
"Dan satu lagi jauhkan anak kamu dari putra saya. Saya tidak suka anak kamu memanggil Ridho Papa. Dia bukan anak Ridho. Setelah menikah Ridho akan mempunyai anak sendiri bersama istrinya. Jadi jangan mimpi anak kamu mempunyai Papa seperti anak saya. Dengar itu!!" sambung Ibu Ridho lagi.
Setelah mengeluarkan kata - kata yang sangat menyakitkan Ibu Ridho berlalu dari hadapan Tiara.
Tiara tidak sanggup lagi menahan perasaan sakit hatinya karena ucapan Ibunya Ridho barusan. Dia segera keluar dari acara pesta dan dia sudah tidak perduli lagi dengan semuanya.
Tiara berjalan tanpa arah keluar dari lokasi pesta dan berjalan menuju taman yang tak jauh dari situ. Air matanya tak terbendung lagi dan mengalir deras. Dia tidak memperhatikan langkahnya lagi. Yang penting dia harus segera meninggalkan tempat itu secepatnya agar tidak bertemu Ibunya Ridho lagi.
Bruk....
Tak sengaja Tiara menabrak seseorang yang ada di hadapannya.
"Ma.. maaaf" ucap Tiara sambil terisak.
"Tiaraaaa... " ucap seseorang.
Tiara menghapus air matanya dan melihat siapa orang yang baru saja memanggilnya. Mengapa ada orang yang mengenalnya di sini.
Alangkah terkejutnya Tiara ketika melihat sosok pria yang dia tabrak.
"Maaaa.. maaas Bintang" ucap Tiara terkejut.
"Kamu sedang menangis? Kenapa?" tanya Bintang penasaran.
"Ha... aa.. aku tidak apa - apa Mas" jawab Tiara.
Tanpa dia sadari Bintang sudah menarik lengannya dan membawa Tiara ke taman hotel. Sekarang mereka sudah duduk di kursi taman tepat di tempat duduk yang sama dengan tempat Bintang dan Tegar bertemu kemarin.
"Kamu ngapain ada di sini? Bukannya kamu ada di Bandung?" tanya Bintang bingung.
"Aku sedang cuti Mas dan menghadiri pesta pernikahan sahabatku" jawab Tiara setelah bisa menghentikan air matanya.
"Sahabat kamu pengantin pria atau pengantin wanitanya? " tanya Bintang penasaran.
"Dua - duanya Mas" jawab Tiara.
"Kamu lagi patah hati? Terlibat cinta segitiga atau cinta terpendam?" tanya Bintang.
Sebenarnya Bintang bukanlah tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain tapi ketika melihat Tiara yang sedang menangis di tengah keramaian orang di Hotel ini sangat mengusik hatinya.
__ADS_1
Entah mengapa dia merasa tertarik untuk mengetahui hal yang dialami Tiara.
Tiara menggelengkan kepalanya.
"Mas sudah dengar kan dari Mbak Dian tentang kisah hidupku. Semua menganggap aku wanita hina dan merendahkanku" ungkap Tiara.
Entah mengapa semua keluar begitu saja tanpa bisa Tiara cegah, saat ini dia hanya butuh pelepasan agar semua tidak terlalu sakit jika di pendam sendiri.
Padahal laki-laki yang sedang bersamanya saat ini lah penyebab semuanya hanya saja Tiara tidak bisa menyalahkannya.
Tiara tersadar bahwa dia tidak boleh terlalu banyak bicara saat ini. Bisa - bisa dia membongkar semua rahasia yang selama lima tahun ini sekuat tenaga dia tutupi.
"Siapa yang menganggap kamu wanita hina dan rendah? Aku tidak menganggap kamu seperti itu. Kamu itu wanita yang kuat Ra. Kamu wanita hebat" ucap Bintang memberi semangat.
Dia melihat Tiara sangat rapuh saat ini dan sangat membutuhkan sandaran. Mungkin dia sedang lelah hati dan fikiran saat ini.
Bintang tidak tau apa yang terjadi di pesta tadi tapi yang Bintang duga pasti tadi Tiara baru mendapatkan perlakuan yang tidak baik. Mungkin ada seseorang yang mengejek dan menghinanya.
Tiara hanya diam mendengar ucapan Bintang. Apakah ini salah, dia berada di taman ini bersama pria yang menjungkir balikkan hidupnya dalam satu malam.
"Abaikan saja ucapan orang yang menghina kamu Ra. Tidak usah di dengar, semua akan membuat kamu menjadi lemah. Toh kamu juga bukan hidup dari belas kasihnya kan. Kamu kan berjuang sendiri tanpa bantuannya. Manusia seperti itu tak pantas untuk ditanggapi. Mereka semua hanya bisa menyalahkan saja tanpa mau mendengarkan penjelasan dari kita. Tapi gak perlu juga di jelaskan untuk apa toh dia juga akan tetap pada pendiriannya" hibur Bintang.
Tiara menarik nafasnya panjang.
"Mas ngapain di sini?" tanya Tiara.
"Saya lagi ada urusan dengan client saya di kota ini" jawab Bintang.
"Kapan balik ke Bandung?" Bintang balik bertanya.
"Besok Mas. Aku dapat izin cuti tiga hari sama Mas Roy" jawab Tiara.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita keluar berkeliling kota Jogja?" ajak Bintang.
Tiara menatap wajah Bintang dan berfikir menimbang ajakan Bintang.
Mengapa mereka jadi bisa sedekat ini padahal kan sebelumnya mereka tidak pernah bertemu atau bercerita lebih lama. Malah biasanya Bintang itu cuma sedikit berbicara karena dia yang paling pendiam diantara teman - temannya.
Tiara teringat Tegar yang sendirian tidur di kamar mereka.
__ADS_1
"Maaf Mas satu jam lagi aku ada janji dengan temanku" tolak Tiara, biasanya Tegar satu sampai dua jam waktu tidur siangnya apalagi kalau kelelahan seperti ini pasti dia lebih lama tidurnya tapi Tiara tidak mau jalan bersama Bintang.
Menurut Tiara, semakin lama dia bersama Bintang nanti Bintang akan sadar atau ingat tentang dirinya. Dan itu sangat berbahaya.
Selama ini Tiara sangat bersyukur Bintang lupa pada dirinya. Mungkin karena dia sekarang memakai jilbab dan tubuhnya juga sedikit lebih berisi. Apalagi pipi Tiara sudah tidak terlalu tirus seperti dulu. Pasti Bintang tidak ingat siapa dirinya.
"Sebentar aja Ra, kita hanya keliling Kota Jogja. Sekalian supaya kamu terhibur. Ngapain juga kamu kembali ke pesta kalau keadaan di dalam tidak membuat kamu nyaman" bujuk Bintang.
Rasanya Bintang ingin sekali menghibur Tiara agar kembali ceria. Entah mengapa wajah sendu Tiara membuat dia ingin lebih lama berada di dekat Tiara. Ada rasa kasihan dan empati pada hidup Tiara.
Di samping itu Bintang juga merasa bersalah pada wanita yang telah dia nodai lima tahun lalu. Mungkin wanita itu juga akan mengalami hal yang sama seperti Tiara atau mungkin malah lebih parah dari Tiara.
Hah... semoga aku dikasih kesempatan untuk menebus kesalahanku pada wanita itu. Batin Bintang.
Akhirnya setelah menimbang dan memikirkannya, Tiara merasa tidak enak hati menolah ajakan Bintang.
"Baiklah Mas, tapi aku tidak bisa lama - lama perginya" jawab Tiara.
"Nggak lama kok. Yuk kita jalan" ajak Bintang.
Mereka berjalan menuju loby dan Bintang mengambil mobilnya kemudian mereka keluar dari area Hotel dan berjalan keliling kota Jogja.
Untung hari ini tidak terlalu panas. Bintang mengajak Tiara duduk di alun - alun kota. Mereka bisa menikmati suasana menjelang sore di kota Jogja.
Mungkin karena ini hari sabtu alun - alun lebih ramai oleh para remaja yang datang berpasangan.
"Kamu ke sini sama siapa Ra?" tanya Bintang.
"Ha... ehm.. se.. sendiri Mas" jawab Tiara gugup. Hal inilah sebenarnya yang ingin Tiara hindari. Bintang akan banyak bertanya apalagi sampai bertanya masalah pribadi.
"Dulu kan waktu aku ketemu kamu pertama kali di Cafe kamu sedang hamil Ra. Anak kamu sehat? Dimana sekarang anak kamu?" tanya Bintang.
Deg......
Jantung Tiara seperti berhenti berdetak.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG