Tiara

Tiara
Gagal percepat pernikahan


__ADS_3

Kini mereka sudah sampai di Dusun Bambu dan ternyata ucapan Bagas tidak main - main. Mereka disambut dengan meriah di sana.


Kenalan Bagas yang merupakan pemilik tempat wisata ini telah menyiapkan dan menyajikan makanan terbaik di tempatnya.


Tapi karena waktu makan masih sekitar satu jam lagi Bintang dan keluarga kecilnya berkeliling - keliling di tempat wisata itu.


"Kamu mau keliling danau naik sampan Wi?" tanya Bagas pada Dewi.


"Mau Mas tapi aku takut" jawab Dewi.


"Kalau begitu ayok naik sampai bersamaku" ajak Bagas.


"Enak saja kalian naik sampan berdua, bawa putraku bersama kalian. Setidaknya tidak ada setan diantara kalian" cegah Bintang.


"Tetap ada bro" bisik Bagas.


"Siapa?" tanya Bintang penasaran.


"Anak kamu hahaha" goda Bagas.


"Sialan kamu" balas Bintang.


Bagas langsung menarik Tegar naik ke atas sampan diikuti Dewi dibelakang mereka.


"Hati - hati ya sayang.. jangan lasak kalau nanti di atas sampan" ucap Tiara pada putranya.


"Iya Ma" jawab Tegar sambil berteriak.


Bagas, Dewi dah Tegar naik ke atas sampan dan mengambil posisi mereka untuk berkeliling danau.



Kini mereka sudah berada di atas sampan, sampan berjalan dengan pelan dan santai. Sambil menikmati pemandangan di Dusun Bambu, Bagas tidak akan menyia - nyiakan kesempatan ini.


"Wi benar kamu gak punya pacar dan gak mau pacaran?" tanya Bagas.


"Iya" jawab Dewi mantap.


"Kalau begitu kamu mau langsung menikah seperti ucapan kamu tadi malam?" tanya Bagas.


"Iya Mas, kenapa?" tanya Dewi bingung.

__ADS_1


"Nggak.. Mas hanya mau tanya saja. Usia berapa kamu targetkan menikah?" tanya Bagas.


"Sebenarnya aku pengen menikah muda Mas, biar nanti kalau aku punya anak. Anakku sudah besar akunya belum terlalu tua. Seperti Ibu dan Kak Tiara" jawab Dewi.


Alhamdulillah... aku punya celah nih. Sorak hati Bagas.


"Kalau saat kuliah kamu di kamar mau gak?" selidik Bagas.


"Lho kok tanya aku?" tanya Dewi curiga.


"Mas cuma ingin mencari perbandingan dengan calonnya Mas" elak Bagas.


"Mas Bagas tanya aja sama calonnya Mas Bagas" jawab Dewi.


"Saat ini kan yang ada di depan Mas kamu. Mas mau tanya kamu yang juga masih kuliah, buat pelajaran sama Mas agar Mas bisa mempersiapkan diri Mas kalau calon Mas itu gak mau diajak nikah saat dia kuliah" untung saja Bagas punya alasan tepat membuat Dewi tidak menaruh rasa curiga padanya.


"Kalau aku sih prinsipnya kalau sudah ketemu yang cocok, pria itu juga bertanggung jawab dan mapan kenapa nggak. Menikah sambil kuliah kan banyak juga sudah di jalani orang. Sudah bukan hal yang asing lagi. Lagian dari pada pacaran banyak dosa mending pacarannya setelah menikah" jawab Dewi.


"Pacaran setelah menikah?" tanya Bagas bingung. Baru kali ini dia mendengar istilah itu biasanya orang pacaran dulu baru menikah. Itu yang diketahui Bagas.


Dulu dia tidak mau menikah kalau belum pacaran. Alasannya dia tidak akan tau dan kenal dengan calon istrinya sebelum melewati masa - masa pacaran.


Matanya menerawang, mungkin dia sedang membayangkan jikalau hal itu terjadi padanya.


"Indah gimana?" tanya Bagas semakin penasaran.


"Mas mungkin sudah terbiasa memegang tangan wanita dan bersentuhan dengan wanita tapi bagi orang yang belum pernah melakukan semua itu. Jika tiba saatnya pasti jadi gimana yaaaa... dag dig dug deh Mas.. Pas bangun pagi tiba - tiba ada pria asing disamping kita, trus jalan bergandengan tangan tanpa ada rasa takut dosa. Aaah.. pokoknya semua indah deh.. Tapi mungkin kata - kataku ini malah aneh Mas dengar" ungkap Dewi.


