
Di Cafe Kenanga Jakarta.
Roy datang ke Cafe dengan wajah yang sangat kacau. Dia langsung masuk ke ruangan Dian dan menghempaskan tubuhnya di sofa ruang kerja Dian.
"Kamu kenapa Roy? Mabuk?" tanya Dian.
Roy mengacak kasar rambutnya.
"Kalau kamu mabuk mending kamu pulang sana gih dari pada kamu buat keributan di sini" usir Dian.
"Yan.. kamu kok jahat banget sih? Gak lihat aku lagi kacau begini, bukannya menghibur malah ngusir?" sambut Roy kesal.
"Hahaha.. tingkah kamu itu Roy udah seperti anak - anak gak dikasih permen" ucap Dian.
"Salah Yan, bukan gak di kasih permen tapi permennya diambil orang" jawab Roy.
"Maksud kamu?" tanya Dian penasaran.
"Tiara menolak aku Yan" ucap Roy.
Dian sebenarnya sudah tidak terkejut lagi karena dia sudah menduganya.
"Aku sudah bisa menebaknya Roy, Tiara lebih memilih Bintang kan ketimbang kamu?" tanya Tiara.
Roy menganggukkan kepalanya.
"Sudah aku duga akan seperti itu" tebak Tiara.
"Ikhlas itu ternyata ringan di mulut saja ya Yan, tapi berat di hati" Roy meraba dadanya.
Terasa sesak dan sakit.
Dian tersenyum dan menepuk bahu Roy kemudian duduk tepat di samping Roy.
"Yang sabar... aku yakin kamu akan segera mendapatkan penggantinya. Stok wanita kamu kan banyak" goda Dian.
__ADS_1
"Tapi gak ada yang sebaik Tiara Yan" balas Roy.
Dian tersenyum melihat wajah galau sahabatnya yang satu ini.
"Banyaaak Roy, masih banyak hanya saja kamu kan baru melek. Selama ini kamu cari wanita bukan dari hatinya tapi dari body nya" sambut Dian.
"Kamu nyindir nya kebangetan Yan" sambut Roy kesal.
"Hahahaha... benar kan?" goda Dian.
Roy memandang wajah Dian yang lagi asik tertawa mengejeknya.
"Yan, kamu aja ya yang nikah sama aku?" ajak Roy. Tiba-tiba saja kata - kata itu mengalir dari bibirnya.
"Becanda kamu, nikah itu bukan candaan Roy?" jawab Dian masih tertawa.
"Aku gak bercanda Yan, lihat wajahku. Aku serius" ucap Roy meyakinkan.
"Kamu ngajak nikah udah seperti mau ngajak ke mall aja. Gak mau ah" tolak Dian.
Tapi Dian tetap saja menganggapnya candaan.
"Hahaha... itu mah sering dilakukan orang untuk melamar pacarnya Roy, lah kita kan gak pacaran" protes Dian.
"Jadi kamu mau kita pacaran dulu? Oke, kalau itu mau kamu" sambut Roy.
"Udah ah.. ngaco kamu" tolak Dian.
"Yan aku tau siapa orang yang kamu suka? Kamu kira dari dulu aku tidak mengetahuinya? Kamu suka Bintang kan dari sejak kita kuliah?" tanya Roy to the point.
Sontak Dian terdiam. Dia tidak menyangka Roy bisa menebak isi hatinya.
"Patah hati membuat kamu semakin ngaco ya Roy?" Elak Dian.
"Aku gak gila dan gak bercanda Yan. Aku tau kamu sudah lama memendam perasaan kamu pada Bintang. Kamu lebih memilih berlindung dengan hubungan sahabat. Kamu hebat Yan, bisa bertahan selama itu. Kamu menyaksikan Bintang pacaran dengan Siska, trus Bintang di khianati Siska setelah itu kamu mengetahui kalau Bintang menghamili Tiara, kamu melindungi Tiara dan Tegar, kamu membantu mereka bahkan kamu juga berusaha untuk menyatukan mereka. Benarkah tebakan aku?" desak Roy.
__ADS_1
Dian terdiam, dia tidak mau menjawab apapun perkataan Roy.
"Kamu hebat Yan bisa seikhlas itu, apa sih rahasianya?" tanya Roy penasaran.
Dian masih tetap diam. Bibirnya terkunci rapat.
"Ayolah Yan.... Sekuat apapun kamu, kamu butuh seseorang yang mendengarkan keluh kesah kamu. Agar kamu tetap menjadi orang yang waras. Jangan kamu pendam sendiri? Aku sahabat kamu Yan.. Kita sudah kenal selama tiga belas tahun" sambung Roy meyakinkan Dian agar dia mau terbuka dan bicara.
Dian menghembuskan nafasnya kasar.
"Kamu benar Roy aku menyukai Bintang sudah dari dulu tapi aku tidak punya keberanian untuk mengutarakannya. Aku pengecut berlindung pada kata yang namanya persahabatan. Sampai saat aku melihat Bintang patah hati karena di khianati Siska. Saat itu pertama kali dalam hidupku ingin memperjuangkan rasa cintaku tapi belum sempat aku melangkah jauh aku mendengar bahwa Tiara akan melahirkan anak Bintang. Entah mengapa aku langsung tersadar kalau Bintang bukanlah jodohku. Sekuat apapun aku berusaha toh dia tetap tidak akan pernah menjadi milikku. Lagi - lagi aku memilih mundur dan diam - diam membantu melindungi anaknya. Aku juga tau kalau Tiara adalah wanita yang sangat baik untuk Bintang. Aku tidak mau jahat dengan merebut Bintang dari Tiara dan Tegar. Walau saat itu aku tau Bintang belum memiliki perasaan apapun kepada Tiara tapi entah mengapa aku punya keyakinan kalau suatu saat mereka pasti akan bersatu. Aku membujuk Tiara untuk tetap bekerja di Cafe agar aku bisa memantau perkembangan Tegar, aku bisa tau keberadaan mereka dan jika waktunya tepat aku akan mengatakannya kepada Bintang bahwa Tegar itu anaknya Bintang. Sampai Tiara meminta izin untuk berhenti dari Cafe karena ingin pergi jauh dan Jakarta. Aku menawarkannya berkerja di Cafe kamu di Bandung karena saat itu kita memang sedang mencari orang yang bisa dipercaya untuk mengelola Cafe di Bandung. Makanya aku minta sama kamu beberapa fasilitas untuk Tiara seperti rumah, fasilitas kesehatan dan kendaraan. Tujuannya apa Roy? agar aku tetap bisa memantau dan memastikan mereka hidup dengan layak karena mereka ada hubungannya dengan Bintang" ungkap Dian.
"Gila Yan, hati kamu sangat tulus. Aku tidak menyangka kamu sudah berbuat sejauh itu dan mengesampingkan perasaan kamu sendiri. Hati kamu terbuat dari apa Yan?" puji Roy.
"Aku hanya manusia biasa Roy yang terkadang punya titik kelemahan dan ada saatnya aku juga dalam keadaan lemah. Aku hanya pasrahkan semua pada Allah Roy. Dan berdoa semoga Allah tetap menguatkan hatiku untuk mempersatukan mereka dan semoga aku tidak menyesali keputusan aku itu" sambung Dian.
"Aku jadi semakin yakin Yan untuk menikahi kamu" Roy menggenggam tangan Dian.
Roy menatap mata Dian dengan teduh.
"Jangan pandang masa laluku Yan, please.... aku juga tidak akan melihat masa lalu kamu. Aku tidak peduli siapa pria yang telah kamu cintai dulu. Yang paling penting adalah masa depan kita Yan. Mari sama - sama kita susun masa depan kita dengan keyakinan kalau kita bisa. Bisa melangkah bersama meraih ke bahagiaan" ungkap Roy.
"Roy.... " panggil Dian.
"Aku sadar Yan kita sama - sama belum bisa mengatakan cinta, ya kan? Karena di hatiku masih ada Tiara dan di hati kamu masih ada Bintang. Tapi aku mengajak kamu untuk sama - sama melupakan dan menghapus nama mereka di hati kita. Mereka sekarang pasti sedang berbahagia Yan, kita juga pantas bahagia. Maukah kamu mempertimbangkan tawaran aku ini?" tanya Roy.
"Lamaran yang sangat berbeda sekali ya, aku rasa tidak akan pernah ada di cerita dongeng - dongeng sebelum tidur" balas Dian.
"Karena kita memang berbeda mari kita mulai dengan perbedaan itu. Yakinlah pasti kita bisa Yan. Bisa memulainya.. " bujuk Roy.
"A.. aku.. akan memikirkannya Roy" jawab Dian.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG