
"A.. aku tidak bisa" jawab Bintang kaku.
"Kenapa kamu tidak bisa Bin?" tanya Bagas.
"Yang pertama aku belum memiliki rasa padanya, yang kedua kalian tau kan bagaimana kerasnya keluargaku. Makanya aku memilih untuk hidup mandiri tanpa bantuan orang tuaku. Aku tidak yakin kalau mereka mau menerima Tiara dan Tegar" ungkap Bintang.
"Tapi Tegar darah daging mereka Bin, pasti mereka mau menerimanya" sambut Bagas.
"Kamu lupa siapa Papaku, Bambang Prakasa Gas, seorang pria berhati batu yang suka memaksakan kehendaknya termasuk kepada anaknya sendiri" ucap Bintang.
Roy dan Bagas terdiam. Mereka sudah mengenal bagaimana keluarga Bintang. Sejak kuliah Bintang sudah keluar dari rumah orang tuanya. Dia kuliah sambil bekerja. Setelah tamat kuliah Bintang membangun usahanya dari nol hingga sampai menjadi sebesar sekarang.
Bintang berbeda dengan mereka. Kalau Roy dan Bagas hanya tinggal meneruskan usaha keluarga mereka tapi Bintang sudah merintisnya sejak mereka kuliah.
"Tapi Tiara dan Tegar butuh status Bin" ucap Dian.
"Tegar sebentar lagi masuk sekolah dasar. Dia harus punya akte kelahiran. Dia harus mempunyai surat menyurat yang lengkap?" tanya Dian.
"Itu bisa diatur Yan, di Indonesia ini semua bisa asal ada uangnya" jawab Bintang.
"Gila kamu Bro.. aku yang playboy seperti ini saja sudah ingin tobat. Kamu kok malah ingin jadi mafia" ejek Bagas.
"Berarti kamu tidak mau menikahi Tiara?" tanya Roy.
"Ya" tegas Bintang.
"Kalau begitu biarkan aku yang mendekatinya. Kalau Tiara mau menerimaku dan kami menikah, kamu tidak akan aku larang bertemu dengan Bintang. Tapi sorry bro, kalau aku sudah menikah dengan Tiara secara hukum Tegar akan menjadi anakku. Walau namanya memakai nama keluarga kamu, Prakasa" ucap Roy.
Bintang terdiam sesaat. Dia tidak bisa berfikir jernih untuk saat ini.
"Silahkan. Yang penting Tegar tau kalau akulah Papa kandungnya" jawab Bintang.
"Gila kamu Bin. Kamu pasti akan menyesal" ucap Dian.
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun untuk mereka Yan, hidupku sendiri saja sudah ribet. Biarlah aku sendiri yang berjuang menentang keluargaku. Aku tidak mau menyeret mereka berdua untuk ikut bersamaku" ungkap Bintang. Karena saat ini keluarganya masih sering mengganggu bahkan menggagalkan usaha Bintang agar Bintang mau kembali ke keluarganya untuk mengikuti perintah Papanya.
"Pilihan yang sangat sulit. Kalau aku menjadi kamu, aku juga tidak berani melawan kerasnya Papa kamu Bin" ujar Bagas.
"Makanya biarlah semua seperti ini dulu, sampai aku mendapatkan jalan keluarnya" jawab Bintang.
"Tapi kamu jangan marah padaku ya kalau akhirnya Tiara bisa aku dapatkan" sesak Roy.
"Tidak masalah Roy. Tiara wanita bebas. Aku hanya meminta waktu padanya agar bisa bertemu Tegar kapan saja" ungkap Bintang.
Dian dan Roy saling pandang. Saat ini memang Bintang terlihat sangat kacau dan kelelahan.
Wajahnya terlihat sangat kusut. Mungkin perusahaannya juga sedang ada masalah atau mungkin Papanya menggangu usahanya lagi seperti yang lalu - lalu.
"Kalau tidak ada lagi yang ingin kalian bicarakan aku mau pamit pulang. Tubuhku pegal semua. Aku butuh istirahat" ucap Bintang.
"Oke Bin, kamu hati - hati di jalan" balas Dian.
Bintang segera meninggalkan Cafe Kenanga dan pulang ke apartemen. Entah mengapa apartemen ini terasa sepi.
__ADS_1
Bintang kembali teringat tawa tiang Tegar. Belum sehari aku sudah merindukan anak itu. Secepat itukah dia sudah mencuri hatiku. Batin Bintang.
Bintang duduk di sofa apartemennya lalu melakukan panggilan video ke HP Tegar. Malam begini pasti Tegar memegang ponselnya.
Tak lama panggilannya tersambung, menampilkan wajah gembul Tegar yang lucu.
"Hai Papa.... Papa sudah sampai Jakarta?" tanya Tegar.
"Sudah sayang, Papa baru pulang dari kantor" jawab Bintang.
"Papa dimana sekarang?" tanya Tegar.
"Papa baru aja sampai di apartemen Papa" Bintang menunjukkan kepada Tegar isi apartemennya.
"Waaaah apartemen Papa bagus ya, besar lagi. Kapan - kapan ajak aku ke sana donk Pa" pinta Tegar.
"Nanti kalau kamu libur Papa ajak ke sini ya" janji Bintang.
"Oke, aku tunggu ya Pa" balas Tegar.
"Kamu dimana ini sayang?" tanya Bintang.
"Aku lagi di ruang kerja Mama di Cafe" jawab Tegar.
"Mamanya mana?" tanya Bintang lagi.
"Mama lagi kerja di luar. Cafe Mama lagi ramai. Papa kangen ya sama Mama" goda Tegar.
"Oke Pa, nanti aku bilang sama Mama" jawab Tegar.
"Papa tutup dulu teleponnya ya. Tadi pagi Papa pulang kamu masih tidur. Jumat malam Papa datang lagi, Okey... " ucap Bintang.
"Dah Papa.... " Tegar menutup ponselnya.
Tak lama Tiara masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Baru telepon siapa sayang?" tanya Tiara.
"Papa Ma. Kata Papa kita jangan terlalu malam pulangnya dan Papa bilang hati - hati di jalan" jawab Tegar.
Tiara tersenyum kepada putranya.
"Yuk kita pulang sekarang" ajak Tiara.
"Oke Ma" balas Tegar.
Tiara segera bergegas pulang bersama Tegar. Sesampainya di rumah dia langsung membantu putranya berganti baju dan beristirahat tidur.
Setelah putranya sudah tidur baru Tiara kembali ke kamarnya. Seharian ini karena sibuk di Cafe dia tidak sempat membuka ponselnya.
Setelah selesai bersih - bersih Tiara berbaring di atas ranjangnya sambil mengecek isi ponselnya.
Ada dua pesan dari nomor yang tidak dia kenal.
__ADS_1
081*********
Kak Ara, ini Dewi, aku pinjem hp teman. Ibu sudah buka rekening. Ini ya Kak nomor rekening Ibu.
BN* nomor ******* an. Siti Rodiah.
Tiara segera menyimpan nomor rekening Ibunya kemudian membuka aplikasi mobile banking.
Alangkah terkejutnya Tiara melihat jumlah uang yang tertera di rekeningnya.
"Mengapa bisa jadi sebanyak ini?" tanya Tiara sendiri.
Tiara segera mentransfer uang ke rekening Ibunya setelah itu dia membalas pesan ke nomor temannya Dewi adik Tiara.
Tiara
Uangnya sudah Kakak transfer untuk beli handphone dan uang sekolah kalian. Besok suruh Ibu beli handphone dan segera kabari kakak nomor Ibu yang baru. Hati - hati ya, jangan sampai ketahuan Bapak. Nanti handphonenya di jual lagi.
Kemudian Tiara membuka pesan di ponselnya siapa tau ada pesan dari Dian atau Roy. Mungkin mereka yang kirim uang bonus pendapatan Cafe.
Tiara melihat ada nomor tidak dikenal lainnya yang mengirim pesan kepadanya.
081********
Aku sudah transfer uang untuk kamu dan Tegar.
Deg.... pasti ini dari Mas Bintang. Tiara segera membalas pesan Bintang.
Tiara
Mas mengapa banyak sekali kirim uangnya. Biaya hidup aku dan Tegar tidak sebanyak itu?
Mas Bintang
Tidak apa - apa. Kamu pergunakan saja sesuka hati kamu. Kamu bisa gunakan untuk keperluan kamu dan Tegar. Terserah apa saja, aku tidak akan ikut mengaturnya. Kamu bebas memakai uang itu.
Tiara
Tapi Mas aku tidak butuh, kan sudah aku bilang pada Mas. Aku bisa menghidupi Tegar sendirian.
Mas Bintang
Aku tidak mau mendengar penolakan Ra. Terima saja uang itu dan pakailah sesuka kamu.
Tiara tidak mau berdebat lagi dengan Bintang malam - malam begini. Dia mulai tau sifat Bintang. Bintang tidak suka sebuah penolakan.
Besok Tiara akan ke Bank dan membuka tabungan khusus untuk Tegar, semua uang yang dikirim Bintang akan dia masukkan ke rekening itu. Itu akan menjadi tabungan untuk Tegar sekolah kelak. Kalau untuk biaya hidup dia masih bisa membiayai hidup Tegar sampai sekarang ini.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1