Tiara

Tiara
Putus Asa


__ADS_3

Keesokan harinya setelah sarapan pagi Bintang, Pak Bambang, Bu Bambang dan Mang Kardi bergerak menuju Bandung. Mereka berangkat mengendarai satu mobil karena kondisi Bintang yang sedang kacau tidak aman untuk menyetir.


Sepanjang perjalanan Bintang tak berhenti berdoa semoga Tiara dan Tegar di temukan dengan selamat. Wajah Bintang terlihat tegang dan sangat kacau.


Bu Bambang menggenggam tangan Bintang erat mencoba menyalurkan kekuatan. Hatinya sangat sakit menyaksikan anaknya hancur seperti ini.


"Sabar sayang yakinlah Tiara pasti akan kita temukan" ucap Bu Bambang.


"Iya Ma" jawab Bintang.


Mereka melewati lokasi kejadian tempat Tiara kecelakaan kemarin.


"Menurut informasi di sini tempat kejadian kecelakaan Tiara kemarin" ucap Pak Bambang.


Bintang melihat pembatas jalan yang rusak akibat benturan mobil Tiara.


"Ma.. Oh Ya Allah... lihat Ma pasti benturannya kuat sekali sehingga sampai seperti itu pembatas jalannya" ucap Bintang histeris.


"Bintang tenang Bintaaaang" ucap Bu Bambang sambil memeluk putranya.


"Istriku sedang hamil Ma.. dan putraku juga masih kecil oh ya Allah" ucap Bintang.


"Bintang kamu harus kuat" ucap Pak Bambang mengingatkan putranya.


"Sampai saat ini belum ditemukan data tentang mereka, kita masih mempunyai harapan kalau mereka masih selamat Den" sambut Mang Kardi.


"Tegar anak yang kuat sayang, istri kamu juga wanita hebat mereka tidak akan mudah menyerah" ucap Bu Bambang.


"Ayo Mang kita bergerak ke rumah orang tua Tiara" perintah Pak Bambang.


Mang Kardi kembali melajukan mobil menuju kota Bandung. Satu jam tiga puluh menit kemudian mereka sampai di rumah Siti.


"Bintang" ucap Siti menyambut menantunya.


"Bu.. Tiara Bu, Tegaaar" Bintang menangis dalam pelukan mertuanya.


"Sabar nak, kita terus berdoa dan melakukan pencarian. Ibu yakin mereka pasti selamat" sambut Siti.


Tak lama kemudian Bagas dan Roy juga sampai di rumah Siti.


"Bintaaang" panggil Bagas.


"Kalian datang?" tanya Bintang pada dua sahabatnya.

__ADS_1


"Iya begitu mendengar telepon kamu tadi malam aku sepakat dengan Bagas untuk berangkat ke Bandung pagi ini ketepatan Bagas sedang ada di Indonesia. Maaf Dian tidak bisa ikut karena kehamilannya" jawab Roy.


"Iya Roy gak apa - apa. Makasih kalian sudah peduli pada keluargaku" balas Bintang.


"Kamu kan sahabat kami Bin mana mungkin kami meninggalkan kamu sendirian" ujar Bagas.


"Jadi begini karena jumlah kita bertambah bagaimana kalau kita berbagi dan berpencar untuk mencari Tiara dan Tegar?" ucap Pak Bambang.


"Iya Pa, lebih baik begitu" sambut Bintang.


"Ya sudah kamu bareng teman - teman kamu biar Papa dan Mang Kardi dan Ali saja ya. Mama tinggal di rumah bersama Siti ya. Kalau ada apa - apa nanti kami akan menghubungi kalian" perintah Pak Bambang.


"Iya Pa, hati - hati ya" ucap Bu Bambang.


"Ali kamu siap - siap nak ikut Om kamu untuk mencari Kakak kamu dan Tegar" perintah Siti pada anak laki - lakinya.


"Baik Bu" jawab Ali.


Mereka mulai bergerak dan berpencar ke setiap Rumah Sakit yang ada di Bandung. Mereka mencari keberadaan Tiara sampai malam, sudah semua Rumah Sakit dan klinik mereka datangi tapi mereka tetap tidak mendapatkan jejak keberadaan Tiara dan Bintang.


Bintang memukul dinding sebuah Rumah Sakit terkahir yang mereka datangi. Dia terlihat putus asa dan kacau. Rambutnya sudah berantakan, pakaiannya juga sama.


Bagas dan Roy sangat iba melihat kondisi sahabat mereka selama ini mereka tidak pernah melihat Bintang sehancur dan serapuh ini.


"Tiara... kemana aku harus mencari kamu. Maafkan Mas sayaaaaang.. apa yang kamu lihat tak seperti apa yang kamu fikirkan. Aku tidak mengkhianati kamu. Pulanglaaaaaah jangan buat aku merasakan sakit seperti ini. Aku tidak sanggup hidup tanpa kalian" Bintang bersandar di dinding dengan posisi jongkok.


Kepalanya dia sembunyikan di balik kedua kakinya. Bintang menangis histeris dan putus asa.


Bagas dan Roy saling pandang. Mereka ikut berjongkok di hadapan Bintang.


"Bin.. istighfar.. Kamu pasrahkan semua kepada Allah. Yakinlah Allah pasti akan mendengar setiap doa kita. Tiara wanita yang baik aku yakin hidupnya tidak akan berakhir seperti ini" Roy menepuk bahu Bintang memberikan semangat.


"Sebaiknya kita pulang dulu Bin, besok kita ulang lagi mencari di pinggiran kita Bandung siapa tau mereka dibawa ke sana" sambut Bagas.


"Kalian saja yang pulang, aku ingin mencari mereka. Saat ini pasti mereka sedang menderita. Aku harus menemukan mereka" ucap Bintang sambil terisak.


"Bin.. fisik manusia ada batasnya. Kamu perlu istirahat untuk mencarger kekuatan kami besok. Kalau kamu habiskan hari ini juga aku takut besok kamu tidak akan bisa bangkit. Dan Tiara akan semakin lama kita temukan. Kita pulang saja ya.. besok kita sambung lagi pencarian Tiara dan Tegar" bujuk Bagas.


"Kalian tidak mengerti apa yang aku rasakan karena kalian tidak mengalami apa yang aku rasakan" ucap Bintang sedikit emosi.


Dia merasa kesal karena sudah lebih sehari Tiara dan Tegar tidak ditemukan.


"Kami bisa merasakan sakitnya yang kamu rasakan Bin, kamu adalah sahabat kami. Melihat kamu hancur dan menderita seperti ini hati kami juga sakit" ujar Roy.

__ADS_1


"Aku gak tau harus bagaimana lagi Roy, Gas. Kemana aku harus mencari mereka? Mengapa mereka sulit sekali ditemukan?" tanya Bintang.


"Mungkin mereka ada disuatu tempat Bin, mudah - mudahan saja ada orang baik yang menjaga mereka" ujar Bagas.


"Yuk Bin kita pulang" Roy menarik tangan Bintang dan membantunya untuk berdiri kemudian mereka melangkah keluar dari rumah sakit dan kembali ke rumah.


*****


Di sebuah rumah besar.


"Pak kami sudah mencari alamat sesuai dengan KTP wanita ini tapi menurut tetangga dan pengelola apartemen itu mereka sudah pindah beberapa bulan yang lalu dan mereka tidak tau dimana alamatnya" lapor asisten pria yang menolong Tiara.


"Apa kalian tau nama pemilik apartement itu?" tanya Pria tua.


"Mereka merahasiakan data nama pemiliknya Pak. Katanya itu adalah permintaan dari pemilik apartemen itu" jawab sang asisten.


"Apakah Dokter yang aku perintahkan untuk memeriksanya sudah datang?" tanya Pria tua itu.


"Sudah Pak, Dokter itu baru saja selesai memeriksanya" jawab sang asisten.


"Panggil Dokter itu dan bawa ke sini" perintah Pria tua.


Tak lama asistennya datang kembali bersama Dokter keluarganya.


"Bagaimana keadaan wanita itu?" tanya Pria Tua.


"Dia mengalami shock pasca kecelakaan disamping itu dugaan saya dia sedang mengalami masalah rumah tangga. Saya sudah menanyakan beberapa pertanyaan seperti alamat rumah dan nomor telepon suami dan keluarganya. Dia hanya menangis setiap mengingat suaminya" lapor sang Dokter.


"Apa tindakan kamu untuknya?" tanya Pria tua.


"Saya hanya memberikan beberapa vitamin untuk kehamilannya. Syukurlah dampak kecelakaan itu tidak berbahaya, wanita itu dan putranya bisa selamat dan hanya luka ringan" ungkap Dokter.


"Pantas saja kemarin dia meminta untuk segera dibawa keluar dari rumah sakit. Mungkin dia memang sedang menghindari suaminya. Biarkan dia sendiri dulu. Mungkin dia butuh waktu untuk berfikir" perintah pria tua.


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu" Dokter keluarga pamit kepada pria tua.


"Terimakasih atas bantuan anda Dokter" balas pria tua itu.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2