"Nggak, gak aneh. Kamu bisa lanjut cerita. Aku senang mendengarnya" sambut Bagas senang.


"Pacaran ya seperti pada umumnya aja tapi malah mendapat pahala. Bukan seperti orang - orang di luar sana pacaran dosa mulu" oceh Dewi.


"Gimana caranya pacaran dapat pahala?" tanya Bagas.


"Kalau sudah menikah semuanya dianggap ibadah Mas. Menyenangkan hati pasangan kita juga ibadah. Kalau sudah menikah, nonton bareng, jalan bareng, makan bareng dan bahkan tidur bareng kita akan mendapat pahala. Beribu - ribu malaikat akan mendoakan rumah tangga kita menjadi rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah. Duh aku kok kesannya udah kayak ibu - ibu ceramah ya" ucap Dewi malu.


"Gak apa - apa Dew, lanjut aja. Aku suka dengarnya" sambut Bagas.


"Apalagi kalau naik motor Mas pegangan dan pelukan erat dengan pasangan halal indah banget Mas" Dewi menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena malu mempunyai mimpi indah dan sederhana seperti itu.


Bagas tersenyum senang melihat tingkah Dewi yang malu - malu.

__ADS_1


"Oooh jadi kamu maunya pacaran setelah menikah ya. Satu lagi Dew, Mas boleh gak tanya sesuatu pada kamu?" tanya Bagas.


"Mas Bagas mau tanya apa lagi?" Dewi balik bertanya.


"Kalau seandainya kamu dapat suami yang usianya jauh di atas kamu gimana?" tanya Bagas.


"Maksudnya seperti Mbak Tiara dan Mas Bintang?" tanya Dewi.


"Lebih, usianya jauh lebih jauh dibandingkan perbedaan usia mereka. Misalnya tiga belas tahun bedanya. Gimana?" tanya Bagas.


"Waaah sepertinya calon Mas Bagas usianya jauh ya sama Mas Bagas?" sindir Dewi.


"Ya.. bisa dibilang seperti itu" sambung Bagas.


"Kalau menurut aku gak apa - apa sih Mas. Malah lebih enak dapat yang usianya sudah mapan. Lebih sabar, lebih mengayomi dan lebih dewasa. Mas pernah dengar gak kalau sepasang suami istri itu akan saling mengimbangi ketika menikah. Kalau misalnya aku dapat suami yang dewasa tentu jalan fikiranku juga lambat laun ikut jadi dewasa. Dan si suami yang usianya jauh diatas aku itu pasti akan kembali menjadi lebih muda karena punya istri yang jauh lebih muda. Misalnya ya nih laki - laki sedia Mas dapat istri seperti aku umurnya. Mas kan gak pernah lagi kan naik motor? Nah kalau dapat istri muda pasti seleranya kembali muda. Seru gak?" tanya Dewi.


Wajah Bagas langsung berubah sangat cerah.


"Benar juga kata kamu ya Wi, aku sudah lama gak baik motor. Sepertinya aku harus mulai belajar lagi nih takut lupa mengendarai motor. Nanti kalau istri Mas ngajak naik motor Mas udah terbiasa mengendarainya lagi. Waaah hebat kamu Wi. Mas malah dapat ilmu banyak dari kamu" puji Bagas.


"Jadi kenapa nikahnya dua tahun lagi Mas, apa gak kelamaan?" tanya Dewi.


"Keluarganya gak kasih izin Wi" jawab Bagas.


"Emang usianya berapa tahun sih?" tanya Dewi penasaran.


"Delapan belas tahun" jawab Bagas.


"Wah seumuran aku donk, muda banget Mas" sambut Dewi.


"Yah namanya cinta Wi, siapa yang sangka aku sukanya sama anak remaja" balas Bagas.


"Iya juga sih Mas. Wajar kalau keluartanya meminta waktu dua tahun lagi. Kalau sudah dua puluh tahun kan udah cukup matang untuk wanita muda dinikahi. Kalau masih dibawah dua puluh tahun menurut aku masih sangat muda" jawab Dewi.


Yaaaah... pupus harapanku untuk mempercepat pernikahan ini. Kirain Dewi mau menikah lebih cepat lagi. Bagas menangis dalam hati.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2