Tiara

Tiara
Akhirnya aku tau perasaan Ibu


__ADS_3

Hari ini Tiara dan Bu Bambang, Mamanya Bintang berencana akan berbelanja ke salah satu Mall di Jakarta. Mereka ingin membeli sesuatu untuk hadiah ulang tahun Bintang minggu depan.


Mereka sengaja tidak memberitahukan Bintang tentang kegiatan mereka. Tiara hanya meminta izin kepada Bintang untuk menemani Mamanya belanja bulanan.


Tiara dan Bu Bambang berjalan dengan santai di Mall tempat mereka menjatuhkan pilihan untuk berbelanja. Mereka masuk dari satu toko ke toko yang lain. Dari satu butik ke butik yang lain.


Akhirnya pilihan mereka jatuh ke jam tangan terbaru yang akan menjadi hadiah Tiara untuk ulang tahun suaminya uang ke tiga puluh tahun.


Saat hendak membayar jam tangan yang telah mereka pilih tiba - tiba tanpa sengaja tubuh Tiara bertabrakan dengan seseorang.


Ida... ucap Tiara dalam hati. Sebenarnya Tiara sangat terkejut bertemu Ida di sini tapi dia segera menutupinya.


"Oooww.. gak nyangka ketemu ORKABA. Orang Kaya Baru.. Sekarang belanjanya udah di Mall ya, hebat. Setelah berhasil menjebak pria kaya dan hamil anaknya" ucapan Ida sangat pedas.


"Astaghfirullah... " ujar Tiara.


"Hey.. anak muda, kalau ngomong itu harus tau sopan santun. Gak pernah ya diajari Ibu kamu" sambut Bu Bambang.


"Heh orang tua kamu siapanya perempuan ini?" tanya Ida.


"Aku Mamanya" jawab Bu Bambang lantang.


"Hahaha.. Mama? mentang - mentang udah kaya sekarang panggil Mama. Dulu waktu miskin manggilnya Ibu, lagian aku tau siapa Ibunya perempuan munafik ini" ejek Ida.


"Siapa dia Ra?" tanya Bu Bambang emosi.


"Ida Ma" jawab Tiara.

__ADS_1


Bu Bambang langsung ingat siapa Ida.


"Oh ini musuh dalam selimut di hidup kamu Ra. Pura - pura berteman karena ada maunya, setelah itu tega - teganya menjebak kamu dan bekerjasama dengan pembunuh itu untuk menjual kamu pada juragan di kampung kamu?" ucap Bu Bambang lantang


"Kamu... ? " Ida terdiam, tidak menyangka akan mendapat perlawanan seperti ini.


"Kenapa terkejut karena saya tau siapa kamu? Aku ini Mamanya Bintang, mertuanya Tiara. Aku juga yang menuntut pembunuh itu di hukum seberat - beratnya. Kamu mau aku tuntut juga? Kalau tidak karena kebaikan hati menantuku ini, kami sudah menyeret kamu ke penjara" ancam Bu Bambang.


Cih.. berani main - main padaku. Dia gak tau saja dulu waktu di kampung aku premannya. Semua pria di kampungku takut denganku. Untung saja aku dapat suami bukan pria di kampungku jadi dia tidak tau kalau aku ini preman. Ucap Bu Bambang dalam hati.


Duh gawat.. ternyata Tiara punya banyak pengawal di sekelilingnya dan dia dilindungi oleh keluarga kaya. Pakai pelet apa dia bisa menikah dengan pria dari keluarga kaya. Batin Ida.


"Apalagi.. kamu beli pergi juga dari sini? Mau aku teriaki kalau kamu itu maling yang dari tadi sudah mengikuti dan menjebak kami? Mau main - main dengan kami? Coba saja kalau kamu punya nyali" ancam Bu Bambang.


Ida terkejut dan langsung mengambil langkah seribu meninggalkan Tiara dan mertuanya di Toko Jam.


Dia pergi menjauh dari Toko Jam itu. Dengan langkah kesal dia terus mengumpat Tiara dalam hati. Dia merasa belum puas dan berniat untuk balas dendam dilain kesempatan.


Tiara menarik nafas lega karena Ida sudah pergi.


"Ma.. makasih ya" ucap Tiara.


