
Bu Siti segera menghubungi Bintang dan Tiara setelah kepergian Bagas, Dewi dan Ali dari Cafe.
"Assalam'alaikum nak" ucap Bu Siti memulai teleponnya.
"Wa'alaikumsalam Bu" jawab Tiara.
"Bintang sudah pulang?" tanya Siti.
"Sudah baru saja, Ibu mau bicara sama Mas Bintang?" tanya Tiara.
"Ibu mau bicara sama kalian berdua. Ibu sekarang juga sedang bersama Bapak. Ada yang ingin kami bicarakan pada kalian" ujar Siti.
"Mengenai apa Bu. Sebentar ya aku panggil Mas Bintang dulu. Maaas... Bapak dan Ibu telepon nih" ucap Tiara.
Tiara mengaktifkan tanda loudspeaker di ponselnya agar mereka berdua bisa mendengar ucapan Bu Siti. Begitu juga dengan Bu Siti dan Pak Wijaya di ruang kerja Bu Siti di Cafe Kenangan.
"Iya Pak, Bu.. kami sudah siap mendengarkan. Ada apa ya Bu?" ucap Bintang.
"Bagini Bin" Pak Wijaya ambil alih.
"Bapak dan Ibu saat ini sedang berada di Cage. Barusan Bagas, Dewi dan Ali pulang dari sini" ucap Pak Wijaya.
"Bagas ada di Bandung, ngapain? Ini kan hari kerja bukan weekend?" tanya Bintang bingung.
"Itulah yang ingin kami sampaikan pada kalian saat ini" Jawab Pak Wijaya.
__ADS_1
"Dua hari yang lalu Dewi bertemu dengan Morgan di Mall. Gak tau apakah itu memang sudah direncanakan Morgan sebelumnya atau hanya kebetulan saja tak sengaja bertemu. Yang jelas dia mulai mengganggu Dewi. Nah kemarin dia menemui Dewi di kampus, memaksa Dewi untuk makan bersamanya sehingga Dewi tidak bisa menolaknya. Dia mengirimkan foto Dewi kepada Bagas dengan memberi pesan bahwa Dewi adalah calon istrinya" ungkap Pak Wijaya.
"Gila tuh si Morgan" sambut Bintang.
"Nah oleh sebab itulah makanya Bagas langsung tancap gas ke Bandung dan mengambil cuti sampai akhir minggu di Bandung untuk menjaga Dewi selama Dewi ujian. Jadi tadi pagi Bagas dan Ali yang ketepatan lagi libur sekolah menemani Dewi ke kampus. Sekalian berjaga - jaga dari Morgan. Tapi seperti yang diduga sebelumnya Morgan memang mengancam dengan serius. Dia datang lagi ke kampus Dewi dan bertemu dengan Bagas. Dia mengancam secara terang - terangan untuk merebut Dewi dan merusak pernikahan Bagas dengan Dewi yang akan dilaksanakan tak sampai sebulan lagi. Ancaman Morgan itu membuat Dewi sangat shock karena dia kembali teringat saat dia di culik dulu. Wajahnya tadi masih sangat pucat. Bahkan kata Ali dan Bagas saat di kampus tadi tubuh Dewi sampai bergetar dan dia menangis karena takut" sambung Pak Wijaya.
"Jadi gimana pertemuan Bagas dan Morgan Pak? Apakah mereka sempat berkelahi?" tanya Bintang penasaran.
"Hampir saja mereka berkelahi. Kalau saja Dewi tidak melarangnya mungkin itu sudah terjadi. Akhirnya Morgan pergi setelah memberikan ancamannya lagi" jawab Pak Wijaya.
"Jadi tadi Bagas sempat ngobrol dengan Bapak dan Ibu untuk mencari jalan keluar dari permasalahan ini. Sampai Bagas mempunyai usul dan permintaan kepada Bapak dan Ibu. Bagaimana kalau pernikahan mereka di percepat saja akhir pekan ini. Mereka melaksankan ijab kabul saja dulu resepsi dan yang lainnya akan tetap dilaksanakan tiga minggu setelahnya" ungkap Pak Wijaya.
Bintang dan Tiara saling pandang mendengar penjelasan panjang Pak Wijaya.
"Bapak meminta waktu kepada Bagas untuk mendiskusikan hal ini kepada kalian. Bagaimana menurut kalian dengan permintaan Bagas tersebut? Apakah situasi saat ini memang sangat mengancam? Kamu kan mengenal Morgan juga dengan baik karena dia juga teman kamu. Bagaimana pendapat kamu Bin?" tanya Pak Wijaya kepada menantunya.
