
Keesokan harinya Morgan dan Siska datang kembali ke perusahaan Bintang untuk membahas proposal yang diberikan Morgan yang mana dua perusahaan itu akan menjalin kerjasama.
Bintang sudah bertekad untuk menolak proposal itu dengan sopan. Bintang selama ini tidak mempunyai musuh dalam bisnisnya kecuali Papanya dulu yang selalu menghalang - halangi usahanya.
Tapi itu semua membuat perusahaan Bintang jadi lebih kuat dan kokoh bahkan sekarang sudah berkembang dengan pesat. Sampai saat ini memang belum ada tawaran Papanya untuk memerger perusahaan Papanya dengan perusahaan Bintang. Tapi hanya Bintang penerus Papanya, karena Bintang adalah anak tunggal.
Tidak mungkin Pak Bambang terus mengurus perusahaannya. Apalagi dia sudah tua dan sudah pernah terkena serangan jantung dan pasang ring di jantungnya.
Selama Pak Bambang umroh selama tiga minggu Bintang sering berkunjung ke perusahaan Papanya untuk memeriksa jalannya perusahaan. Hanya tinggal menunggu waktu saja pada akhirnya perusahaan itu akan jatuh ke tangan Bintang.
"Selamat pagi menjelang siang Bin" sapa Morgan begitu dia dan Siska masuk ke ruangan Bintang.
"Ya.. selamat pagi, silahkan duduk" sambut Bintang.
Siska dan Morgan duduk di sofa.
"Begini Gan, dengan sangat menyesal aku menolak proposal itu karena aku akan mulai fokus mengurus perusahaan orang tuaku. Apalagi dia sudah semakin tua dan akan pensiun dari perusahaan" ujar Bintang memulai pembicaraan.
Perkataan Bintang tersebut membuat mata Siska terbelalak.
Gila.. perusahaan dia sendiri saja sudah sangat besar, ditambah dengan perusahaan Papanya waah.. Bintang sangat kaya sekali. Bodoh banget aku dulu meninggalkannya. Tapi ya gak salah juga, aku kan gak tau kalau dia anaknya Pak Bambang Prakasa. Batin Siska.
"Sayang sekali.. tapi aku bisa mengerti alasan kamu. Hanya saja sebagai teman, bagaimanapun kita kan teman kampus Bin, satu jurusan dan satu universitas. Kamu kan bisa mempercayakan sebuah proyek kecil untuk dikelola oleh perusahaanku. Anggaplah langkah awal, nanti lama kelamaan kan kita bisa kerjasama untuk proyek besar" pintar Morgan.
"Kalau soal itu nanti akan aku cari proyek mana yang bisa dikelola oleh perusahaan kamu" sambut Bintang.
"Terimakasih Bin. Gak percuma punya teman seperti kamu" jawab Morgan.
"Bagaimana kalau siang ini kita makan siang bersama. Sudah lama kan kita tidak ngumpul atau makan bareng dengan santai" ajak Morgan
Bintang melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas siang dan sudah hampir dekat jam makan siang. Dia menarik nafas panjang.
"Baiklah kalau begitu kita makan di Restoran yang tak jauh dari sini" jawab Bintang.
Morgan dan Siska tersenyum menanggapi jawaban Bintang.
"Okey" sambut Morgan.
__ADS_1
"Tapi kita naik mobil masing - masing ya, karena setelah ini aku akan menjemput anakku disekolah" ujar Bintang.
"Baiklah, lebih baik kalau kita segera berangkat agar tidak kejebak macet" ajak Morgan.
Bintang bangun dari duduknya, dia meraih ponselnya dan memakai jasnya lengkap membuat Bintang semakin terlihat tampan dan gagah.
Siska yang menyaksikan itu semua semakin merutuki dirinya, dia sangat menyesal telah meninggalkan Bintang dulu. Seandainya saja dia tidak melakukannya pasti saat ini dia sudah duduk tenang di rumah menikmati fasilitas kalangan atas atau mungkin dia sedang sibuk berbelanja dan menghabiskan uang Bintang.
"Yuk kita berangkat" balas Bintang.
Mereka segera keluar dari ruang kerja Bintang dan berjalan menuju parkiran dan naik ke mobil masing-masing. Bintang sengaja mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan supir karena setelah makan siang dia bersama Morgan dan Siska. Bintang berencana untuk menjemput Tegar dan pulang ke rumah.
Bintang ingin pulang cepat hari ini. Entah mengapa dia sangat merindukan istri dan bayi mungilnya yang cantik.
Tak lama Bintang, Morgan dan Siska sudah sampai di Restoran. Mereka memilih ruangan VIP yang tertutup dengan alasan privasi dan mulai memesan makanan.
"aku dengar istri kamu baru melahirkan ya Bin?" tanya Morgan.
