Tiara

Tiara
Kecelakaan


__ADS_3

Dua bulan berlalu, kini kehamilan Tiara sudah memasuki bulannya. Prediksi dokter HPLnya tinggal menunggu seminggu lagi. Seperti biasa dihari senin pagi suasana rumah jadi lebih repot dari hari - hari biasanya karena Tiara agak repot membangunkan Tegar dan Bintang.


Memang ayah dan anak itu sepertinya sudah kompakan setiap senin pagi pasti malas sekali bangun pagi. Dengan sedikit kesusahan Tiara naik ke lantai dua padahal Bintang sudah sering melarangnya belakangan ini dan menyuruh Tiara untuk memerintahkan asisten rumah tangga mereka saja yang membangunkan Tegar di kamarnya.


Tapi Tiara tidak puas kalau bukan dia sendiri yang membangunkan putra sulungnya itu. Sehingga dengan sedikit kesulitan Tiara naik pelan - pelan. Naik dari satu tangga ke satu anak tangga satu lagi. Hingga Tiara sampai ke anak tangga paling atas dan dia berjalan menuju kamar Tegar.


Tiara membuka pintu kamar Tegar dan melihat putranya itu masih nyenyak tertidur. Tiara membelai lembut kepala Tegar.


"Sayaaang bangun.. sudah pagi. Hari ini kamu mau sekolah kan?" ujar Tiara.


"Hem... sebentar lagi Ma. Aku masih ngantuk" jawab Tegar dengan suara yang sangat berat.


Dengan penuh kelembutan Tiara menciumi pipi putranya sampai Tegar protes.


"Mama... jangan ciumi pipiku seperti itu. Aku sudah besar sebentar lagi aku akan mempunyai adik" protes Tegar.


"Duh cepat sekali anak Mama ini besarnya.. Sekarang udah gak mau lagi Mama cium. Mama jadi sedih" ujar Tiara.


Tegar langsung bangun dan duduk menatap Tiara.


"Mama jangan sedih ya, kalau Mama sedih nanti adek yang ada di dalam perut Mama juga ikutan sedih" cegah Tegar.


"Kalau begitu kamu cepat bangun ya dan mandi. Itu Mama udah siapkan pakaian sekolah kamu. Sepuluh menit lagi Mama tunggu di bawah dan kita saran bersama di bawah. cepetan sayang, Papa kamu sudah siap dari tadi. Nanti kamu di tinggal Papa lho" perintah Tiara.


"Oke Ma, tunggu di bawah aja ya. Dan Mama hati - hati turunnya. Bukankah Papa sudah melarang Mama naik ke lantai dua. Mulai besok biar Bibik saja yang bangunkan aku" sambut Tegar.


"Iya anak Mama yang ganteng. Kalau kamu tidak sulit di bangunin Mama pasti gak akan naik ke atas" Tiara mencubit gemas hidung Tegar.


"Iya.. iya.. aku tau. Aku janji deh gak akan sulit lagi kalau dibangunin setiap paginya" balas Tegar.


"Ya sudah Mama turun ya. Ayo cepetan mandi" ujar Tiara.


"Oke Mama" Tegar turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Tiara tersenyum menatap putranya.


Tiara segera berdiri dan berjalan meninggalkan kamar Tegar. Dia berjalan menuju tangga dan mulai turun ke lantai satu. Tiara melangkah perlahan dari satu anak tangga ke anak tangga yang satu lagi. Sampai di pertengahan tangga tanpa sengaja sendal Tiara terpeleset dan dengan keadaan tubuh yang sedang hamil besar Tiara tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya.


Akhirnya Tiara jatuh berguling ke bawah dan berhenti tepat setelah dia sampai di lantai dasar. Tiara tak sadarkan diri, dari celah kakinya mengeluarkan darah.


"Non Tiaraaaaa" teriak Bibik asisten rumah tangga mereka.

__ADS_1


Bintang yang sedang duduk di ruang makan sambil membaca koran terkejut mendengar teriakan Bibik memanggil nama Tiara.


"Ada apa Bik?" tanya Bintang.


"Den tolooooong Non Tiara baru saja jatuh dari tangga" teriak Bibik.


Bintang langsung berdiri dan berlari menuju ke arah tangga. Dia melihat darah sudah mengalir di lantai. Bintang segera mendekati Tiara dan mencoba membangunkannya.


"Sayang bangun sayang.. Tiaraaaaa..... " panggil Bintang.