"Sejauh ini persaingan antara Morgan dan Bagas itu nyata Pak. Itu terjadi sejak kami kuliah. Mereka sering sekali rebutan pacar lebih tepatnya Morgan selalu mengganggu pacar - pacar Bagas. Tapi selama ini Bagas tidak pernah mempermasalahkannya karena yah kita sama - sama tau.. selama ini Bagas memang tidak pernah serius terhadap wanita. Sehingga dia tidak keberatan kalau pacarnya di gaet Morgan. Itu yang membuat Morgan terbiasa mengganggu dan ingin memiliki apa yang Bagas miliki. Aku juga tidak mengerti apa yang ada dalam benak Morgan mengapa dia sangat ingin bersaing dengan Bagas. Dalam hal apapun. Dalam dunia bisnis mereka juga sering bersaing tapi memang selalu dimenangkan oleh Bagas" jawab Bintang.
"Itu mungkin yang membuat Morgan penasaran kepada Bagas dan terobsesi ingin mengalahkan Bagas" sambut Pak Wijaya.
"Bisa jadi Pak. Nah kalau Bagas sudah meminta izin kepada Bapak untuk mempercepat pernikahannya dengan Dewi aku rasa dia memang sangat takut kehilanhan Dewi. Karena selama ini memang dia selalu santai. Mungkin karena yang sebelum - sebelumnya mereka tidak berarti di hati Bagas " sambung Bintang.
"Jadi Bin bagaimana pendapat kamu. Apakah kita harus menyetujui permintaan Bagas ini?" tanya Pak Wijaya.
Bintang melirik kepada Tiara dan istrinya itu membalasnya. Kemudian Bintang memberikan pendapatnya kepada Pak Wijaya.
__ADS_1
Mereka juga bercerita tentang baik dan buruknya kalau seandainya pernikahan Bagas dan Dewi ini dipercepat. Hingga akhirnya mereka mendapatkan kata mufakat.
Telepon mereka terputus setelah mereka panjang lebar berdiskusi mengenai pernikahan Bagas dan Dewi.
Pak Wijaya dan Bu Siti berniat akan menjawab permintaan Bagas nanti malam saat mereka makan malam bersama di rumah. Karena mereka berencana akan melaksanakan makan malam bersama Pak Wijaya dan Bu Siti mempercepat waktu kepulangan mereka ke rumah.
Sore hari sekitar jam setengah lima sore mereka sudah berada di jalan pulang menuju rumah Pak Wijaya. dan sebelum maghrib mereka sudah sampai di rumah.
Pak Wijaya beserta istri dan anak - anaknya melaksankan shalat maghrib berjama'ah di rumah. Setelah itu Siti dan Dewi mempersiapkan hidangan makan malam untuk mereka bersama.
Setelah makanan telah siap dihidangkan barulah mereka memanggil para lelaki untuk duduk di meja makan. Mereka mulai menyantap hidangan makan malam sambil berbincang - bincang.
"Gas.. Setelah kalian pulang dari Cafe tadi, Bapak dan Ibu sudah berdiskusi dengan Bintang dan Tiara mengenai permintaan kamu untuk mempercepat pernikahan kamu dengan Dewi. Bapak sudah bertanya kepada Bintang bagaimana sifat Morgan? Bintang juga sudah bercerita bagaimana selama ini persaingan kamu dengan Morgan. Kami sudah membicarakan dampak baik dan buruknya permintaan kamu untuk mempercepat pernikahan kamu dengan Dewi. Hingga setelah menimbang, memikirkan dan akhirnya memutuskan. Bapak, Ibu, Bintang dan Tiara sepakat untuk menyetujui permintaan kamu tadi. Kamu bisa hubungi Papa dan Mama kamu dan ajak mereka datang ke sini. Akhir pekan nanti kita akan melaksanakan ikad nikah kamu. Sementara kalian ijab kabul saja dulu untuk menghindari hal - hal yang memang kita khawatirkan akan terjadi" ungkap Pak Wijaya.
Sontak Dewi dan Bagas terkejut mendengar jawaban Pak Wijaya.
"Benarkah Pak?" tanya Bagas masih tak percaya.
Pak Wijaya tersenyum kepada Bagas.
"Ya benar. Kalian bisa menikah akhir pekan ini" ulang Pak Wijaya.
"Alhamdulillah..... " sambut Bagas lega.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG