banget mikirnya ke situ. Nanti ya nanti kita pikirkan, sekarang kita nikmati saja waktu berdua di apartemen ini tanpa bantuan orang lain. Aku bisa kok ngerjainnya sendiri. Percaya deh sama aku" ucap Dewi berusaha meyakinkan Dewi.


Bagas melihat kesungguhan di wajah Dewi. Bagas hanya tidak mau istrinya repot atau lelah mengurus apartemen sambil kuliah sehingga kalau malam saat dia mengajak istrinya pacaran atau anu - anu Dewi jadi tidak semangat.


Tapi mencegah Dewi yang sangat bersemangat hari ini rasanya tidak mungkin. Mungkin sebaiknya Bagas mengalah lebih dulu agar Dewi merasa nyaman tinggal bersamanya.


"Baiklah, tapi janji ya jangan terlalu capek. Kalau kamu sudah repor segera lapor pada Mas agar Mas mencari asisten rumah tangga secepatnya" pinta Bagas.


"Iya suamiku sayaaaang" balas Dewi.


Bagas sudah menyelesaikan makan siangnya. Dewi segera membersihkan piring dan ruang makan sedangkan Bagas masuk ke dalam kamar untuk istirahat.


Bagas melihat beberapa letak furniture di kamarnya sudah berubah. Pasti Dewi yang melakukan semua ini. Tidak apa.. Bagas menyukainya. Mungkin memang perlu suasana baru di kamar ini.


Tak lama Dewi menyusul Bagas ke kamar dan mengambilkan pakaian santai untuk Bagas.


"Kamu melakukan semua ini?" tanya Bagas.


"Iya, Mas gak suka?" tanya Dewi.


"Suka, lagian Mas bosan dengan suasana kamar yang kemarin. Kan sudah Mas bilang, apartemen ini adalah apartemen kamu juga. Kamu adalah Nyonya di sini jadi kamu bebas melakukan apapun" jawab Bagas.


Bagas mendekati Dewi dan memeluk Dewi dengan mesra dari belakang.


"Kamu sekarang pemilik apartemen ini beserta aku yang ada di dalamnya. I love you sayang" ungkap Bagas.


"Love you too Mas" balas Dewi.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2