Tiara tidak juga terbangun, Bintang semakin panik.


"Maaaaang...Mamaaaaang.. " panggil Bintang sambil menjerit.


"Ya Den" Supir berlari tergesa - gesa dan terkejut melihat Tiara pingsan dalam pangkuan Bintang.


"Non Tiara.. " ucap Supir di rumah Tiara


"Siapkan mobil segera Mang, kita ke rumah sakit" perintah Bintang.


Tegar yang baru saja selesai mandi penasaran mendengar suara ribut - ribut di bawah. Dia segera memakai bajunya dan turun ke bawah tanpa bersisir.


"Ada ap.... Mamaaaaa" Teriak Tegar ketika melihat Mamanya pingsan. Tegar melihat lantai sudah penuh darah Tiara.


"Papa aku ikuuut" teriak Tegar.


"Kamu duduk di depan" perintah Bintang.


Dengan bantuan supir mereka berhasil memasukkan Tiara di kursi belakang. Saat ini kepala Tiara sudah berada di atas pangkuan Bintang.


Mobil segera melaju menuju Rumah Sakit terdekat dari rumah Bintang. Bintang segera meraih ponselnya dan menghubungi orang tuanya.


"Assalamu'alaikum Bin, ada apa hubungi Papa pagi - pagi begini?" sambut Pak Bambang begitu mengangkat telepon dari Bintang.


"Wa'alaikumsalam Pa. Pa Tiara baru saja jatuh dari tangga" ujar Bintang.


"Ha.. kok bisa Bin? Jadi gimana keadaannya?" tanya Pak Bambang.


"Tiara pingsan Pa dan saat ini kami sedang membawanya ke Rumah Sakit. Papa tolong hubungi Ibu dan Bapak agar mereka segera datang ke Jakarta" pinta Bintang.

__ADS_1


"Baik ...baik.. -Papa akan kabari mereka. Di Rumah Sakit mana Tiara dibawa Bin?" tanya Pak Bambang.


"Rumah Sakit Ibu dan Anak Pa" jawab Bintang.


"Oke Bin, Papa dan Mama akan segera menyusul ke sana. Kalian hati - hati di jalan ya" balas Pak Bambang.


Pak Bambang langsung menghubungi Pak Wijaya.


"Halo Jay" sapa Pak Bambang langsung.


"Ada apa Bam?" tanya Pak Wijaya.


"Aku baru saja di hubungi Bintang, katanya Tiara baru saja jatuh dari tangga dan tak sadarkan diri" ungkap Pak Bambang.


"Astaghfirullah.. " sambut Pak Wijaya


"Mereka sedang dalam perjalanan ke rumah sakit Jay" sambung Pak Bambang.


"Rumah sakit mana?" tanya Pak Wijaya.


"Kata Bintang Rumah Sakit Ibu dan Anak. Kamu secepatnya kabari Siti dan langsung meluncur ke Jakarta" ujar Pak Bambang.


"Iya Bam, aku akan langsung jemput Siti kemudian kami segera ke Jakarta. Tolong kamu urus dulu mereka ya Bam tolong lakukan yang terbaik pada putriku. Tolong selamatkan dia" pinta Pak Wijaya.


"Pasti Jay aku akan selamatkan anak dan cucu kita" balas Pak Bambang.


Telepon terputus. Pak Wijaya segera mempersiapkan semuanya dan bergerak menuju rumah Siti. Sesampainya di rumah Siti hanya tinggal Siti sendiri di rumah. Dewi dan Ali sudah berangkat ke sekolah deng ke kampus.


"Lho Mas kok tumben pagi - pagi udah datang dan gak ngasi kabar?" tanya Siti terkejut ketika melihat Pak Wijaya sudah ada di depan rumahnya.


"Sit, segera siapkan barang - barang kamu. Kita akan ke Jakarta saat ini juga" perintah Pak Wijaya.


"Ke Jakarta? Tiara sudah mau lahiran?" tanya Siti dengan wajah senang. Sebentar lagi cucunya akan bertambah alangkah bahagianya.


"Barusan Bambang hubungi aku katanya Tiara jatuh dari tangga dan saat ini sedang dibawa ke Rumah Sakit Ibu dan Anak. Kondisi Tiara saat ini tidak sadarkan diri Sit" ungkap Pak Wijaya dengan wajah sendu.


"Astaghfirullah... Araaaaa" tangis Siti pecah.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2