
Sesampainya di apartemen, makanan pesanan Dewi dan Bagas sudah sampai tidak begitu lama dari mereka tiba di apartemen.
Dewi segera menyiapkan peralatan untuk makan malam karena dia tau Bagas saat ini sudah sangat kelaparan. Ditambah lagi mabok yang dia derita membuat tubuhnya sangat lemas.
"Mas udah siap, yuk makan" ajak Dewi.
Bagas segera beranjak menuju meja makan yang terletak di area dapur. Bagas duduk menunggu Dewi mengambilkan makanan ke piringnya.
Dewi segera menyiapkan makanan untuk Bagas.
"Obat mualnya sudah diminum Mas?" tanya Dewi.
"Sudah yank, begitu sampai aku langsung meminum obatnya" jawab Bagas.
Mereka segera menyantap hidangan makan malam bersama. Dengan sangat lahap semua makanan mereka habiskan berdua.
Malam ini Bagas makan dengan sangat banyak karena kondisi perutnya sudah lapar berat. Setelah selesai makan Bagas kembali menuju ruang TV dan bersantai sejenak, melonggatkan perutnya.
Sudah berlalu setengah jam. Bagas tidak merasakan apapun.
"Yank... " panggil Bagas.
"Ya Mas" sahut Dewi yang baru datang dari arah dapur.
"Aku gak merasa mual yank" lapor Bagas.
"Alhamdulillah berarti obatnya ampuh" sambut Dewi senang.
"Alhamdulillah... senangnya" balas Bagas.
Dewi duduk di samping Bagas, menemani Bagas menonton TV.
"Besok kita ke rumah Mama ya" ajak Bagas.
"Jam berapa Mas?" tanya Dewi.
"Sepulang aku kerja kamu siap - siap aja. Begitu aku pulang kita langsung berangkat" jawab Dewi.
"Ngapain kita ke sana? Apa Papa dan Mama ada acara Mas?" tanya Dewi bingung.
"Gak ada. Ke rumah Papa dan Mama kan gak perlu alasan sayang. Mereka kan orang tua aku" jawab Bagas.
"Eh iya Mas maaf.. maaf.. " balas Dewi.
"Gak apa - apa. Aku pengen kasih kabar bahagia untuk mereka berdua. Sudah lama mereka menginginkan aku menikah dan punya anak. Sekarang semua keinginan mereka sudah aku penuhi" ujar Bagas bangga.
Dewi menyandarkan kepalanya di bahu Bagas.
"Kamu ngantuk?" tanya Bagas.
"Iya Mas, gak tau nih kok aku ngantuk banget ya" jawab Dewi.
"Ya sudah yuk kita ke kamar. Aku juga mau istirahat" sambut Bagas.
Setelah itu mereka langsung istirahat tidur. Mungkin karena Dewi sedang hamil bawaannya jadi cepat ngantuk sedangkan Bagas badannya belum pulih total.
******
Keesokan harinya..
Ueeeek... ueeeek...
Bagas berjongkok di kamar mandi untuk menguras semua isi perutnya sampai kosong. Rasanya sangat menderita sekali.
Dewi masih nyenyak tidur sedangkan Bagas sudah terbangun sebelum adzan subuh karena tiba - tiba dia merasa perutnya seperti di aduk dan mual yang sangat parah.
Setelah puas muntah dengan keadaan yang masih lemas Bagas mengambil wudhu untuk shalat subuh karena dia baru saja mendengar adzan subuh.
__ADS_1
Bagas keluar dari kamar mandi dan langsung menghampiri Dewi yang masih terlelap.
"Yaaank.. bangun... Yuk shalat subuh" ajak Bagas dengan lembut.
Seketika mata Dewi terbuka, kemudian dia melirik jam di atas nakas.
"Sudah pagi ya" ujar Dewi.
"Sudah, buruan wudhu setelah itu kita shalat" perintah Bagas.
Dewi segera duduk dan menatap wajah Bagas.
"Mas Bagas kok pucat? Mual lagi?" tanya Dewi khawatir
Bagas mengangguk.
"Iya, mungkin anak kita sengaja untuk membangunkan aku shalat subuh" jawab Bagas.
"Trus muntah?" selidik Dewi.
"Iya sedikit" jawab Bagas berbohong agar Dewi tidak khawatir.
"Ya sudah tunggu sebentar aku bersih - bersih dah wudhu ya. Setelah itu kita shalat" balas Dewi.
Dewi turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi untuk gosok gigi dan bersih - bersih setelah itu baru berwudhu. Kemudian Bagas dan Dewi shalat berjamaah.
Begitu selesai salam Bagas merasakan gejolak itu lagi. Dia segera berlari ke kamar mandi.
Ueeeek... ueeek....
Tidak ada lagi isi perut yang bisa dikeluarkan, semua sudah habis terkuras. Kini hanya cairan kuning yang rasanya sangat pahit di lidah Bagas.
Bagas benar - benar sangat lemas pagi ini.
"Maaas ini cium minyak angin, mudah - mudahan bisa meredakan mual Mas" Dewi memberikan sebotol minyak angin.
Bagas dan Dewi kembali ke kamar. Bagas berbaring di atas tempat tidur. Tubuhnya sangat lemas.
"Mas minum obat mualnya dulu biar aku masak bubur untuk kamu. Tubuh kamu sudah lemas banget Mas" bujuk Dewi.
"Iya yank, tolong ambilkan obatnya ya" pinta Bagas.
