
Tiga hari sudah berlalu dari penawaran Dian. Tiara sudah semakin merasa mantap untuk menerima tawaran Dian.
Malam ini Tiara akan berbicara dengan Tegar mengenai kepindahan mereka ke Bandung.
"Sayaaang" ucap Tiara ketika mereka hendak tidur.
"Ya Ma" jawab Tegar.
"Kamu sudah ngantuk?" tanya Tiara
"Belum Ma" balas Tegar.
"Kalau kita pindah ke Bandung kamu mau?" tanya Tiara.
"Kapan Ma?" Tegar balik bertanya.
"Hari minggu kita pergi" jawab Tiara.
"Benar Ma?" tanya Tegar tak percaya.
"Benar sayaaang. Kamu mau ikut Mama?" tanya Tiara dengan lembut kepada putranya.
"Mau Ma. Aku akan ikut kemana pun Mama pergi" balas Tegar.
Tiara memeluk Tegar penuh kasih sayang. Putranya itu memang sangat dewasa walau usianya baru empat tahun.
"Tapi kamu harus janji ya, di sana akan berbeda seperti di sini. Kamu harus bisa mengurus diri kamu sendiri sayang, tidak bisa manja - manja lagi. Di sana hanya ada kita berdua. Tidak ada Tante Tari, Tante Dian dan Papa Ridho" ucap Tiara mengingatkan.
"Iya Ma, aku janji. Aku akan mandiri" ucap Tegar.
"Anak Mama sayaaang. Kamu memang hebat, anak siapa dulu kan?" puji Tiara.
"Anak Mama donk" balas Tegar.
Maaf sayang, mungkin Mama egois, memaksa kamu untuk mandiri dan dewasa sebelum waktunya. Di luar sana teman - teman seusia kamu belum mempunyai beban hidup yang berat.
Mereka hanya berfikir main - main dan makan. Sedangkan kamu sudah berfikir dengan sangat dewasa.
Mama harus bagaimana sayang? Apakah Mama bahagia karena kamu tumbuh menjadi anak yang seperti ini, atau Mama harus menangis telah membuat kamu jadi seperti ini? Tanpa terasa airmata Tiara mengalir.
"Mama menangis? Kenapa Ma? Mama sedih?" tanya Tegar.
"Nggak sayang, Mama sedang bahagia. Mama bangga mempunyai kamu. Anak Mama yang baik budi dan pintar. Terimakasih sayang kamu sudah tumbuh menjadi anak yang sehat dan pintar" ujar Tiara.
Tegar mempererat pelukannya kepada Tiara.
"Mulai besok kamu kumpulin mainan kamu ya, besok kita akan mulai packing - packing. Mama akan susun barang - barang kita, Mama juga akan urus surat pindah sekolah kamu" sambung Tiara.
"Iya Ma, aku sayang Mama" jawab Tiara.
__ADS_1
"Mama lebih sayang kamu sayaaang" balas Tiara.
Tiga puluh menit kemudian Tegar sudah tidur. Tiara turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Tiara mengetuk pintu kamar Tari.
Tok... Tok...
"Tar.. " Panggil Tiara.
"Masuk Ra" jawab Tari dari dalam.
Tiara masuk ke dalam kamar Tari dan duduk di pinggir tempat tidur Tari. Sedangkan Tari yang tadi sedang tiduran kini ikut duduk di samping Tiara.
"Ada apa Ra, sepertinya ada hal yang penting yang ingin kamu sampaikan?" tanya Tari.
"Iya Tar, ada sesuatu yang ingin aku katakan pada kamu dan Ridho. Tapi Ridho besok saja. Aku bicarakan sama kamu saja dulu" Ucap Tiara.
"Apa itu? Sepertinya penting?" tanya Tari penasaran.
"Iya Tar. Aku dapat tawaran dari Mbak Dian. Temannya akan membuka Cafe di Bandung dan saat ini sedang mencari orang yang bisa dipercayai untuk mengelola Cafe di sana. Jadi Mbak Dian memberiku penawaran untuk memegang Cafe di Bandung. Aku diberikan fasilitas rumah dan jaminan kesehatan untukku dan Tegar" ungkap Tiara.
"Trus kamu menerimanya?" tanya Tari.
"Iya Tar, itu kesempatan yang sangat langka. Sayang kan kalau aku tolak" jawab Tiara.
"Tapi di sana kamu hanya tinggal berdua dengan Tegar Ra. Kalau kamu bekerja di Cafe Tegar siapa yang jaga? Kalau di sini kan ada aku dan Ridho. Kita bisa gantian" ucap Tari.
"Tar, sudah saatnya aku menjalani hidupku bersama Tegar. Hanya berdua, tidak memberatkan kalian lagi. Lagian sebentar lagi kamu dan Ridho kan akan menikah. Kami juga akan tinggal berdua. Kenapa tidak kami coba saja lebih awal" ucap Tiara.
"Baiklah Ra, tapi janji ya kamu harus meluangkan waktu kamu dan sering - sering main ke Jakarta. Atau kamu tidak boleh menolak kedatanganku dan Ridho di Bandung. Kalau kami kangen kalian kami pasti akan terbang ke sana" ujar Tari.
"Iya Tari, aku janji" jawab Tiara.
"Kapanpun kalian mau datang pintu rumahku akan terbuka lebar untuk kalian" sambungnya lagi.
"Dan awas kalau di hari pernikahanku kamu tidak datang. Aku tidak mau berteman dengan kamu lagi" ancam Tari.
"Hahaha... mana mungkin aku tidak datang ke pernikahan kalian. Kalian berdua adalah sahabat terbaikku dan sudah seperti saudara" balas Tiara
Tari dan Tiara saling berpelukan.
"Kamu jangan kasih tau Ridho dulu ya, biar aku sendiri yang akan sampaikan ke dia" pinta Tiara.
"Beres. Aku tidak akan cemburu Ra. Nama kamu selalu ada di hati Ridho, kamu memiliki tempat khusus di hatinya" ucap Tari.
"Ya ampun Tari apa sih. Yang penting kan kamu yang akan menjadi istrinya berarti kamu lah pemenang hati Ridho" elak Tiara.
"Iya setelah dia mendapatkan penolakan dari kamu berulang kali" balas Tari.
"Intinya bukan itu Tar, kamu lah jodohnya. Cinta tak bisa dipaksakan kalau jodoh berkata lain. Ingat itu" tegas Tiara.
__ADS_1
"Iya Ra, semoga aku berjodoh dengan Ridho sampai di akhirat kelak ya" doa Tari.
"Aamiin" sambut Tiara.
Mereka saling pandang dan tersenyum.
"Sudah ya, aku sudah lega sekarang. Tinggal Ridho, besok aku akan pamit sama dia. Aku balik ke kamar dulu ya, mau istirahat" ucap Tiara pamit.
"Iya Ra, good night" balas Tari.
Tiara kembali ke kamarnya dan ikut berbaring di samping putranya yang sudah terlelap dalam mimpi indah.
Keesokan harinya seperti biasa Ridho sarapan pagi di rumah Tari dan Tiara kemudian Ridho akan mengantar Tari ke kantor dan Tegar ke sekolahnya.
Pagi ini Ridho sudah sampai di rumah kontrakan Tari dan Tiara. Pagi ini Tari yang memasak sarapan pagi. sehingga Tiara mempunyai waktu untuk berbincang sebentar dengan Ridho.
"Dho aku mau pamit sama kamu" ucap Tiara memulai pembicaraan.
"Pamit gimana Ra? Kamu mau kemana?" tanya Ridho.
Tiara menceritakan hal yang sama seperti yang tadi malam dia katakan kepada Tari.
"Ra apa gak ada cara lain gitu, misalnya kamu saja yang kelola Cafe di Jakarta ini. Kan gak harus pindah ke Bandung Ra" protes Ridho.
"Enak aja kamu Dho, maksud kamu aku yang di Jakarta trus Mbak Dian yang di Bandung gitu? Itu namanya gak tau diri Dho. Udah syukur aku dapat tawaran bagus seperti itu" jawab Tiara.
"Tapi kalian akan pergi Ra dan hanya tinggal berdua di sana. Bagaimana Tegar sekolah, siapa yang jaga dia kalau kamu bekerja?" tanya Ridho khawatir.
"Semua akan bisa kami atasi Dho. Aku akan mencari sekolah yang dekat dengan Cafe. Nanti sepulang sekolah Tegar langsung ke Cafe. Sebelah Cafe tutup baru kami pulang" jawab Tiara.
"Kasihan Tegar Ra kalau harus pulang malam terus. Cafe kan tutupnya malam Ra" balas Ridho.
"Aku yakin semua ada jalan keluarnya dan kami pasti bisa menjalaninya. Sudah saatnya kami mandiri dan tidak tergantung pada kamu dan Tari. Tolong Dho dukung keputusanku ini agar aku lega dan tenang berangkat ke Bandung" Tiara meminta dengan memelas.
Ridho menarik nafas panjang.
"Baiklah Ra, aku akan mendukung keputusan kamu. Hari minggu kami antar ya kalian ke Bandung. Sekalian aku mau tau dimana kalian tinggal" ucap Ridho.
"Iya Dho... Terimakasih ya" balas Tiara.
.
.
BERSAMBUNG
Pagi Guys... jangan lupa semangat paginya ya..
Like, koment, vote dan hadiahnya...
__ADS_1
Terimakasih 😍😍