
Bagas dan Roy juga berpamitan kepada keluarga Bintang. Mereka balik ke Jakarta malam ini.
Saat berdekatan dengan Dewi sempat - sempatnya Roy menggoda Bagas.
"Wi kamu harus tetap jaga semangat kamu ya untuk menghadapi pelakor. Mungkin nanti akan dibutuhkan untuk mengusir para mantannya si Bagas" sindir Roy.
Dewi menatap Roy dengan tatapan bingung.
"Lho kok aku Mas?" tanya Dewi bingung.
"Iya, soalnya kamu galak. Bagas sangat membutuhkan kegalakan kamu" sambung Roy.
"Kalau mau cari yang galak sewa aja bodyguard atau anjing pelacak. Masak Aku? " jawab Dewi.
"Hahaha.. nanti kamu akan tau Wi bila tiba waktunya. Pesan Mas tetap jaga semangat kamu untuk mengusir pelakor. Semangat itu nanti pasti sangat dibutuhkan dalam hidup kamu" ulang Roy.
"Okey akan tetap selalu aku jaga" balas Dewi dengan lantang.
Bagas menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sedangkan Roy tertawa melihat wajah Bagas yang serba salah..
Kurang ajar nih si Roy. Kalau sampai terbongkar bisa - bisa izin Bintang dua tahun lagi di tarik untuk menikahi Dewi. Bagas mendelikkan matanya ke arah Roy.
Roy semakin tertawa melihat tingkah Bagas yang semakin serba salah.
"Hahahaha.... " tawa Roy.
"Puas kamu" bisik Bagas sambil menarik paksa lengan Roy.
"Dew.. kami pulang ya" ucap Bagas sambil tersenyum lembut memandang pujaan hatinya.
Sebenarnya dia kangen banget sama Dewi tapi situasinya tidak memungkinkan untuk dia mendekati Dewi. Bintang benar - benar butuh dukungan dan bantuan.
Mau lebih lama di sini tapi dia harus segera berangkat ke Singapura besok karena ada urusan kantornya yang harus segera dia selesaikan.
Kini rumah Siti kembali sepi. Pak Bambang dan Bu Bambang tidur di kamar Tiara sedangkan Tiara dan Bintang tidur di kamar Siti. Siti naik ke lantai dua dan tidur bersama Dewi. Ali seperti biasa tidur bareng Tegar.
__ADS_1
Karena sudah larut malam ditambah lagi Siti dan Sekar adalah sahabatan membuat hubungan mereka bertambah erat. Benar - benar sudah menjadi keluarga dekat.
Kini mereka mengetahui fakta baru bahwa Bapak Tiara adalah Herman Wijaya, temannya Pak Bambang waktu kuliah. Semakin mempererat hubungan dua keluarga ini.
Tiara dan Bintang kini sedang berbaring sambil berpelukan. Melepaskan kerinduan dan ketegangan tiga hari ini karena hilangnya Tiara dan Tegar.
"Ternyata dunia ini sempit ya yank... Mama aku dan Ibu kamu bersahabat, teman sekampung. Sedangkan Papaku dan Bapak kamu juga berteman. Kita yang menjadi penghubung mereka untuk bertemu lagi setelah bertahun - tahun tidak bertemu" ucap Bintang sambil mempererat pelukannya di perut Tiara.
"Iya.. aku masih tak percaya Mas. Aku masih punya Bapak. Dua puluh empat tahun aku merasa hidup tanpa Bapak. Bapak dulu pergi disaat aku berumur tiga tahun dan aku tidak ingat sedikitpun wajah bapak. Bahkan aku tidak punya kenangan masa kecil bersama Bapak. Tiba - tiba Bapak hadir kembali dihadapanku" Tiara meneteskan air matanya.
Bintang mencium tengkuk Tiara penuh kasih sayang.
"Saat Bapak menyelamatkan aku dan Tegar dengan penuh kasih dia mengurus dan merawat kami seperti keluarganya sendiri. Bahkan saat aku meminta untuk sementara menyembunyikan kami Bapak bersedia tanpa banyak bertanya. Setelah aku benar - benar sehat baru dia menanyakan masalah apa yang aku hadapi sampai aku nekat mengemudikan mobil dari Jakarta ke Bandung dengan kondisi aku yang lagi hamil. Bapak menasehati aku seperti anaknya sendiri dan entah mengapa nasehatnya langsung masuk menembus relung hatiku yang paling dalam" ungkap Tiara.