"Iya, alhamdulillah anakku cewek. Lengkap sudah dapat sepasang" ucap Bintang sengaja ingin membuat Siska mengerti kalau dia sekarang sangat bahagia.
"Tapi aku turut berdua atas apa yang dialami oleh istri kamu. Aku dengar kandungannya di angkat karena sudah rusak akibat benturan" ungkap Morgan pura - pura sedih.
"Sorry Bin, aku tidak sengaja dengar saat kalian di Rumah Sakit sedang menunggu operasi istri kamu. Saat itu ada kerabat ku yang sedang di rawat di rumah sakit yang sama jadi aku ketepatan ada di sana saat itu" jawab Morgan.
"Tak lama, itu hanya sebuah kecelakaan. Yang paling penting istriku selamat" tegas Bintang.
"Kamu yakin tidak ingin punya anak lebih?" tanya Morgan.
"Allah hanya bisa memberikan dua anak dari rahim istriku. Aku tidak butuh dari yang lain" jawab Bintang.
"Sayang lho, kamu masih muda" balas Morgan dengan santun tapi Bintang merasa seperti sedang disindir oleh Morgan.
"Orang tuaku saja hanya punya anak satu yaitu aku tapi mereka tetap mesra. Yang penting aku sudah punya anak, berapapun jumlahnya sudah tidak menjadi masalah lagi" ujar Bintang.
"Aku do'akan semoga istri kamu pulih kembali seperti semula" doa Morgan.
"Aamiin" sambut Bintang.
__ADS_1
Tiba - tiba ponsel Morgan berbunyi dan dia mengangkat teleponnya.
"Ya halo.. apa? Bagaimana bisa terjadi? baik - baik aku akan segera ke sana" ujar Morgan. Kemudian dia menutup teleponnya.
"Sorry Bin, sepertinya aku harus pergi. Telah terjadi kecelakaan pada pekerjaku. Aku harus segera melihat keadaan mereka" ujar Morgan.
"Kalau begitu lebih baik makan siang ini kita ba" ucap Bintang.
"Kita bisa lanjutkan makan siang ini berdua. Anggaplah ini hanya sebuah reuni Bin" potong Siska.
Bintang sangat ingin membatalkan acara makan siang ini, dia tidak ingin makan siang berdua saja dengan Siska. Tapi Morgan bukan hanya teman, tapi juga relasi bisnis dan Bintang harus bersikap profesional.
"Bin, tolong jangan lakukan itu. Kamu benar - benar tidak menghargaiku. Biarkan perusahaanku kali ini yang menjamu kamu makan. Tapi maaf sekali aku tidak bisa berada di sini. Jadi aku wakilkan kepada sekretarisku Siska ya. Selamat menikmati makan siang. Sampai ketemu di pertemuan berikutnya" ujar Morgan kemudian dia segera berdiri dan berjalan cepat menuju mobilnya seperti sedang terburu - buru.
Kini hanya tinggal Siska dan Bintang yang ada di meja. Bintang hanya diam dan mengalihkan pandangannya ke ponselnya. Dia sedang sibuk memeriksa email dan mengurus perusahaannya.
"Bin.. aku juga turut bersedih atas apa yang dialami oleh istri kamu. Aku sebagai seorang wanita bisa merasakan bagaimana perasaan Tiara. Dia pasti sangat sedih sekali karena tidak bisa melahirkan lagi" ujar Siska.
"Tidak apa Sis, InsyaAllah Tiara kuat dan bisa menerimanya. Terimakasih atas perhatian kamu" sambut Bintang.
"Bin.. aku masih seperti dulu, masih menunggu kamu. Aku rela kamu jadikan yang kedua. Biarlah aku kamu jadikan sebagai ibu dari anak - anak kamu selanjutnya dan Tiara tetap menjadi istri kamu" ujar Siska.
"Apa - apaan kamu Siska" bentak Bintang.
Untung saja ruangan ini tertutup dan kedap suara. Sehingga orang diluar sana tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.
Siska berdiri dan nekat mendekati Bintang. Dia bersimpuh dan memegang kaki Bintang.
"Maafkan aku Bin, aku tidak tau lagi bagaimana meraih hati kamu kembali, aku sangat menyesal. Aku benar - benar mencintai kamu Bin. Jangan tinggalkan aku, jangan perlakukan aku seperti ini. Aku tidak sanggup melihat kamu cuek kepadaku. Dulu aku selalalu jadi yang utama dalam hidup kamu tapi semua berubah. Tak mengapa, aku tau aku yang salah makanya aku siap menjadi yang kedua asalkan kamu kembali padaku. Aku ingin sekali memiliki anak dari kamu Bin" Siska berdiri dan langsung memeluk Bintang.
Bintang terkejut dan refleks langsung menolak Siska hingga dia terharu.
"Bruuuk.... "
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG