Tiara

Tiara
Memeluk Bapak


__ADS_3

"Kamu sudah menikah lagi Jay?" selidik Pak Bambang.


"Tidak, aku tidak menikah lagi Sa" jawab Wijaya.


"Mengapa kamu tidak menikah lagi dan memilih hidup sendiri. Sedangkan kamu serba berkecukupan. Sebentar saja kamu bisa menemukan wanita yang kamu inginkan" balas Pak Bambang.


"Cintaku kepada Siti tidak ada yang bisa menggantikannya bahkan sampai kemarin aku masih tetap mencari mereka dan berharap masih menemukan mereka tapi memang pencarian ku sudah tak segencar dulu" jawab Wijaya sambil menatap ke depan ke arah kebun teh.


"Seiring bertambahnya usia, aku semakin pasrah dalam mencari mereka. Aku tetap berusaha untuk menemukan mereka tapi semuanya aku serahkan kepada Allah. Kalau Allah memang berkata 'YA' pasti aku akan menemukan mereka. Dan ternyata mereka sendiri yang datang ke sapaku Jay tanpa harus aku cari. Tanpa sengaja aku bertemu putriku, menolongnya dan kemudian hal itu mengantarkan aku untuk bisa bertemu dengan Siti. Siti cinta pertama dan terakhir di hatiku " tegas Wijaya.


"Kalau begitu ingat perkataanku tadi. Perjuangkan kembali dia Jay, kesempatan kamu masih ada. Bahagialah.. di ujung usia kita ini. Sudah cukup banyak masalah dalam hidup kita semua hanya berujung pada satu kata bahagia. Sungguh banyak jalan yang di lalui manusia, beribu jalan yang dia ambil untuk menuju kebahagiaannya sendiri. Bukan harta, bukan tahta, bukan jabatan tapi keluarga.. Tempat kita kembali dan merasakan kebahagiaan" ucap Pak Bambang.


"Dalam sujud kadang aku sering bertanya pada Allah Jay, apakah dosaku yang meninggalkan keluargaku tidak bisa termaafkan sehingga aku dihukum seberat ini. Tak bisa menemukan anak dan istriku. Aku meminta sekali saja ya Allah pertemukan aku dengan mereka walau mungkin itu adalah hari terakhirku hidup. Kini aku ingat dia itu, apakah aku tidak rakus sebagai manusia mengharapkan lebih. Allah sudah mempertemukan aku dengan mereka, salahkan aku jika ingin lebih lagi Sa" Kali ini Wijaya tak bisa membendung air matanya.


Tiara tak sanggup lagi mendengar ucapan Bapaknya dari luar. Dia langsung menerobos masuk ke dalam ruang kerja Wijaya tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Tiara memeluk erat Bapaknya.


"Bapak tidak rakus.. Bapak bukan manusia jahat. Bapak pantas bahagia.. karena bukan hanya Bapak saja yang berdoa dan meminta. Aku juga sama, aku sering berdoa dan meminta kepada Allah untuk bertemu dengan Bapak lagi. Allah sayang pada kita Pak, Allah mempertemukan kita dalam sebuah kesempatan yang indah. Bapak masih punya beribu kesempatan untuk bertemu kami lagi. Bukan hanya sekali, setiap hari pun Bapak bisa menemui kami. Bapak... Bapak juga masih bisa meraih kebahagiaan Bapak. Kejar Ibu kembali Pak, Ibu bertahan selama ini dari Pak Tarjo karena Ibu tidak mau meninggalkananya. Ibu tau bagaimana sakitnya ditinggalkan Bapak, ditinggalkan orang tuanya dan hidup sendiri. Makanya Ibu bertahan walau dia berulang kali di sakiti. Tolong Pak kembalilah kepada Ibu, bahagiakan dia dan aku yakin Bapak juga akan bahagia. Kalian pantas bahagia Pak hiks.. hiks.. " Tiara berucap sambil terisak.


Dia tak kuat menahan perasaannya ketika mendengar Bapaknya berkata dengan suara yang sangat menyentuh. Pasti Bapaknya sangat menderita saat ini. Menderita menahan rindu yang dia pendam selama bertahun - tahun.


Seorang anak pasti ingin melihat kedua orang tuanya bersatu dan berbahagia. Seperti itu juga yang Tiara inginkan. Dia tau Ibunya tak pernah bahagia bersama Bapak Tirinya. Dia tau Ibunya terluka karena kepergian Bapak kandungnya, dia tau... dia tau.. kalau dua orang ini, Bapak dan Ibunya masih saling mencintai dari tatapan mereka kemarin saat mereka saling bertemu.


"Ibu pernah berkata bahwa Bapak adalah cinta pertama Ibu. Aku rasa setiap manusia akan sulit melupakan cinta pertamanya. Apalagi urusan kalian belum selesai, kalian berpisah bukan karena sebuah kesengajaan, bukan karena sebuah perselingkuhan dan bukan karena saling membenci. Semua karena kesalahpahaman.. Kisah kalian masih menggantung Pak. Aku yakin Ibu masih mencintai Bapak. Tolong Pak bahagiakan Ibu Pak.. " pinta Tiara.

__ADS_1


"Anakku... kamu mendengar semua pembicaraan Bapak dengan mertua kamu?" tanya Wijaya.


Tiara menganggukkan kepalanya.


"Maaf, aku dan Mas Bintang tadi ingin berbincang-bincang dengan kalian, saat kami ingin masuk tanpa sengaja kami mendengarkan pembicaraan kalian. Aku... aku sedih melihat Bapak dan Ibu berpisah seperti ini. Kalau memang masih ada kesempatan kalian untuk bersatu tolong Paaak bahagiakan Ibu" Ucap Tiara.


Wijaya menepuk bahu putrinya sambil memeluknya untuk menenangkan putrinya.


"Sudah.. sudah.. kamu tenang dulu. Jangan nangis lagi ya" bujuk Wijaya.


Tiara menghapus air matanya.


"Bapak tidak bisa kembali bersama Ibu kamu kalau Ibu kamu belum bercerai dengan Bapak Tiri kamu. Dan Bapak tidak mau memaksakan kehendak padanya. Bapak tidak ingin membujuknya bercerai dengan Bapak Tiri kamu. Bagitu juga Balak harap dengan kamu. Biarlah Ibu kamu yang memutuskannya sendiri. Kita kan tidak tau nak perasaan Ibu kamu. Bisa saja Ibu kamu masih mempertahankan rumah tangganya karena adik - adik kamu. Tidak ada yang tau isi hati Ibu kamu. Bapak hanya berserah pada Allah. Jika memang Bapak masih berjodoh dengan Ibu kamu pasti kelak kami akan bersama. Pasti ada jalannya" Ucap Wijaya.


"Ya sudah.. yuk kita makan dulu. Bapak rasa makan siang kita sudah siap" ajak Wijaya.


Mereka keluar dari ruang kerja Wijaya dan berkumpul di ruang makan. Wijaya duduk di tengah - tengah meja makan di samping kanannya sedangkan di samping kirinya duduk Pak Bambang.


"Ayo silahkan makan" ajak Wijaya.


Mereka memulai makan siang bersama sambil berbincang - bincang ringan.


Siang ini Wijaya sangat senang sekali karena kedatangan Tiara berserta suami dan anaknya juga mertuanya.


Hati Wijaya terasa sangat plong karena sudah mengeluarkan semua isi hatinya tadi pada Bambang dan akhirnya dia memdengarkan isi hati Tiara yang memberikan dukungan kepadanya untuk kembali bersama Siti istrinya dulu.

__ADS_1


Wijaya tidak pernah menganggap Siti sebagai mantan. Karena dia tidak pernah menceraikan Siti. Di hatinya Siti tetap masih menjadi istrinya tapi bedanya kini Siti tidak bisa lagi hidup bersamanya.


Sore harinya Tiara dan keluarganya berpamitan dengan Wijaya untuk kembali ke Jakarta.


"Pak kami pergi dulu ya. Jangan lupa minggu depan Bapak datang ke Jakarta ya" pinta Tiara.


"Iya Nak, InsyaAllah Bapak akan datang" jawab Wijaya.


"Kami tunggu di Jakarta ya Jay" sambut Pak Bambang.


"Dah Opa. Kalau nanti datang ke rumahku jangan lupa bawa teh yang baaaaanyak yaaaa" ucap Tegar.


"Hahaha.... Iya Sayang nanti Opa bawain teh terbaik untuk kamu" jawab Wijaya sambil mengelus lembut kepala cucunya.


Bintang dan keluarganya masuk ke dalam mobil kemudian melanjutkan perjalanan mereka ke Jakarta. Wijaya menatap kepergian mereka sampai jauh.


Kini hidupnya telah berubah, rasanya sekarang jadi lebih berarti. Semangat hidupnya kini tumbuh kembali, karena ada Tiara dan juga Siti yang sebenarnya sangat ingin dia perjuangkan kembali.


Akankah semua bisa kembali?


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2