Tiara

Tiara
Bagas, kamu ketahuan


__ADS_3

Sudah seminggu Bagas di Bandung untuk menjaga Dewi. Tapi tanda - tanda Tarjo mendekati mereka tidak ada. Hari ini rencananya Bagas ingin pamitan balik ke Jakarta.


Karena dia sudah terlalu lama cuti dan harus bekerja kembali. Pekerjaan di perusahaannya sudah seminggu ini dia serahkan kepada asisten pribadinya.


Bagas berangkat dari Hotel menuju rumah Pak Wijaya.


"Assalamu'alaikum... " Bagas mengucap salam ketika masuk ke dalam rumah Wijaya.


"Wa'alaiakumsalam Nak Bagas, masuuuk" jawab Wijaya dari dalam rumah.


Bagas masuk dan langsung duduk di ruang keluarga bersama Wijaya dan Siti.


"Hari minggu ya, Nak Bagas pasti libur" ujar Bu Siti.


"Iya Bu, sudah seminggu saya di sini. Rencananya jari ini saya mau kembali ke Jakarta" jawab Bagas.


"Oh ya, jam berapa pulangnya?" tanya Wijaya.


"Sebentar lagi Pak" balas Bagas.


"Ah masih pagi, Bandung Jakarta kan dekat. Sore aja kamu pulangnya, main di sini dulu ngobrol sama saya. Sekalian mau ajak kamu nangkap ikan di kolam" ajak Wijaya.


"Wah seru juga tuh Pak" sambut Bagas antusias.


"Sit kita bakar ikan aja ya siang ini, biar aku ajak Bagas nangkap ikan di kolam" ujar Wijaya.


"Iya Mas, nanti aku siapkan bumbu - bumbunya" jawab Siti.


"Dewi dan Ali dimana Buk?" tanya Bagas sambil melirik mencari keberadaan pujaan hatinya.


"Tadi selesai sarapan pagi mereka balik ke kamar. Dewi ada tugas katanya sedangkan Ali besok ada ujian" jawab Siti.


"Oh pantesan sepi ya Bu" balas Bagas.


"Yuk Gas kita duduk di kebun belakang sambil bersantai" ajak Wijaya.


"Mari Pak" sambut Bagas.


Wijaya dan Bagas berjalan ke kebun belakang. Sedangkan Siti ke dapur untuk mempersiapkan bumbu - bumbu masak.


Wijaya dan Bagas duduk di gazebo belakang rumah Wijaya. Mereka duduk sambil menikmati suasana kebun teh dan kebun sayur milik Wijaya.


"Seminggu di Bandung kamu bukan sedang dalam urusan dinas kan? Tapi kamu libur cuti?" ucap Wijaya.

__ADS_1


Sontak Bagas terkejut dan memandang wajah Wijaya.


"Ba.. bagimana Bapak bisa tau?" tanya Bagas.


"Aku sudah tua Gas, udah bisa membaca mana yang bohong dan mana yang jujur. Tujuan kamu ke sini saja aku tau" jawab Wijaya.


Seeeer... mati gue.. Batin Bagas. Bagas menelan salivanya.


Wijaya tersenyum melihat wajah terkejut Bagas.


"Hahaha.. anak muda. Wajah kamu kelihatan banget sedang jatuh cinta" goda Wijaya.


Bagas hanya diam, tak bisa berkata - kata lagi.


"Tapi kamu baik, kamu menjaganya dalam diam" puji Wijaya.


"Maksud Bapak?" tanya Bagas untuk memperjelas kemana arah pembicaraan Wijaya.


"Hahaha... kamu menyukai Dewi kan?" tebak Wijaya.


Lagi - lagi Bagas menelan salivanya.


"Ko... Kok Bapak tau?" tanya Bagas.


"Hahaha.... aku kan tadi sudah bilang Bagas. Aku ini sudah tua sudah berpengalaman. Dari lirikan mata kamu saja sudah mencurigakan. Kamu sudah gelisah ketika tidak melihat wajah Dewi di sini" jawab Wijaya.


"Bagaimana? Tebakan Bapak benar kan?" desak Wijaya.


Bagas menarik nafas panjang.


"Iya Pak, Bapak benar. Saya menyukai Dewi. Tapi hanya Bintang dan Tiara saja yang tau" ungkap Bagas.


"Bintang dan Tiara sudah tau?" tanya Wijaya.


"Iya, semua sahabat aku sudah tau" jawab Bagas.


"Terus mengapa kamu seperti maju di tempat. Kamu kan pria yang sudah berumur, Bapak rasa sudah tidak zamannya lagi pacaran - pacaran dengan anak ABG. Kamu sudah cukup umur bahkan bisa di bilang sudah pantas sekali dari segi umur dan sudah mapan untuk menikah" ujar Wijaya.


Bagas menarik nafas panjang.


"Atau perasaan kamu tidak serius pada Dewi dan masih ingin bermain - main?" tanya Wijaya.


"Tidak Pak, saya sangat serius" Bagas menjawab dengan cepat.

__ADS_1


Wijaya tersenyum simpul.


"Lantas mengapa begitu cara kamu mendekati Dewi. Aku melihat kamu kurang gentleman menarik perhatian Dewi" ledek Wijaya agar Bagas terpancing dengan perkataannya.


"Semua karena Bintang Pak" jawab Bagas.


"Bintang? apa hubungannya dengan Bintang?" tanya Wijaya pemasaran.


"Bintang adalah sahabat dekat saya, dia tau hobby saya Pak yang suka gonta ganti pacar. Yah mungkin ini juga hukuman buat saya karena sama ini suka memainkan perasaan wanita. Bintang melarang saya mendekati Dewi. Dia tidak mau punya ipar playboy seperti saya" ungkap Bagas.


"Terus kamu mau menyerah?" tanya Wijaya.


"Tidak Pak, saya tidak akan menyerah. Saya bilang sama Bintang kalau perasaan saya serius sama Dewi. Saya ingin berubah dan tidak ingin bermain - main lagi. Saya ingin menikah karena usia saya bisa di bilang tidak muda lagi. Sudah tiga puluh satu tahun" jawab Bagas.


Bagas kembali menarik nafas panjang.


"Bintang masih belum percaya kalau saya benar - benar serius. Dia memberikan saya tantangan, karena Dewi masih berumur depalan belas tahun. Bintang memberi saya waktu dua tahun untuk merubah diri. Melepaskan dan meninggalkan kehidupan saya yang dulu. Dua tahun untuk memperbaiki diri saya dan bertaubat" ungkap Bagas.


Wijaya menatap wajah Bagas, tampak Bagas saat ini memang sedang berbicara dengan serius.


"Saat Dewi berumur dua puluh tahun baru saya boleh mendekati Dewi dan melamar Dewi. Dengan catatan saat ini saya tidak boleh mengutarakan niat saya kepada Dewi. Tunggu dua tahun lagi baru saya boleh mendekatinya dan mengungkapkan isi hati saya. Itupun kalau Dewi belum punya pacar atau calon Pak. Kalau dua tahun lagi dia sudah punya pilihan sendiri ya saya harus mundur secara teratur" sambung Bagas dengan wajah yang terlihat sendu.


"Kamu sabar menunggu sampai dua tahun?" tanya Wijaya tersenyum.


"Sebenarnya nggak Pak, melihat Dewi sekarang dalam situasi membahayakan seperti ini rasanya saya ingin segera menikahinya agar bisa selalu berada di dekatnya dan menjaganya setiap saat. Tapi mau gimana lagi Pak, saya harus bersabar karena janji saya pada Bintang yang harus menunggu Dewi sampai usia dua puluh tahun" jawab Bagas.


Wijaya menepuk baju Bagas mencoba memberi semangat.


"Jadi sampai sekarang Dewi tidak tau motif kamu yang selalu mendekatinya?" tanya Wijaya.


Bagas tersenyum kecut.


"Dia masih lugu Pak, sederhana dan sangat polos tapi justru itu yang membuat saya semakin mencintainya. Dia percaya dengan cerita saya kalau saya mempunyai calon di bawah umur dan boleh melamar wanita itu saat dia berumur dua puluh tahun. Jadi seminggu ini saya minta ajarin Dewi untuk mengajari saya mendekati anak ABG seperti dia. Karena umur Dewi dan umur calon saya itu sama. Dia juga percaya kedatangan saya ke sini dalam urusan bisnis padahal seharian saya menjaga di depan kampusnya takut - takut kalau Pak Tarjo mendatangi Dewi" ungkap Bagas.


"Hahaha... kasihan sekali nasib kamu Nak Bagas" ujar Wijaya sambil tertawa.


Tak lama Dewi datang dari arah dapur sambil membawa dua cangkir kopi dan satu piring singkong goreng.


"Lho Wi siapa yang suruh kamu kesini?" tanya Wijaya.


Seeeer..... mati aku. Apakah Dewi mendengar pembicaraan aku dengan Pak Wijaya ya? Gawat bisa gagal ini perjanjian aku dengan Bintang?


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2