Tiara

Tiara
Restu Ibu


__ADS_3

"Tolong ada orang pingsaaaaan" teriak Tegar melihat seorang pria tua yang sedang berjalan menuju kamar mandi


terpleset dan jatuh tepat di depan pintu kamar mandi.


Tegar langsung mendekati pria tersebut.


"Eyaaaaang.. bangun.. eyaaaaang" panggil Tegar karena dia merasa pria tersebut sudah tua seumuran eyangnya bahkan mungkin lebih tua. Makanya Tegar memanggilnya eyang.


Ali keluar dari kamar mandi dan berlari ketika mendengar teriakan Tegar meminta tolong.


"Ada apa Tegar?" tanya Ali.


"Tolong Om eyang ini pingsan" ucap Tegar.


"Toloooong Maaas" Ali memanggil pelayan restoran.


Mereka membawa pria tua itu ke dalam restoran dan ada seorang wanita yang hampir seumuran dengan pria itu berjalan mendekati mereka.


"Papaaaa... Ada apa dengan suami saya?" tanya wanita itu panik.


"Eyang ini terjatuh di dekat kamar mandi" jawab Tegar.


"Ya Tuuhaaaan.. tolong antarkan suami saya ke mobil. Saya akan membawanya ke rumah sakit segera" perintah wanita itu.


Dengan bantuan beberapa karyawan restoran mereka membawa pria tua itu ke mobil dan segera melarikan pria itu ke rumah sakit.


Bintang yang mendengar suara keributan dari luar ruangan segera keluar.


"Ada apa ini ramai-ramai? Tegar, Ali ada apa?" tanya Bintang sedikit panik.


"Itu Mas tadi Tegar menemukan seorang Bapak - Bapak tua pingsan di dekat kamar mandi" jawab Ali.


"Trus sekarang mana orangnya?" tanya Bintang lagi.


"Sudah dibawa ke rumah sakit" sambut Ali


"Ya sudah kalau begitu ayo kita masuk dan makan. Panggil Dewi sekalian ya" ajak Bintang.


"Iya Mas, sebentar ya" balas Ali.


Ali segera menyusul Dewi ke taman dan mengajaknya untuk kembali ke ruang private karena mereka sudah di panggil Bintang barusan.

__ADS_1


Kini mereka sedang menikmati makan siang bersama. Siti juga sudah berhenti menangis.


"Bu, rencana kami mengajak Ibu bertemu seperti ini adalah ingin meminta restu ibu, saya dan Tiara akan menikah minggu depan" ujar Bintang memulai pembicaraan inti.


"Alhamdulillah... syukurlah kalau kalian serius dan memantapkan hati untuk berumah tangga. Tegar juga hidupnya akan sempurna. Ada Papa dan Mamanya hidup dan tinggal bersamanya. Ibu merestui semua keputusan kalian selama itu untuk kebaikan akan Ibu dukung. Dimana rencananya mau diadakan pernikahannya?" tanya Siti.


"Rencana di Bandung Bu. Ibu bisa datang?" tanya Tiara.


"Mengapa harus di sana nduk?" tanya Siti.


"Sementara aku dan Mas Bintang tinggal terpisah dulu Bu, mungkin selama satu bulan sampai kami menemukan pengganti aku di Cafe. Biar gak repot di Bandung aja deh Bu nikahnya. Aku kan tinggal di sana" jawab Tiara.


"Mengenai semuanya Ibu tidak perlu repot memikirkannya nanti aku akan suruh supir untuk menjemput Ibu, Dewi dan Ali dan mengantarkan kalian ke Bandung sebelum hari pernikahan kami" sambut Bintang.


"Asiiik kita akan ke Bandung" ujar Ali senang.


"Ya terserah kalian sajalah. Ibu ikut apa kata kalian" jawab Siti.


"Gimana kita minta izinnya sama Bapak Bu?" tanya Dewi khawatir.


"Ibu sudah lama memikirkan hal ini. Sebelumnya Ibu pernah ada keinginan untuk menjenguk kamu dan Tegar di Bandung tapi sampai sekarang belum terlaksana. Ibu sudah mempunyai alasannya. Nanti Ibu bilang sama Bapak, Ibu mau pulang kampung melihat sodara nikah. Bapak kamu pasti gak mau ikut kalau Ibu ajak ke kampung. Karena dia takut sama Pakde kamu" Siti menjawab ke khawatiran Dewi.


"Maaf Bu.. apakah Tiara mempunyai wali nikah?" tanya Bintang hati - hati.


"Syukurlah kalau ternyata masih ada walinya" sambut Bintang sopan.


Bintang menatap Tiara lembut.


"Habis ini kita ke Butik langganan Dian ya. Kalian harus ukur badan untuk buat baju pas acara kita nanti. Kamu juga kan harus jahit baju pengantin kan?" tanya Bintang penuh kasih sayang kepada Tiara.


"Eh iya ya Mas, aku lupa. Tapi Mas kau mau pesta yang sederhana saja ya. Yang penting keluarga inti, teman dekat dan para tetangga saja" pinta Tiara.


"Iya, sesuka kamu saja. Yang penting kamu dan Tegar nyaman" jawab Bintang.


"Terimakasih ya Mas" balas Tiara.


"Ke.. kenapa kami ikut juga nak Bintang? Keluarga kamu bagaimana?" tanya Siti.


Bintang dan Tiara saling pandang.


"Ibu dan adik - adik adalah keluarga dekatku saat ini. Aku sudah sangat lama tidak bertemu dengan kedua orang tuaku. Terakhir kali saat aku tamat SMU" ungkap Bintang.

__ADS_1


"Kenapa Nak Bintang, apa kedua orang tua kamu sudah meninggal? " tanya Siti ingin tau.


"Belum Bu, aku dan kedua orang tuaku tidak sependapat tentang hidup. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari rumah dan mengurus hidupku sendiri sampai seperti sekarang ini" jawab Bintang.


"Tidak bisakah kamu kabari saja. Ini kan hari penting dalam hidup kamu. Apakah kamu tidak ingin mengundang mereka. Setidaknya mengabari kalau kamu akan menikah, soal mereka datang atau tidak itu hak mereka" nasehat Siti.


"Aku akan mempertimbangkannya Bu" sambut Bintang.


"Kalian kapan balik ke Bandung Ra?" tanya Siti kepada putri sulungnya.


"Nanti malam Bu, sore ini setelah mengantar Ibu pulang aku dan Mas Bintang mau singgah ke rumah Ridho dan mampir ke Cafe Bu untuk mengundang mereka agar datang kepesta pernikahan kami" jawab Tiara.


"Iya ya Ibu lupa sama Ridho. Bagaimana kabar dia?" tanya Siti.


"Siti baik, dua sudah menikah dengan sahabatku satu kos dulu Bu. Dan sampai mereka mau menikah aku dan Tari tinggal serumah. Dia yang membatu aku membesarkan Tegar. Kalau aku kerja, Tegar dijaga sama Tari dan Ridho. Mereka sudah menganggap Tegar sebagai anak sendiri Bu" ungkap Tiara.


"Syukurlah kalau kamu selalu dikelilingi oleh orang - orang baik. Walau tidak ada Ibu di samping kamu tapi kamu selalu bersama mereka yang ikut menjaga dan membantu kamu" sambut Siti.


"Iya Bu, alhamdulillah semua bisa aku jalani berkat bantuan dan semangat dari mereka semua" balas Tiara.


Mereka melanjutkan makan siang bersama sambil menyusun rencana pernikahan Bintang dan Tiara minggu depan.


Sementara di sebuah Rumah Sakit.


"Bu, suami Ibu terkena serangan jantung, beliau harus segera di operasi untuk pasang cincin di jantungnya. Ini untuk membantu kelancaran darah yang tersumbat ke Jantung Bapak. Beruntung tadi Bapak cepat di bawa kemari, kalau terlambat mungkin saat ini Bapak sudah tiada" ungkap Dokter.


"Iya Dok, lakukan yang terbaik untuk suami saya. Saya mohon tolong selamatkan suami saya" Wanita itu menangis di hadapan Dokter dan suaminya.


Aku harus berterima kasih pada anak kecil itu. Karena informasi dari pelayan Restoran, anak itulah yang pertama kali melihat dan menemukan suamiku dalam keadaan pingsan. Kalau seandainya tidak ada anak itu mungkin suamiku saat ini tidak bisa tertolong lagi. Batin wanita itu.


.


.


BERSAMBUNG


Selamat Ulang Tahun RI ke 76. Semoga pandemi ini segara hilang dari tanah Indonesia Raya. Merdeka!!!


Tetap jaga jarak dan stay at home. Jangan lupa like, komentar, vote dan hadiahnya ya.


Maaf kalau hari ini up datenya agak sedikit atau telat tapi aku usahakan nanti akan update lagi.

__ADS_1


Sekali lagi Merdeka!!!!


__ADS_2