Dewi segera meraih obat - obatan yang tadi malam mereka beli kemudian memberikannya kepada Bagas. Setelah itu Dewi langsung berjalan ke dapur untuk membuatkan Bagas bubur.
Setengah jam kemudian Dewi datang dengan semangkuk bubur dan segelas tes hangat untuk Bagas.
Ternyata Bagas tidur kembali saat Dewi masuk ke dalam kamar.
"Maaaas... bangun dulu, yuk makan" ucap Dewi lemah lembut untuk membangunkan Bagas.
Bagas membuka matanya dan duduk bersandar di dinding tempat tidur. Dewi mulai menyuapi Bagas. Pelan - pelan bubur mulai di santap Bagas.
Tapi tiba - tiba Bagas berlari ke kamar mandi.
ueeek.. ueeek...
Semua bubur yang tadi dia makan habis keluar lagi.
"Lho kok muntah lagi Mas, kan udah minum obat" ucap Dewi semakin khawatir.
"Gak tau yank. Perutku rasanya sakit banget seperti berputar - putar di dalam" jawab Bagas.
Setelah puas muntah Bagas dan Dewi kembali ke tempat tidur.
"Buburnya gimana?" tanya Dewi.
"Bawa aja yank ke luar. Aku mual mencium baunya" perintah Bagas.
__ADS_1
Dewi dengan terpaksa membawa bubur tersebut kebelakang. Setelah itu Dewi datang lagi dengan membawa beberapa roti
"Coba makan roti celup teh hangat Mas" bujuk Dewi.
"Nggak yank, aku takut muntah lagi. Sakit banget" tolak Bagas.
"Jadi gimana donk, isi perut Mas kosong. Nanti masuk angin tambah sakit kan" bujuk Dewi.
"Aku gak mau yank, rasanya gak enak" elak Bagas.
Dewi membuang nafasnya kasar. Rasanya tak tega banget melihat Bagas seperti ini. Pasti sangat menyakitkan.
"Kamu sarapan sendiri ya. Makan yang banyak agar anak kita tumbuh dengan sehat. Tinggalkan saja aku sendiri. Aku mau tidur lagi. Biarlah hari ini aku libur saja" ujar Bagas.
"Ya sudah Mas istirahat ya. Nanti kalau sudah enakan dan selera makan sesuatu bilang aja biar aku masakkan untuk Mas" sambut Dewi.
"Iya yank" balas Bagas.
Bagas kembali menutup matanya untuk tidur. Sedangkan Dewi keluar kamar dan membuat sarapan untuk dirinya sendiri.
Sampai siang kondisi Bagas semakin lemah. Dia terus - terusan muntah sampai dia lemas tak bertenaga. Sedangkan sesuap makanan tak ada yang bisa masuk.
Dewi semakin khawatir dengan keadaan Bagas seperti ini. Akhirnya Dewi memutuskan untuk membawa Bagas ke rumah sakit. Lebih baik Bagas di rawat. Kalau dia bertahan di apartemen tanpa ada asupan makanan bisa - bisa lebih berbahaya kondisi Bagas.
Dewi menghubungi Tiara karena panik.
"Assalamu'alaikum Kak Ara" ucap Dewi saat telepon terhubung.
"Wa'alaikumsalam Wi. Ada apa?" tanya Tiara.
"Kak aku bisa minta tolong gak?" Dewi balik bertanya.
"Mau minta tolong apa? Katakan aja kok malah nanya - nanya dulu" jawab Tiara.
"Kakak tolong datang ke apartemen aku donk sama Mas Bintang. Mas Bagas sakit dari kemarin, tubuhnya sangat lemah sekali. Tolong bantuin aku untuk bawa Mas Bagas ke rumah sakit" pinta Dewi.
"Bentar ya Wi, Kakak pinta Mas Bintang pulang dulu" jawab Tiara.
"Eh aku lupa sangkin paniknya. Mas Bintang kan kerja. Lama donk Kak kalau nungguin Mas Bintang pulang. Ya sudah aku naik taxi online aja bawa Mas Bagas ke rumah sakit" ucap Dewi.
"Yakin kamu bisa?" tanya Tiara khawatir.
"InsyaAllah bisa" jawab Dewi.
"Ya sudah kalau begitu kita ketemu di Rumah sakit aja ya. Kakak akan menyusul kamu bersama Mas Bintang" ujar Tiara.
"Iya Kak" balas Dewi.
Akhirnya Bagas di bawa Dewi ke Rumah Sakit dengan menggunakan taxi online. Karena kondisinya memang sangat lemah sekali akhirnya dokter menyarankan agar Bagas di opname saja. Karena kalau dibantu dengan makanan dan obat tidak akan ampuh untuk saat ini. Mengingat semua makanan yang masuk akan dikeluarkan lagi oleh Bagas.
Dua jam kemudian Bintang, Tiara, Roy dan Dian datang ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan Bagas. Bagas terbaring lemah di atas tempat tidur dengan jarum infus di tangan sebelah kanannya.
Bintang beserta rombongan masuk ke dalam kamar rawat inap Bagas.
"Hai bro? Kamu sakit apa? Tumben sakit, biasanya hujan badai saja gak ngaruh sama kamu" tanya Roy.
Mereka memang melihat tubuh Bagas sangat lemah sekali. Sehingga mereka penasaran penyakit apa yang sedang diidap Bagas.
"Aku.. hamil" jawab Bagas lemah.
"Apa? Kamu hamil?" tanya Bintang dan Roy terkejut.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1