"Mungkin Bapak sudah punya kontak batin dengan kamu. Kamu tau kan, ikatan darah itu lebih kental dari pada air. Hati tidak akan berbohong sayang.. Seperti yang Bapak katakan tadi saat melihat kamu dia merasakan kasih sayang seperti kepada keluarganya sendiri" sambut Bintang.
Tiara menggenggam tangan suaminya dan menariknya ke dekat mulutnya dan mencium tangan suaminya.
Tiara memutar tubuhnya menghadap ke arah Bintang. Kini mereka saling tatap dengan penuh cinta.
"Tapi kamu sudah berhasil sayang. Kamu benar - benar membuat aku terkejut karena kehilangan kamu dan anak kita di hari ulang tahunku" potong Bintang.
"Sekali lagi selamat ulang tahun sayaaang... semoga kamu mendapat umur dan rezeki yang berkah. Tetap menjadi suami yang setia untukku, menjadi papa yang bertanggung jawab untuk anak - anak kita kelak dan membuat kami bahagia" doa Tiara.
Tiara memegang lembut pipi Bintang dengan kedua tangannya.
"Aamiin ya Allah. Terimakasih ya sayang" jawab Bintang.
Bintang mengecup lembut bibir istrinya dan kemudian mengelus lembut perut Tiara.
Bintang duduk kemudian meletakkan kepalanya di perut Tiara.
"Gimana kabar anak Papa di dalam sana? Kamu baik - baik saja kan sayaaang. Gak nakal sama Mama selama Papa tidak bersama kalian" Bintang mencium perut Tiara lembut.
"Nggak Papa, aku baik - baik saja dan nyaman di dalam ini" jawab Tiara dengan suara yang menirukan suara anak kecil.
__ADS_1
"Hahaha.. nakal kamu ya.." Bintang mencubit hidung Tiara.
"Sebenarnya aku ingin menagih kado ulang tahunku pada kamu tapi nanti saja setelah kamu periksa ke dokter kandungan saja. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada kalian" sambung Bintang.
Tiara sangat mengerti maksud dari perkataan suaminya itu.
"Eh aku sudah membeli kado spesial untuk kamu Mas, tapi aku rasa tertinggal di mobil atau dikantor kali Mas" jawab Tiara.
"Apa?" tanya Bintang penasaran.
"Kalau aku kasih tau ya gak kejutan donk" jawab Tiara.
"Kejutannya udahan ya yank, aku gak kuat kalau kamu kasih kejutan lagi. Aku trauma jadinya setiap mendengar kata kejutan" ucap Bintang sedih.
Tiara memeluk suaminya.
"Aku gak akan kasih kejutan menyakitkan lagi untuk kamu. Kejutannya pasti kamu suka, aku memberinya bersama Mama. Kata Mama kamu pasti suka banget" ungkap Tiara.
"Waaaah aku jadi semakin penasaran. Apa ya kira - kira kado dari kamu" Bintang pura - pura sedang berfikir..
"Besok aku tanya Bapak deh, ada gak tinggal di rumahnya atau di mobil aku. Kalau gak ada berarti tinggal di kantor. Emang waktu di kantor kamu gak lihat ada kotak kado yang jatuh?" tanya Tiara.
"Aku gak perhatiin lagi yank, yang aku tau aku harus mengejar kalian. Begitu kalian pergi, aku kembali ke ruanganku untuk mengambil kunci mobil, dompet dan ponselku. Setelah itu aku seperti orang gila mencari kalian. Aku telepon Mama, Ibu, Dian dan Ridho. Tapi semuanya berkata kalau kami tidak ada datang ke rumah mereka. Dunia seperti mau runtuh rasanya. Seketika hari kelahiranku berubah menjadi hari kematian bagiku karena kehilangan kalian" ungkap Bintang.
"Sekali lagi maafkan aku ya Mas. Aku tidak akan berbuat itu lagi" janji Tiara.
"Iya sayang.. aku sudah memaafkan kamu sebelum kamu memintanya. Bagiku kalian adalah hidupku. I Love you sayang" Bintang mencium lembut bibir istrinya.
Malam ini mereka bisa tidur dengan nyenyak tentunya dalam dekaban orang terkasih. Janji yang diikrarkan berdua, mereka tidak akan berpisah lagi dengan cara seperti ini. Biarlah maut yang kelak akan memisahkan mereka. Aamiin.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1