
"Tadi malam Siska menjebak aku di hotel. Aku tidak tau apa yang terjadi denganku tadi malam, aku tidak mengingat apapun tapi paginya aku mendengar dari Roy kalau dia memergokiku tidur dengan Siska di kamarku" ungkap Bintang jujur.
"Apa? "... tanya Pak Bambang, Pak Wijaya dan Bagas bersamaan.
"Perkataan dengan kenyataannya berbeda. Dia bilang pada Roy kalau kami bertemu di Bar, aku mabuk dan mengajaknya ke kamar untuk melakukan itu. Tapi kenyataannya dia yang datang sendiri dengan membawa botol minuman ke kamarku. Hanya saja di dalam kamar tidak ada CCTV sehingga aku tidak bisa membuktikan kalau aku tidak bersalah" jawab Bintang.
"Apa yang kamu lakukan saat Siska datang?" tanya Bagas.
"Aku tidak ingat. Malam itu seminar selesai pukul sepuluh malam. Aku kembali ke kamarku dan memesan makanan dan minuman. Sesampainya aku di kamar aku langsung mandi dan makanan sampai ke kamar di bawa pelayan. Setelah aku makan dan minum aku merasakan ngantuk dan aku tertidur. Itu ingatanku terakhir. Besoknya aku terbangun Roy sudah ada di kamar" ungkap Bintang.
"Jangan - jangan pelayan itu datang membawa makanan yang sudah di kasih obat tidur Bin" ujar Bagas.
"Itu dia saat kami bertanya pada pihak Hotel siapa pelayan yang mengantarkan makanan ke kamarku. Mereka mencari informasi pria tersebut tapi ternyata dia bukan pegawai Hotel dan saat kami sampai di kamar paginya seluruh isi kamar sudah bersih sehingga tak ada bukti yang bisa aku ambil" sambung Bintang.
"Sepertinya ini memang benar - benar sudah di rencanakannya" ujar Pak Bambang.
"Aku tau Pa, tapi aku belum bisa membela diri sebelum pelayan palsu itu di temukan. Pihak hotel berjanji akan mencari orang tersebut sampai dapat" jawab Bintang.
"Kamu sabar ya Bin" ucap Pak Bambang.
"Aku bingung Pa, bagaimana aku mengatakan semua ini kepada Tiara. Aku yakin Siska pasti akan melakukan sesuatu kepada Tiara" sambung Bintang.
"Kamu ceritakan saja semuanya seperti yang kamu jelaskan ini pada kami" nasehat Pak Wijaya.
"Tiara kan sedang labil Pak jiwanya sejak Zia lahir. Kepercayaan dirinya sebagai wanita sempurna sudah hilang. Aku takut dia akan termakan omongan Siska dan percaya kalau aku memang selingkuh di belakangnya" ucap Bintang.
Tiba - tiba Tiara datang dari arah belakang sambil membawa minuman untuk Bintang di tangannya.
__ADS_1
"Aku percaya kamu Mas. Aku bukanlah Tiara yang dulu yang akan mengalah kepada Siska. Sejak pertemuan terakhir aku dengan Siska kemarin di toko roti. Aku sudah bertekad untuk melawannya dan memperjuangkan rumah tangga kita" potong Tiara.
"Benarkah yank? Kamu percaya semua yang aku katakan?" tanya Bintang masih tidak yakin.
"Aku percaya Mas. Kamu tidak akan mengkhianati aku. Kalau memang kamu selingkuh dibelakangku, ngapain coba kamu pulang cepat. Kan lebih mending kamu lama - lama di Jogja dengan selingkuhan kamu" jawab Tiara.
Bintang meraih tangan Tiara kemudian menciumnya.
"Terimakasih kamu sudah percaya kepadaku sayang" ucap Bintang.
Pak Wijaya dan Pak Bambang tersenyum melihat anak dan menantu mereka berhasil melalui cobaan dalam rumah tangga.
"Begitulah seharusnya dalam berumah tangga, saling jujur agar tidak terjadi kesalahpahaman. Kalau secepatnya diselesaikan permasalahan tidak akan menumpuk dan berlarut" nasehat Pak Wijaya.