"Tenang sayang, kamu tidak akan Mama biarkan di siksa oleh siapapun. Apalagi wanita seperti itu. Mama sudah biasa menghadapi jenis wanita seperti dia. Dulu waktu muda Mama dan Ibu kamu sangat di takuti pria di kampung kami. Tidak ada pria kampung yang berani mendekati kami karena kami tau semua kelakuan mereka di kampung" ungkap Bu Bambang.


"Kalau benar seperti perkataan Mama, mengapa Ibu mau dan tahan bertahun - tahun di siksa dan ditindas oleh Bapak Tiriku?" tanya Tiara tak mengerti.


Sampai sekarang dia selalu bertanya - tanya apa yang membuat Siti bertahun - tahun tahan menghadapi Tarjo. Apakah karena cinta atau karena hal lain?

__ADS_1


Bu Bambang menepuk bahu Tiara lembut.


"Ra.. Ibu kamu itu tipe wanita setia, dalam hidupnya semua orang pergi meninggalkannya. Dulu Ibunya meninggal ketika dia lahir setelah itu Bapaknya meninggal saat kami remaja. Ibu kamu berjuang sendiri membiayai hidupnya dengan berjualan bubut ayam di depan rumahnya. Mamalah satu - satunya sahabat dia di kampung tapi Mama juga pergi meninggalkannya karena menikah dengan Papa. Setelah itu Ibu kamu bertemu dengan Bapak kandung kamu tetapi saat kami berumur tiga tahun Bapak kamu pergi meninggalkan kalian berdua. Menurut Mama luka hati Siti karena ditinggalkan seseorang sangar dalam sehingga ketika dia bertemu dengan Bapak Tiri kamu dia akan memperjuangkannya seumur hidup. Walau dia sakit dan menderita tapi menurutnya itu tidak seberapa ketimbang ditinggalkan lagi oleh orang yang sangat disayanginya. Kita yang melihatnya memang pasti akan menyalahkannya dan menganggapnya bodoh. Mau bertahan seperti itu walau dia sudah terluka dan tersakiti. Tapi menurut dia itu lebih baik dari pada dia ditinggalkan dan hidup sendiri lagi" ungkap Bu Bambang.


Tiba - tiba Tiara merasa iba terhadap hidup Ibunya.


Ya Allah.. maafkan aku Bu yang sering mengajak Ibu pergi untuk meninggalkan Bapak. Pantas saja Ibu tidak mau dan saat dulu aku dan Mas Bintang melarikan Ibu dari rumah, Ibu terlihat begitu berat. Ternyata Ibu trauma pada kata meninggalkan. Ibu merasakan sakitnya bagaimana ditinggalkan. Maafkan aku Bu yang tidak mengerti perasaan Ibu. Ucap Tiara dalam hati.


Tanpa sadar airmata Tiara jatuh di pipi.


"Ma.. apakah sekarang Ibu bahagia dengan keputusannya yang telah meninggalkan Bapak?" tanya Tiara merasa bersalah.


"Kali ini Mama yakin Ibu kamu bahagia. Tarjo suami ke duanya memang pantas untuk ditinggalkan. Karena jika terus bersama sudah pasti Ibu kamu yang akan menderita. Mama juga yakin Ibu kamu sudah berhasil mengatasi trauma nya pada kata ditinggalkan dan meninggalkan" nasehat Bu Bambang.


"Apakah aku bersalah pada Ibu Ma.. karena aku sering meminta Ibu meninggalkan Bapak?" tanya Tiara.


"Kamu tidak bersalah sayang. Kamu kan ingin Ibu kamu bahagia? Kita orang yang tidak mengerti apa yang dialami Ibu kamu pasti berfikir Ibu kamu itu tersiksa. Yah dia memang tersiksa secara fisik. Karena selalu di pukul oleh Bapak kamu. Tapi lukanya akan segera sembuh. Itu yang difikirkan Ibu kamu. Menurutnya itu lebih baik daripada dia harus terluka karena meninggalkan Bapak kamu. Dia tau bagaimana rasa sakitnya di tinggalkan sehingga dia merasa bersalah kalau meninggalkan Bapak kamu. Itulah alasannya mengapa dia bertahan hidup dengan Bapak kamu walaupun dia disiksa" jelas Bu Bambang.


Tiara mengusap dadanya mencoba menenangkan hatinya.


Aaaah.. jadi kangen Ibu.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2