"Iya benar, dalam rumah tangga pasti akan banyak cobaan yang di lalui. Bisa dari keluarga, ekonomi ataupun godaan pihak ke tiga. Semua kalau di jalani dengan saling percaya dan terbuka pasti akan sangat sulit melaluinya" sambut Pak Bambang.
"Iya Pak" jawab Bagas.
"Haaaah aku lega sekali. Selama dalam perjalanan aku terus memikirkan bagaimana caranya menyampaikan cerita ini kepada kamu" ujar Bintang kepada Tiara.
"Tapi pesan Papa Bin, kali ini kamu harus benar - benar mengusut tuntas masalah ini dengan Siska. Cari bukti - bukti yang kamu punya dan buat dia jera untuk mendekati kamu lagi. Semakin lama tingkahnya semakin meresahkan. Papa takut dia akan melakukan sesuatu yang lebih berani lagi dari kejadian ini yang bahkan bisa membahayakan jiwa kamu dan keluarga kamu" nasehat Pak Bambang.
"Iya Pak, aku akan mendesak pihak Hotel untuk mencari siapa pelayanan itu kalau tidak aku akan mengambil jalur hukum" sambut Bintang.
"Syukurlah kalau kamu sudah tegas menyelesaikan semua masalah ini" balas Pak Bambang.
Setelah selesai berbincang - bincang Bintang pamit untuk istirahat ke kamar. Tiara menyusul suaminya dan ikut ke kamar. Sesampainya di kamar Tiara menyiapkan semua pakaian santai untuk Bintang.
__ADS_1
Bintang mengganti pakaiannya dengan pakaian yang dipilihkan Tiara untuknya. Kemudian setelah selesai berganti pakaian Bintang memeluk istrinya dari belakang.
"Terimakasih yank kamu sudah mempercayaiku. Sejak kejadian tadi pagi aku tidak pernah berhenti memikirkan kamu. Hanya kamu yang aku khawatirkan" ucap Bintang.
Tiara membelai lembut kepala Bintang kemudian dia membalikkan badannya. Kini mereka sudah saling berhadapan.
"Kan sudah aku katakan tadi Mas. Aku bukan lagi Tiara yang dulu, yang akan memilih mengalah dan diam. Seperti pesan kamu sebelumnya, kali ini aku akan melawan Siska. Kamu tenang saja, kita ikutin saja apa maunya, jika sudah waktunya baru kita kasih pelajaran untuknya. Ingat kata pepatah, apa yang kamu tanam itu juga yang akan kamu tuai hasilnya. Jika Siska menanam sebuah kebohongan makan dia akan menerima ganjarannya. Percayalah, Allah tidak tidur" jawab Tiara.
Bintang mengecup lembut kening Tiara.
"I Love you, sayang" ujar Bintang.
"Aku juga mencintai kamu Mas" balas Tiara.
Tak lama terdengar suara tangisan Zia. Bintang melepaskan Tiara dari pelukannya kemudian Bintang menghampiri box bayi Zia dan menggendong Zia.
"Anak Papa sayaaaang... kamu tidak rewel kan bersama Mama selama Papa tinggal" ucap Bintang.
Zia tertawa begitu melihat wajah Papanya. Bintang membawa Zia berbaring di atas tempat tidur dan mereka bermain bersama.
Tiara tersenyum menatap keduanya. Dia kembali teringat kepada Siska dan pertemuan mereka yang terakhir.
Lihatlah Siska kali ini aku tidak akan mengalah pada kamu. Aku akan memperjuangkan apa yang telah menjadi milikku. Siapapun tidak akan bisa mengambilnya dariku. Dulu kau pernah sempat mempunyai kesempatan di hati Mas Bintang tapi kau menyia - nyiakannya. Kini apa yang telah kau buang jangan harap bisa kau rebut kembali. Kesempatanmu sudah berakhir, Mas Bintang kini sudah menjadi milikku. Aku tidak akan membiarkan kamu merusak rumah tanggaku dan menyakiti keluargaku. Kali ini aku tidak akan tinggal diam. Tegas Tiara dalam hati.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG